Langkah Kecil Si Pejuang Mimpi

Langkah Kecil Si Pejuang Mimpi
Bab 8 Martabak


__ADS_3

Rutinitas anak – anak remaja di kampung Abil hampir semuanya bersekolah sambil buruh kerja di lahan pembibitan, hanya segelintir anak yang menjalani hidup fokus ke belajar dan menikmati masa remaja dengan aktivitas yang mereka inginkan, mereka masuk dalam kategori anak – anak dengan kelas ekonomi menegah ke atas yang orang tuanya bekerja sebagai PNS atau pemilik toko besar. Bekerja buruh di sawah sudah di anggap Abil dan teman – temanya yang lain dengan nasib yang sama sebagai momen bermain di luar sekolah, bermain sekaligus mendapat penghasilan.


Hal ini sebenarnya menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para orang tua terhadap anak – anak mereka, karena anak – anak mereka menjadi kurang fokus terhadap belajar di sekolah dan malah teralihkan dengan mencari uang. Disisi lain mereka memahami kondisi tetang, bahwa mereka tidak punya pilihan lain agar kehidupan di keluarga bisa tetap terpenuhi.


Termasuk Ibu Abil, Ia sangat khawatir dengan pendidikan yang sedang di jalani Abil. Ia sebenarnya ingin Abil bisa fokus ke masa belajar yang sedang di jalaninya, tapi yang Ibu bisa lakukan hanyameringankan sedikit beban yang di jalani Abil dengan membantunya di sela pekerjaanya sebagai buruh di rumah makan, saat pulang kerja dan di hari libur biasanya Ibu Abil memanfaatkanya dengan sebaik mungkin membantu Abil merawat bibit tanaman miliknya di sawah.


Benar saja, hasil semester awal pendidikan Abil di masa seolah menengah mendapat peringkat yang lumayan buruk, Ia berada di peringkar duapuluh lima dari tiga puluh lima murid satu kelas. Ibu yang mengetahui hal ini merasa sedih, Ia berfikir tentang bagaimana agar anaknya bisa lebih fokus ke sekolah, meskipun saat ini Ia belum memiliki solusi terkait hal tersebut karena Ia sadar dengan kondisinya saat ini.


Malam selepas sholat maghrib, Abil dan Ibunya duduk makan bersama sambil menonton tv di ruang tengah rumah. Makanan dengan lauk tempe goreng dan sayur daun singkong di makan dengan lahap mereka berdua, sesekali mereka tertawa karena acara televisi yang mereka tonton lumayan menghibur.


“Bil, Itu tempenya di habisin aja ya. Ibu sudah kenyang, nanti biar sekalian Ibu cuci piringnya” Kata Ibu kepada Abil.


“Ibu udahan emang makanya?” Tanya Abil kepada Ibu.


“Udah, Ibu udah kenyang ko, Ini habisin ya.” Jawab Ibu sambil mengambil tempe dan di letakan di piring Abil.


“Iya, Bu” Sahut Abil.


Selesai makan, mereka membereskan bekas peralatan makan yang di gunakan dan di letakan di dapur agar nanti bisa langsung di cuci Ibu Abil. Mereka melanjutkan menonton televisi, dan di sela iklan Ibu bertanya kepada Abil mengenai sekolahnya.


“Bil, gimana sekolah kamu?” Tanya Ibu kepada Abil yang duduk di tikar bersebelahan dengan Ibu.


“Biasa aja Ibu, ngga kenapa – kenapa ko” Jawab Abil


“Yang benar? Kemarin hasil rapot kamu peringkatnya hampir di nomer satu lho, nomer satu dari belakang tapi” Sahut Ibu, sembari bertanya lagi.


“Oh itu, iya Bu. Materi yang di sampaikan Guru saat di sekolah kadang suka ngga keinget sampai ujian soalnya, jadi nilai Abil banyak yang kurang bagus Bu. Besok Abil belajar di sekolah lebih giat lagi ya, biar bisa lebih baik peringkatnya” Kata Abil menjawab pertanyaan Ibu.


“Iya – iya, bukan karena ngga belajar di rumah ya?” Jawab Ibu, sambil melontarkan pertanyaan lagi dan tatapan mata yang berubah fokus ke wajah Abil.

__ADS_1


“Hehehehe, Iya si. Itu salah satunya Bu, Abil ngga pernah belajar materi sekolah di rumah juga ya” Jawab Abil atas pertanyaan Ibu.


Acara televisi yang mereka tonton sudah selesai dengan iklannya, pembicaraan mereka sejenak terhenti. Mereka berdua tertawa dengan acara komedi yang di sajikan salah satu stasiun televisi yang mereka tonton tersebut. Selepas acara selesai, Ibu Abil melanjutkan pertanyaanya.


“Bil, Ibu mau minta tolong bisa?” Tanya Ibu dengan wajah serius.


“Minta tolong apa Bu, kalau Abil bisa bantu pasti Abil bantu ko tenang aja” Sambil tersenyam Abil menjawab pertanyaan Ibu.


“Ibu minta tolong, kamu lebih fokus ke sekolah ya, agar nanti saat ujian akhir sekolah kamu bisa lulus. Kalau kamu jarang belajar Ibu khawatir nanti kamu kesulitan saat ujian, Ibu ngga mau kamu terhambat menyelesaikan sekolahnya karena terlalu memikirkan mencari uang.” Pinta Ibu kepada Abil.


“Hmmmmm, Iya – iya Ibu. Siappppppp, nanti kedepanya Abil selahin waktu setiap hari biar bisa belajar yaa. Doain aja ya Bu biar sekolah sama kegiatan Abil yang lain bisa berjalan lancar semua” Jawab Abil.


“Iya, tanpa kamu minta juga Ibu setiap hari doain yang terbaik ke kamu Bil. Oh ya gini deh, besok saat semesteran kalau kamu bisa masuk lima besar di sekolah, Ibu bakal kasih kamu hadiah. Gimana?” Tanya Ibu lagi kepada Abil.


“Seriuss Bu, Ok Siap. Abil akan usahain ya, terus hadianya apa Bu?” Tanya Abil dengan antusias.


“Janji ya, hadiahnya nanti surprise dong. Yang penting kamu bisa masuk ke peringkat lima besar dulu ya.” Jawab Ibu, yang terlihat senang dengan tanggapan Abil.


Malam hari dari selepas Isya sampai pukul sebelas atau dua belas malam, biasanya Abil pergi ke lahan pembibitan salah satu petani lain untuk bekerja membantu persiapan tanam bibit bersama beberapa teman sekitar rumahnya yang lain. Sawah di kampung Abil saat malam hari seperti pasar malam, lumayan banyak orang yang sampai tengah malam bekerja di sawah agar bisa menyelesaikan persiapan tanam bibit lebih cepat. Dan para remaja biasanya inisiatif menawarkan tenaganya, yang tentu upahnya bisa di gunakan untuk jajan atau keperluan keluarganya masing – masing termasuk Abil.


“Abil berangkat ya Bu, nanti seperti biasa Abil ketok jendela kalau sudah pulang” Kata Abil pamit berangkat bekerja kepada Ibu.


“Iya, yaudah hati – hati ya. Jangan terlalu larut pulangnya ya, besok pagi biar ngga kesiangan bangunya” Jawab Ibu.


“Ok siap Bu, Assalamualikum.” Mengucapkan salam sambil berjalan ke luar rumah.


“Waalaikumsalam” Jawab Ibu Abil, yang langsung ke dapur dan kemudian membawanya ke kamar mandi untuk segera di cuci.


Beberapa waktu berlalu, Abil baru saja menyelesaikan ujian akhir semester genap di kelas satu menuju kelas dua sekolah menengahnya. Karena pulang lebih cepat dari biasanya, Abil dan beberapa teman satu sekolah di kampungnya berkumpul di rumah temannya yang menjadi bascamp dekat rumah Abil, mereka berbincang mengenai proses ujian yang sudah di lakukan sambil bercanda. Untuk pengambilan raport masih baru bisa di ambil satu minggu dari hari ini, dan di masa waktu tunggu Abil ke sekolah hanya untuk menonton class meeting yang di adakan sekolah, Abil tidak mengikuti satu perlombaanpun dan jika sudah di perbolehkan pulang Ia memilih segera pulang untuk bisa pergi ke sawah dan merawat bibit pohon tanamanya.

__ADS_1


Tiba waktunya hari pengamilan raport, Ibu libur dari pekerjaanya hari ini untuk pergi mengambil raport ke sekolah. Ia berboncengan dengan Bu Lek yang juga akan mengambil raport di tempat yang sama untuk mengambilkan raport adiknya yang bersekolah satu tempat dengan Abil.Sekitar pukul sepuluh siang mereka berangkat untuk mengambil raport ke sekolahan, sedangkan Abil masih di sawah belum pulang mengurus bibit tanamanya.


Abil pulang ke rumah hampir mejelang waktu dzuhur tiba, karena cuaca di rasanya sudah lumayan panas dan juga sudah merasa lapar. Sepulang dari sawah, Ia mendapati sandal yang di pakai Ibu tadi sudah berada di teras rumah, sepertinya Ibu juga sudah pulang dari sekolahan setelah mengambil raport. Abil langsung menuju ke kamar mandi, Ia bergegas mandi dan ingin segera menemui Ibunya untuk menanyakan hasil ujian semester kenaikan kelas.


Ibu Abil sedang berada di kamar, Ia sedang tidur. Mungkin karena kelelahan dengan aktivitasnya hari ini, Ia langsung tidur sepulang mengambil raport. Dan setelah memasuki kamar, Abil melihat raport miliknya berada di meja kamar tidurnya. Langsung Ia memakai baju dan bergegas melihat hasil ujiannya, di bawanya raport miliknya ke atas kasur, dan di lihatnya satu persatu halaman rangkuman masa sekolahnya dari depan, Ia ingin memastikan apakah tahun ini Ia naik kelas atau tidak. Dan alhamdulillah, di bagian bawah raport miliknya tertulis keterangan naik kelas, Abilpun kegirangan sampai – sampai tertidur di samping raport yang Ia baca karena kelelahan sepulang beraktivitas dari sawah.


Sore harinya sekitar pukul tiga sore, Abil terbangun dan berencana segera berangkat ke sawah lagi selepas ashar , untuk menyiram bibit tanamanan miliknya. Ibu Abil juga sudah tidak berada di rumah sore ini, mungkin sedang ada keperluan dan pergi saat Abil tertidur. Kemudian Abil pergi ke dapur untuk makan  sebelum berangkat ke sawah, barulah selesai makan dan sholat Ashar Ia bergegas menuju sawah untuk menyiram dan menyiangi bibit tanamana miliknya.


Abilpu sampai di sawah dan mulai melakukan aktivitasnya, sampai sekitar satu setengah jam berlalu dan Suara sholawatan dari masjid sudah mulai terdengar, pertanda sebentar lagi adzan maghrib berkumandang. Abil yang sudah selesai dengan aktivitasnya bergegas pulang ke rumah sebelum hari mulai gelap, suasana maghrib di sawah juga lumayan seram, selain kebanyakan orang sudah pulang, dari yang di ceritakan orang – orang di sekitar lahan yang di garap Abil, ternyata juga tempatnya lumayan angker, pernah beberapa kali ada orang yang melihat penampakan di ujung pekarangan sebrang sawah yang Abil garap, bahkan suatu waktu saat Abil mengerjakan pekerjaanya malam hari sekitar pukul delapan malam Ia mendengar orang menyapanya yang padahal malam itu hanya ada dua orang di sekitar lahanya yang lembur bekerja, dengan perasaan cemas dan tetap cool Abil pura – pura tidak mendengarnya dan setelah selesai dengan pekerjaanya segera Ia pergi ke lahan temanya dengan berjalan cepat agar di kira tidak takut hehehehe, dalam hati Ia ingin berlari dengan kencang agar cepat sampai yang mana Abil dan temanya berjarak sekitar seratus meter.


Sesampainya di rumah, Abil langsung bergegas mandi. Terlihat dari kejauhan kantong kresek berbentuk kotak berada di atas meja makan di dapur rumah Abil, Abil mengabikanya untuk saat ini, Ia ingin segera membersihkan diri sebelum air dan udara membuatnya semakin merasa dingin. Selesai mandi dan shalat maghrib, Ibu Abil yang sudah pulang dan menjalankan shalat bersama kemudian mengajak Abil pergi ke dapur untuk makan malam.


Meja makan malam ini sedikit berbeda, di meja terlihat lumayan banyak menu makanan tidak seperti biasanya, ada udang goreng, sambal tempe, sayur sop dan kerupuk. Bungkusan yang tadi Abil lihat juga masih utuh belum di buka, dengan lahapnya Abil dan Ibu menikmati makan malam yang termasuk mewah bagi mereka. Selesai makan, bungkusan yang dari tadi berada di meja kemudian di sodorkan Ibu kepada Abil,


“Bil, ini hadiah dari Ibu buat kamu. Dulu Ibu pernah janji akan membelikan hadiah jika Abil bisa masuk lima besar di sekolahkan, nah karena Abil dapat peringkat lima di ujian kemarin, ini Ibu belikan buat Abil.” Kata Ibu sambil menyodorkan bungkusan yang Ia pegang.


“Ini apa Bu?, serius buat Abil? Pantas saja Ibu memasak udang dan sambal tempe kesukaan Abil hari ini, makasih ya Bu. Abil buka ya” Kata Abil sambil menerima pemberian Ibu dan langsung membukanya.


“Iya, sok buka aja” Sahut Ibu kepada Abil.


“Wahhhhhhh, martabak telor ya Bu. Makasih ya Bu, nanti Abil makan sepulang dari sawah ya. Abil masih kenyang si, pantes Ibu tadi siang pulangnya lama jadi beli banyak makanan ya hari ini,” Sambil terharu Abil tersenyum senang dengan pemberian Ibu hari ini, di masakin makanan kesukaan dan jajanan kesukaan Abil martabak telor.


“Iya, nanti di habisin ya Nak” Kata Ibu yang lega Anaknya senang dengan pemberianya hari ini.


“Ok Bu, siapppppp, hehehehe.” Jawab Abil dengan semangat


Selepas Isaya seperti biasa Abil berangakat ke sawah untuk bekerja di lahan orang lain, hari ini Ia akan membantu mengecor tanah lahan dengan air agar besok siang tanahnya melebur menjadi kecil – kecil dan bisa di masukan ke dalam polybag yang di gunakan sebagai media tanam bibit sengon. Abilpun kemudian berangkat dengan memakai jaket kesayangan tentunya agar tidak merasa dingin karena angin malam dan air.


Masa libur sekolah selama tiga minggu, Ia habiskan untuk merawat bibit miliknya dan di sela waktu senggangnya Ia gunakan untuk bekerja di lahan milik orang lain. Abil bekerja keras untuk hidupnya, dan Ia menikmati rutinitas yang Ia kerjakan saat ini. Melihat tanaman miliknya bertumbuh dari hari ke hari, membuatnya selalu bersemangat merawatnya. Bekerja juga memberi kesenangan tersendiri baginya, bisa mendapatkan penghasilan dan belajar tentang hal lain selain rutinitasnya serta terpenting Ia juga merasa bangga bisa membantu perekonomian keluarganya dari apa yang Ia lakukan.

__ADS_1


Abil percaya tentang part – part dalam mimpinya, Ia harus menyatukan sub – sub mimpinya tersebut menjadi satu kesatuan. Tahapan - tahapan proses tentunya sangat penting di lalui, agar memahami secara detail apa yang menjadi impianya sehingga bisa memaksimalkan dampak positif untuk dirinya dan orang lain tentunya. Terlebih lagi sub – sub tersebut memperkuat karakter tentang komitmen, konsistensi, semangat, kesabaran dan proses yang di laluinya agar menjadi semakin sempurna.


Dengan banyak belajar dan menjalani hidup yang beragam, membuat seseorang bisa melihat lebih luas tentang bagaimana cara memandang suatu hal. Bisa merasakan apa yang di rasakan orang lain membuat seseorang semakin bijak akan tindakanya, prosesnya memang tidak mudah apalagi banyak godaan yang di lalui termasuk pernah suatu waktu Abil hampir terjerumus keluar dari apa yang Ia yakini tapi untungnya Ia mendapatkan pemandangan yang Ia tidak sangka akan membuatnya semakin berkomitmen dengan pendirianya, kisahnya seperti ini……


__ADS_2