Langkah Kecil Si Pejuang Mimpi

Langkah Kecil Si Pejuang Mimpi
Bab 2 Abilash Kecil


__ADS_3

Abilash Kecil


Suara sorak kegirangan terdengar hingga ke ujung perpustakaan sekolah, sorak sorai anak – anak yang akan pergi berlatih gamelan di gedung kesenian depan sekolah, gedung bekas gudang sekolah yang kini di jadikan tempat penyimpanan alat musik gamelan dan tempat berlatih anak – anak terpilih yang akan mengikuti lomba kebudayaan Karawitan sebelum libur semester kenaikan kelas.


Anak – anak yang mengikuti latihan adalah antara anak kelas tiga sampai kelas lima, dan sekitar lima belas anak terpilih mengikuti pelatihan tersebut.


Anak – anak yang kegirangan tersebut adalah anak – anak kelas lima, dimana ketika latihan dilakukan saat jam pelajaran masih berlangsung dan bisa meninggalkan kelas yang di ajar oleh Pak Paijan, salah satu guru yang galak dan diskriminatif waktu itu.


Yaa, Pak Paijan merupakan salah satu guru yang tidak di sukai murid di sekolahan. Selain suka marah – marah kalu mengajar, dia juga seringkali mendiskriminasi siswa di sekolahan terkait dengan tingkat kemampuan anak, kondisi fisik bahkan background keluargapun tak luput dari rasa sinis pandangan Dia ke anak didiknya yang tidak sejalan dengan profesi sebagai tenaga pengajar yang seharusnya memberikan edukasi dan jadi teladan bagi para murid. Dan hal itulah yang membuat sebagian siswa merasa kegirangan jika ada kegiatan di luar pelajaran saat jam pelajaran, terasa seperti terbebas dari pantauan sniper mata - mata griliya.


Pernah suatu waktu Abil di tegur karena membuat gambar di lengannya, gambar yang terlihat seperti cacing dengan sayap serta memiliki kaki, Abil berniat menggambar naga tapi karena kemampuan gambarnya yang di bawah rata - rata terlihat gambar tersebut seperti cacing di kail pancingan, hehehe.


Pak Paijan yang tak sengaja melihatnya saat menerangkan pelajaran sambil berkeliling kemudian menegurnya dengan keras.


"ABILL, apa itu di lengan kirimu. mau jadi jadi preman?" tanya Pak Paijan dengan nada yang membuat semua siswa mengalihkan pandangan dari papan tulis ke Abil.


"Engga Pak, tadi iseng - iseng saya gambar sambil memperhatikan materi Bapak" jawab abil atas pertanyaan Pak Paijan.


"KAMU YAA, hapus segera atau saya panggil orang tua kamu" sahut Pak Paijan mengancam.


Tiba - tiba terdengar salah satu teman sekelasnya berkata dengan keras


"Iya itu Pak, udah mah Bapaknya kan pernah di penjara beberapa waktu lalu mungkin Dia pengin seperti Bapaknya" sahutnya kepada Pak Paijan yang sedang menegur Abil.


"Oalah pantes saja, pokoknya segera skarang kamu bersihkan gambar di lenganmu sekarang" kata Pak Paijan menimpali perkataan salah satu muridnya tadi.


"Baik Pak, saya izin ke kamar mandi untuk menghapus gambar ini" jawab abil sambil berdiri meminta izin ke Pak Paijan.


Dengan perasaan kesal dan takut, Abilpun pergi ke kamar mandi dan bergegas menghapus gambar di lenganya. Dia tidak menyangka sebagai seorang guru cara yang di gunakan untuk menegur muridnya akan semenyakitkan itu di tambah temannya yang tak tahu kondisi internal Abil malah menghakiminya di hadapan guru dan teman sekelas lainya. Tapi sudahlah memang seperti itu kenyataanya pikir Abil agar tidak terbawa suasana.


Abil termasuk salah satu murid yang di pilih untuk mengikuti lomba Karawitan mewakili sekolahnya untuk perlombaan tersebut.


Abil mendapat peran memainkan gamelan saron, salah satu alat musik berbentuk seperti piano, berbahan lempengan kuningan, di sangga oleh papan kayu dan di bunyikan dengan cara di pukul menggunakan palu kayu di ikuti gerakan tangan lainya yang meredam suara agar tidak bergema mengeluarkan sura panjang.


Untuk jenisnya sendiri gamelan memiliki cukup banyak variasi seperti, kendang, peking, gong, kempul, kenong, bonang dan di tambah vokal sebagai pelengakap grup karawitan.


Hari ini anak – anak berlatih selama dua jam penuh, mulai dari pukul setengah sepuluh setelah jam istrahat pertama sampai pukul setengah dua belas menjelang jam pulang sekolah.


Ikut serta di grup kesenian Karawitan adalah salah satu perlombaan yang Abil ikuti, Ia juga ikut serta untuk perlombaan – perlombaan yang lainya seperti gerak jalan, pramuka dan sepak bola.


Abil termasuk siswa yang cukup baik di bidang non akademik, Dia menguasai cukup banyak cabang perlombaan yang tiap tahun di adakan oleh sekolah dan selalu ikut mewakili di tim – tim tersebut. Yah meskipun jarang mendapat juara tapi tim di sekolahan Abil selalu tampil cukup bagus di perlombaan.


Sekitar pukul setengah dua belas latihanpun selesai, anak – anak kembali ke kelas masing – masing untuk mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung. Pelajaran di kelas pun terhenti sejenak karena suara gaduh anak - anak setelah latihan, dan juga tak lama setelahnya bel pelajaran berakhirpun terdengar, tanda berakhirnya seluruh belajar – mengajar hari ini.

__ADS_1


Hari ini Abil sudah ada janji dengan salah satu sahabatnya, Andri. Andri adalah teman sekelas, sahabat sekaligus sepupu Abil. Mereka memang cukup akrab, bahkan seringkali mereka pergi bersama entah untuk bermain di luar sekolah ataupun ketika di sekolahan.


Hari ini mereka berencana untuk pergi bermain PS (playstation) di tempat rental PS kampung sebelah, sekitar pukul dua siang.


Sesampainya di rumah, seperti biasa Abil memarkirkan sepedanya di pagar beton teras rumah dengan posisi sepeda menyender di pagar rumah, maklum standar sepedanya sudah lama rusak karena seringkali di gunakan Abil untuk menopang tubuhnya yang lumayan gempal.


Lagi pula kalau di perbaiki pasti ada biaya yang harus di keluarkan, sudah pasti Ayah Abil akan marah - marah. Mending kalau setelah marah langsung ngasih uang buat benerin sepeda, biasanya tidak sama sekali makanya Abil lebih memilih cuek terkait hal tersebut, toh sepedanya masih bisa di gunakan pikir Abil.


Abil kemudian membuka pintu rumah dengan perlahan, dengan mengucapkan salam yang lirih, tangan Abil mendorong pintu agar terbuka dan tidak membuat kebisingan. Bukan tanpa alasan dia melakukan hal ini, Dia tahu Bapaknya pasti sedang duduk/tidur di ruang tamu rumah, dan jika Dia sampai membuat kegaduhan, habislah kena omelan si Bapak.


Benar saja, di sebelah kanan pintu, di kursi kayu ruang tamu si Bapak sedang tidur terlelap, dan Abil pun masuk perlahan berusaha masuk ke rumah tanpa membuat ke bisingan yang mungkin bisa membuat Bapaknya bangun.


Sesampainya di kamar, Abilpun bergegas mengganti pakaian dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, mencuci kaki dan tangan sekalian wudhu untuk menunaikan shalat dzuhur. Selesai shalat, Abilpun pergi ke dapur untuk makan siang.


“hmmmm” gumamnya lirih. Terlihat hanya ada nasi putih di ceting dalam lemari makanan.


Sesaat Kemudian Dia pergi ke belakang rumah dan mengambil klari (daun kelapa kering yang sudah di lepas dari tangkai dan di gunakan untuk membuat api), di ambilnya satu genggam klari yang nantinya akan di gunakan untuk membakar cabai, bawang dan terasi sebagai komposisi membuat sambal.Hal ini sering Abil lakukan, selain lebih enak jika di bakar toh alasan lainya karena minyak goreng pasti juga tidak ada.


Abil kemudian mencari besek (tempat makanan dari bambu yang di anyam) berharap menemukan cabai, bawang, terasi dan garam. Ya, di rumah Abil besek bekas di pakai sebagai tempat menympan bumbu dapur.


Seperti biasa, terkadang di rumah tidak ada lauk yang bisa Abil gunakan sebagai teman nasi saat makan, jadi Abil membuat sambal untuk bisa tetap makan dengan sedikit rasa kombinasi pedas dan asin ketimbang Ia hanya makan nasi saja.


“Alhamdulillah iseh ono” (Alhamdulillah masih ada) ucapnya dalam hati.


Di ambilnya satu klari lalu di kupas dahannya untuk diambil lidinya saja dan kemudian dijadikan tusuk untuk membakar cabai, terasi dan bawang. Setelahnya Abil langsung menyalakan klari dengan korek yang di ambil di sebelah tungku.


“Creeekkkk”


Nyala apinya langsung Ia gunakan untuk membakar klari. Setelah apinya membesar kemudian Abil menaruh sate lidi bawang, cabai dan terasi tadi di atas api yang Ia nyalakan.


Bau harum bawang merah membuatnya semakin lapar, tapi juga membuat Abil bersemangat karena sebentar lagi Ia akan makan setelah seharian menahan lapar di sekolah karena tidak pernah jajan. Jangankan jajan, uang SPP bulanan saja biasanya Abil bayar setiap satu semester sekali atau setelah menerima surat teguran keterlambatan membayar SPP bulanan.


Setelah terlihat sebagian cabai dan bawang yang ia bakar menghitam, segera Abil mematikan api dan menyiapkan leyeh (cobek), di uleknya bumbu tadi kemudian di tambahkan sedikit garam agar tidak terlalu pedas. Selesai membuat sambal, barulah dia menyaipkan nasi dan kemudian memakanya dengan lahap.


Rasa lapar dan waktu menyiapkan makan yang lumayan lama membuatnya menikmati makanan alakadarnya tersebut dengan perasaan senang dan puas.


Selesai makan, Abil juga langsung mencuci piring yang Ia gunakan untuk makan barusan di tambah bekas makan Bapaknya, entah lauk apa yang ia makan tapi sepertinya di bekas piring ada sisa sayur yang menempel, tapi sudahlah


“Toh aku juga sudah kenyang, yang penting habis ini aku pergi ke tempat Andri buat main PS” ucapnya dalam hati.


Oh iya, Ibu Abil pekerja buruh di pabrik ikan asin, Dia pulang sekitar pukul setengah empat sore setiap harinya.


Keluar rumahlah si Abil, dengan menutup kembali pintu secara perlahan, Dia tidak ingin Bapaknya terbangun saat ia ingin pergi main karena sudah pasti kalau Bapaknya tahu dia bakal di marahi dan di suruh ngerjain hal lain.

__ADS_1


Berangkatlah dengan penuh semangat Abil ke rumah Andri, biasanya Abil singgah dulu ke rumah neneknya, bukan karena apa, Abil meminta izin untuk pergi main ke nenknya tersebut, agar selain berpamitan Abil juga mendapat uang jajan.


Sesampainya di rumah neneknya Abil menyapa neneknya dan seperti biasa juga Ia menawarkan bantuan tenaga pijit ke neneknya agar di beri uang.


“Nek, pegel ngga nek kakinya, sini Abil pijit yaa” ucap Abil dengan nada pelan sambil tersenyum.


“Pengin jajan apa emangnya Bi?l” jawab neneknya yang sudah paham dengan sikap Abil tersebut.


“Mau main PS sama Andri nek nanti, Abil ngga ada uang buat bantu bayar sewanya, ngga enak sama Andri, tiap kali pergi tempat rental PS Dia terus yang bayar akunya ngga pernah bantuin bayar nek”.


Andri selama ini selalu mentraktir Abil untuk banyak hal seperti ketika main PS, jajan atau bahkan beli saus untuk bakaran ikan hasil tangkapan mereka di sawah. Andri tidak pernah mempermasalahkan hal itu, dia juga tau kondisi Abil dan keluarganya.


“Ini nenek kasih uang tiga ribu, udah kamu pergi ke rumah Andri sana, besok kalau libur sekolah baru kamu ke sini buat pijitin nenek” ucap neneknya.


“Nggih nek, makasih ya nek. Abil janji besok libur kesini buat mijitin nenek” balasnya dengan perasaan senang.


Pergilah Abil ke rumah Andri yang tempatnya di samping rumah neneknya.


“Andriiiii, Ndriiii, Andriiii” teriak Abil dari depan rumah.


“Iya Bil, bentar” sahut Andri dari dalam rumah.


Selang beberapa menit kemudian Andri keluar dan menemui Abil.


“Ayo bil, udah nih. Boncengan apa sendiri – sendiri nih?” kata Andri.


“Boncengan aja deh, biar lebih gampang parkirnya” jawab Abil.


“OK, sepeda kamu taruh depan sini aja ya Bil” sahut Andri sambil menunjuk ke pohon depan rumah.


“Oke, Ndri” jawab Abil.


Berangkatlah mereka ke tempat rental PS yang jaraknya sekitar satu kilo dari rumah Andri. Mereka bermain sekitar dua jam hari ini, setelahnya sekitar pukul empat sore mereka berdua pulang kerumah.


Abil lumayan sering bermain dengan Andri, mereka cukup akrab sampai di masa sekolah tingkat atas yang mana karena berbeda sekolah dan circle pertemanan, sekarang ini mereka jarang pergi bermain bersama lagi.


Abil lebih sering bermain dengan teman dekat rumahnya, yang selain bermain terkadang ada pekerjaan sampingan yang biasa di lakukan anak seusianya di daerah tempat tinggalnya, yaitu sebagai buruh di sawah untuk bantu di proyek pembibitan tanaman. lumayan uangnya bisa di pakai Abil untuk jajan di sekolah ataupun ketika di rumah.


Abil adalah anak yang periang, Dia melupakan permasalahan di keluarganya ketika bermain dengan teman - temanya. Itulah kenapa meskipun sering kali di marahi sepulang bermain atau bahkan terkadang sampai di pukul pakai tingkat kayu Abil tetap tidak peduli dan tetap bermain bersama temanya.


Abil sebenarnya sering iri dengan teman - teman seusianya, yang mana mereka biasa pergi bersama orang tuanya untuk berlibur, makan di luar ataupun sekedar melihat hiburan di jalan. Abil kecil tidak berkesempatan merasakan momen seperti itu, bahkan kenakalan - kenakalan yang Ia lakukan selama ini di lakukanya hanya untuk mengekspresikan perasaan hatinya agar tidak terasa berat dan menjadi beban di hidup Abil.


Abil percaya bahwa kebahagiaan datangnya dari hati, faktor eksternal hanya pemicu datangnya kebahagiaan. Penting memang tapi bukan faktor penentu utamanya.

__ADS_1


__ADS_2