
“Gapapa, Fyl. Jangan terlalu khawatir gitu,” ucap Arka, karena ia merasa kasihan dengan Fyla yang sudah merawatnya sedari tengah malam. Bahkan, sampai gadis itu rela izin sekolah untuk menjaga dirinya yang tengah sakit.
“Gimana nggak khawatir, orang gue yang udah nabok kepala lu. Pusing lagi, yah?” tanya Fyla pelan, tidak ketus seperti biasanya.
“Iya, sedikit pusing,” gumam Arka. Fyla yang merasa cemas langsung saja mengulurkan kedua tangannya untuk memijat ringan kepala Arka.
Arka memejamkan matanya guna meresapi pijatan Fyla di kepalanya. Rasa pijatan Fyla sangat nyaman, sehingga membuat Arka terlena dan hampir saja terlelap, jika saja adzan dhuhur tidak berkumandang.
“Udah mendingan? Kalau masih pusing, ngak usah sholat dulu aja,” tanya Fyla.
“Udah mendingan, kok. Sholat aja, deh. Mau sholat berjama’ah?” tawar Arka. Fyla terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk menyetujui ajakan Arka.
Arka dan Fyla berwudhu di kamar mandi yang berbeda. Tetapi, yang selesai terlebih dahulu adalah Fyla, sehingga kini gadis itu tengah menyiapkan perlengkapan yang akan ia gunakan untuk sholat bersama Arka.
Tak berapa lama kemudian, Arka sudah selesai berwudlu dan segera menuju tempatnya yang telah dipersiapkan oleh Fyla. Mereka berdua sholat dengan khusyuk. Sampai akhirnya, pada saat selesai sholat, Arka membalikkan tubuhnya ke arah Fyla dan menyodorkan tangan kanannya.
Fyla terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya meraih tangan kanan Arka dan mencium punggung tangannya.
“Kita kaya suami-istri, yah?” tanya Arka diselingi dengan kekehannya.
Fyla terdiam dan menatap Arka sinis, “nggak mau aku punya suami kayak kamu. Bandel, nakal, ngerepotin lagi,” ketus Fyla sambil memalingkan wajahnya.
Arka terdiam mendengar ucapan Fyla. Jika dipikir ulang, benar juga apa yang diucapkan oleh Fyla. Ia menunduk dan melipat sajadah yang ia kenakan. Fyla menoleh ke arah Arka karena merasa tidak ada balasan dari lelaki itu. Ia dapat melihat raut kesedihan dari wajah Arka yang seolah tengah sibuk melipat sajadahnya.
“Arka? Maaf, nggak bermaksud nyinggung. Lu nggak ngerepotin, kok. Cuma nakal sama bandel aja,” cicit Fyla karena merasa tidak enak sudah menyakiti hati laki-laki itu lagi.
“Santai aja kali. Gue nggak papa, kok. Lebih baik jujur yang pahit daripada bohong yang manis,” balas Arka. Fyla menjadi tambah merasa tidak enak, karena ucapannya, Arka menjadi tersinggung seperti ini.
“Arka, nggak maksud kayak gitu,” cicit Fyla sembari menunduk.
“Iya nggak papa, kok. Jangan ngerasa bersalah gitu,” balas Arka sembari berdiri.
Dengan segera, Fyla melepas dan melipat mukena beserta sajadahnya, kemudian ia mengejar langkah Arka yang hendak keluar dari kamar.
“Mau kemana?” tanya Fyla yang tengah mengekor di belakang Arka. Arka berhenti sejenak dan menolehkan kepalanya ke arah Fyla. “Mau makan,” jawab Arka.
“Nggak ada makanan, bibi lagi gue suruh belanja bulanan, belum pulang. Mau makan apa? Gue buatin,” tanya Fyla sembari menundukkan kepalanya.
“Ah, gitu. Ya udah, entar aja.” Setelah berucap begitu, Arka memutar kembali langkahnya untuk masuk ke dalam kamar, tetapi tertahan oleh tangan mungil Fyla yang memegang tangan kanannya.
“Arka, jangan pernah berpikir kalau lu ngerepotin gue dan seisi rumah ini. Itu nggak bener, ucapan gue yang bilang lu ngerepotin juga enggak bener. Jadi, jangan ngerasa sungkan kayak gitu,” ucap Fyla dengan sekali tarikan nafas.
Arka tersenyum tipis melihat cara Fyla yang mencoba untuk meyakinkan dirinya, “iya.”
Setelah mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Arka, Fyla bisa tersenyum senang dan bernafas lega. Sungguh, dirinya merasa sangat bersalah ketika melihat wajah Arka tadi.
“Jadi, mau makan apa?” tanya Fyla sekali lagi.
__ADS_1
“Gue udah boleh makan makanan selain bubur?” tanya Arka.
Sebelum menjawab, Fyla terlebih dahulu mengecek suhu tubuh Arka dengan menempelkan punggung tangannya di dahi dan leher Arka.
“Boleh. Kondisi lu udah normal,” balas Fyla.
“Mau tepung udang sama ayam geprek,” ucap Arka yang sontak saja mendapat pelototan tajam dari Fyla.
“Boleh bukan berarti harus makan yang pedes kayak ayam geprek. Gue nggak mau masakin. Ganti!” ketus Fyla sambil bersidekap dada.
“Ih, Pil. Jangan gitu, dong. Gue kepingin makan ayam geprek, jangan pedes-pedes. Pakai 10 cabe aja,” bujuk Arka sembari menggoyangkan lengan Fyla.
“10 cabe mbahmu! Itu pedes, Arka. 5 cabe?” balas Fyla dengan nada ketus.
“Yah, dikit banget. 8 cabe, deh?” tawar Arka yang langsung mengundang pukulan di bahunya.
“5 atau enggak sama sekali. Jangan suka nawar gue nggak jualan dan gue juga nggak lagi nawar-nawarin barang kayak ****** di luar sana!” hardik Fyla sembari melangkahkan kakinya ke arah dapur. Dibelakangnya, Arka mengekor dengan dahi mengernyit bingung.
“Emang ****** nawarin barang, yah? Sejak kapan?” tanya Arka bingung sembari terus mengikuti langkah Fyla yang tengah mengambil barang-barang untuk ia masak.
Fyla hanya diam tidak ingin membalas ataupun menjawab pertanyaan Arka, ia tidak mau nantinya timbul pertanyaan-pertanyaan lagi dari Arka karena merasa dirinya tidak paham.
“Fyla, ih. Gue lagi nanya, nih. Emang ****** nawarin barang?” tanya Arka lagi sembari mengguncang tubuh Fyla ke kanan dan ke kiri, sehingga berhasil membuat Fyla merasa geram.
“Jalang nawarin apa?” tanya Fyla balik dan degan polosnya Arka menjawab, “tubuhnya yang pas-pasan.” Sontak, Fyla langsung terkekeh pelan mendengar balasan Arka.
Dahi Arka kembali mengernyit, ia masih tidak mengerti dan merasa belum puas dengan balasan Fyla.
“Emang tubuh itu barang?” tanya Arka polos.
Fyla terkekeh pelan, sebelum akhirnya menjawab. “Bukan. Tubuh itu bukan barang. Tapi, nggak ada hal yang ditawar kalau itu bukan barang dan bahan masakan, kan? Nah, disini posisinya si ****** itu jual tubuhnya. Jadi, anggap aja dia jual barang atau nyewain barang. Dimana barang itu sendiri adalah tubuhnya yang pas-pasan itu,” perjelas Fyla, Arka terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk-angguk pelan.
“Udah paham?” tanya Fyla sembari melirik Arka yang tengah duduk manis lewat ekor matanya.
Arka mengangguk pelan dengan tatapan tertuju pada buah-buahan yang tersusun rapi di atas meja. Ia ingin memakannya, tapi takut tidak dibolehi oleh Fyla. Alhasil, ia hanya terdiam sambil memainkan jarinya di atas meja makan.
Fyla mendekat dan bertanya, “mau buah apa?”
“Mau apel,” jawab Arka.
Fyla mengambil apel yang dimaksud oleh Arka, dan mengupasnya kemudian mencuci dan menatanya di atas piring. Setelah selesai, ia menghidangkannya di depan Arka.
“Mau apa lagi?” tanya Fyla yang dibalas dengan gelengan pelan oleh Arka, karena kini ia tengah fokus memakan apelnya.
Fyla kembali mengerjakan kegiatan memasaknya yang belum selesai. Ia mengulek cabai dan kawan-kawan untuk menjadikannya sambal geprek.
Beberapa saat kemudian kegiatannya selesai, ia langsung menatanya dan membawanya ke meja makan, dimana tempat Arka berada. Saat Arka hendak mengambil sepotong ayam geprek, Fyla langsung memukul tangannya dengan pelan.
__ADS_1
“Apa, sih? Kok mukul-mukul?” tanya Arka ketus.
“Kita makan sama Pak Tejo dan Bi Inah,”jawab Fyla dengan tangan yang mengambil nasi dan menaruhnya di empat piring yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
“Tapi, udah lapar,” gumam Arka sembari mengusap perutnya yang terasa keroncongan.
“Sabar bentar. Gue panggil Pak Tejo sama Bi Inah,” ucap Fyla sembari menahan senyum gemasnya melihat wajah Arka yang kelaparan.
Beberapa saat kemudian, Fyla kembali duduk di kursi meja makan yang berada di sebelah Arka dan Pak Tejo juga Bi Inah yang duduk di depannya. Fyla mempersilahkan Pak Tejo dan Bi Inah yang mengambil duluan, karena ia selalu memuliakan yang lebih tua.
“Silahkan Pak, Bi.” Fyla tersenyum kepada kedua pekerja yang sudah ia anggap sebagai anggota keluarganya sendiri itu.
Awalnya Pak Tejo dan Bi Inah menolak, karena mereka merasa sungkan. Tetapi, karena Arka juga ikut membujuk, akhirnya mereka berdua mau.
Setelah Pak Tejo dan Bi Inah selesai mengambil lauk yang mereka mau, kini giliran Fyla yang hendak mengambil lauk.
“Arka, mau pakai lauk apa?” tanya Fyla sembari menolehkan kepalanya ke arah Arka yang terduduk lesu.
“Mau ayam geprek dua, sama tepung udangnya yang banyak,” jawab Arka semangat. Fyla terkekeh pelan melihat perubahan Arka. Ia langsung mengambilkan lauk yang disebutkan oleh Arka dan menaruhnya di atas piring milik Arka.
Fyla makan dengan tenang tanpa kepedasan, karena memang ia suka makanan pedas. Sedangkan Arka tidak terlalu tahan dengan pedas, ia sedari tadi bingung karena kepedasan dan selalu minum sampai minumannya habis.
Fyla menghentikan makannya melihat hal itu. Kemudian berjalan ke arah wastafel dan mencuci tangannya hingga bersih.
“Arka, jangan gitu makannya. Nanti, lu cuma kenyang gara-gara air, nggak ada isinya,” tegur Fyla sembari mendudukkan tubuhnya disamping Arka.
“Makannya tadi nggak usah banyak-banyak cabenya, jadi kepedesan, kan?” tegur Fyla sembari mengelap keringat di dahi Arka menggunakan punggung tangannya.
Kemudian, ia mengambil alih piring Arka dan mulai memisahkan sambal yang terpampang nyata ke piringnya. Kini, di piring Arka tinggal ayam yang dibaluri sedikit cabe dan tepung udang. Arka langsung membuka mulutnya saat Fyla menyodorkan piring miliknya.
“Apa, sih? Mau makan piring? Orang gue nyodorin piring malah buka mulut,” ucap Fyla.
“Suapin,” balas Arka.
Fyla memutar bola matanya malas. Tetapi, ia tetap melaksanakan keinginan Arka.
“Dasar bayi,” ejek Fyla yang dibalas pelototan kesal oleh Arka. Fyla hanya tertawa pelan karena menjahili Arka itu ternyata sangat seru.
“Gue bukan bayi! Cuma suka disuapin aja, biar tangannya nggak kotor,” balas Arka dengan menunjuk tangan Fyla di akhir kalimatnya.
“Bisa banget, sih. Mau makan tapi nggak mau kotor. Untung gue baik, kalo jahat udah gue racunin pakai racun tikus,” ketus Fyla sambil menyodorkan tangannya yang sudah terdapat nasi beserta ayam geprek ke mulut Arka.
Arka terdiam dan tak kunjung membuka mulutnya kali ini. Hal itu berhasil membuat Fyla mengernyit bingung.
Yeyeye....Update, nih...
Kritik, saran dan dukungan dari kalian sangat membantu....
__ADS_1