Langkah Kecil Si Pejuang Mimpi

Langkah Kecil Si Pejuang Mimpi
Bab 3 Dispenser


__ADS_3

Dispenser


Cahaya fajar mulai bias karena matahari yang mulai meninggi menyinari jagad raya, begitupun jarum pendek pada jam dinding rumah Abil yang perlahan mulai meninggalkan angka lima menuju angka enam. Riuh kokokan ayam semakin terdengar jelas, sepertinya sebagian ayam ada yang baru terbangun dari tidur dan sebagian lainya mungkin karena lapar, atau mungkin mereka para ayam sengaja mencari perhatian dunia dengan kokokanya, yah apapun itu yang pasti semua bisa jadi kemungkinan dan hanya Tuhan dan ayam yang tahu.


Awan di langit terlihat tidak terlalu banyak hari ini. Jadi, meskipun sedang musim hujan sepertinya pagi sampai siang ini hujan tidak akan segera turun. Hari ini adalah hari minggu, Abil sedang libur sekolah, begitupun dengan Ibu Abil yang setiap minggunya libur satu hari di hari minggu dari pekerjaanya sebagai buruh pabrik ikan asin di kampung sebelah.


Pagi ini Abil dan Ibunya terlihat sedang sibuk membersihkan rumah, Abil dengan sapu ijuknya bertugas menyapu area kamar tidur, ruang tamu dan teras depan, sedangkan Ibu Abil dengan sapu lidinya bertugas membersihkan area dapur dan halaman samping rumah. Sekitar satu jam kemudian, Abil yang sudah selesai dengan tugasnya bergegas mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk mandi, dan si Ibu terlihat juga hampir selesai menyapu halaman samping rumah sembari sekalian membersihkan rumput yang menempel di tembok samping rumah.


Hari ini Ibu mengajak Abil pergi ke toko elektronik yang berada di pasar kota dekat terminal untuk membeli dispenser air minum, jadi setelah selesai membereskan rumah, mereka berencana untuk segera berangkat ke toko sebelum sinar matahari semakin terik. Jelas saja mereka harus bergegas, waktu sangat penting, selain sedang musim hujan, jarak dari rumah Abil ke toko yang di tuju juga lumayan jauh sekitar sepuluh kilometer. Kalau menggunakan kendaraan bermotor atau angkutan umum mungkin tidak terasa terlalu jauh dan waktunya bisa lebih cepat, tapi karena yang mereka gunakan untuk pergi nanti adalah sepeda ontel yang biasanya Ibu Abil gunakan untuk pergi bekerja, sudah pasti jauh lebih lama dan butuh persiapan tenaga yang lumayan banyak.


Selain belum mempunyai kendaraan bermotor, menggunakan sepeda juga merupakan salah satu  alternatif yang di pilih Ibu Abil untuk bisa berhemat dari pengeluaran ongkos naik angkutan umum, kan lumayan bisa buat jajan nanti kalau sudah sampai di pasar, meskipun sebenarnya seperti hanya menukar tenaga untuk jajan dengan uang ongkos naik angkutan, tapi nilai plusnyakan jadi lebih sehat dengan bersepeda, meskipun jadi minus di waktu dan sedikit menghitamkan kulit yang sudah terlihat hitam. hehehe


Selesai mandi, Abil dan Ibunya pergi ke dapur untuk sarapan terlebih dahulu. Selain mempersiapkan tenaga, sarapan juga sangat penting untuk di lakukan, agar fokus dan kondisi badan tetap fit ketika terkena angin jalanan dan terik matahari. Sekitar pukul delapan pagi Abil dan Ibunya bergegas berangkat, waktu untuk perjalanan dari rumah ke tempat tujuan dengan menggunakan sepeda bisa di tempuh sekitar hampir satu jam perjalanan, dengan kondisi jalan yang sedikit naik turun, terkadang Abil dan Ibunya harus turun untuk mendorong sepedanya agar bisa melewati tanjakan dengan lebih aman.


Sesampainya di pasar, Ibu Abil memarkirkan sepedanya ke tempat parkir pasar kemudian berjalan menuju salah satu toko elektronik terdekat untuk membeli dispenser. Sesampainya di salah satu toko di pasar, Ibu Abil kemudian menyuruh Abil untuk memilih dispenser sesuai yang Ia inginkan. Tentu saja Abil yang memilih, itu karena alasan Ibu membeli dispenser meskipun di rumah sudah ada teko dan ceret (tempat minum dari alumunium) adalah karena Abil yang meminta beberapa waktu lalu, katanya setelah pergi bermain ke salah satu temanya Dia melihat tempat minum yang bagus dan unik, bisa buat bikin air panas otomatis dan yang terpenting bisa di tempel sticker di badan dispensernya.


Ibu Abil sangat menyayangi Abil, dalam hatinya sebenarnya setiap keinginan Abil ingin selalu Ia penuhi tetapi karena kondisi keuangan tidak selalu memungkinkan mewujudkanya, jadi hanya beberapa permintaan Abil yang bisa Ibu Abil turuti salah satunya dispenser ini. Meskipun untuk membeli dispenser saja Ibu Abil sudah harus menabungnya sejak sekitar dua bulan yang lalu, mengumpulkan dari uang bekerja di pabrik dan terkadang di hari libur Ibu Abil juga bekerja serabutan di sawah orang lain sebagai tambahan penghasilan. Terlebih lagi selama enam bulan kedepan di setiap bulanya Ibu Abil harus membelikan rokok dan kopi untuk stock kebutuhan Bapaknya, setelah di penjara satu bulan yang lalu karena kasus berjudi.

__ADS_1


Dari dalam toko sembari memilih dispenser, Abil melihat Ibunya yang berdiri di depan toko sambil mengelap keringat yang masih keluar membasahi wajah, tangan dan terlihat juga di bagian punggung serta perutnya yang masih basah oleh keringat. Yang Abil pikirkan tentang Ibunya hanya satu hal "Apa kiranya yang sedang di pikirkan dan rasakan Ibu saat ini? ". Terlepas dari itu, dan tidak mau mengecewakan pengorbanan Ibunya, Abil mengabaikan hal tersebut dan melanjutkan memilih dispenser yang sesuai keinginanya.


Ya, Ayah Abil sekarang sedang menjalani masa hukuman penjara selama tujuh bulan, karena kasus perjudian yang di lakukanya. Selain dari keluarga besar, tentunya Ibu Abil sebagai istri juga harus support untuk kebutuhan Bapaknya di penjara, meskipun hanya untuk membelikan rokok dan kopi atau sedikit tambahan uang untuk sesekali jajan ketika bosan dengan makanan di sel. Sebenarnya kondisi seperti ini jauh lebih baik ketimbang ketika Bapak Abil berada di rumah, setiap hari hanya meminta uang ke Ibu atau ke kakak – kakak Abil di perantauan untuk kesenanganya sendiri bukan untuk keperluan atau kebutuhan pokok keluarga.


Bahkan Ibu Abil bisa menyisihkan penghasilanya lebih banyak untuk bulan ini sehingga bisa cukup untuk di gunakan membeli dispenser. Kondisi di rumah meskipun hanya berdua Abil dan Ibunya terasa lebih tenang satu bulan ini, tidak terintimidasi, berisik karena dengkuran Bapaknya yang seringkali ngorok ketika tidur, suara nyala TV tengah malampun tidak terdengar menggangu telinga ketika sedang tidur. Dan Abil sangat berharap kondisi seperti


ini bisa selalu dirasakanya sampai Ia dewasa, yah meskipun pada kenyataanya kemungkinan hanya akan terjadi sekitar enam bulan kedepan saja sampai Bapaknya keluar dari penjara.


Setelah membeli dispenser mereka tidak langsung pulang. Ibu Abil mengajak Abil pergi makan bakso dulu, selain biar Abil senang karena jarang – jarang jajan bakso, setelah perjalanan panjang tadi rasanya Ibu Abil perlu mengisi tubuh dengan bahan bakar lagi, juga kan sebentar lagi mau pulang, jadi butuh tenaga banyak untuk bisa mengayuh sepeda agar tidak berhenti di tengah jalan karena kelaparan atau kelelahan. Merekapun menitipkan dispenser yang baru di beli ke petugas parkir, dan kemudian berjalan ke tempat penjual bakso.


“Tinggal beli sticker di mas – mas tukang mainan nih buat ngisi gambar di bagian depan dan samping dispenser” pikir Abil dengan senangnya masih memikirkan diapenser.


Cuaca yang cerah terlihat sudah mulai meredup, awan – awan hitam di langit mulai berdatangan ke arah Abil dan Ibunya yang sedang makan, segera mereka menyelesaikan makan dan pergi ke tempat parkir untuk bergegas pulang sebelum hujan turun. Begitu juga dengan waktu, sekarang sudah menunjukan pukul sebelas lebih duapuluh, yang mana sebentar lagi waktu sholat dzuhur tiba. Ibu Abil mengayuh sepedanya sedikit lebih cepat di bandingkan ketika berangkat tadi, agar bisa sampai di rumah sebelum hujan turun. Sambil Abil di boncengan memgang erat dispenser di pangkunya agar tidak terjatuh saat di perjalanan.


Bersyukur mereka sampai di rumah sebelum hujan turun, sekitar setengah jam setelahnya. Bergegas Ibu Abil membersihkan diri untuk segera bisa melaksanakan sholat dzuhur sedangkan Abil masih sibuk memutar – mutar dispenser, mengamatinya dan sesekali menciumnya memastikan aroma yang timbul dari dispenser adalah bau khas barang baru dan bukan barang bekas yang di packaging ulang. Membaca buku panduan penggunaan dispenser juga Abil lakukan agar bisa memahami tentang dispenser dan cara menggunakanya dengan benar.


Selepas sholat, sang Ibu yang melihatnya masih belum beranjak dari sisi dispenser untuk mengambil wudhu kemudian menegurnya,

__ADS_1


“Nak, kok belum wudhu? Kan Abil belum sholat” kata Ibu Abil menegurnya lirih.


“Iya Bu, sebentar lagi kok, ini nanggung bacanya belum selesai” jawab Abil sambil pandangan masih tertuju pada buku petunjuk dispenser.


“Yaudah, sini dispensernya Ibu balikin ke toko ya. Abilnya jadi males – malesan soalnya” kata Ibu lagi agar Abil bergegas sholat.


“Lahh jangan dong Bu, Iya – iya ini Abil wudhu sekarang ya” sahut Abil sambil bergegas meletakan buku yang Ia baca dan kemudian pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan setelahnya sholat.


Selesai sholat, Ibu Abil yang kelelahan karena bersepeda dengan jarak yang lumayan jauh langsung pergi ke kamar untuk beristirahat. Sedangkan Abil selesai sholat langsung melanjutkan aktivitasnya unboxing dispenser dan mapping tempat sticker yang akan Ia tempelkan nantinya.


Hari – hari yang Abil dan Ibunya lalui selama tujuh bulan terakhir sangat menyenangkan, mereka bisa melakukan aktivitasnya dengan lebih baik. Abil bisa belajar dengan lebih tenang, bebas bermain dan menonton  TV di rumah. Ibu juga terlihat lebih nyaman saat beristirahat di rumah sepulang kerja,  terkadang mereka juga beraktivitas bersama, saat membersihkan rumah, pergi ke sawah merawat tanaman sayur – sayuran atau terkadang menonton TV. Ibu Abil juga bisa membayar SPP sekolah Abil tepat waktu setiap bulanya, dan untuk makanpun Ibu bisa setiap hari membelikan lauk meskipun hanya sekedar kerupuk, tempe ataupun ikan asin. Hal ini jauh lebih baik dari sebelumnya yang biasanya seharian penuh hanya ada nasi putih saja tanpa sayur atau lauk pauk dan ujung – ujungnya bikin sambal bawang bakar andalan.


Dispenser baru yang beberapa waktu lalu di belipun sekarang sudah penuh sticker ultramen dan berbagai macam hewan sesuai yang di inginkan Abil. Sampai akhirnya Bapak Abil keluar dari penjara dan ikut serta kembali menjalani kehidupan bersama di keluarga. Seperti yang tidak di harapkan sebelumnya, kembalinya Bapak Abil dari penjara hanya berjalan baik sekitar satu bulan pertama, setelahnya kehidupan seperti sebelumnya kembali Abil dan Ibunya rasakan.


Penjara sepertinya tidak selalu memberi efek jera atau dampak positif  ke pelaku pelanggar hukum, cukup banyak yang berasumsi bahwa penjara hanyalah “tempat seseorang mendapat hukuman yang setimpal atas kesalahan yang dilakukan” mekipun benar, tapi bukankah lebih tepat dan bijak jika mengartikan bahwa penjara adalah “ tempat merasakan penderitaan yang sama dengan yang dilakukanya kepada orang lain” (sesuai kapasitas masing –masing individu), sehingga dengan merasakan rasa sakit penderitaan yang di rasakan, seharusnya orang tersebut tidak akan melakukan hal yang sama lagi dan memperbaiki kesalahanya.


Apapun itu Abil selalu berusaha memahami tentang perasaan yang Ia rasakan, entah ketika terjadi hal buruk kepadanya, kepada Ibunya atau kepada orang lain di sekitarnya. Dengan memahami apa yang di rasakan diri sendiri dan orang lain, Abil semakin mengerti tentang apa yang mungkin sebaiknya Ia lakukan dan tidak di lakukan. Dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk memutus rantai kebencian dan penderitaan, dengan tidak melakukan hal yang tidak Ia sukai kepada orang lain, kecuali hanya Ia lakukan dengan tujuan memotivasi ke arah hal baik yang tentunya akan memberikan dampak positif yang cukup besar ke Abil, sebagai contoh semangat dan pantang menyerah.

__ADS_1


__ADS_2