LATHI

LATHI
Memaksa


__ADS_3

Pagi ini, rumah Fyla dihebohkan dengan keinginan Arka yang akan masuk sekolah. Walaupun kondisi laki-laki itu yang sudah lebih baik dari tadi malam, tetap saja Fyla merasa khawatir dengan keadaan Arka.


“Dibilang di rumah aja, ngeyel banget,” gerutu Fyla di tengah kegiatannya memasang sepatu.


“Guenya bosen kalau disini sendirian. Mending sekolah, dapat ilmu yang bermanfaat,” balas Arka sok bijak, yang berhasil mengundang kernyitan di dahi Fyla.


“Dapet ilmu apanya, lu aja sering bolos,” cibir Fyla ketus.


“Dih, kok tau? Stalking gue, yah?” goda Arka sambil menarik pipi kiri Fyla.


Fyla memekik pelan, karena merasa terkejut juga sakit yang menjalar di area pipinya. Ia mendelik sebal ke arah Arka dan menepuk-nepuk tangan Arka yang masih betah menarik pipinya.


“Arka! Apaan, sih? Sakit, tau. Lepasin,” pekik Fyla sambil mencoba menjauhkan tangan Arka dari pipinya yang saat ini terasa sangat perih.


Arka tertawa pelan setelah melepas tangannya yang berada di pipi kiri Fyla. Pipi Fyla saat ini berwarna merah karena terkena tarikan Arka yang bisa dikatakan tidak main-main itu.


Fyla mengusap pipinya dengan mata berkaca-kaca. Ia menatap tajam ke arah Arka, sebelum akhirnya berdiri dan memarahi Arka.


“Sakit, tau. Lu pikir di tarik kayak gitu enak? Pipi gue perih, nih. Terserah lu mau masuk ataupun enggak. Gue nggak perduli. Tapi, kalau sampai sakit lagi, nggak usah ke rumah gue. Jangan nyusahin,” geram Fyla. Setelah puas mengeluarkan unek-uneknya, Fyla langsung bergegas mengambil tasnya dan keluar dari rumahnya untuk naik angkot.


Arka terdiam mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Fyla. Yah, Fyla benar. Ia memang hanya bisa menyusahkan semua orang, dan lagi dengan tidak tau malunya ia malah membuat orang yang dengan sukarela merawatnya saat sakit menjadi kesal.


Arka naik ke lantai atas. Tujuannya adalah kamar tamu yang ia pakai untuk menaruh barang-barangnya. Ia mengambil sebuah kertas dan bolpoint, dengan segera ia menuliskan sesuatu yang entah dibaca atau tidak oleh, Fyla. Tetapi, yang terpenting ia sudah memberi tahu gadis itu lewat kertas ini.


Selesai dengan kegiatannya, Arka segera turun ke lantai dasae dengan tas sekolah yang berada di punggungnya dan kunci mobil yang berada dalam genggamannya. Ia berpapasan dengan Bi Inah, segera saja ia berpamitan kepada wanita paruh baya itu.


“Bi, Arka pulang dulu, yah. Assalamualaikum,” pamit Arka sembari mencium punggung tangan Bi Inah.


“Loh, Den? Istirahat aja. Kata Non Fyla, Aden disuruh istirahat aja. Biar cepet pulih,” papar Bi Inah yang juga merasa khawatir dengan kondisi Arka, terlebih wajah Arka yang terlihat masih pucat saat ini.


“Enggak papa, Bi. Arka pulang aja, Arka bisa jaga diri, kok.” Arka mengulas senyum tipis melihat kekhawatiran di mata Bi Inah.


Bi Inah merasa gelisah, antara mengizinkan Arka pulang dan tetap menahannya. Tetapi, dilihat dari sifatnya, Arka tipikal orang yang keras kepala. Jadi, Bi Inah memutuskan untuk mengizinkan Arka pulang.


“Ya udah, hati-hati di jalan, Den. Kapan-kapan mampir lagi, yah. Biar Non Fyla ada temennya,” ucap Bi Inah.


“Iya, Bi.” Arka memang menjawab iya, tetapi hatinya menolak untuk datang kesini lagi. Karena ia tak mau merepotkan gadis sebaik Fyla.


'Maaf, Bi. Ini pertama dan terakhir kalinya aku ke sini. Maaf udah bohong ke Bibi,'


Arka berjalan ke arah pintu utama dan menemukan Fyla yang hendak berlari ke dalam. Ia merasa terkejut dengan adanya Fyla. Ia bahkan sudah berfikir bahwa gadis ini sudah sampai di sekolah dan memulai pelajaran seperti biasanya. Tetapi, gadis ini malah kembali lagi ke rumah. Entah apa yang tertinggal.

__ADS_1


Arka hanya terdiam sambil memandang wajah Fyla, begitupun dengan Fyla. Ia hanya diam di depan Arka sambil memandangi wajah pucat Arka.


“Loh, Non? Kok udah pulang?” tanya Bi Inah bingung.


“Fyla izin, Bi. Mau jagain Arka,” jawab Fyla dengan mengalihkan tatapannya ke arah Bi Inah.


“Oh, begitu. Ya udah, Bibi ke pasar dulu, Non.”


Fyla hanya menanggapi dengan anggukan ucapan Bi Inah. Tatapannya kembali mengarah kepada Arka yang masih betah menatap wajahnya.


“Mau kemana?” tanya Fyla datar.


“Pulang,” jawab Arka pelan.


“Nggak usah pulang. Disini aja,” tegas Fyla sambil melangkahkan kakinya untuk memasuki rumahnya.


Tetapi baru beberapa langkah, ia berhenti dan tanpa membalikkan badannya berucap, “nurut, dan jangan ngerepotin,” ketus Fyla. Kemudian gadis itu kembali melanjutkan langkahnya untuk ke kamar berganti baju.


Arka terdiam mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Fyla. Ia memilih menurut dan melangkahkan kakinya ke arah ruang keluarga, hanya untuk sekedar duduk dan mengistirahatkan tubuhnya yang kembali terasa lemas.


Fyla turun dengan memakai kaos oblong berwarna abu-abu yang dipadukan dengan celana kain berwarna hitam dan rambut yang tergerai. Ia mendekat ke arah Arka dan duduk di samping Arka.


Tangannya terulur untuk mengecek suhu tubuh Arka. Dahinya mengernyit bingung saat merasakan suhu tubuh Arka yang kembali naik. Fyla menatap kesal Arka yang tengah memejamkan matanya. Menghela nafas untuk menurunkan egonya, Fyla mengguncang tubuh Arka pelan.


Arka membuka kedua matanya secara perlahan dan menggelengkan kepalanya pelan. Fyla menghela nafas melihat hal itu.


“Kenapa?” tanya Fyla.


“Mau pulang aja, nggak mau ngerepotin,” lirih Arka yang kembali di dera rasa pusing yang merajai kepalanya.


Fyla menghela nafas mendengar balasan yang dilontarkan oleh Arka. Dalam hati ia merutuk ucapannya yang keluar tanpa disaring dan melukai hati seseorang seperti saat ini. Apalagi sampai membekas di ingatan.


“Nggak ada yang ngerepotin dan merasa di repotin. Pindah, yah?” ajak Fyla yang tak pantang menyerah.


Merasa tak ada pilihan lain, Arka mengangguk menyetujui ucapan Fyla. Fyla tersenyum senang melihat hal itu, ia segera berdiri dan memapah tubuh Arka untuk menuju kamar tamu yang berada di lantai dasar.


“Tidur aja dulu. Gue mau masak bubur, nanti kalau udah jadi gue bangunin,” ucap Fyla sambil menepuk-nepuk pelan kepala Arka.


Di dapur, Fyla dengan cekatan memasak bubur ayam untuk Arka. Ia juga menyiapkan air hangat untuk mengompres dahi Arka. Setengah jam berkutat dengan peralatan dapur, akhirnya bubur ayam dan susu yang ia buat sudah jadi. Ia meletakkan semuanya di satu nampan dan membawanya menuju kamar yang ditempati oleh Arka.


Dilihatnya Arka yang tengah tertidur dengan tak nyaman, sesekali kaki Arka tampang seperti orang yang tengah menendang ringan dan juga badannya yang tampak seperti ular kepanasan.

__ADS_1


“Arka. Bangun, buburnya udah jadi,” panggil Fyla pelan sembari menggoyangkan tubuh Arka dengan pelan.


Perlahan Arka mengerjapkan kedua matanya dan langsung menatap ke arah Fyla. Fyla membantu Arka untuk duduk dan bersandar di ranjang. Kemudian ia mengambil mangkuk bubur dan mulai menyuapi Arka.


Arka hanya diam dan terus membuka mulutnya, karena rasa bubur itu yang enak, tidak hambar seperti bubur pada umumnya. Fyla terkekeh pelan melihat hal itu. Pasalnya baru saja sesuap bubur masuk ke dalam mulut Arka, lelaki itu sudah membuka mulutnya lagi.


“Pelan-pelan aja. Nggak ada yang minta buburnya, kok.” Fyla tersenyum tipis melihat wajah malu Arka, diiringi dengan kunyahan pelan di mulutnya. Tidak seperti tadi yang hanya sekali kunyah.


Tinggal sesuap lagi, tetapi Arka mengusap perutnya yang sudah kekenyangan. Namun, sorot matanya terus menatap sesendok bubur yang ada di tangan Fyla, seolah tidak tega jika bubur itu tak ikut masuk ke perutnya.


“Kenapa? Udah kenyang?” tanya Fyla.


Arka mengangguk pelan, tetapi mulutnya terbuka seolah meminta Fyla untuk memasukkan bubur itu ke dalam mulutnya.


“Kalau udah kenyang jangan dipaksain buat habisin,” tegur Fyla sambil menjauhkan mangkuk itu dari jangkauan Arka.


“Tapi, buburnya enak. Sayang kalau enggak di makan semua,” protes Arka.


“Kapan-kapan gue buatin lagi, yang itu biarin aja, daripada nanti muntah,” ucap Fyla sambil mengambil obat apa saja yang harus diminum Arka.


“Nih, minum obatnya.” Fyla menyodorkan dua macam obat dengan ukuran yang tidak terlalu besar, dengan cepat Arka mengambilnya dan menelan obat itu.


Fyla tersenyum puas karena pekerjaannya sudah selesai. Kini ia bisa mengerjakan kewajibannya.


“Sekarang, tidur. Jangan bandel kalo dibilangin. Nanti kalau udah waktunya sholat dhuhur gue bangunin,” ucap Fyla dan hanya ditanggapi dengan anggukan oleh Arka.


Fyla membantu merebahkan tubuh Arka di atas kasur, juga menyelimuti tubuhnya. Tak lupa, ia mengompres dahi Arka dengan air hangat yang sudah ia persiapkan.


Dirasa Arka sudah nyaman dengan posisinya, Fyla keluar dari kamar Arka untuk mengambil laptop, ponsel dan buku tulisnya. Kemudian ia kembali lagi ke kamar Arka dan duduk di sofa yang berada tidak jauh dari ranjang yang ditempati Arka.


Ia mulai menjalankan profesional sebagaimana mestinya. Walaupun tidak ada jam kerja baginya, ia tetap harus profesional dalam bekerja. Jika bisa dikerjakan sekarang, mengapa harus menunda-nunda. Itulah salah satu prinsipnya.


Sesekali matanya melihat ke arah ranjang Arka, memastikan bahwa laki-laki itu sudah tertidur dengan nyaman.


Terlalu lama larut dalam dunianya, ia sampai tidak menyadari bahwa sudah hampir jam makan siang. Ia tersenyum lantaran pekerjaannya hampir selesai hanya dalam waktu lima jam. Setelah semua benar-benar rampung, ia langsung mengirimkan hasil kerjanya kepada atasan yang sudah lama bekerja sama dengannya.


Ia menunggu balasan terlebih dahulu, setelah mendapatkannya ia langsung mematikan laptopnya dan membereskan semua barang-barang yang tadi ia bawa. Saat hendak membangunkan Arka, ia dikejutkan dengan bunyi ponsel yang berada di samping ponselnya.


'Siapa yang telfon Arka? Ah, mungkin mama dia.'


Tanga Fyla terulur untuk mengambil ponsel Arka, dan benar saja yang telfon adalah mama Arka. Segera saja ia mengangkat telfon itu, karena tak baik membuat orang lain menunggu, apalagi ini orang tua.

__ADS_1


Up..up... Kritik, saran dan dukungannya jangan lupa, yah😗


__ADS_2