
Sepulang sekolah, Fyla langsung saja membawa langkah kakinya untuk menuju ke ruang guru. Masih terdapat banyak guru disana, karena bel pulang sekolah baru saja berbunyi beberapa menit yang lalu.
“Maaf, Pak. Meja Bu Ani yang mana, ya?” tanya Fyla kepada salah satu guru yang akrab dengannya, yakni Pak Heri selaku guru olahraga dan pembina ekstrakurikuler basket.
“Oh, kamu. Tumben kesini cari Bu Ani? Biasanya cari Pak Tino?” tanya Pak Heri bingung.
Fyla terdiam beberapa saat. Entah mengapa kini hatinya merasa malas untuk bertemu dan berurusan dengan orang-orang yang berada di dunia itu, walaupun yang melakukan kesalahan kepadanya hanya beberapa. Tetapi, baginya satu melakukan semua terkena dampaknya.
“Ah, udah nggak ada urusan sama beliau lagi, Pak,” jawab Fyla sopan dengan senyum manis yang terlihat di bibirnya.
“Loh? Bukannya kamu masih ikut ekskul itu, yah?” tanya Pak Heri lagi.
“Saya berniat mengundurkan diri, Pak ” Walaupun dalam hati ia malas membahas masalah ini, tetapi ia menghargai setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh Para Heri, karena ia sangat menghormati beliau sebagai pelatihnya.
“Oh, gitu. Maaf, yah saya jadi nanya-nanya. Meja Bu Ani ada di depan sendiri barisan meja saya,” ucap Pak Heri. Fyla melihat kedepan, dan benar saja ada Bu Ani yang tengah duduk sambil memegang buku dengan seorang siswa di depannya.
“Nggak masalah, Pak. Terima kasih. Kalau begitu, saya ke Bu Ani dulu,” pamit Fyla sembari mencium punggung tangan Pak Heri.
Sebenarnya Pak Heri tidak mau bersalaman dengan kontak fisik kepada perempuan. Tetapi, khusus anak-anak basket beliau mengizinkan mencium punggung tangan, karena kata beliau anak-anak basket sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
Segera saja Fyla menuju tempat Bu Ani. Tetapi, saat hampir sampai, ia berpapasan dengan Deffa dan Pak Tino yang terlihat sedang mengobrol serius. Saat mata mereka bertemu, Deffa dan Pak Tino melemparkan senyum ke arah Fyla. Tetapi, Fyla langsung memalingkan wajahnya dan melanjutkan langkahnya.
Deffa dan Pak Tino menghela nafas melihat respon yang diberikan oleh Fyla. Sedangkan Fyla bersikap bodo amat dan tidak memperdulikan mereka berdua. Biarlah ia dianggap tidak sopan. Toh, apa pedulinya?
“Assalamu'alaikum, Bu.”
“Ah, waalaikumsalam. Silahkan duduk, Fyla.”
“Iya, Bu. Jadi, hukuman saya apa, yah?” tanya Fyla setelah duduk dihadapan Bu Ani.
“Hukuman kamu, bantu Arka untuk belanja keperluan yang diminta oleh beberapa ekstrakurikuler. Bisa?” tanya Bu Ani.
“Hah? Arka, Bu?” tanya Fyla terkejut.
“Iya, tuh di sebelah kamu,” balas Bu Ani sambil menunjuk Arka yang tengah bermain game.
Fyla menolehkan wajahnya dan seketika ekspresinya berubah menjadi malas.
“Bu, saya sendiri aja. Saya nggak mau sama dia,” tolak Fyla dengan halus.
“Enggak bisa. Kan kamu sendiri yang minta hukuman ke Ibu. Jadi, kamu nggak boleh protes,” tegas Bu Ani sambil menatap lekat manik mata Fyla.
“Ish. Iya, Bu.” Fyla hanya pasrah dengan hukuman aneh yang ia jalani saat ini.
“Ya udah. Kalian berangkat, gih.”
Fyla mengangguk dan berdiri dari duduknya, kemudian ia mencium punggung tangan Bu Ani dan berjalan beberapa langkah. Tetapi, ia merasa bahwa Arka tak mengikutinya. Saat menoleh, benar saja Arka masih duduk anteng dengan tangan yang asik memencet tombol yang ada di dalam ponselnya.
__ADS_1
Geram. Itulah yang saat ini tengah dirasakan Fyla. Bu Ani yang melihat Fyla tak kunjung menjauh menjadi heran. Saat matanya menatap mata Fyla, ia melihat gadis itu tengah fokus pada satu hal. Ternyata Fyla fokus menatap sengit ke arah Arka yang tengah asyik bermain game.
“Arka, berangkat sana. Kamu jalanin hukuman kamu. Tuh, Fyla udah datang,” ucap Bu Ani.
“Nanti aja, Bu. Aku lagi main game,” balas Arka santai.
“Buruan berangkat kalau nggak mau kena terkam singa betina,” bisik Bu Ani. Arka mengernyit bingung dengan apa yang tadi diucapkan oleh Bu Ani.
Tiba-tiba matanya melotot saat mengingat satu nama yang disebutkan oleh Bu Ani. Nama yang akan menemaninya menjalankan hukumannya. Fyla. Fyla. Fyla. Nama itu terus terngiang di kepalanya. Bagai kaset rusak, pertemuannya dengan gadis itu tadi pagi berhasil membuatnya mengakhiri acaranya bermain game.
Bisa bahaya kalau ia tetap main game dan mengacuhkan Fyla. Pasti ia akan kena semprot, dan saat ini mereka sedang di ruang guru. Pasti malunya akan berkali lipat. Membayangkannya saja sudah berhasil membuat Arka bergidik ngeri.
“Ya udah, Arka berangkat dulu, Bu. Assalamualaikum,” pamit Arka sambil mencium punggung tangan Bu Ani.
“Waalaikumsalam,”
Arka bergegas mendekati Fyla yang tengah memandang kesal ke arahnya.
“Lemot,” celetuk Fyla sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Arka.
“Heh, enak aja. Gue lagi main game, lu ngapain dateng, sih.” Tidak mau disalahkan, Arka balik menyalahkan Fyla.
“Gue bertanggung jawab, yah. Gue salah ya harus dihukum. Gitu aja nggak paham,” ketus Fyla.
“Wah ngajak perang. Udah diem, kita pake mobil gue kesanannya,” ucap Arka dan hanya ditanggapi dengan anggukan singkat oleh Fyla
“Daftar barangnya mana? Gue mau lihat,” tanya Fyla sambil menyodorkan tangan kanannya.
Arka merogoh saku bajunya dan mengambil selembar kertas yang berisi banyak tulisan.
“Buset, banyak juga yang mau dibeli,” ucap Arka tepat di samping telinga kanan Fyla, sehingga membuat gadis itu sedikit terkejut dan menatap sinis ke arah Arka.
Fyla kembali memfokuskan perhatiannya pada kertas yang berada di tangannya. Seketika matanya terpaku karena ada nama benda itu di dalam list.
'Barang itu memang bisa digantikan. Bahkan, dengan harga yang lebih mahal sekalipun. Tetapi, apakah kenangannya juga bisa dikembalikan? Gue rasa enggak. Itu yang bikin gue berat buat maafin lu, Def.'
Arka heran melihat Fyla yang hanya terdiam dengan mata yang menatap ke arah kertas yang berada di dalam genggamannya.
“Hoy. Lu ngapain ngelamun, sih? Nanti jadi tambah lama, nih.”
“Eh? Oh, iya. Ayo masuk,” balas Fyla gelagapan.
Arka terdiam sambil memandang aneh wajah Fyla yang sedang gugup. Apalagi ia baru menyadari bahwa mata Fyla sembab, pasti habis menangis. Tapi, apa pedulinya?
“Kita mau beli dari yang mana dulu?” tanya Arka.
“Ekskul olahraga aja dulu,” jawab Fyla yang langsung disetujui oleh Arka.
__ADS_1
“Kita beli berapa, nih bolanya? Disini nggak tertulis,” tanya Arka sambil menunjuk kertas yang ada di genggaman Fyla, hingga tanpa sengaja menyentuh tangan Fyla.
“Heh, apasih pegang-pegang. Najis,” sewot Fyla sambil menarik tangannya dan mengusapkan tangannya ke rok sekolah yang ia pakai.
“Lu pikir gue kuman?” tanya Arka datar. Sebenarnya ia sedikit tersinggung dengan tingkah Fyla, tetapi ia hanya membiarkannya untuk saat ini, karena ia sadar sedang dimana saat ini.
“Bukan, sih. Tapi kakaknya kuman, lebih berbahaya,” celetuk Fyla dengan santainya.
“Kurang ajar,” desis Arka tajam.
“Apa? Mau marah?” tantang Fyla sambil menaikkan dagunya. Arka yang melihat hal itu hanya berdecih dan kembali melanjutkan langkahnya.
“Eh, jangan ditinggal.” Tanpa sadar Fyla menarik lengan kanan Arka, sehingga menyebabkan langkah Arka terhenti dengan mata yang menatap ke arah tangan Fyla yang masih memegang lengannya.
“Jangan ninggal-ninggal. Kalo gue ilang, lu repot nanti. Ujung-ujungnya bilang yang nggak bener ke Bu Ani,” ketus Fyla.
“Iya, bawel. Lepasin tangan lu, katanya najis.” Arka menyindir Fyla sambil melirik tangannya yang masih dipegang oleh gadis itu.
Seketika Fyla tersadar dan melepas tangannya yang sedari tadi memegang lengan Arka.
“Udah, ayo lanjut. Bolanya masing-masing ambil 3 aja,” putus Fyla.
Setelah beberapa jam berada di dalam mall, akhirnya hukuman mereka hampir selesai. Hanya tinggal satu ekskul saja yang belum mereka penuhi.
“Alhamdulillah, udah mau selesai. Remuk rasanya badan gue,” rintih Arka sembari meregangkan otot-ototnya.
“Lebay banget, sih. Tinggal satu lagi, nih.” Fyla memang sepertinya tidak mau Arka berleha-leha terlalu lama. Buktinya gadis itu mengingatkan Arka akan hukuman mereka.
“Iya-iya. Ya udah, yuk langsung aja.”
“Eh, Fyl. Gue nggak paham masalah ginian. Lu aja yang pilih, yah. Lu kan anak ekskul ini kalau nggak salah,” cerocos Arka tanpa menyadari perubahan raut wajah Fyla.
Tak mendapat respon dari Fyla membuat Arka mengernyit bingung. Ia menolehkan kepalanya ke arah Fyla guna melihat kegiatan gadis itu. Tetapi, yang ia temukan adalah keterdiaman gadis itu dengan mata yang menatap lurus ke depan.
Arka yang tak mau ambil pusing, langsung saja memanggil penjaga tokonya dan memilih secara acak. Kemudian membayarnya dan menuliskan alamat sekolah, agar benda itu langsung diantarkan ke sekolah.
Selesai dengan semuanya, Arka melihat Fyla yang masih berdiri di tempatnya tadi dengan mata yang tak lepas dari benda yang sedari tadi ia pandangi. Entah perasaan Arka atau memang mata Fyla sedikit berair, yang pasti saat ini raut wajah gadis itu menunjukkan kesedihan.
“Heh, ayo pulang. Ngapain berdiri disitu terus dari tadi?” sentak Arka yang berhasil membuyarkan lamunan Fyla.
“Eh, iya. Ayo,” gagap Fyla.
Arka mengernyitkan keningnya bingung karena sudah dua kali Fyla seperti itu. Sungguh aneh, pikirnya.
“Rumah lu dimana?” tanya Arka memecah keheningan yang melanda.
“Di Jalan Saturnus, Perumahan Asteroid blok E. Rumah warna Silver,” jawab Fyla cepat.
__ADS_1
Haii. Up lagi, nih? Jangan lupa kritik, saran dan dukungannya, yah. Terima kasih 😚