LATHI

LATHI
Menampung


__ADS_3

Setelah aksi sadis di ruang keluarga, kini Fyla dan Arka tengah terduduk lemas di salah satu sofa dengan badan saling menyandar.


“Arka?” panggil Fyla masih dengan mata terpejam.


“Apa?”


“Lu nggak pulang, nih? Udah malem banget tau. Enggak dicariin?” tanya Fyla sambil membuka matanya secara perlahan, karena sebenarnya ia sudah merasa mengantuk.


“Nggak bakal ada yang nyariin gue. Gue nginep aja disini, yah. Boleh kan?” balas Arka sambil melirik sekilas ke arah Fyla yang tengah bersandar di pundaknya.


“Boleh. Tapi, kabarin keluarga lu dulu. Kasihan mereka kalau khawatir karena lu belum pulang,” jawab Fyla dengan nada tegas.


“Enggak mau. Males,” tolak Arka mentah-mentah.


“Ih, kok gitu? Nggak boleh gitu. Ya udah, sini ponselnya,” pinta Fyla sembari menyodorkan tangannya.


“Mau ngapain?” tanya Arka bingung.


“Siniin dulu,” paksa Fyla. Terpaksa Arka mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Fyla, dengan semangat Fyla mengotak-atik ponsel Arka.


Kemudian ia mendekatkan ponsel itu ke telinganya yang berada di sebelah kiri, Kate a telinga kanannya terjepit di pundak Arka dan ia malas untuk bergerak karena sudah merasa nyaman.


Tak berapa lama kemudian, panggilan tersambung. Langsung saja orang di seberang sana memberondong Fyla dengan berbagai macam pertanyaan, yang Fyla tau hanya satu. Orang disebrang sana sangat merasa khawatir akan keadaan Arka yang tak kunjung pulang.


“Arka? Kamu kemana, Nak? Kok belum pulang? Maafin ucapan Papa tadi pagi, yah? Dia nggak maksud ngomong kayak gitu, kok. Kamu pulang, yah. Mama khawatir banget sama kamu. Kamu udah makan malam belum? Kamu ada dimana sekarang?” berondong orang di seberang sana, yang menyebut dirinya sebagai mama Arka.


Hati Fyla menghangat kala mendengar suara wanita paruh baya itu yang tengah menghawatirkan kondisi anaknya. Ia merasa rindu dengan rasa ini, bahkan ia lupa kapan terakhir ia merasakannya.


“Em, Tante. Ini Fyla, temen sekolah Arka. Tadi, aku sama Arka dapat hukuman dari sekolah, terus karena udah terlalu sore, jadi Arka mampir di rumah, sekalian mandi dan makan malam. Tadi, Fyla udah suruh Arka pulang, tapi dia nggak mau. Dia hari ini nginap di rumah Fyla, Tante. Maaf, baru Fyla kabarin. Soalnya Arka nggak mau ngabarin tadi,” papar Fyla sambil mendongakkan kepalanya melihat respon Arka.


Laki-laki itu hanya memandang malas ke arah Fyla yang tengah berbincang dengan mamanya via telfon.


“Udahlah, matiin aja. Nggak guna,” sinis Arka sambil memalingkan wajahnya.


“Arka apaan, sih? Nggak boleh gitu, nggak sopan,” tegur Fyla karena takut mama Arka akan mendengarnya dan merasa sakit hati dengan ucapan anaknya.


“Kamu temennya Arka? Teman baru, yah? Setau saya Arka nggak punya temen perempuan?” tanya mama Arka ingin tau.


“Iya, Tante. Saya temen barunya, Arka.”

__ADS_1


“Ya udah. Tante titip Arka ke kamu, yah. Tante jadi ngerasa sungkan ke kamu, Fyla.” Mama Arka berucap dengan nada tidak enak.


“Eh, nggak papa kok, Tante. Tante santai aja, lagi pula disini Arka nggak ngerepotin, kok.”


“Oh iya, kalian nggak cuma berdua disana, kan?” tanya mama Arka menyelidik.


“Enggak, kok. Ada Bi Inah dan Pak Tejo juga, Tan. Kalau cuma berdua, ga bakal saya bolehin Arka nginep,” gurau Fyla dan dibalas kekehan ringan oleh mama Arka.


“Ya udah, kalian istirahat aja. Tante udah tenang sekarang. Terima kasih, yah Fyla,” ucap mama Arka dengan nada yang terdengar sangat tulus.


“Iya, Tante. Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam.”


Fyla menyodorkan ponselnya ke arah Arka, tetapi laki-laki itu tak kunjung mengambilnya. Saat Fyla menengok ke arah Arka, ternyata laki-laki itu sudah terlelap dengan nyamannya. Fyla meletakkan ponsel Arka dan ponsel miliknya di atas meja ruang keluarga.


Ia mulai memejamkan matanya dan ikut mengarungi mimpi dengan Arka yang sudah terlebih dulu mengarungi mimpinya. Ia selalu berharap hari esok akan lebih baik dari hari ini.


Tengah malam, Fyla mengerjapkan matanya karena merasakan pergerakan tidak nyaman dari sampingnya dan juga suhu tubuh yang di atas rata-rata. Fyla menoleh ke arah Arka. Ia melihat laki-laki itu tidak tenang dalam tidurnya.


Fyla mengecek suhu tubuh Arka, dan benar saja rasa panas yang menjalar di kepalanya ternyata berasal dari suhu tubuh Arka. Fyla segera berlari ke arah dapur untuk membuat air hangat dan mengompres dahi Arka agar panasnya cepat turun.


Setelahnya, Fyla bergegas lari ke kamarnya untuk mengambil selimut agar tubuh Arka tidak merasa dingin lagi. Ia langsung mengambil 2 selimut, untuk dirinya dan juga untuk Arka.


Saat hendak menyelimuti tubuh Arka, mata Arka terbuka secara perlahan. Fyla yang melihat hal itu langsung mempercepat gerakannya untuk menyelimuti Arka.


“Gimana? Udah nggak dingin, kan?” tanya Fyla.


Arka mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Fyla, karena saat ini kepalanya juga merasa sangat pusing. Fyla merasa aneh dengan sikap Arka.


“Kenapa? Pusing?” tanya Fyla dan lagi-lagi dibalas dengan anggukan pelan oleh Arka. Mata Arka juga sedikit mengeluarkan air mata karena tak kuat menahan pusing yang mendera kepalanya.


Fyla yang melihat hal itu merasa sangat prihatin. Ia menghapus air mata Arka, tangannya langsung terasa terbakar saat tak sengaja menyentuh pipi Arka.


“Aduh, bentar. Gue cariin obat pereda pusing dulu. Tunggu, yah. Tahan sebentar,” ucap Fyla panik dan segera berlari ke arah ruang kesehatan yang berada di lantai dasar. Ia segera mencari kotak obat dan memilahnya untuk menemukan obat pereda pusing.


Setelah ketemu, ia segera berlari ke arah dapur untuk mengambilkan Arka air putih dan buah-buahan untuk mengisi perutnya.


“Ini, makan dulu. Biar perutnya nggak kosong,” ucap Fyla sambil menyodorkan sepotong pisang.

__ADS_1


Arka terdiam, tak kunjung meraih pisang yang disodorkan oleh Fyla. Fyla menepuk dahinya pelan, saat baru menyadari bahwa posisi Arka saat ini tengah berbaring. Ia membantu mendudukkan tubuh Arka dan mengupas pisang yang ia bawa.


Disodorkannya pisang itu ke arah mulut Arka agar laki-laki itu mau memakannya. Arka hanya memakan beberapa gigitan, Fyla tidak mempermasalahkannya, karena yang penting perut Arka terisi.


“Sekarang minum obat, yah.” Arka mengangguk pelan menanggapi ucapan Fyla. Ia merasa tubuhnya sangat lemas saat ini.


Fyla menyodorkan obat pereda pusing ke mulut Arka, segera saja laki-laki itu membuka mulutnya. Fyla langsung memasukkan obat ke dalam mulut Arka dan langsung memberikan air putih kepada Arka.


“Udah?” tanya Fyla, karena tak merasakan pergerakan bibir Arka di gelas yang tengah ia pegang.


Arka mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Fyla. Fyla segera meletakkan gelas yang ia pegang dan membantu Arka membaringkan tubuhnya di sofa. Arka memejamkan matanya, untuk menghalau rasa pusing yang kian mendera dan merajai otaknya. Fyla merasa prihatin dengan kondisi Arka yang tengah sakit seperti ini.


“Arka, mau pindah ke kamar, nggak?” tanya Fyla yang langsung dibalas dengan gelengan pelan oleh Arka.


“Ya udah. Tidur, gih. Biar cepet sembuh,” ucap Fyla sambil membenarkan letak selimut Arka. Ia juga mengganti kain kompres yang berada di dahi Arka.


Fyla memandang wajah Arka selama beberapa saat. Otaknya dipenuhi berbagai pertanyaan yang sangat tidak masuk akal di pikirannya. Bagaimana Arka bisa sakit? Apa dia tidak bisa memakan makanan pinggir jalan? Kalau begitu, Fyla akan merasa sangat bersalah telah mengajak laki-laki ini memakan makanan pinggir jalan.


Tak ingin larut dalam pikiran dan rasa bersalah yang terus menerus menggerogoti hatinya, Fyla memilih untuk ikut memejamkan matanya. Ia mengambil selimut dan menyelimuti tubuhnya.


Fyla tidak tidur di atas sofa, ia tidur di lantai di samping sofa yang ditempati oleh Arka. Sesekali Fyla memandangi wajah Arka, takut-takut laki-laki itu merasa tidak nyaman dengan posisinya.


Fyla tidak bisa tertidur lagi. Alhasil ia memutuskan untuk mengambil ponselnya dan memainkan game yang ada disana. Sesekali ia tetap melirik ke arah Arka memastikan kondisi laki-laki itu. Ia juga beberapa kali telah mengganti handuk yang ada di dahi Arka.


Saat tengah asyik bermain game, Fyla tidak menyadari bahwa Arka membuka matanya. Arka terdiam melihat ke arah Fyla yang tengah memainkan gamenya. Ia merasa sedikit terharu dengan sikap Fyla yang merawatnya ketika sakit, walaupun pertemuan pertama mereka sangat jauh dari kata baik.


Fyla kembali melirik ke arah Arka. Ia terkejut saat melihat mata Arka terbuka. Segera saja ia meletakkan ponselnya secara asal, walaupun ia tengah bermain game.


“Gimana? Apa yang sakit? Kok bangun? Tidur lagi aja, nanti kalau udah waktunya sholat subuh gue bangunin,” ucap Fyla sambil memeriksa suhu tubuh Arka dengan tangan yang ia tempelkan di atas dahi Arka.


“Alhamdulillah, panasnya udah turun.” Fyla tersenyum tipis, menyadari bahwa usahanya untuk menjaga Arka tidak sia-sia.


“Haus,” ucap Arka pelan. Dengan cekatan, Fyla memberikan air putih yang sudah ia isi kembali kepada Arka.


“Masih pusing?” tanya Fyla yang dibalas dengan gelengan pelan oleh Arka.


“Ya udah. Tidur lagi, aja. Kalau nanti pagi masih belum pulih banget, nggak usah sekolah dulu,” ucap Fyla. Arka hanya mengangguk karena tidak memiliki cukup tenaga untuk berdebat dengan Fyla.


Tanpa sadar, Fyla tersenyum tipis melihat Arka yang penurut seperti saat ini. Ia merasa tengah menjaga bayi jika seperti ini. Fyla ikut tidur disamping Arka, dengan kepala yang ia letakkan di atas sofa menghadap ke arah Arka.

__ADS_1


Uwuu....Lama nggak up, sekalinya up bisa fourple up...Stay tune, yah. Jangan lupa kritik dan saran...


__ADS_2