
“Mau mampir?” tanya Fyla kalem.
'Tumben banget dia kalem. Wah, ada yang nggak beres, nih. Tapi, gue capek. Laper juga. Mampir aja, deh. Semoga gue bisa pulang dengan selamat. Aamiin.'
“Boleh, deh. Ada siapa aja di rumah?” tanya Arka mencoba untuk tenang dan tidak membangunkan sisi singa dalam diri Fyla.
“Ada Bi Inah sama Pak Tejo,” jawab Fyla.
“Orang tua lu kemana? Belum pulang?” tanya Arka ingin tau, karena memang ia tipe orang yang mudah penasaran.
“Idih, kepo. Udah diem. Masuk,” ajak Fyla dengan nada tegas yang mau tidak mau langsung dijalankan oleh Arka.
Kini, keduanya berjalan beriringan memasuki rumah Fyla yang berukuran besar itu. Arka menatap kagum rumah Fyla, karena dekorasinya yang sangat unik dan elegant di saat bersamaan.
“Assalamu'alaikum. Fyla pulang,”
“Waalaikumsalam, Non.” Bi Inah berlari dari dapur dengan tergopoh-gopoh.
“Eh, Bibi kenapa lari? Lain kali jangan lari, ah. Takutnya entar jatuh,” ucap Fyla lembut diiringi senyum manis yang terbentang di bibirnya.
“Bibi tadi lagi mau masak, Non. Makannya lari kesininya. Iya, lain kali Bibi nggak lari-lari,” balas Bi Inah sambil tersenyum melihat perhatian yang diberikan oleh nona kecilnya.
“Oh, iya. Ini Arka, temen aku,”
“Hallo, Bi. Saya, Arka.”
“Hallo juga, Den.”
“Oh iya, Bi. Bibi nggak usah masak, deh. Aku lagi pengen makan di luar. Nanti kita makannya sama-sama, yah. Sama Pak Tejo juga. Bibi bikin minum sama siapin piring aja. Kita makan di ruang keluarga,” pinta Fyla yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Bi Inah.
“Ya udah, Non. Saya mau bikin minuman dulu,” pamit Bibi.
“Iya, Bi.” Setelah mendapat jawaban dari Fyla, Bi Inah bergegas ke dapur untuk menyiapkan beberapa camilan dan juga yang diperintahkan Fyla tadi.
“Arka, mau mandi sama ganti baju, nggak?” tanya Fyla.
“Boleh, deh. Udah gerah, nih.”
“Ya udah. Mandi di sebelah kamar gue aja. Disitu juga udah ada bajunya, pake aja.”
Arka mengikuti langkah Fyla dengan diam. Tetapi, hatinya memuji Fyla karena ternyata gadis itu memang baik seperti apa yang sering ia dengar dari omongan teman di sekolahnya.
'Dia emang baik. Sekarang gue beneran yakin sama alasan dia menjadi orang yang pemilih dan sangat cuek.'
Beberapa saat kemudian, Arka keluar mengenakan pakaian santai berwarna putih dipadukan dengan celana selutut yang menambah kesan elegant pada dirinya. Bertepatan dengan itu, Fyla keluar dari kamarnya mengenakan sweater yang sangat kebesaran ditubuh munggilnya, dipadukan dengan celana panjang berbahan kain yang membuatnya terlihat sangat menggemaskan.
'Lah, nih cewek bener-bener nggak ada manis-manisnya. Mau makan sama cogan kok pake baju kayak gitu,'
“Serius? Pakai baju kayak gitu?” tanya Arka menyuarakan isi hatinya.
Fyla melihat pakaiannya terlebih dahulu, kemudian menatap bingung ke arah Arka. “Iya, emang kenapa? Ada yang aneh?” bingung Fyla.
__ADS_1
“Yah, nggak ada, sih. Cuma heran aja. Masa mau jalan sama cowok ganteng pakai baju kayak gitu. Pakai dress atau apa gitu yang lebih kelihatan aura ceweknya,” protes Arka sambil menunjuk baju dan celana yang tengah dipakai Fyla.
Kening Fyla mengerut mendengar kata cowok ganteng yang diucapkan oleh Arka. Ia merasa geli sendiri mendengar ke narsisan laki-laki itu.
“Apa, sih? Lebay banget. Kita mau cari makan di deket sini. Bukan di restoran. Jadi pakai baju yang biasa-biasa aja, jangan berlebihan.” Fyla menepis perkataan Arka dengan nada kalem.
“Oh gitu? Yah, maaf. Kan nggak tau. Ya udah, yuk langsung berangkat biar nggak tambah malam,” ajak Arka.
“Tambah malam apa udah lapar?” goda Fyla yang langsung dibalas dengan delikan tak suka dari Arka.
“Apa, sih? Nggak usah godain gue,” ketus Arka sambil mempercepat langkahnya.
“Cie, tukang jail ngambek, nih. Gitu aja ngambek,” ejek Fyla yang mencoba menyamakan langkahnya dengan Arka.
“Apaan, sih. Diem!” sentak Arka karena merasa tak suka saat dirinya digoda oleh Fyla. Entah kenapa ia menjadi tidak bisa membalikkan kata-kata orang yang tengah menggodanya. Padahal biasanya, ia selalu menang.
“Iya-iya. Gitu aja marah,” ucap Fyla kalem.
'Tumben kalem. Tadi di sekolah kayak singa. Bipolar kali, yah?'
Lagi-lagi Arka merasa bingung dengan perubahan sifat Fyla. Di sekolah tadi, ia marah-marah dan mudah terpancing emosi. Tetapi, saat dirumah malah kebalikannya. Ia menjadi gadis kalem dan pandai mengontrol emosi.
Saat akan masuk kedalam mobil, Arka dikejutkan dengan tarikan Fyla pada lengan kirinya.
“Eh, eh, eh. Kok tarik-tarik, sih? Tadi sore katanya najis?” tanya Arka bingung, pasalnya Fyla suka sekali menyeret-nyeret tangannya.
“Dih, gitu aja baper sampai diingat terus. Ngapain mau masuk mobil?” tanya Fyla dengan alis yang menyatu tanda ia tengah bingung.
“Jadi. Tapi, ngapain mau ke mobil?” tanya Fyla kembali mengulang pertanyaannya yang tak kunjung dijawab oleh Arka.
“Kalau nggak bawa mobil emang mau jalan kaki? Ngesot? atau merangkak?” tanya Arka bingung.
“Ya ampun, Arka. Kita jalan kaki, lagian deket, kok.” Fyla terkekeh pelan karena kesalah pahaman Arka yang mengira mereka keluar menggunakan mobil miliknya.
“Hah? Jalan kaki? Serius? Perasaan di jalan tadi gue nggak lihat cafe di dekat sini, deh. Meskipun ada juga lumayan jaraknya. Serius mau jalan kaki, nih?” kaget Arka. Pasalnya ia jarang olahraga. Takutnya di jalan ia mengeluh capek kan malu sama gender.
“Iya, serius. Udah jangan banyak tanya. Yuk,” ajak Fyla sambil menarik lengan kiri Arka untuk mengikuti langkah kakinya.
'Nih cewek bener-bener, yah. Tadi sore bilang najis, sekarang malah seret-seret. Di kira gue kambing kali ah pake diseret segala.'
“Jalan sih jalan, tapi nggak usah pake diseret juga kali. Gue bukan kambing,” ketus Arka sambil menatap kesal tangannya yang tengah di geret oleh Fyla.
Fyla memberhentikan langkahnya dan menatap ke arah tangannya yang tengah menyeret laki-laki itu. Kemudian ia tersenyum canggung yang terlihat menggemaskan di mata Arka.
“Maaf, yah. Nggak sadar. Udah, yuk. Jangan banyak protes, nggak baik. Nanti tambah lama, kasihan Pak Tejo dan Bi Inah nunggu lama, pasti mereka lapar,” papar Fyla dengan nada tulus yang sangat ketara di setiap kalimatnya.
“Iya, nggak protes. Yuk,” balas Arka dengan semangat.
Beberapa saat kemudian Fyla memberhentikan langkahnya di depan komplek. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat laju kendaraan. Arka melakukan hal yang sama dengan Fyla. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat laju kendaraan.
Saat Fyla melangkahkan kakinya untuk menyebrangi jalan, Arka juga ikut menyebrang jalan di belakang Fyla. Arka benar-benar layaknya itik yang tengah mengikuti induknya.
__ADS_1
Lipatan kening Arka semakin bertambah saat Fyla menghentikan langkahnya di warung pinggir jalan yang menjual pecel lele. Warung itu tampak ramai dan mengharuskan beberapa orang yang hendak membeli mengantri.
“Kita ngapain ke sini?” bisik Arka, karena saat ini mereka tengah berdesakan untuk berdiri di dekat warung itu yang ukurannya tak terlalu besar.
“Kita beli makanan, buat makan malam,” balas Fyla pelan sambil menolehkan kepalanya sedikit ke arah Arka.
“Loh? Di sini? Di tempat kecil ini?” tanya Arka dengan kernyitan tak suka di dahinya.
“Iya. Kenapa?”
“Jijik, ih. Kecil gini. Higienis nggak?” tanya Arka pelan sambil memegang lengan kanan Fyla saat dirinya tersenggol oleh orang-orang yang mengantri.
“Higienis, kok. Tenang aja. Lagian juga enak, nggak akan nyesel, deh.” Fyla berusaha meyakinkan Arka dengan kata-katanya, ditambah dengan matanya yang menatap mata Arka.
“Ya udah,” pasrah Arka.
Tak berapa lama kemudian, pesanan Fyla sudah jadi dan segera dibayar oleh gadis itu. Keduanya kembali berjalan beriringan. Saat di pertengahan jalan, Fyla tidak sengaja melihat Arka mengusap keringat yang membanjiri dahinya.
“Arka?” panggil Fyla.
“Apa?”
“Capek, yah?”
“Lumayan, sih. Kenapa emang?” tanya Arka Bing sambil terus mengelap keringat yang membanjiri dahinya.
“Mau istirahat dulu, nggak?”
“Nggak usah. Kita lanjut jalan aja. Kasihan Bibi dan Pak Tejo udah laper nunggu di rumah,” balas Arka sambil tersenyum tipis.
'Ternyata gue salah menilai dia. Dia nggak seburuk apa yang gue kira. Ternyata, Arka punya hati nurani, walaupun dia sangat jahil.'
“Ayo lanjut jalan,” ajak Arka yang dibalas dengan anggukan singkat oleh Fyla. Arka melihat bungkusan kresek yang dibawa oleh Fyla, ia berinisiatif untuk mengambilnya dan memegangkan bungkusan kresek itu.
“Eh, kenapa diambil?” tanya Fyla bingung.
“Biar gue aja yang bawa,” ucap Arka kalem.
“Ya udah.”
Mereka sampai di halaman rumah dan melihat Pak Tejo tengah menjaga di pos dengan mata yang sayup-sayup akan tertutup. Arka terkekeh geli melihatnya. Sedangkan Fyla merasa sangat kasihan dan bergegas ke arah Pak Tejo.
“Pak? Pak? Pak?” panggil Fyla pelan sambil menepuk pundak Pak Tejo.
“Eh? Iya, Non? Ada apa?” tanya Pak Tejo gelagapan.
“Nggak ada apa-apa, kok. Yuk, ke dalam. Kita makan malam. Pasti bapak belum makan, kan?” tanya Fyla.
“Eh? Bapak nanti aja makanan, Non. Non Fyla aja yang makan,” tolak Pak Tejo secara halus.
“Yah, Bapak. Fyla udah beli 4 bungkus. Ayo makan sama-sama di ruang keluarga. Gerbangnya kunci aja dulu,” pinta Fyla dengan mata menatap penuh harap ke arah Pak Tejo.
__ADS_1
Wuhuuu..... Update malammm.... Jangan lupa kritik, saran, dan dukungannya 😙