Langkah Kecil Si Pejuang Mimpi

Langkah Kecil Si Pejuang Mimpi
Bab 4 Penghakiman


__ADS_3

Penghakiman


Dua buku tentang perjalanan sepiritual koleksi paman Abil selesai di bacanya, kemudian di rapihkan dan di kembalikan lagi ke lemari buku di ruang tamu, dan Pamanya terlihat sekarang sudah rapih selepas pulan dari pekerjaanya di sawah, kemudian berjalan menuju sepeda motornya dan kemudian pergi karena ada keperluan. Oh iya, karena sudah tidak berkeinginan lagi pergi merantau, Adik bungsu Ibu Abil ini sekarang memilih menetap di kampung dan tinggal berdua bersama nenek Abil. Sedangkan Kakaknya yang lain termasuk Ibu Abil, semuanya tinggal terpisah bersama keluarganya masing – masing.


Abil kemudian berjalan ke kamar neneknya untuk berpamitan, Abil tidak langsung pulang tapi pergi  menuju rumah salah satu basecamp anak – anak desa di kampung tempat tinggal Abil. Sesampainya di basecamp terlihat Andi sedang menonton TV di dalam rumah seorang diri, anak – anak sebayanya yang lain sepertinya sudah pulang karena sudah lumayan siang dan acara kartun hari minggu di TV juga sudah selesai.


Sekarang sekitar pukul sebelas siang, acara TV sudah tidak ramah lagi di tonton anak – anak seusia Abil, yang ada tinggal acara gosip artis kesukaan Ibu – Ibu. Cuaca juga lumayan terik hari ini, sepertinya enak jika membeli es dawet di dekat puskesmas pinggir desa pikir Abil. Abil kemudian mengajak Andi membeli es dawet, sekalian nanti pergi ke tempat fotocopy untuk membeli buku perlengkapan pramuka yang jumat kemarin di instruksikan pembimbing pramuka untuk masing – masing peserta agar memiliki buku catatan khusus untuk eskul ini.


Dengan berboncengan, mereka pergi menuju tempat penjual es dawet kemudian setelahnya membeli buku pramuka yang Abil ingin beli. Setelah mendapatkan yang mereka cari, kemudian Abil mengantar Andi pulang ke rumahnya, dan Abilpun juga langsung pulang setelahnya. Sesampainya di rumah, Abil langsung berlari ke kamarnya. Di bukanya buku pramuka yang baru di belinya, dan di ambilnya uang kembalian untuk membeli es dan buku tadi dari halaman paling belakang buku.


Tangan Abil gemetar ketika mengambil uang tersebut, setelah di hitung ternyata masih tersisa tigapuluh ribu. Abil sebenarnya sedang bingung, karena uang yang Ia pakai hari ini untuk jajan dan membeli buku adalah uang yang tadi pagi Ia temukan di salah satu halaman buku yang di bacanya saat di rumah Paman Abil, sebesar lima puluh ribu. Tanpa memastikan dan meminta izin ke Paman atau Neneknya, Abil langsung mengambil uang tersebut dan membawanya yang kemungkinan adalah uang milik Pamanya. Mau menanyakanpun untuk sekarang Abil merasa takut dan khawatir, selain karena sebagian uangnya sudah Ia gunakan, nanti kalau mereka tahu, Abil kemungkinan bisa kena marah juga. Abil memilih untuk diam dan menggunakan uang sisa tersebut untuk jajan di sekolah, toh selama ini Abil tidak pernah di beri uang saku ketika sekolah biar sesekali merasakan bisa jajan, pikir Abil.


Satu, dua, tiga hari terlewati……….


Sampai akhirnya sekitar satu minggu kemudian, sesampainya di rumah sepulang sekolah, Abil kaget karena tumben sekali paman Abil berkunjung siang – siang ke rumah.


“Ada Lek Har, dari tadi ya?” Tanya Abil sambil salim ke Pamanya tersebut.


“Iya Bil, dari tadi ini. Nanti kalau sudah ganti seragam kesini lagi ya, Lek Har mau bicara sebentar” Jawab Lek Har yang sepertinya ingin ada hal yang di bicarakan dengan Abil.


“Iya Lek, sebentar Abil ganti baju dulu ya” sahut Abil sambil bergegas pergi ke kamar untuk ganti baju.


Terlihat juga ekspresi sinis wajah Bapak Abil, yang duduk berhadapan dengan pamannya. Abil merasa ada sesuatu yang ganjil, termasuk terkait uang yang Ia ambil tempo hari dari buku koleksi Pamanya di ruang tamu. Mungkin itu yang ingin di diskusikan paman Abil, atau mungkin hal lainnya.Terlepas dari apa yang Ia pikirkan, Abil bergegas mengganti pakaianya dan segera menuju rang tamu.


“Iya Lek, ada apa ya?” Tanya Abil, yang kemudian ikut bergabung duduk bersama Paman dan Bapaknya.


“Gini Bil, kemarin siang Pak Lekmu ini mau pergi kondangan ke teman, dan rencana mau pakai uang yang di simpan di buku yang ada di rak ruang tamu. Tapi pas Pak Lek cek, uangnya udah ngga ada. Pak Lek nanya ke Nenek katanya Dia ngga ngambil, dan Nenek bilang biasanya yang buka – buka buku selain Pak Lek ya Cuma Abil, katanya. Benar Bil?” tanya Pak Lek kepada Abil memastikan kebenaranya.


Abil hanya tertunduk, badanya menjadi panas, berkeringat dan wajahnya memerah. Sesekali melihat wajah Bapaknya yang sepertinya sudah ingin melampiaskan kemarahannya.


“Iya Lek, Abil yang ngambil” jawab Abil lirih, kepada Pamanya.


“Berapa yang Abil ambil? Kenapa ngga bilang ke Pak Lek atau Nenek?” tanya Pamanya lagi.


“Lima puluh ribu Pak Lek, iya maaf ya Lek, kemarin Abil kira itu bukan uang Pak Lek karena ada di buku, jadi Abil ambil buat beli buku pramuka sama jajan” jawab Abil dengan malu dan takut, Pamannya pasti akan marah dan Bapak sudah pasti akan tambah memarahinya habis –habisan, pikir Abil dalam hati.

__ADS_1


“Lain kali kalau ada nemu yang bukan punya kamu, pastikan dulu ya barang tersebut punya siapa. Jangan sampai milik orang lain kamu ambil tanpa izin, itu kemrin uang tabungan Pak Lek, biasanya Pak Lek selipin ke buku biar ngga lupa atau keselip” kata Paman Abil sambil menjelaskan.


“NAHH, BENER KAN. SUDAH PASTI ABIL YANG NGAMBIL, SIAPA LAGI?” (Bapak memotong pembicaraan Paman dengan Abil )


“Emang ini anak susah di bilangin, sudah di sekolahin tetap saja ngga ngerti – ngerti, percuma sekolah, buat apa kalo hal kaya gini saja ngga paham. Ngga pernah Bapak sama Ibu ngajarin buat mencuri, merugikan orang lain saja. Mau jadi apa kamu nanti!!?” kata Bapak Abil memarahinya.


“Sudah, sudah Ka. Abil juga sudah mengakuinya, saya hanya mau memastikan saja bukan buat memojokan Abil seperti ini” kata Paman Abil yang mencoba mendinginkan suasana.


“Bil, itu dengerin kata Bapak ya. Besok – besok jangan di ulangi lagi ya” Kata Paman Abil menasehatinya.


“Iya Pak Lek, Abil minta maaf ya. Besok – besok Abil janji ngga akan ngulangin lagi” menjawab Pamanya.


“Kalo sudah kaya gini kan semuanya jadi repot, uangnya sudah habis juga. Kamu mau balikin uang Pak Lekmu pakai apa?” tanya Bapak kepada Abil


Abil yang masih takut dan bingung hanya bisa terdiam. Dan memang benar juga sisa uangnya sudah Abil pakai habis untuk jajan selama seminggu kemarin.


“Yaudah besok kamu antarkan satu karung gabah ke rumah Pak Lekmu (harga satu karung gabah saat ini adalah lima puluh ribu). Antarkan pakai sepeda besok sepulang sekolah!!” seru Bapak Abil yang kesal karena hal ini.


“Udah ngga usah ngga apa – apa Ka, yang penting Abil tidak mengulanginya lagi” kata Paman Abil.


“Yaudah besok Abil anter ya ke rumah Pak Lek, taruh saja di teras depan. Sama sekalian minta maaf ke Nenek ya, bilang janji juga ngga akan ngulangin lagi” kata Paman Abil menasehati.


“Iya Pak Lek, besok Abil anter gabahnya sepulang sekolah ya. Besok Abil juga akan minta maaf ke Nenek dan ngga akan ngulangin hal seperti ini lagi” jawab Abil lirih.


Abil kemudian pergi ke dalam menuju kamarnya, Dia menangis lirih agar suara tangisanya tidak sampai keluar dari kamar, bahaya kalau sampai Bapaknya mendengar pasti malah akan tambah di marahi.


Abil tahu mengambil barang milik orang lain tidak di benarkan dalam hal apapun, tapi di sisi lain Abil juga ingin bisa seperti teman – temanya yang lain. Urusan sekolah di urus orang tuanya, kebutuhan sehari – hari selalu tercukupi dan Ibu Bapaknya menafkahi serta membimbing dengan semestinya. Yang kenyataanya Bapaknya hanya tidur – tiduran setiap hari di rumah, malam pergi berjudi dan pulangnya minta uang ke Ibu sambil marah – marah. Hal kecil yang bisa Ia jadikan alasan untuk memarahi keluarganya akan Ia manfaatkan umtuk melampiaskannya, seperti hari ini.


Sosok panutan yang Abil miliki di keluarga hanya tinggal Ibunya, tapi bukan karena nasehat Ibunya Abil memahami apa yang Ibunya inginkan dari Abil, hanya dari bagaimana seorang Ibu memberikan contoh akhlak, yang membuat seorang anak tergerak dengan sendirinya setelah melihatnya saja. Ibu Abil jarang menceramahi Abil, tapi Ia memberi contoh langsung tentang bagaimana cara menjalani hidup dan bagaimana agar tetap menjadi hebat meskipun dalam keterbatasan.


Beberapa bulan berlalu, momen lebaran kembali tiba.Terkait hal ini dengan lantangnya Bapak Abil memberitahukannya ke semua keluarga yang datang ke rumah, memberi tahu bahwa anaknya beberapa waktu lalu mencuri uang Pamanya, perbuatan yang memalukan katanya, percuma sekolah kalau ujung – ujungnya mencuri. Untung Ia masih ada tabungan gabah beberapa karung lagi, jadi bisa untuk mengganti uang Pamanya yang di curi Abil.


Abil sudah mendengarnya setengah hari ini, dan daripada lanjutmendengarkan saru hari penuh kemudian Abil memilih keluar rumah dan pergi bermain ke rumah temanya. Salah satu momen yang biasanya dinantikan Abil, tapi sepertinya lebaran kali ini hanya menjadi mimpi buruk buat Abil. Momen seperti tahun – tahun sebelumnya hilang tak terasa karena penghakiman oleh Bapaknya, yang padahal sebenarnya hal ini juga sudah terselesaikan sejak setelah Paman Abil datang kerumah.


Masa lebaran sudah selesai, waktu berlalu dari hari kehari, minggu ke minggu dan bulan ke bulan. Sampai suatu hari, sepulangnya Abil dari sekolah. Tiba  - tiba terdengar suara ketokan di pintu depan.

__ADS_1


Tok, tok, tok assalamualikum permisi (suara salam dari seorang lelaki)……..


Abilpun pergi menuju pintu depan dan membukakan pintu untuk tamunya tersebut.


“Waalaikumsalam, Iya Pak. Ada perlu apa ya? Tanya Abil sambil mempersilahkan ke dua tamunya masuk dan duduk di kursi ruang tamu.


“Bapak ada dek?” tanya seorang tamunya pada Abil.


“Wahhh. Bapak lagi ngga ada di rumah, ngga tau kemana Pak, saya baru pulang sekolah soalnya” jawab Abil kepada salah satu Bapak – bapak tersebut.


“Ngga ada ya, Oh iya usaha Bapak di sawah gimana dek? Bagus ngga?” tanyanya lagi kepada Abil.


“Usaha? Bagus?, usaha apa ya Pak? Bapak saya tidak pernah bikin usaha di sawah” jawab Abil


“Hahhh, yang benar dek? Ini Bapak kamu ngajuin pinjaman duapuluh juta buat modal usaha katanya, jaminanya sertifikat tanah sawah lho” kata Bapak – Bapak tersebut yang sedikit bingung dengan jawaban Abil.


“Bapak pinjam uang sebanyak itu ya Pak? Yang saya tahu Bapak tidak pernah kesawah, apalagi sampai menggarap sawah untuk di buat usaha, ngga mungkin si” sahut Abil yang juga bingung dengan perkataan tamunya.


“Gini dek, Bapak sama Ibu kamu satu tahun lalu pergi ke koperasi kami pinjam uang untuk buka usaha, nah nanti keuntungan usaha akan di gunakan mencukupi kebutuhan keluarga katanya, dan sudah dua bulan ini menunggak angsuran, ini Bapak kasih kuitansi kalkulasi pinjaman dan bunganya ya, nanti tolong sampaikan ke Bapak supaya segera melunasi tunggakan dan pinjaman ya” pinta salah satu Bapak yang ternyata dari koperasi simpan pinjam di salah satu kantor di kecamatan.


“Baik Pak nanti saya sampaikan ke Bapak kuitansinya, nanti untuk keperluan yang lainya bisa langsung ke Bapak saya ya Pak, saya ngga paham tentang hal seperti ini soalnya” jawab Abil sambil mengambil kuitansi yang di berikan oleh pihak koperasi.


Sore hari hampir pukul lima sore Ibu Abil pulang dari tempatnya bekerja, seperti biasa Ibu Abil langsung ke kamar mandi dan mandi agar bau ikan asin di badanya hilang dan setelahnya beristirahat di ruang tengah sambil menonton tv. Abil kemudian mendekati Ibunya dan memberikan kuitansi yang dititipkan oleh orang dari koperasi tersebut.


“Bu, tadi ada tamu dari koperasi. Abil di kasih kuitansi total pinjaman dan angsuran, tadi Bapak – bapak koperasi juga menanyakan tentang usaha yang di buat Bapak sama Ibu pas waktu akan pinjam uang dengan jaminan serifikat tanah sawah” kata Abil kepada Ibunya sambil memberikan kuitansi yang Ia terima dari koperasi.


“Dua puluh juta bil? Ini sertifikat tanah sawah yang mana? Ibu tidak pernah bersama Bapakmu pergi pinjam uang sebanyak ini, apalagi sampai menggadaikan sertifikat tanah” jawab Ibu Abil yang kaget karena hal ini.


Ibu tiba – tiba beranjak dari duduknya, Ia kemudian pergi ke rumah adik Iparnya (adik Bapak Abil) yang tinggalnya bersebelahan (hanya berjarak tigameteran rumahnya). Terburu – buru, Ibu Abil bergegas menuju rumah adik Iparnya tersebut untuk segera memastikan bahwa yang telah di lakukan Bapak Abil tidak sampai sejauh ini,


Selepas maghrib terlihat Bapak Abil sudah pulang dari rumah yang entah seharian Ia pergi kemana tidakada keluarga yang mengetahuinya termasuk Abil dan Ibunya, selesai sholat maghrib Ibu Abil terlihat langsung menghampiri Bapaknya di ruang tamu di susul Paman  Abil yang sepertinya sudah janjian dengan Ibunya. Entah apa yang sebenarnya terjadi, Abil tidak berani ikut mendekat, dan sepertinya terlihat juga mereka saling bersitegang dalam obrolanya hingga beberapa waktu berlalu cukup lama.


Ibu Abil tiba – tiba terlihat masuk kedalam kamar, dengan Bapak Abil dan adiknya masih membahas obrolan tentang hal tersebut yang masih belum selesai. Ibu Abil kemudian menyuruh Abil mengambil hp dan menelpon kakaknya yang ada di perantauan, yang terdengar dari obrolan bahwa ternyata Bapak Abil memalsukan tanda tangan Ibunya dengan menyewa orang asing untuk Ia gunakan sebagai jaminan meminjam sejumlah uang yang di pakai untuk berjudi. Ibu Abil menangis cukup lama, Abil yang bingung dan tidak tahu harus bagaimana hanya bisa termenung di dalam kamarnya sampai akhirnya tertidur pulas.


Abil pikir dengan Bapaknya memberikan pelajaran kepada Abil ketika melakukan kesalahan dengan mengambil uang Pamanya artinya Bapaknya tidak mungkin melakukan hal yang serupa. Tapi ternyata yang di lakukan Bapak Abil hanya sebuah alibi yang di gunakan  untuk menutupi aibnya sendiri, dan ternyata jauhh lebih besar dari pada yang di lakukan Abil. Atau memang mungkin itu salah satu cara bertahan yang di lakukan oleh orang – orang pecundang untuk bisa tetap hidup dengan pemikiran egoisnya, demi mempertahankan gengsi dan menyembunyikan fakta tentang kehidupan sebenarnya.

__ADS_1


Seseorang tidak akan pernah bisa merasa puas ketika apa yang Ia pahami dari hidupnya belum sejalan antara pikiran dan hatinya. Menghakimi bukan solusi, opini tentang penghakiman terhadap opini lain merupakan sebuah kegegalan dalam berfikir. Mengolah data - data di pikiran dengan menggunakan lebih banyak referensi pengalaman hidup menjadikan output tentang ucapan dan tindakan kita menjadi lebih baik dan bijak. Sering kaliorang lupa bahwa yang terpenting dalam sebuah kehidupan bukan hanya tentang megahnya rumah dengan pernak –perniknya, tapi tentang manusia di dalamnya dan bagaimana cara menjalani kehidupanya agar menjadi kemegahan yang absolut.


__ADS_2