LATHI

LATHI
Sial


__ADS_3

“Apa-apaan, sih? Dasar laki-laki nggak tau sopan santun. Lihat cewek jatuh bukannya di tolong malah di ketawain,” gerutu Fyla di sepanjang jalan menuju kelasnya.


“Awas aja pokoknya kalau ketemu lagi, gue bejek-bejek. Ish, kesel banget. Kenapa bisa gue ketemu cowok jail itu, sih?” bingung Fyla.


Di sepanjang jalan, Fyla terus saja mengumpat dan menggerutu karena kekesalannya kepada Arka. Sungguh demi apapun, baru kali ini ia merasa sangat kesal kepada seseorang selama hidupnya. Biasanya ia terlalu cuek pada keadaan sampai menganggap semua hal biasa saja.


Tetapi, kali ini ia bisa terpancing emosi hanya karena ucapan dari seorang laki-laki tengil bernama Arka. Sungguh ada yang aneh dengan dirinya. Tidak biasanya ia merespon ucapan orang. Jangankan merespon, untuk menyapa orang atau teman sekelasnya saja ia tidak pernah melakukannya.


Jika di pikir-pikir ada benarnya ucapan laki-laki itu. Ia terlalu cuek, pemilih dan terkesan sombong. Tetapi, apa pedulinya? Toh, ia makan tidak dari beras mereka, ia jajan juga dari uangnya sendiri dan ia bernafas juga tidak merugikan orang. Itulah salah satu prinsip yang ia pegang selama ini.


“Ih, ngapain sih gue mikirin ucapan cowok tengil tadi. Nggak guna banget, bikin beban hidup nambah aja,” cibir Fyla sambil memukul pelan kepalanya agar tak terus menerus memikirkan ucapan Arka.


“Hey, kenapa kepalanya dipukul terus kayak gitu?” tanya seseorang yang tiba-tiba memegang tangannya dari arah belakang.


Fyla menoleh ke sumber suara, seketika wajahnya menjadi pias. Hatinya yang semula tak baik, menjadi semakin tak baik saat melihat wajah orang itu.


“Apaan, sih? Kepo banget jadi orang,” ketus Fyla dan berjalan meninggalkan orang itu.


“Eh, Fyl? Lu kenapa, sih? Kok marah terus ke gue? Gue kan udah minta maaf buat masalah waktu itu,” tanya orang itu karena merasa tidak nyaman dengan sikap Fyla yang terkesan menjauhinya.


“Lu masih nanya? Nggak bisa sadar diri?” tanya Fyla sengit. Sepertinya emosinya semakin terpancing saat ini.


“Jelasin ke gue. Jangan kayak anak-anak gini, kita udah besar, Fyl. Rubah sifat lu,” ucap orang itu, yang berhasil membangkitkan emosi Fyla yang sebelumnya sudah terpancing.


“Kayak anak-anak gimana? Lu udah pikun? Amnesia? atau apa? Seenaknya ngehancurin usaha gue dan seenaknya bilang maaf. Apa dengan maaf yang lu ucapin bisa bikin semuanya balik lagi?” cerca Fyla dengan emosi yang menggebu-gebu, terbukti dengan wajahnya yang memerah seiring bertambahnya intonasi yang ia gunakan.


“Oke, gue salah. Gue harus apa biar lu bisa maafin gue?" tanya orang itu yang seolah ingin menebus kesalahannya.

__ADS_1


“Gue nggak tau. Pikir aja sendiri. Kalaupun lu balikin semua yang udah lu hancurkan, gue rasa itu udah nggak penting. Keinginan gue udah mati, bersamaan dengan penolakan dan penghancuran yang lu lakuin. Jadi, sekarang terserah. Gue udah nggak perduli, dan mulai sekarang gue bukan bagian dari dunia itu lagi,” jawab Fyla dengan nada lirih di akhir kalimatnya. Bagaimanapun juga, sebenarnya ia merasa berat untuk meninggalkan dunia itu. Dunia yang menjadi impiannya sejak kecil.


“Nggak. Nggak boleh, lu nggak boleh mundur ataupun keluar. Lu harus tetep ada di dunia itu. Itu impian lu, Fyl. Lu nggak lupa, kan?” tanya orang itu sambil menggenggam tangan Fyla, tetapi langsung dihempaskan dengan kasar oleh Fyla.


“Gue tau, gue inget dan gue sadar. Tapi, gue udah nggak bisa. Lu yang udah hancurin semuanya. Jangankan untuk tetap di dunia itu, lihat tempatnya aja gue udah muak. Gimana gue bisa masuk dan mainin alatnya?” tanya Fyla sinis. Hatinya hancur, tetapi Fyla masih bisa bersikap sinis walaupun sebenarnya matanya sudah berkaca-kaca sedari tadi.


“Fyl, gue tau gue salah. Biarin gue nebus semuanya. Kasih gue kesempatan kedua, Fyl. Allah aja maha pemaaf, kenapa lu enggak?” tanya orang itu.


“Gue belum bisa, Def. Semua yang lu lakuin masih membekas di hati gue. Gue tau, lebih banyak kebaikan yang lu lakuin ke gue daripada keburukannya. Tapi, itu yang buat gue nggak nyangka dan ngerasa sakit hati banget. Bukannya kebaikan seribu kali lipat tak kan terlihat hanya dengan satu kesalahan. Tapi, gue ngerasa nggak bisa percaya kalau itu emang lu yang lakuin. Gue ngerasa sakit, Def saat orang yang paling gue percaya ternyata adalah pelakunya.” Cukup sudah, Fyla tak lagi kuat menahan air matanya, ia menumpahkan segalanya di hadapan Deffa saat ini.


“Gue paham. Gue mohon, kasih gue satu kesempatan. Gue nggak akan buang percuma kesempatan itu. Gue janji,” ucap Deffa dengan tegas sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi Fyla.


“Gue nggak bisa jawab, maaf.” Fyla segera berlari menjauh dari Deffa. Kaki mungilnya membawa ia ke arah taman belakang sekolah yang sangat indah dan sangat ramai saat istirahat. Ia menangis sepuasnya disana dengan tubuh yang terduduk diatas rumput di tempat yang menjadi favoritnya karena dekorasi bunganya yang sangat indah.


Tak ada siapapun disana, karena ini sudah memasuki jam pelajaran. Fyla bisa menangis sepuasnya disana. Otaknya memutar ulang setiap kejadian yang pernah ia lewati dengan Deffa di dalam dunia itu. Dari awal, semuanya terasa sangat indah. Mereka yang baru saling mengenal terlihat saling malu-malu.


Fyla tak memperdulikan larangan Deffa sampai akhirnya, semua yang telah ia rancang sedemikian rupa dihancurkan begitu saja oleh Deffa. Hatinya hancur bersamaan dengan hancurnya benda itu. Benda yang menjadi kesayangannya dan menjadi prioritas utamanya.


Hatinya kembali sakit saat memorinya memutar kenangan lama yang pernah ia lalui bersama Deffa. Satu tahun yang lalu, ia merasa sangat bahagia setelah mengenal Deffa. Tetapi, ia melupakan fakta bahwa dimana ada bahagia disitu pasti ada pasangannya, yaitu kesedihan. Ia merasakan kesedihan itu di penghujung kelas 10.


Malu tak seberapa baginya. Hanya saja usaha, latihan, kerja keras dan benda kesayangannya terlalu berharga untuk ia sepelekan. Ia benar-benar murka saat itu, sampai ia benar-benar malas untuk sekedar melihat wajah Deffa.


“Kenapa, Def? Kenapa dulu lu hancurin semuanya. Benda itu, usaha gue, kerja keras gue dan hati gue,” lirih Fyla dengan air mata yang terus membanjiri pipinya.


“Gue pikir lu orang yang bener-bener mau dukung gue. Tapi, ternyata sama aja kayak orang lainnya,” gumam Fyla dengan mata yang menatap tajam ke arah depan.


“Gue nggak tau bisa maafin lu atau enggak. Tapi, yang pasti gue masih kecewa sama lu, Def. Entah sampai kapan kekecewaan ini berakhir, karena setiap gue mengingatnya hati gue selalu sakit.” Fyla menghapus air matanya dengan kasar dan berdiri dari duduknya. Ia melangkahkan kakinya untuk kembali ke kelas.

__ADS_1


“Aduh, kenapa gue bisa nggak sadar kalau udah masuk, sih? Jadi ketinggalan pelajaran, kan. Kesel, ih.” Fyla terus saja menggerutu disepanjang jalan menuju kelasnya.


Saat sampai di depan kelas, ia mengetuk pintu yang tertutup dan ia yakin bahwa sudah ada guru yang mengajar di dalam kelas. Pintu terbuka dan menampakkan wajah wanita paruh baya yang terlihat sangat ramah.


“Assalamu'alaikum, Bu. Maaf, telat.”


“Waalaikumsalam. Ah, iya. Kamu darimana saja?” tanya guru itu lembut.


“Tadi ada sedikit masalah, Bu. Tapi, sekarang sudah selesai,” terang Fyla diiringi dengan senyum tipis di wajahnya.


“Ya udah, kamu boleh masuk,” ucap guru itu.


“Eh? Hukumannya, Bu. Setelah saya menjalankan hukuman, baru saya akan masuk dan mengikuti pelajaran,” celetuk Fyla dengan menatap manik mata guru itu.


“Lho? Saya nggak ada niat hukum kamu. Tapi, kalau kamu yang meminta ya udah. Nanti datang ke ruangan saya sepulang sekolah. Hukuman kamu menunggu disana,” balas guru itu dengan senyuman yang meneduhkan.


“Baiklah. Terima kasih, Bu Ani.”


“Sama-sama. Ya udah, silahkan duduk.”


Fyla berjalan dengan santai ke arah tempat duduknya. Sedangkan Bu Ani memandang kagum punggung mungil Fyla.


'Gadis itu sungguh baik hatinya. Ia menyadari kesalahannya dan tanpa ragu meminta hukumannya. Padahal gurunya tidak mau menghukum dan tidak mempermasalahkan keterlambatannya. Sungguh gadis yang sangat bertanggung jawab,” batin Bu Ani.


Pembelajaran kembali berlangsung setelah Fyla sudah duduk dengan nyaman dibangkunya.


Yuhuu. Aku bakal update setiap hari, nih kayaknya. Kritik, saran dan dukung cerita aku, yah😚

__ADS_1


__ADS_2