
“Huft. Gue bosen banget hidup kayak gini terus. Percuma cantik, kaya, pintar dan ramah. Gue tetep aja nggak punya sahabat,” keluh seorang gadis sembari menopang dagunya.
Matanya menjelajah liar ke arah seisi kantin. Semua orang tengah makan dengan teman ataupun sahabat mereka. Sedangkan ia selalu makan sendirian. Bukannya tak ada yang mau berteman dan menjadi sahabatnya. Hanya saja, ia memang terlalu pemilih dan cuek kepada orang baru. Itu sebabnya banyak orang yang hanya memilih untuk mengagumi tanpa mendekatinya.
Tiba-tiba ada sesosok laki-laki yang duduk dihadapan gadis itu, sehingga membuat gadis itu mengernyit bingung. Sedangkan siswa-siswi lainnya sudah melotot karena terkejut.
“Heh! Lu ngapain disini? Nggak ada meja lain, apa? Sok kenal banget duduk di depan gue. Mana nggak pake izin, lagi.” Gadis itu refleks langsung memarahi laki-laki yang dengan seenaknya malah menikmati bakso yang ia pesan.
“Udah ga sopan, tuli lagi. Emang dasar cowok nggak tau tata krama,” sinis gadis itu dan menatap laki-laki dihadapannya dengan tatapan membunuh.
“Ih, lu tuh nggak__” ucapan gadis itu terpotong karena sebutir pentol yang masuk ke dalam mulutnya dengan ukuran yang lumayan besar. Alhasil, ia mengunyahnya dengan pipi menggembung dan tatapan kesal ke arah laki-laki itu.
Penghuni kantin hanya bisa menahan nafas melihat kelucuan dari wajah gadis itu yang tengah memakan pentol berukuran besar itu. Sedangkan laki-laki tadi, sudah tertawa dengan gemasnya sambil memencet hidung gadis itu yang langsung saja ditepis olehnya.
“Apwahaan sihh,” gertak gadis itu sambil melotot sebal di tengah kegiatan mengunyah pentol.
“Ululululu, wajah lu aneh banget.” Laki-laki itu tertawa dengan puasnya setelah berhasil memfoto raut wajah kesal gadis itu dengan pipi yang menggembung karena terisi pentol di dalamnya.
Beberapa saat kemudian pentol itu berhasil tertelan dan dengan cepat gadis itu meminum minuman yang tadi dibawa oleh laki-laki itu.
“Eh, eh...Minuman gue itu,” ucap laki-laki itu tidak terima.
“Apa? Siapa suruh masukin pentol ke mulut gue, mana gede banget lagi. Pipi gue sakit, nih gara-gara ulah lu,” balas gadis itu dengan mata yang melotot tajam ke arah laki-laki di hadapannya.
“Ya uda, sih. Lagian siapa suruh berisik? Ganggu orang makan aja,” celetuk laki-laki itu sambil melanjutkan kegiatannya menyantap bakso.
“Heh! Enak aja. Lagian lu ngapain duduk disini? Nggak punya temen? Apa nggak ada tempat lain?” tanya gadis itu sinis.
“Sembarangan. Gue punya banyak temen, yah. Nggak kayak lu, sendirian mulu. Dasar pemilih,” ejek laki-laki itu yang masih memakan baksonya.
__ADS_1
“Kalau nggak tau apa-apa, mending diem aja.” ketus gadis itu dengan perasaan bercampur aduk.
“Dasar. Percuma jadi Primadona kalau nggak punya temen. Pemilih. Sombong,” cemooh laki-laki itu dengan senyum miring yang tercetak di bibirnya.
“Nggak usah sok tau tentang gue. Kita nggak saling kenal. Jadi, urus diri lu sendiri. Nggak usah ikut campur sama hidup gue.” Gadis itu menekankan setiap kata yang terlontar dari bibirnya. Hatinya terasa sakit saat dengan terang-terangan ada orang yang mengomentari sifatnya.
Ia bukanlah orang yang suka merespon ucapan orang lain. Malah, ia sangat cuek. Tetapi, apa yang baru saja diucapkan oleh laki-laki itu berhasil menampar hatinya.
Segera saja ia berjalan hendak menjauhi meja kantin yang tadi ia duduki, tanpa menyentuh makanannya sedikitpun. Baru beberapa langkah, suara laki-laki itu berhasil membuat kakinya secara otomatis terhenti.
“Mau kemana? Sembunyi karena malu? Udahlah, nggak ada gunanya. Mending isi perut lu sama makanan yang udah lu beli. Daripada dianggurin kayak gini,” tegur laki-laki itu yang berhasil membuat hati gadis itu bertambah geram.
Karena sudah terlalu kesal, gadis itu membalikan tubuhnya dan kembali berjalan mendekati laki-laki tadi yang masih betah pada posisinya.
“Lu itu siapa, sih? Sok banget jadi orang. Najis tau nggak?” cerca gadis itu yang sepertinya berhasil menyulut emosi laki-laki dihadapannya. Terbukti dengan tangan laki-laki itu yang memegang sendok dan garpu dengan sangat eratnya.
“Lu najis sama gue? Ya udah, sana. Pergi dari hadapan gue.” Laki-laki itu berucap dengan nada ketus, diiringi bantingan sendok dan garpu di mangkuknya.
“Gadis kurang ajar. Pantes aja nggak ada yang mau temenan sama lu. Orang lu rese dan nyebelin kayak gini. Siapa sih nama, lu?” cerocos laki-laki itu dengan wajah kesal.
“Mau kenalan aja segala pake ngehina. Dasar modus. Relifyla.” Meskipun menjawab pertanyaan laki-laki itu. Tetapi, ia menggunakan nada yang sangat ketus.
“Oh, jadi lu yang namanya Relifyla. Cantik, sih. Kelihatannya pinter juga. Cuma sayang, ga sebaik apa yang diomongin sama orang-orang.” Komentar pedas itu meluncur tanpa disaring dari mulut laki-laki yang sedari tadi mencari gara-gara kepada Relifyla.
“Wah, ngajak ribut. Lu siapa, sih? Kok kurang ajar banget,” tanya Relifyla yang sudah teramat kesal.
“Cih, ternyata kepo juga. Gerarka.” jawab laki-laki itu dengan lirikan sinisnya.
“Oh, jadi lu orang yang super jail itu? Pantesan, bikin darah tinggi mulu. Nggak kaget, sih. Sial banget gue ketemu sama lu,” cerca Relifyla yang sudah merasa teramat kesal.
__ADS_1
“Nggak usah sok. Gue juga sial ketemu sama primadona yang banyak dipuji sana sini, ternyata jauh dari kenyataan sifat aslinya.” Gerarka yang tak mau kalah ikut membalas ejekan yang dilontarkan oleh Relifyla.
“Eh! Maksud lu apa ngomong kayak gitu?” tanya Relifyla yang merasa tak terima dirinya direndahkan seperti saat ini.
“Katanya pinter. Tapi, gitu aja nggak paham. Dasar lemot,” cibir Gerarka dengan wajah mengejek.
Relifyla yang sudah merasa sangat geram, melangkah mendekat ke arah Gerarka untuk memberinya pelajaran. Karena sungguh demi apapun, hatinya baru pertama kali merasakan kekesalan yang teramat dalam kepada seseorang. Apalagi orang itu baru ditemuinya beberapa menit yang lalu. Sungguh ajaib.
Gerarka yang mendapat sinyal bahaya lekas pergi menjauh agar tidak terkena amukan dari singa pintar. Relifyla tidak tinggal diam dan langsung mengejar Gerarka. Mereka berdua terlalu asyik berdebat sampai melupakan fakta bahwa mereka tengah berada di kantin sekolah.
Kelakuan keduanya sukses menjadi bahan tontonan siswa-siswi lainnya dengan berbagai macam ekspresi yang mereka tunjukkan.
“Arka. Sini, lu. Jangan kabur. Dasar banci!” teriak Relifyla dengan suaranya yang aduhai melengking.
“Nggak mau. Sini tangkap kalau bisa. Dasar Fyla siput. Lelet!” teriak Arka membalas ucapan Fyla.
“Wah, makin kurang ajar. Awas lu, yah.” Fyla mengedarkan matanya untuk mencari jalan pintas agar bisa menangkap Arka.
Matanya mengarah ke lorong yang berada di sebelah kirinya. Dengan cepat ia mengubah arah larinya dan hal itu sukses menghentikan laju lari Arka. Ia berfikir kenapa Fyla malah berbelok? Mungkin sudah menyerah pikirnya.
Tetapi, saat Arka hendak membalikkan badan. Ia menabrak tubuh mungil yang berkacak pinggang di depannya. Sehingga menyebabkan tubuh mungil itu terjatuh ke lantai.
“Arka. Lu tuh, ya! Nggak bisa nggak cari gara-gara tau, nggak!” teriak Fyla dengan sangat kerasnya.
Bukannya menolong atau meminta maaf, Arka malah tertawa terbahak melihat ekspresi yang saat ini tengah terpasang di wajah Fyla. Sungguh menggemaskan, perpaduan antara kaget, kesal dan sinis bercampur menjadi satu.
“Bukannya nolong malah ketawa. Dasar nggak sopan,” gerutu Fyla sambil mencoba untuk berdiri dan langsung berlalu meninggalkan Arka begitu saja. Tanpa adanya perdebatan seperti sebelumnya.
Arka mengernyit bingung memandang punggung Fyla yang kian mengecil. Lebih bingung lagi kala ia merasakan sedikit perasaan kehilangan saat Fyla tidak marah-marah dan ngomel-ngomel kepadanya.
__ADS_1
“Kok dia nggak ngomel, sih? Gue jadi nggak bisa lihat wajah imutnya, kan. Besok gue bikin kesel lagi, ah.” Arka menggumam dengan nada lirih.
Semoga suka, yah. Kasih dukungan buat karya ini. Love you all😙❣