
Kenangan
(Masa sekarang)
Suara adzan ashar mulai terdengar dari berbagai arah, angin sore semakin berhembus kencang. Abil dan istrinya beranjak dari tanggul tempat duduk mereka dan berjalan pulang ke rumah. Mereka berjalan pelan sambil tetap menikmati sejuknya udara di sawah, sesekali mereka saling melempar rumput ke arah satu sama lain sambil bercanda.
Sesampainya di rumah, mereka langsung bergegas ke kamar mandi dan kemudian bergantian untuk mandi, sebelum air di bak penampungan air di rumah orang tua Abil menjadi lebih dingin. Selesai mandi Abil dan Istrinya kemudian menunaikan sholat ashar bersama.
Di dapur Ibu sedang sibuk memasak, Ibu di bantu Rahma (adik sepupu Abil) terlihat sedang mempersiapkan makanan untuk nanti malam, disusul Istri Abil yang setelah sholat langsung membantu Ibu dan Rahma memasak di dapur agar bisa lebih cepat selesai.
Abil berjalan menuju teras depan rumah sambil membawa secangkir kopi yang tadi di buatkan oleh Ibunya. Ia kemudian duduk sambil melihat suasana kampung di sekitar rumahnya yang sekarang sudah berbeda jauh dari saat Abil masih tinggal di rumah ini. Bangunan rumah, warung dan sekolahan sekarang mengelilingi rumah Abil, terlihat hanya ada satu petak pekarangan disebrang jalan yang masih utuh dengan tanah.
Tak lama berselang, teman masa kecil Abil melintas di jalan depan rumah. Abil yang melihatnya bergegas berteriak memanggilnya,
“WAHYUUUUU” teriak Abil sambil berdiri memanggil Wahyu
“Citttttttttttttttt, srekkkkk” Motor wahyu seketika mengerem mendadak mendengar teriakan Abil, sambil Ia menengok ke kanan dan kiri mencari sumber suara.
“ABIL, Kamu Abil kan?” tanya Wahyu melihat di sebelah kiri ada orang yang familiar tapi sekarang sedikit berbeda dan memberi senyuman serta melambaikan tangan kepadanya.
“Iya Yu, ini aku Abil. Kamu apa kabar?” tanya Abil senang yang akhirnya bisa bertemu lagi dengan temanya dulu.
__ADS_1
“Yahhh, beginilah Yu, alhamdulillah baik. Sini lah, kita ngobrol – ngobrol dulu di rumah” balas Abil sambil kemudian mengajak Wahyu menuju rumahnya.
Wahyu adalah teman SDnya dulu, rumahnya ada di ujung jalan depan rumah Abil. Mereka dulu sering pergi bermain bersama, dulu juga mereka pernah satu daerah saat sama – sama merantau di Jakarta, tapi sekarang Wahyu menetap di kampung dan menjalankan usaha ternak ayam seperti hobinya dulu dengan ayam. Usahanya berjalan cukup bagus di kampung, bahkan sekarang Ia memiliki dua tempat peternakan.
Mereka saling tertawa ketika membicarakan masa lalu, banyak kenangan – kenangan yang cukup menyenangkan untuk di nostalgiakan. Entah itu saat mereka kecil dulu atau saat mereka di perantauan. Abil jarang sekali berkomunikasi dengan teman – temanya dulu, selain tidak terlalu menyukai sosial media, Ia juga lebih senang jika berkomunikasi melalui media elektronik dilakukan saat ada keperluan yang penting, selebihnya Ia lebih senang jika bertemu langsung dan saling mengobrol tatap muka yang menurutnya aura emosional akan lebih memberikan kenyamanan tersendiri ketika mengobrol.
Karena waktu sudah hampir maghrib mereka menyudahi obrolannya, Wahyu juga sebentar lagi harus pergi ke peternakan untuk mengontrol ternak miliknya. Meskipun sudah memiliki karyawan, tapi untuk menjaga usaha peternakanya agar tetap bagus dan produktive Ia sering kali ikut terjun ke lapangan untuk membantu dan sekalian mengajari karyawanya.
Adzan maghrib sudah berkumandang, Abil dan keluarganya menjalankan sholat berjamaah lalu bersama mereka menuju ruang tengah untuk makan malam bersama. Bersyukur sekarang keluarga Abil bisa jauh lebih harmonis, Ibu dan Bapak juga sekarang terlihat bahagia begitupun dengan Abil yang sekarang merasa memiliki keluarga yang utuh. Istri Abil juga merasakan kenyamanan ketika bersama keluarganya.
Proses panjang yang sulit akhirnya membuat satu titik awal kebahagiaan yang panjang dalam sebuah keluarga. Abil bersyukur tentang perjalanan hidup yang Ia lalui selama ini, selain membuatnya banyak belajar tentang kehidupan, Ia juga bisa mendapatkan hasil yang sepadan dengan apa yang Ia lalui.
Selesai makan, Abil mengajak Istrinya untuk pergi jalan – jalan ke alun – alun kota. Mereka pergi berboncengan menggunakan sepeda motor milik Bapak Abil. Biasanya mereka jarang sekali pergi bersama kecuali saat Abil mengambil libur dari pekerjaanya, yahh sebuan sekali paling. Makanya ketika mereka memiliki banyak waktu bersama mereka akan benar – benar menikmatinya, sperti malam ini.
Tidak mau kehilangan momen mesranya, Abil dan Istrinya juga mengabadikan momen bersama mereka dengan mengambil gambar dari ponsel miliknya. Dan kemudian berkeliling alun – alun untuk bisa lebih menikmati jalan – jalan kali ini, sambil menikmati jajanan yang ada.
Mereka berdua cukup pandai berbaur, bahkan beberapa penjual jajan yang mereka temui di ajaknya bercanda saat ketika mereka menunggu pesanan. Mereka berkeliling memutari alun – alun, dan tidak lupa membeli beberapa kantung jajan untuk di berikan ke adik sepupunya yang dari tadi sore ikut membantu Ibunya memasak di dapur.
Karena waktu sudah lumayan larut, mereka berdua kemudian memutuskan untuk pulang. Beberapa jajanan juga sudah di beli untuk cemilan nanti di rumah. Mereka kemudian berjalan menuju tempat parkir sepeda motor dan bersiap pulang, sampai tiba – tiba Abil melihat sesuatu yang membuatnya mendekat ke salah satu penjual jajanan.
“Dek, sebentar ya. Mas mau beli martabak telor dulu. Kamu tunggu sebentar di sini ya” Ucap Abil sambil berjalan mendekati penjual martabak di sebelah motornya di parkirkan.
__ADS_1
“Mas, kan udah banyak jajannya. Serius mau beli lagi?” Jawab Istri Abil yang sepertinya di abaikan oleh Abil yang masih terus berjalan mendekati penjual martabak.
(Abil langsung kembali ke sepeda motor setelah membelinya, dan langsung menaruhnya di cantelan motor depan)
“Ayo Dek kita pulang” Kata Abil mengajak Istrinya segera pulang
“Iya – iya Mas, ini jajanan udah banyak kenapa kamu beli lagi si?” Sahut istri Abil sembari menanyakan alasanya
“Iya Dek, maaf ya. Mas tadi pas lihat penjual martabak, keinget sesuatu. Dulu Ibu pernah ngasih hadiah martabak telor ke Mas waktu mas masih sekolah, makanya Mas beli ini nanti buat Ibu” Kata Abil menjelaskan, dan kemudian menyalakan motornya.
“Pantes, iya yaudah nggapapa nanti kita makan bareng ya di rumah” Jawab Istrinya yang sepertinya paham dengan alasan Abil.
Mereka berdua kemudian jalan pulang ke rumah dengan membawa cukup banyak jajan hari ini. Ibu, Bapak dan Paman Abil yang tinggalnya bersebelahan ternyata sedang asik duduk bersama di teras depan rumah. Abil yang baru datang menjadi bahan bercandaan mereka, dan kemudian mereka meikmati jajanan bersama malam ini.
Menjelang tidur Istrinya melanjutkan rasa penasaranya tadi ketika Suaminya membeli martabak.
“Mas, Mas. Mas emang pernah di kasih hadiah martabak sama Ibu kenapa? Ulang Tahun?” tanya Istrinya penasaran.
“Ehhhhh, Kok tiba – tiba nanya itu Dek? Ohhh, gara – gara tadi ya. Hahahahahaha.” Jawab Abil sambil bercanda.
“Lahh bisa – bisanya malah ketawa, mana ih coba ceritain si” Pinta Istrinya.
__ADS_1
“Iya – iya. Sini mas dongengin biar tidurnya nyenak” Kata Abil yang kemudian menggeser kepala istrinya dan meletakanya ke atas dadanya
Jadi waktu itu…………….