LATHI

LATHI
Susah


__ADS_3

Fyla hanya berguling-guling tidak jelas sedari satu jam yang lalu. Pasalnya, matanya masih sangat terang dan tidak mau tertutup. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Ia mendengus kesal dan menendang udara saking kesalnya.


“Aduh, kenapa gue nggak bisa tidur, sih?” geram Fyla sembari meremas selimut yang membungkus tubuhnya.


“Papanya Arka kok aneh banget sikapnya tadi, sih? Yang lebih anehnya lagi, kenapa gue nggak bisa nolak permintaan dan ucapan dia?” gumam Fyla bingung sembari menatap langit-langit kamarnya.


“Tapi, gue ngerasa nggak asing sama wajah Papanya Arka. Apa gue pernah ketemu sama dia, yah?” lanjutnya yang tengah asik bermonolog.


“Tapi, kapan? Dimana? dan kenapa bisa gue ketemu sama beliau?” Fyla menggeram frustasi saat tak kunjung menemukan titik terang dari objek yang sedari tadi menganggu pikirannya.


“Kenapa juga, pas gue meluk Mamanya Arka, gue ngerasa aman dan damai?” gumam Fyla lagi. “Apa mungkin karena gue rindu rasa itu?” gumamnya lagi.


“Ah, udahlah. Nggak usah dipikirin. Kalau udah saatnya, gue juga bakalan tau,” tepis Fyla dengan mengangguk mantap.


Fyla memejamkan matanya untuk segera berselancar ke dalam dunia mimpinya. Tetapi, baru beberapa menit, ia dikejutkan oleh suara ponselnya yang berdering.


“Astaghfirullah. Ngagetin aja, nih ponsel,” gerutu Fyla sembari menatap kesal ke arah ponselnya yang ada di atas nakas.


“Siapa, sih yang telfon malem-malem? Kurang kerjaan banget,” geram Fyla yang tak kunjung mengambil ponselnya.


Panggilan terputus, Fyla tersenyum senang melihatnya. Tetapi, sedetik kemudian ponselnya kembali berbunyi, dan hal itu membuat kekesalan Fyla kembali lagi. Dengan kasar dan tanpa melihat siapa yang menelepon, Fyla langsung mengangkatnya.


“Apa, sih? Ganggu orang mau tidur aja! Nggak lihat jam?” sentak Fyla kasar.


Orang di seberang sana yang hendak membuka suara langsung menutup kembali bibirnya rapat-rapat.


“Heh? Kok diem, sih? Ada apaan?” tanya Fyla ketus dengan perasaan kesal yang ada di dalam hatinya.


“Nggak ada apa-apa, sih. Cuma mau ngecek aja, udah tidur apa belum,” balas orang di seberang sana. Mata Fyla sontak mendelik ketika ia tau siapa yang tengah menelepon dirinya.


“Arka, ih! Ngapain, sih? Gue udah ngantuk! Pake segala ngecek, dikira gue bayi!” sewot Fyla menumpahkan segala kekesalannya kepada Arka yang tengah terkekeh di seberang sana.


“Dih, malah ketawa. Udah, ah. Sana tidur, lu kan baru sembuh. Kenapa begadang?” tanya Fyla yang sudah berubah menjadi sedikit kalem.


“Nggak papa, sih. Cuma susah tidur aja. Makannya gue masih melek jam segini. Lu sendiri kenapa? Mikirin sesuatu?” tanya Arka penasaran. Fyla terdiam karena tebakan Arka yang hampir tepat sasaran.


“Pil?” panggil Arka, karena Fyla tak kunjung merespon pertanyaannya.


“Hah? Eh? Iya, apa?” tanya Fyla gelagapan, karena tadi dirinya kembali melamun.


“Tuh, kan. Kebiasaan banget suka ngelamun. Udah tiga kali gue tau lu ngelamun. Sebenarnya apa yang lu pikirin, sih?” tanya Arka yang mencoba untuk lebih dekat kepada Fyla.


“Nggak ada, kok. Belum saatnya lu tau, Ka. Seandainya lu nggak pernah tau, berarti emang lu nggak ditakdirkan buat mengetahui permasalahan yang selalu bikin gue ngelamun,” ucap Fyla yang entah mengapa terdengar sangat ambigu di telinga Arka.

__ADS_1


“Hah? Gimana-gimana? Kok gue ngga paham?” tanya Arka bingung.


“Udah, ah. Nggak usah dibahas. Tidur, gih. Udah tambah malam,” ucap Fyla yang dibalas dengan dengus kesal oleh Arka.


“Iya-iya. Gue tidur. Assalamualaikum,” pamit Arka walaupun dengan nada ogah-ogahan.


Fyla terkekeh kecil mendengar kekesalan Arka, “waalaikumsalam,” balasnya.


Saat hendak meletakkan ponselnya ke atas nakas, ponselnya kembali berdering. Fyla mendengus kesal dan langsung mengangkat panggilan itu, karena ia sangat yakin jika yang meneleponnya adalah Arka.


“Apa lagi, sih? Udah sana tidur. Gue tabok juga lu lama-lama,” sinis Fyla.


Orang di seberang sana hanya diam dan merasa bingung dengan ucapan Fyla.


“Kok diem? Ada apaan? Kenapa telpon lagi? Baru juga dimatiin,” tanya Fyla bingung. Pasalnya ia masih menganggap orang yang berada di seberang sana adalah Arka.


“Hoy?” sentak Fyla kesal.


“Gue baru aja telepon,” balas orang diseberang sana. Fyla terdiam dengan pandangan kosong ke arah depan.


Pikirannya melayang dimana saat ia sudah bekerja keras demi mimpinya yang tinggal selangkah lagi malah dihancurkan oleh sahabatnya sendiri. Orang terpenting dalam hidupnya. Saat itu, ia merasakan dunianya runtuh untuk yang kedua kalinya. Sahabatnya sendiri, orang yang paling ia percaya dengan tega menghancurkan segalanya hanya demi sebuah kata pembodohan bernama Cinta.


Sebenarnya apa arti cinta jika dibandingkan dengan sahabat? Cinta tak lebih berarti dari kata sahabat. Ibaratnya cinta itu sampah dan sahabat itu berlian. Itu yang selalu menjadi prinsip Fyla, sampai ia tidak pernah mengkhianati atau bahkan sekedar membohongi sahabatnya sendiri.


“Fyl? Lu masih disana kan? Kok nggak ada suaranya?” tegur orang diseberang sana, karena Fyla hanya terdiam.


“Ada apa?” tanya Fyla ketus.


Orang diseberang sana hanya bisa tersenyum kecut, mendengar respon yang diberikan oleh Fyla. Sungguh, ia sangat menyesali perbuatannya yang mengantarkannya kepada kepedihan mendalam seperti saat ini.


“Gimana kabarnya?” tanya orang itu dengan nada lembut. Fyla terkekeh sinis, dengan memutarkan kedua bola matanya.


“Nggak usah basa-basi!” tegas Fyla.


“Kenapa lu berubah? Gue tau gue salah. Tapi kenapa harus menjauh dan seolah menjadi musuh kayak begini?” tanya orang diseberang sana terdengar frustasi.


“Amnesia beneran, lu? Apa cuma pura-pura?” sentak Fyla ketus.


“Iya, gue tau gue salah. Gue udah minta maaf dan udah coba memperbaiki kesalahan gue. Tapi, kenapa elu selalu nolak? Kenapa, Fyl?” tanyanya lagi dengan nada lirih. Ia tak sanggup diabaikan dan dianggap layaknya hantu seperti beberapa bulan terakhir ini.


Pertahanan Fyla hampir runtuh, kala memori kebersamaannya dengan laki-laki diseberang sana terlintas di pikirannya. Dimana hanya ada canda dan tawa sebelum salah satu diantara keduanya mengenal kata Cinta.


Sungguh demi apapun, Fyla sangat membenci kata Cinta. Karena Cinta, ia kehilangan banyak orang. Karena Cinta, ia kehilangan impiannya yang sudah ada di depan mata.

__ADS_1


“Fyla? Gue minta maaf. Ayo balik, gue perbaiki semua kesalahan gue. Gue mohon, kasih gue kesempatan lagi,” pinta laki-laki diseberang sana.


“Gue nggak bisa,” balas Fyla lirih. Ia masih merasakan sakit hati, setiap kali ia mengingat hal itu.


“Fyla, gue mohon.” Laki-laki diseberang sana terus saja memohonkan agar Fyla mau memberinya kesempatan kedua.


Tapi, Fyla tipikal orang yang akan sangat sulit memaafkan orang lain. Bahkan, ia cenderung suka membalas dendam kepada orang yang sudah menyakiti hatinya terlalu dalam.


“Gue bilang nggak bisa, berarti nggak bisa! Nggak tuli, kan?” sentak Fyla sinis. Orang diseberang sana terdiam setelah mendengar ucapan Fyla. Begitupun dengan Fyla yang saat ini tengah terisak pelan.


Ia menyadari jika ucapannya terlalu kasar. Tetapi, ia bisa apa? Hatinya yang menuntun mulutnya untuk mengucapkan kata-kata itu. Ia pun tau, jika kini laki-laki diseberang sana pasti tengah tergores hatinya. Tetapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena hatinya juga tengah tergores luka yang sangat lebar.


“Ya udah. Maaf, udah ganggu waktunya. Lain kali kita ngobrol lagi, yah.” Laki-laki diseberang sana menelan kesedihaannya dengan ucapannya yang menggunakan nada ceria.


Dalam hati, Fyla tau bahwa laki-laki itu tengah menahan diri agar tidak menumpahkan segalanya dihadapan Fyla. Setelah sambungan telepon terputus, Fyla tak lagi menahan tangisannya.


Ia memilih untuk menangis kali ini, karena hatinya sudah merasa sangat lelah dengan berbagai macam permasalahan yang melingkupi hidupnya. Ia ingin hidup normal tanpa adanya masalah. Tapi, ia sadar. Setiap orang pasti punya masalahnya sendiri-sendiri.


“Gue nggak tau, kenapa rasanya bisa sesakit dan sesulit ini buat maafin dan ngelupain kejadian itu. Gue juga pengen kita balik kayak dulu, tapi gue bisa apa? Hati gue belum mau berdamai dengan keadaan,” lirih Fyla sembari memeluk lututnya dan menangis pelan.


Kebersamaannya dengan laki-laki tadi kembali terputar di pikirannya. Saat dimana hanya ada kebahagiaan dan tawa yang terdengar. Saat ia pergi jalan-jalan hanya berdua, segalanya selalu berdua. Sampai ada sosok penyelinap diantara mereka yang berhasil membuat hubungan mereka merenggang dan berakhir dengan kelakuan konyol laki-laki itu.


“Andai nggak ada dia. Kita pasti akan baik-baik aja. Andai lu nggak sebodoh itu hanya karena cinta,” lirih Fyla lah dengan air mata yang tak kunjung berhenti, layaknya air terjun.


“Kenapa, sih? Kenapa harus ada cinta kalau rasa sayang aja udah lebih dari cukup. Cinta? Siap bahagia berarti siap terluka? Tapi, kenapa banyak orang yang sakit hati saat mencintai? Apakah sebegitu bodohnya mereka tentang cinta?” gumam Fyla lirih.


“Gue emang nggak tau apa-apa tentang cinta, tapi gue nggak sebodoh mereka yang selalu bicara sana-sini kalau cinta itu indah dan membawa kebahagiaan. Padahal, tak semuanya seperti itu. Hukum alam juga berlaku pada cinta, tapi kenapa nggak semua orang sadar itu?” lanjutnya dengan tatapan kosong.


“Gue benci cinta,” lirih Fyla sembari menghapus air matanya dengan pelan.


Ia kembali merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Tangannya terulur untuk mengambil boneka pandanya yang berada tepat disebelah kirinya. Ia memeluk boneka itu seolah-olah ia tengah memeluk si pemberi boneka.


“Gue kangen,” lirih Fyla dan kembali pecah tangisannya. Sampai akhirnya ia kelelahan dan tertidur dengan mata yang penuh dengan air mata.


Keesokan harinya, Fyla terbangun dengan rasa pusing yang menyerbu kepalanya. Ia terhuyung ke belakang saat hendak berjalan ke kamar mandi. Tapi, ia tidak mau memanjakan rasa sakit di kepalanya. Akhirnya ia tetap memaksakan diri untuk ke kamar mandi dan mempersiapkan diri menuju ke sekolah.


Beberapa saat kemudian, ia sudah rapi dengan seragam sekolahnya dan tengah mengaca untuk menyisir rambutnya. Netranya terbelalak kaget saat mendapati kedua matanya yang sangat sembab.


“Selama itu gue nangis?” gumam Fyla. Pasalnya, matanya hanya akan sembab ketika ia menangis terlalu lama.


“Huft, nggak papa. Untuk kali ini, yang terakhir kalinya,” tekad Fyla mantap.


Aku membawa update, nih..

__ADS_1


Ada yang menunggu?


__ADS_2