Langkah Kecil Si Pejuang Mimpi

Langkah Kecil Si Pejuang Mimpi
Bab 1 Keluarga


__ADS_3

Keluarga


Suatu hari setelah hujan reda di pinggiran sawah dekat desa, terlihat sosok seorang lelaki dengan baju hitam polos, celana pendek dan sandal jepit berdiri tegap sambil mengarahkan wajahnya ke ujung hamparan sawah sembari memegang satu batang rokok yang menyala di tangan kirinya. Matanya terpejam, kemudian dia mengambil nafas panjang dan mengeluarkanya perlahan.


“Hufffffffffftt” terdengar lirih dan halus dari bibir yang masih sedikit mengeluarkan asap rokok.


Di penghujung nafas yang di keluarkanya, terlihat dia tersenyum lebar dengan mimik wajah berseri, kulit bagian mata luar berkerut dan ekspresi tubuh lepas yang menandakan kepuasan, ketenangan dan kebahagiaan dari dalam hatinya.


Sosok itu adalah Abilash, Abilash sedang pulang ke kampung halaman di sela pekerjaanya yang cukup padat di kota perantauan. Abilash adalah seorang pengusaha di industri makanan, perusahaanya sudah berekspansi ke hampir seluruh penjuru indonesia. Menjadi pengusaha yang sukses, tidak membuat jati dirinya berubah. Dia tetap menjadi sosok yang sederhana dan rendah hati.


Terlihat dari kejauhan di belakang Abilash nampak sosok wanita dengan kulit wajah yang putih dan cantik, berjalan mendekati Abilash. Ya, sosok tersebut adalah istri dari Abilash. Wanita dengan kerudung warna merah tua itu menyusul Abilash ke sawah untuk ikut serta sang suami menikmati pemandangan indah di sawah.


Kemudian Abilash mengajaknya duduk di atas tanggul yang lumayan besar, yang mana tanggul tersebut adalah pembatas antara sawah satu dan lainya. Terasa sejuknya angin berhembus, mereka berdua memandang bentangan sawah yang hijau dan masih berembun karena hujan tadi. Abilash teringat kenangan masa kecilnya dan kehidupanya dulu sebelum akhirnya dia bisa seperti sekarang. Dia berusaha mengingat semua kenangan - kenangan yang pernah dia lewati selama hidupnya dan tersenyum karenanya. Tiba – tiba bibir Abilash bergerak,


“Dek” (panggilan sayang dalam bahasa jawa untuk kekasih atau istri).


“Iya Mas” jawab istri Abilash lembut.

__ADS_1


“Kalau pulang kampung dan duduk di sini, Mas jadi keingat kenangan – kenangan jaman dulu. Apalagi di sini, tempat duduk kita sekarang selalu menjadi tempat ternyaman ketika Mas sedang penat dan stres”.


Abilash kemudian menceritakan kisah lama hidupnya kepada sang istri...


( Masa kecil Abilash)


“Tahun 2005. Desa Kenangan, Kecamatan Harapan, Kabupaten Semangat, Jawa Tengah”


Saat ini usia Abilash sembilan Tahun, Abilash atau biasa di panggil Abil oleh teman – temanya adalah anak ke tiga dari tiga bersaudara. Kaka yang pertama seorang perempuan bernama Tati, dan yang kedua laki – laki bernama Anto. Orang Tuanya bekerja serabutan di kampung, Bapaknya terkadang bekerja di sawah bertani dan Ibunya bekerja sebagai buruh di pabrik ikan asin di kampung sebelah dan terkadang orang tua Abil bekerja sebagai buruh di lahan orang lain saat musim bibit tanaman dimulai.


Keluarga Abil adalah keluarga yang sederhana, dan terlihat harmonis. Selain kedua orang tuanya yang bekerja, Kak Tati juga sering mengirimkan uang dari perantauan untuk sesekali membantu kebutuhan keluarga Abil di kampung. Di tambah lagi Kak Anto yang saat masih sekolah juga sering ikut kerja serabutan menjadi kuli di proyek di tempat pembibitan. Maklum, di tempat tinggal Abil merupakan daerah central pembibitan tanaman kayu, hias dan buah, jadi pemuda di daerah Abil lumayan banyak buruhan setiap harinya, termasuk Kak Anto yang selalu giat sepulang sekolah bekerja di proyek untuk membantu perekonomian keluarga.


Satu – satunya masalah di keluarga Abil adalah Bapaknya, selain keras kepala, Bapak Abil juga hobi sekali bermain judi dan togel. Hal ini terjadi sejak bertahun – tahun yang lalu, sejak Kak Tati masih kecil sampai saat ini. Bapak Abil menjadi sosok yang emosian, apalagi kalau kalah berjudi, sudah pasti Ibu dan anak – anaknya kena imbas di marahi tanpa sebab, meski tidak melakukan kesalahan apapun.


Dengan perginya Kak Anto keperantauan tahun ini, sebenarnya dalam hati Abil merasa khawatir dan takut. Abil khawatir tentang sifat Bapaknya dan takut jika terjadi hal yang buruk terhadap Dia dan Ibunya. Sejauh ini saja Abil sering menangis karena di marahi Bapaknya tanpa sebab, dan Ibu yang berusaha menenanangkan Bapak juga tak luput dari serapah kata – kata kasar yang keluar dari mulutnya.


Sering sekali Bapak Abil menggunakan tongkat kayu untuk memukul Abil, bahkan mengatakan akan membakar semua baju dan buku – buku sekolahnya karena telah menjadi beban keluarga. Membanting peralatan rumah sampai hancur, dan mengintimidasinya, seolah - olah Abil adalah tawanan perang yang sedang menjalani hukuman di penjara. Bahkan beberapa kali Abil harus tidur di kandang kambing karena tidak di perbolehkan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Abil sebenarnya adalah sosok yang periang dan kreatif, tapi sering kali hal itu hilang ketika Bapaknya memberikan perintah untuk melakukan sesuatu, entah harus ke sawah merawat bibit tanaman, membereskan rumah yang kotor karena debu atau hanya sekedar membantu Ibu mencabut hama rumput di halaman sekitar rumah.


Ibu adalah malaikat buat Abil, dia mengorbankan diri dan kebahagiaanya untuk membesarkan anak – anaknya termasuk Abil dengan sebaik mungkin. Mendukung semua yang di lakukan Abil dengan tulus, mendoakanya setiap malam untuk kebaikan keluarga dan anak – anaknya. Air matanya sering kali jatuh di tengah malam di iringi suara lirih dengan telapak tangan yang menadah ke atas berdoa kepada Tuhan.


Beberapa momen yang membuat keluarga Abil menjadi terlihat dan terasa seperti keluarga pada umumnya adalah ketika lebaran keagamaan umat muslim tiba (Idul fitri). Saat dimana semua keluarga berkumpul di rumah untuk merayakan lebaran.


Ketenangan hari besar keagamaan menjadi penawar kehangatan di keluarga, meskipun momentnya sebentar dan setelahnya adalah menjadi kehidupan seperti sebelum – sebelumnya yang mana Bapak dengan sikap egoisnya, Ibu dengan sikap pasrah dan tegarnya serta Kakak – kakak Abil pergi dengan membawa harapan dan impianya masing – masing, entah itu untuk keluarga atau dirinya sendiri mereka juga berjuang dengan hidupnya untuk kebahagiaan.


Hari ini adalah satu minggu setelah lebaran, Abil dan teman –temanya sedang bermain mobil – mobilan di teras rumah salah satu temanya yaitu Tio. Abil, Tio dan Andi, mereka bertiga baru saja pulang dari pasar membeli mobil - mobilan tersebut dari uang hasil ampao lebaran kemarin. Dari siang sampai sore mereka bermain dengan asiknya melakukan permainan balap mobil – mobilan baru. Jika habis batrai mereka jemur batrai cadangan di bawah terik matahari agar kembali terisi tenaga, kemudian mainkan lagi, sampai terdengar adzan ashar barulah mereka berhenti dan pulang ke rumah masing – masing.


Abil berjalan pulang ke arah timur sedangkan Andi ke arah barat, setibanya di rumah setelah menyimpan mainanya di atas kasur, Abil pergi ke sumur untuk mengambil air wudhu dan menunaikan shalat ashar. Setelah itu dia pergi ke kamar dan di pegangnya lagi mainanya, dia cermati detailnya sambil membayangkan mainanya itu menjadi seperti yang ada di film kartun kesukaanya. Ya, mobil – mobilan yang baru dia beli adalah mobil balap tamiya yang mana ketika di film, mobilnya bisa terhubung dengan pemiliknya, mengeluarkan jurus – jurus dalam balapan dan bisa menjadi teman pemiliknya seperti anjing peliharaan di film holywood.


Tanpa sadar di sela imajinasinya, dia teringat dengan moment lebaran kemarin. Suasana rumah yang ramai dan bahagia dengan banyaknya suara tawa dan langkah kaki yang kesana kemari untuk silaturahmi. Abil tiba – tiba meneteskan air mata mengingat itu semua, menyadari bahwa sekarang dia sendirian dengan suasana sunyi, dan terlebih kekhawatiranya dengan sifat Bapaknya yang tidak lama lagi akan menjadi seperti sebelum lebaran kemarin. Abil hanya bisa berdoa dan pasrah akan hal itu.


Abil menjalani kehidupan yang seperti ini hingga usia remajanya. Terintimidasi keluarga sendiri, di pandang sinis oleh orang – orang sekitar karena melihat keluarga Abil dari perilaku Bapaknya. Tapi Abil selalu berusaha kuat dan melupakan hal – hal yang di luar kendalinya, karena dia yakin suatu saat dia akan menjadi orang yang bisa mengayomi orang lain, bisa menjadi teladan bagi banyak orang dan bisa menginspirasi serta menghiudupkan semangat orang lain dengan aura positif yang Dia miliki.


Bismillah, Tuhan maha baik untuk segala hal baik dan yakin bahwa tidak ada hal baik sekecil apapun yang sia - sia dalam kehidupan.

__ADS_1


__ADS_2