
“Assalamualaikum, Arka. Kamu nanti pulang, yah? Mama khawatir banget sama kamu, perasaan Mama nggak enak,” ucap Mama Arka di seberang sana.
Lagi, lagi, dan lagi. Hati Fyla merasa tersentuh mendengar kekhawatiran yang tercetak jelas dari setiap ucapan yang dilontarkan oleh mama Arka. Meskipun belum pernah bertemu secara langsung, tetapi ia sangat yakin bahwa mama Arka adalah sosok yang sangat penyayang.
Arka sangat beruntung memiliki sosok ibu yang seperti itu. Tetapi, mengapa laki-laki itu tidak mau pulang sampai membuat mamanya khawatir seperti ini?
“Arka? Nak?” panggil mama Arka yang berhasil menyadarkan Fyla dari lamunannya tentang kekagumannya kepada sosok ibu Arka.
“Eh? Maaf, Tante. Lagi-lagi Fyla yang angkat telfonnya. Arka tadi nggak masuk sekolah, Tan. Dari semalam dia sakit, badannya panas. Tadi pagi dia maksa buat masuk sekolah, jadi Fyla ikutan izin buat jagain Arka di rumah. Tapi, sekarang kondisinya udah membaik,” balas Fyla diiringi dengan tawa canggung.
“Loh? Arka sakit? Ya Allah, kok bisa?” tanya mama Arka kaget. Ibu mana yang tidak terkejut saat tau jika anaknya sedang sakit dan tidak berada dirumah.
“Iya, Tan. Fyla juga enggak tau, tengah malam tadi tiba-tiba aja badan Arka panas,” jawab Fyla jujur, tanpa melebihkan atau mengurangi sedikitpun.
“Ya Allah, Tante boleh kesitu, nggak? Tante khawatir banget sama Arka,” tanya mama Arka cemas.
Tanpa sadar, Fyla tersenyum pelan mendengar betapa khawatir dan cemasnya mama Arka di sebrang sana. Lagi-lagi perasaan itu hadir, perasaan yang sangat dibenci olehnya. Tetapi anehnya, kini ia sangat menikmati perasaan itu, walaupun menyakitkan.
“Boleh. Alamat Fyla di Jalan Saturnus, Perumahan Asteroid blok E. Rumah warna Silver,” ucap Fyla dengan senyum tipis yang entah mengapa tak mau pergi dari bibirnya.
“Ya udah, Tante sekarang kesana. Jangan kemana-mana, yah. Tante jadi sungkan sama kamu, Arka pasti ngerepotin banget,” cerocos mama Arka dengan nada lirih di akhir kalimatnya.
“Eh? Enggak, kok. Tante santai aja, Fyla nggak merasa direpotin,” balas Fyla dengan nada ceria, agar mama Arka tidak merasa bersalah dan sungkan.
“Kamu baik banget,” puji mama Arka.
“Ah, enggak. Itu belum seberapa baik, Tan. Tante hati-hati di jalan,” peringat Fyla. Entah mengapa mulutnya mengucapkan kata itu. Kata perhatian yang selama kurang lebih dua belas tahun ini tak pernah ia ucapkan kepada orang lain.
“Iya, makasih. Tante tutup, yah. Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam.”
Tak berapa lama setelah panggilan berakhir, pintu utama rumah Fyla di ketuk oleh seseorang. Fyla bergegas untuk membukanya dan menemukan seorang wanita paruh baya dengan dandanan elegant tengah berdiri di depannya.
“Maaf, Tante siapa?” tanya Fyla sopan, sembari mengulurkan tangannya guna mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
“Saya mamanya Arka. Kamu Fyla?” tanya balik wanita paruh baya itu yang ternyata adalah ibu dari sosok lelaki yang sedari tadi malam dirawatnya.
“Iya, Tan. Saya Fyla. Mari masuk,” ajak Fyla sembari melangkahkan kakinya ke arah kamar tamu yang tengah di tempati oleh Arka.
Dapat dilihatnya Arka yang masih tertidur pulas di atas kasur dengan kompres yang masih menempel di dahinya. Fyla berjalan ke arah sofa diikuti oleh Mama Arka.
“Tante mau minum apa? Fyla buatin,” tawar Fyla dengan senyum ramah yang terus tersungging di bibirnya.
__ADS_1
“Ah, enggak usah repot-repot,” tolak mama Arka secara halus.
“Enggak repot, kok. Fyla malah suka buatinnya,” tentang Fyla dengan senyuman yang tak juga luntur dari bibirnya.
“Kalau gitu, terserah kamu aja,” ucap mama Arka dengan senyum gemasnya saat menatap Fyla yang sangat menggemaskan.
“Ya udah, Fyla buatin dulu,” pamit Fyla sembari melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar.
Mama Arka terus memandangi tubuh Fyla yang mulai menjauh, sampai tidak sadar bahwa anaknya sudah terbangun dan memandang bingung ke arahnya.
“Mama? Ngapain disini?” tanya Arka ketus sambil memalingkan wajahnya.
“Eh? Nak? Kamu sudah bangun? Tadi mama telfon ke ponsel kamu, tapi Fyla yang angkat. Kata dia kamu sakit, jadi mama langsung aja ke sini,” jawab mamanya dengan senyum bahagia yang tercetak dibibirnya.
“Nggak usah sok peduli. Mama pergi aja, urusin pekerjaan Mama,” ketus Arka sambil menunjuk pintu keluar.
Mama Arka terdiam melihat respon yang Arka tunjukkan akibat kehadirannya di rumah Fyla. Ia menatap sendu punggung putranya itu, bukan itu maksudnya yang sebenarnya. Ia bekerja hanya karena Arka tidak ingin merasakan yang namanya kekurangan.
“Nak? Ar_”
“Pergi.” Arka memerintah dengan nada dingin. Mama Arka terdiam dan menangis pelan melihat betapa kecewanya sang putra terhadap dirinya.
Fyla yang sedari tadi sudah berada di ambang pintu melotot tak percaya dengan sikap yang Arka berikan kepada mamanya sendiri. Ia melangkah ke arah tempat mama Arka berada.
“Ini Tante jusnya, diminum dulu,” ucap Fyla sembari mengusap punggung wanita paruh baya itu yang perasaannya tengah hancur berkeping-keping saat ini.
Fyla hanya bisa mengangguk dan menatap kepergian mama Arka dengan hati yang berkecamuk. Fyla ingin menegur Arka, tetapi ia tau jika saat ini Arka tengah diliputi emosi yang menggebu.
Fyla mendekat perlahan ke arah ranjang Arka dan mengusap surai hitam Arka. Arka hanya diam sambil terus memunggungi tubuh Fyla. Fyla hanya tersenyum tipis melihat Arka yang tengah merajuk seperti saat ini terlihat sangat menggemaskan.
“Arka, nggak boleh gitu sama mama lu,” nasihat Fyla. Dengan kasar, Arka membalikkan tubuhnya dan menatap nyalang ke arah Fyla.
“Tau apa? Nggak usah sok tau!” ketus Arka.
Fyla terdiam beberapa saat melihat betapa emosinya Arka saat ini. Itu terlihat dari cara Arka menatap matanya. Fyla tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya untuk mengusap surai Arka lagi.
“Gue emang nggak tau dan nggak pernah ngerasain, Ka. Tapi, nggak sepantasnya lu bersikap kurang sopan begitu ke orang yang lebih tua. Apalagi ini Mama lu sendiri,” balas Fyla tanpa menghentikan kegiatannya mengusap surai kehitaman Arka.
Arka hanya diam, dengan pandangan yang lurus ke arah Fyla. Ia membiarkan tangan Fyla yang tengah mengusap-usap kepalanya, karena itu menghasilkan ketenangan pada dirinya.
“Sekarang gini, deh. Lu punya cita-cita, kan?” tanya Fyla sambil menatap balik Arka. Arka mengangguk pelan menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh Fyla.
“Pasti mencoba untuk mencapainya mati-matian, kan?” lagi, Arka hanya mengangguk. Karena yang diucapkan Fyla benar adanya.
__ADS_1
“Tujuannya buat apa?” tanya Fyla. Untuk pertanyaan yang kali ini, Arka tak menjawabnya dengan anggukan, melainkan dengan kernyitan bingung di dahinya. Fyla tersenyum tipis melihat kebingungan di wajah Arka.
“Tujuannya buat bikin anak dan istri bahagia suatu saat nanti, kan? Untuk menafkahi mereka,” jelas Fyla. Kernyitan di dahi Arka berangsur menghilang.
“Itu yang mama lu lakuin. Dia juga punya cita-cita, Arka. Dia lagi menjalankan cita-citanya yang udah tercapai, karena itu memang impiannya dari dulu sebelum menikah dan punya anak,” jelas Fyla pelan, agar Arka tidak merasa salah paham.
“Tapi, Mama udah jadi ibu rumah tangga. Kenapa dia nggak ninggalin cita-citanya? Dia punya suami yang bisa menafkahi dia,” tanya Arka bingung.
“Mama kamu tetap bekerja karena beliau sudah mendapatkan izin dari suaminya. Tidak ada istri yang masih bekerja jika tidak mendapatkan izin dari suaminya, Arka. Karena dosa dan api neraka lah imbalannya,” papar Fyla dengan nada lembut.
Arka terdiam mencerna semua ucapan yang dilontarkan oleh Fyla. Kini, ia merasa bersalah karena telah menggores pintu surganya.
“Minta maaf, yah. Nanti lu nyesel karena udah gores pintu surga itu. Lama-kelamaan pintu surga itu akan rusak jika setiap harinya ada goresan yang ditorehkan. Jadi, hapus goresan itu sebelum pintunya rusak,” papar Fyla dengan senyum tipisnya.
“Iya. Makasih, yah. Berkat lu, gue jadi sadar akan sikap gue yang ternyata salah selama ini. Gue ngerasa jadi anak durhaka banget sekarang,” lirih Arka.
“Enggak papa. Nggak usah dipikirin, yang penting lu kan udah sadar sama kesalahan yang lu lakuin. Gue harap, jangan melukai pintu surga milik lu lagi, yah. Hati seorang wanita itu rapuh, Ka. Apalagi hati seorang ibu jika sudah berhubungan dengan anaknya,” terang Fyla. Arka terdiam, dalam hati ia mengagumi sifat Fyla yang kadang bisa berubah menjadi dewasa seperti saat ini.
“Ya udah. Yuk,” ajak Arka.
“Yuk? Kemana?” tanya Fyla bingung.
“Anterin ke kantor Mama. Gue mau minta maaf,” perjelas Arka.
“Enggak usah. Nanti aja, nunggu kondisi lu udah lumayan baik. Masih sakit, jangan macam-macam,” hardik Fyla. Arka hanya mengangguk pasrah, daripada ia kena amukan macan.
“Nah gitu dong nurut. Udah, sekarang tidur aja, gih. Gue tungguin disini,” ucap Fyla sambil membenarkan selimut yang menutupi tubuh Arka.
“Enggak mau, ah. Masa tidur mulu, sih. Bosen,” tolak Arka yang berhasil mengundang tatapan jengkel dari Fyla.
“Kan lagi sakit. Tidur aja biar cepet sembuh. Sakit itu nggak enak tau, makannya cepet sembuh,” ucap Fyla.
“Ih, iya-iya. Bawel,” dengus Arka sebal.
“Eh? Apa tadi lu bilang? Gak gue rawat ******, lu!” ketus Fyla sambil memukul kepala Arka dengan sedikit kuat.
“Aduh,” lirih Arka sembari memegangi kepalanya yang kini terasa nyut-nyutan seakan hendak terlepas.
Refleks Fyla memegang kepala Arka dan menyingkirkan tangan Arka yang sedari tadi memegangi kepalanya.
“Aduh. Sakit, yah? Maaf, nggak sengaja. Abis lu sih bikin kesel,” heboh Fyla sambil menyandarkan tubuh Arka pada sandaran kasur.
“Enggak. Gapapa, kok.” Arka tersenyum tipis. Fyla meringis pelan, ia tau bahwa saat ini Arka tengah menahan rasa sakit di kepalanya.
__ADS_1
“Arka, sakit banget, yah? Maaf, yah. Enggak sengaja,” tanya Fyla dengan nada lirih yang sarat akan rasa bersalahnya. Ia terus memandangi wajah Arka yang sesekali meringis kesakitan.
Kepo? Baja terus dong wkwk. Jangan lupa kritik dan saran 😗