
“Kenapa nggak buka mulut lagi? Udah kenyang?” tanya Fyla bingung, pasalnya Arka hanya diam dan menutup mulutnya rapat-rapat.
“Arka? Kenapa, sih?” tanya Fyla geram karena Arka hanya diam dan menatap horor ke arahnya.
“Entar gue diracunin,” celetuk Arka polos yang berhasil membuat Fyla mendelik kesal.
“Apa, sih? Siapa juga yang mau ngeracunin, kurang kerjaan banget,” hardik Fyla kesal.
“Makan!”
Arka menatap ragu ke arah Fyla dan makanan itu, tetapi perutnya bergejolak menyuruhnya untuk membuka mulutnya.
“Makan atau gue buang,” ancam Fyla. Sontak, Arka langsung membuka mulutnya dan menerima suapan dari Fyla.
Dalam hati Fyla menggerutu sebal, karena bisa-bisanya Arka menanggapi serius ucapannya yang jelas-jelas hanya candaan.
Arka hanya diam dengan mulut yang terus mengunyah, juga mata yang menatap Fyla yang tengah menggerutu kesal.
Ditengah acara makannya, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu utama. Bi Inah yang kebetulan sudah selesai makan, segera bergegas untuk mencuci tangannya dan membukakan pintu.
Arka hanya mengangkat bahunya acuh dan membuka kembali mulutnya. Fyla dengan segera memasukkan suapan terakhir ke dalam mulut Arka.
“Fyla? Arka? Kok kalian suap-suapan?” tanya seseorang dari belakang Arka. Sontak keduanya menoleh dan melotot terkejut melihat siapa yang datang.
“Ah? Eh? Anu tante, tadi Arka kepedasan dan nggak mau tangannya kotor. Jadi, Fyla suapin aja,” jawab Fyla. Sedangkan Arka hanya menoleh sekilas, kemudian sibuk mengunyah.
Orang itu hanya menggeleng pelan melihat sikap Arka yang tidak berubah. Tetap cuek dan manja.
“Arka, kamu nggak boleh gitu. Kamu kan tamu di sini, masa kayak gitu, sih sama yang punya rumah?” nasihat pelan. Arka masih diam dan melanjutkan acara mengunyahnya. Sebelum pelototan dari Fyla berhasil membuatnya sadar.
“Arka laper, tapi kalo makan nanti tangan Arka kotor,” balas Arka santai.
“Ya udah. Kita pulang, yah. Papa udah nunggu di mobil,” ajak orang itu yang ternyata adalah mama Arka.
Arka melotot kaget, dan langsung menoleh ke arah mamanya. Sedangkan sang mama hanya bingung melihat sikap Arka.
“Pulang?” beo Arka.
“Iya, pulang. Nggak enak sama Fyla kalau kamu lama-lama disini,” balas mamanya.
“Tapi, Arka suka disini. Disini rame, nggak sepi kayak di rumah,” celetuk Arka sembari menatap mamanya.
“Apaan, sih? Pulang, gih. Lagian kan bisa main ke sini kapan pun,” ucap Fyla yang turut serta membujuk Arka.
“Tapi, gue kesepian disana. Kalau disini gue kan bisa jailin dan bikin elu kesel,” ucap Arka, yang langsung dibalas dengan delikan sinis oleh Fyla. Sedangkan mama Arka hanya menggeleng pelan melihat kelakuan mereka berdua.
“Udah sana, pulang. Lu nggak boleh ke sini lagi,” usir Fyla sembari mendorong tubuh Arka.
“Apa, sih? Kok dorong-dorong? Kok pegang-pegang?” hardik Arka sembari menepis tangan Fyla dari lengannya.
“Dih!” cibir Fyla sembari melotot tajam. Arka terkekeh pelan melihat wajah kesal Fyla, karena itu bisa membuat moodnya membaik.
“Arka, jangan dijailin mulu. Fyla marah beneran, kapok kamu!” tegur mamanya.
__ADS_1
“Iya, Ma. Oh, iya. Arka minta maaf, yah. Tadi, udah kasar dan nggak sopan ke mama. Pasti mama sakit hati yah sama perlakuan Arka?” ucap Arka sembari menatap manik mata mamanya.
Mama Arka tertegun dan hanya terdiam, karena baru kali ini Arka mau meminta maaf. Ini semua pasti berkat bujukan dari Fyla.
“Iya, sayang. Nggak, papa. Mama bisa maklum, lagi pula itu juga salah mama. Mulai sekarang, mama udah mutusin buat berhenti kerja dan fokus ngurus kamu sama Papa,” balas mama Arka disertai dengan senyum teduhnya. Fyla ikut tersenyum melihat pemandangan di depannya.
Dimana seorang anak dan ibu yang tengah berpelukan, saling membagi kehangatan dalam kebahagiaan yang tercipta.
“Makasih, Ma.”
“Sama-sama,” balas Mama Arka sembari mengulurkan tangannya ke arah Fyla, seolah mengajak Fyla untuk masuk kedalam pelukan kehangatan mereka.
Awalnya Fyla ragu, tetapi melihat tatapan mata mama Arka, ia akhirnya luluh dan ikut serta masuk kedalam pelukan hangat tersebut.
Kini, Fyla tengah berada di dalam kamar dengan Arka yang berada di sampingnya, mereka berdua mengemasi barang-barang Arka. Padahal, lelaki itu hanya membawa sebuah tas sekolah yang tinggal dibawa. Tetapi, mereka lama berada di dalam kamar karena mencari ponsel Arka yang entah lenyap kemana.
“Ish, Pila! Lu taruh dimana ponsel gue sebenernya?” tanya Arka kesal. Pasalnya sudah menggeledah seisi kamar, mereka tak kunjung menemukan ponsel Arka.
“Enggak tau, lupa. Kalau tau juga bakal langsung gue ambil, gaperlu nyari-nyari kayak begini,” balas Fyla ketus sambil berkacak pinggang.
“Lagian elu, sih. Ngapain pake segala pinjem ponsel gue? Kayak nggak punya ponsel aja,” cibir Arka kesal.
Fyla melotot kesal karena terus-terusan disalahkan oleh Arka. “Gue nggak pinjem, cuma tadi itu __”
Ucapan Fyla mengganggu karena saat ini gadis itu tengah berlari kencang keluar dari dalam kamar. Arka yang merasa bingung hanya bisa mengekori gadis itu.
“Nah, ketemu!” jerit Fyla karena merasa bahagia.
“Lebay,” sinis Arka sembari merebut ponselnya yang ada di tangan Fyla.
“Yayaya. Terima kasih, Upil!” goda Arka disertai dengan kekehannya.
Fyla menatap Arka sinis dengan kedua tanduk ilusi yang ada di kepalanya. Arka berlari kencang karena tau bahwa sebentar lagi Fyla akan mengejarnya.
“Arka, ih!” teriak Fyla dengan kesal.
Arka berlari ke arah ruang tamu, tempat dimana kedua orang tuanya berada. Fyla dengan cepat mengejar Arka, sampai kini mereka berdua tengah kucing-kucingan dibelakang tubuh mama Arka.
Mama dan Papa Arka hanya terkekeh gemas melihat kelakuan mereka berdua. Sungguh bocah sekali.
“Arka! Fyla!” panggil Papa Arka dengan nada dingin.
Sontak, Arka dan Fyla langsung terdiam dan menatap ke arah Papa Arka yang tengah menatap mereka berdua dengan pandangan mengintimidasi.
“Kalian ini seperti anak-anak saja. Sini, duduk,” perintah Papa Arka yang langsung saja dilaksanakan oleh keduanya. Kini keduanya duduk bersebelahan di single sofa.
“Ih, Arka! Sempit, sana pindah!” usir Fyla karena merasa sempit saat berbagi tempat duduk dengan Arka.
“Enggak mau! Lu aja yang pindah,” ketus Arka sembari menggoyangkan pinggulnya agar mendapatkan tempat duduk yang banyak. Fyla yang menyadari hal itu mengikuti cara Arka.
Sedangkan Papa Arka hanya menepuk dahinya gemas, begitupun dengan Mama Arka yang tengah berusaha untuk menahan tawanya.
“Sudah, diam! Kalian ini, selalu saja berdebat,” hardik Papa Arka yang seketika berhasil membuat Arka dan Fyla bungkam.
__ADS_1
“Fyla?” panggil Papa Arka dengan nada lembut.
“Iya, Om?” balas Fyla sopan.
“Setiap hari Senin, Rabu dan Jum'at, kamu menginap di rumah kami. Tidak ada bantahan!” Papa Arka berkata dengan nada tegas, sehingga Fyla yang tadinya hendak memprotes langsung menutup mulutku rapat-rapat.
Sedangkan Arka disebelahnya menahan tawanya yang hendak meledak. Fyla melirik sinis ke arah Arka.
“Arka?” panggil Papanya dengan nada lembut.
“Iya, Pa?” balas Arka dengan wajah sumringah, karena baru kali ini Papanya berbicara sesantai ini.
“Setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu, kamu akan tinggal dirumah Fyla. Tidak ada bantahan!” Lagi. Papa Arka berucap dengan nada tegas.
Wajah Arka yang tadinya sunting, kini berubah menjadi masam karena keputusan papanya. Kali ini giliran Fyla yang tertawa puas atas penderitaan Arka.
“Eh, tapi nggak papa, deh. Kan bisa jailin, Fyla.” Arka tersenyum jail ke arah Fyla. Kini, Fyla baru sadar bahwa dirinyalah yang merasa paling dirugikan dengan keputusan ini. Tetapi, mau bagaimana lagi? Ia tidak tega menolak permintaan Mama dan Papa Arka yang sudah ia anggap layaknya keluarga sendiri.
“Dan untuk hari Minggu, kita tinggal satu rumah di rumah utama,” ucap Papa Arka yang sukses membuat Arka berdecih tidak suka.
“Ngapain, sih? Arka nggak setuju sama hari minggunya,” ketus Arka sembari memalingkan wajahnya.
Papa dan Mama Arka hanya bisa menghela nafas melihat sikap Arka yang seperti itu. Bagaimana pin, mereka tidak bisa menyalahkan sikap Arka.
“Nak, kamu nggak boleh gitu. Kan sekarang udah ada Fyla yang nemenin kamu. Nggak akan terjadi apa-apa lagi, percaya sama Mama,” bujuk mamanya sembari mengusap surai anaknya penuh dengan kasih sayang.
Fyla yang tidak mengerti apa-apa hanya terdiam dengan memandang wajah kesal Arka yang tengah menghadap ke arahnya.
“Ya udah, keputusan tadi berlaku mulai besok. Sekarang kami pamit pulang dulu, yah. Kamu hati-hati di rumah,” pesan Papa Arka dengan nada lembut sambil mengusap surai Fyla.
“Iya, Om. Hati-hati di jalan,” balas Fyla sembari mencium punggung tangan Mama dan Papa Arka.
Mama dan Papa Arka berjalan terlebih dahulu keluar dari rumah Fyla. Fyla menatap bingung Arka yang tak kunjung berdiri dari duduknya.
“Arka? Nggak mau pulang? Udah ditunggu Om sama Tante, tuh. Kasihan tau,” ucap Fyla sembari menggoyangkan lengan Arka.
“Iya. Janji, yah?” ucap Arka tiba-tiba. Fyla mengernyit bingung.
“Janji apa?” tanya Fyla.
“Janni jangan pernah cuekin gue di hari Minggu. Kita akurnya di hari Minggu aja, di hari lain bebas,” jawab Arka dengan nada sungguh-sungguh.
Fyla terdiam cukup lama, sampai akhirnya ia menyetujui janji yang diutarakan oleh Arka.
“Janji,” ucap Fyla sembari mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking milik Arka.
“Udah, gih. Kasihan Om sama Tante nunggu lama,” ucap Fyla sembari mendorong tubuh Arka untuk keluar dari rumahnya.
Sesampainya di depan gerbang, Fyla membukakan pintu mobil untuk Arka dan mendorong laki-laki itu untuk masuk ke dalam mobil.
“Aduh! Upil, kurang ajar. Sakit tau,” teriak Arka ketus dengan mata melotot ke arah Fyla, sedangkan Fyla hanya menjulurkan lidahnya untuk mengejek Arka.
Arka yang merasa geram ingin turun dari mobil dan menjitak kepala Fyla. Tetapi, ia kalah cepat dengan papanya yang sudah terlebih dahulu mengunci. Arka hanya bisa mendengus sebal dan menyandarkan punggungnya dengan kasar. Fyla, Mama dan Papa Arka yang melihat tingkah Arka hanya terkekeh gemas.
__ADS_1
**Wah..Wahh.... Kira-kira apa yang membuat Papa Arka memutuskan hal itu? Simak terus, yah.
Jangan lupa, kritik saran dan dukungannya 😗**