
Pak Tejo terlihat enggan untuk menerima tawaran Fyla. Meskipun bukan baru pertama kali di ajak nona mudanya, ia tetap merasa sungkan. Apalagi kali ini ada teman nona mudanya yang ikut serta.
Pak Tejo melihat sebentar ke arah Arka. Ia begitu terlihat ragu saat akan menyuarakan keputusannya. Arka yang mengerti kebingungan Pak Tejo mengangguk pelan.
“Pak? Ayo dong ikut makan,” rengek Fyla sambil menggoyangkan lengan Pak Tejo.
“Eh? Iya, Non. Ayo,” jawab Pak Tejo spontan. Fyla dan Arka mengembangkan senyumnya saat mendengar jawaban Pak Tejo.
Ketiganya berjalan beriringan memasuki rumah setelah Pak Tejo mengunci gerbang. Fyla melangkah dengan sangat riang karena rasa bahagia yang membuncah di dalam hatinya.
'Nih cewek beneran tulus sama orang.'
“Bi? Bibi? Bibi dimana?” teriak Fyla sambil celingukan mencari keberadaan Bi Inah.
Hening, tak ada jawaban dari teriakan Fyla. Fyla memberenggut karena panggilannya diabaikan. Ia bersiap berteriak dengan suara yang lebih keras lagi. Bahkan, Pak Tejo sudah menutup kedua telinganya agar tak terganggu dengan teriakan super membahana milik Fyla.
Tetapi, teriakan itu berhasil digagalkan oleh Arka yang dengan segera menutup mulut Fyla dengan salah satu tangannya. Sontak Fyla melotot karena terkejut dengan tindakan Arka.
“Apa, si? Kok pegang-pegang, bukan muhrim. Nggak boleh,” ketus Fyla sambil mengusap area di sekitar bibirnya.
“Lagian, siapa suruh mau teriak? Berisik, tau. Ini udah malam,” tegur Arka dengan nada pelan, karena saat ini dirinya sedang merasa lelah.
Saat Fyla akan menyahuti ucapan Arka, tiba-tiba Bi Inah datang dari arah dapur dengan membawa nampan berisi jus jeruk dan air untuk membasuh tangan.
“Wah, akhirnya Bibi datang juga. Kok lama, Bi?” tanya Fyla sambil mengernyitkan alisnya bingung dan langsung mendudukkan tubuhnya menghadap ke arah Televisi besar yang ada di ruang tamu.
“Tadi lagi kupas buahnya dulu, Non.” Fyla mengangguk pelan menanggapi balasan dari Bi Inah. Pak Tejo dan Bi Inah sudah duduk di tempatnya masing-masing, yakni di ujung sisi sebelah kanan dan kiri Fyla.
Sedangkan Arka, ia masih saja betah berdiri dan melihat ke arah Fyla, Pak Tejo dan Bi Inah yang tengah duduk di lantai. Fyla mendengus pelan melihat Arka yang tak kunjung mendudukkan diri disampingnya.
“Arka? Buruan duduk, nggak sopan berdiri kayak gitu, apalagi ada orang tua yang duduk dibawah,” tegur Fyla sambil menarik tangan kiri Arka, sehingga membuat laki-laki itu terduduk persis di sebelah Fyla.
Fyla mengambil bungkusan yang berada di tangan Arka dan mulai menaruhnya di atas piring yang sudah tersedia di depannya.
“Ini untuk Bibi, ini untuk Pak Tejo dan ini untuk Arka,” ucap Fyla setelah membuka seluruh bungkus pecel lele.
“Makasih, Non.” Fyla hanya tersenyum dan mengangguk pelan menanggapi ucapan Bi Inah dan Pak Tejo.
Fyla, Bi Inah dan Pak Tejo segera saja mencuci tangan dan mulai makan pecel lele itu menggunakan tangan. Saat akan memasukkan suapan yang kedua, Fyla melirik ke arah Arka yang hanya diam dan tidak menyentuh makanannya sama sekali.
“Arka? Kenapa? Nggak suka sama makanannya?” tanya Fyla.
“Enggak, kok. Gue cuma bingung aja gimana cara makannya. Soalnya gue nggak pernah makan langsung pake jari kayak gitu,” tanya Arka sembari menunjuk ke arah Pak Tejo dan Bi Inah yang tengah asik melanjutkan makan.
“Baru pertama kali, yah?” tanya Fyla penasaran.
__ADS_1
“Iya,” jawab Arka sembari mengangguk pelan.
Fyla mengambil sejumlah nasi, daging lele yang dicolekkan ke sambal dan sedikit sayuran. Kemudian ia menghadap ke arah Arka, sehingga membuat kernyitan bingung di dahi Arka.
“Jadi, kayak gini. Pertama di ambil dulu apa yang mau di makan, habis itu dikumpulin dan di tekan dikit, terus di angkat dan dimakan,” papar Fyla sembari mengarahkan tangannya ke mulut Arka.
Arka hanya terdiam bingung, Fyla yang merasa gemas mengode Arka untuk memakan makanan yang sudah berada di tangannya.
Perlahan, Arka membuka mulutnya dan segera saja Fyla memasukkan makanan yang ada ditangannya ke dalam mulut Arka. Arka terdiam sesaat karena tadi, mulutnya tidak sengaja menyentuh jari-jari Fyla.
“Kok nggak di kunyah? Mau langsung di telen?” tanya Fyla bingung, pasalnya mulut Arka tidak bergerak sama sekali, layaknya orang yang tengah tak mengunyah.
“Hah? Eh? Iya. Dikunyah, kok.”
Fyla menggeleng pelan melihat wajah Arka yang menggembung karena tengah mengunyah, terlihat lucu di matanya. Tak ingin salah fokus berkelanjutan, Fyla melanjutkan acara makan malamnya dengan nyaman.
Beberapa saat kemudian, Fyla dikejutkan dengan Arka yang tiba-tiba membuka mulutnya seolah meminta suapan darinya.
“Apa?” tanya Fyla bingung.
“Makan,” jawab Arka pelan.
“Dih, itu di depan lu kan ada. Kenapa masih minta punya gue?” hardik Fyla bingung.
“Haih, dasar. Mau makan tapi nggak mau kotor,” gerutu Fyla. Tetapi, tangannya tetap menyuapkan makanan ke mulut Arka, walaupun dengan hati dongkol.
Arka hanya diam saja melihat kekesalan Fyla, ia dengan nyaman mengunyah makanan yang disodorkan oleh Fyla. Bi Inah dan Pak Tejo tersenyum tipis melihat kelakuan nona muda dan temannya yang terlihat seperti saudara itu.
Saat Fyla hendak menyuapkan suapan terakhir ke mulut Arka, Arka tidak mau membuka mulutnya.
“Kenapa?” tanya Fyla bingung.
“Udah kenyang,” jawab Arka sambil mengusap perutnya.
“Tapi, ini tinggal satu suapan doang,” protes Fyla yang lagi-lagi merasa sebal dengan sikap Arka.
“Ya udah, makan aja. Nggak ada virusnya, kok.” Arka berucap dengan santai sambil mengambil salah satu gelas yang berisi jus jeruk buatan Bi Inah.
Fyla mencebik kesal melihat kelakuan Arka. Tetapi, tak urung memakan suapan terakhir itu. Kemudian saat ia hendak mengambil gelas berisi jus jeruk, Arka menahan tangannya.
“Apa?”
“Tangannya kotor, nanti gelasnya ikutan kotor,” ucap Arka dengan tangan yang tetap menahan tangan Fyla.
“Tapi, gue haus. Mau minum,” protes Fyla.
__ADS_1
Arka terdiam beberapa saat, kemudian tangannya tergerak untuk mengambil gelas yang sudah terisi jus jeruk dan menyodorkannya ke arah Fyla. Fyla mengernyit bingung dengan tingkah laku Arka .
“Minum, gue pegangin,” celetuk Arka saat mengetahui kebingungan Fyla.
Fyla mengangguk pelan dan segera mendekatkan bibirnya ke bibir gelas yang dipegang Arka. Setelah merasa cukup, Fyla menjauhkan bibirnya dari gelas yang dipegang oleh Arka.
“Bibi langsung istirahat aja, biar Fyla yang cuci ini semua. Pak Tejo juga istirahat aja,” pinta Fyla dengan nada tegas. Bi Inah dan Pak Tejo langsung menuruti ucapan Fyla, karena jika nona mudanya itu marah akan sangat bahaya.
Fyla membawa semua piring dan gelas yang tadi digunakan untuk makan malam, ke arah dapur. Tanpa disadarinya, Arka mengikuti dirinya sampai ke dapur. Saat akan membalikkan tubuhnya untuk mengambil lap, Fyla dikejutkan dengan tubuh Arka yang tepat berada di belakangnya.
“Aduh, Arka! Ngapain? Ngagetin aja,” cibir Fyla sambil melangkah ke kiri untuk mengambil lap yang berada di belakang tubuh Arka.
“Kan cuma mau bantuin,” balas Arka.
“Yakin?” tanya Fyla memastikan dan dijawab dengan anggukan pasti oleh Arka.
“Ya udah. Gue yang nyuci, lu yang bilas. Harus bersih,” papar Fyla sambil mendelik tajam ke arah Arka.
“Iya-iya. Jangan anggap gue remeh. Kayak gitu,” ketus Arka.
Fyla hanya diam tidak menanggapi ucapan Arka, karena akan terjadi perdebatan nantinya. Ia memilih langsung mencuci piring dengan hati-hati dan sangat bersih.
Arka terdiam memandang tangan Fyla yang dengan telaten mencuci semua piring dan gelas bekas mereka makan malam. Tersadar dari lamunannya, Arka segera menjalankan tugasnya untuk membilas piring dan gelas yang sudah dicuci oleh Fyla.
Beberapa saat kemudian, kegiatan mereka berdua selesai. Fyla hendak meraih kain lap yang tadi diambilnya, begitu juga dengan Arka. Alhasil tangan mereka bersentuhan, dengan tangan Fyla yang berada di atas tangan Arka.
Fyla menoleh ke arah Arka, begitupun Arka yang menoleh ke arah Fyla. Mereka berdua saling bertatapan beberapa detik. Sampai akhirnya Fyla memekik karena tangannya di pukul oleh Arka.
“Aduh. Apaan, sih?” geram Fyla sambil mengusap tangannya.
“Bukan mukhrim, ngapain pegang-pegang?” balas Arka sembari menahan tawanya karena melihat wajah masam Fyla.
“Dih, plagiat. Nggak kreatif,” ejek Fyla dan dengan kasar Fyla merebut lap yang ada di tangan Arka.
“Eh, apa-apaan. Gue belum selesai main ditarik aja. Dasar, nggak sopan,” ejek Arka dengan tangan yang hendak merebut lap yang berada di tangan Fyla.
Fyla tertawa geli saat Arka tak kunjung bisa meraih lap yang berada di tangannya, dengan jail ia mengangkat lapnya tinggi-tinggi, walaupun ia tau tingginya tak sebanding dengan Arka.
Saat tangan Arka hendak mencapai lap yang ia pegang, dengan segera Fyla berlari menjauhi Arka. Arka yang melihat hal itu dibuat geram, dan langsung saja mengejar Fyla yang tengah berlari ke arah ruang keluarga.
Mereka berdua kejar-kejaran, layaknya kucing dan tikus. Fyla tertawa melihat wajah kesal yang ditunjukkan oleh Arka, sampai ia tidak menyadari bahwa Arka sudah berada dekat dengannya. Langsung saja Arka merebut kain lap itu dengan tangan yang sengaja memencet hidung mancung Fyla dengan gemas.
“Aduh. Sakit,” lirih Fyla sambil memegangi hidungnya. Arka hanya melirik sekilas ke arah Fyla yang tengah mengaduh kesakitan. Fyla yang sebal langsung saja menginjak kaki kanan Arka, sehingga membuat laki-laki itu terkejut dan memegangi kaki kanannya yang terasa nyut-nyutan.
Lama gak up, ada yang nungguin nggak, yah?
__ADS_1