
3rd POV
"Miraaaaaaaa..... cepat bangun! Sudah jam berapa sekarang, kamu nggak kuliah apa?" teriak seorang wanita.
Gedebug!!! "Aduh! Bunda kenapa sih bikin aku kaget terus" ucap gadis yang dipanggil Mira itu.
"Kamu itu ya, tiap hari kerjaannya tidur terus. Banguninnya juga susah lagi. Katanya hari ini masuk kuliah pagi" kata bunda Rika bundanya Mira.
"Sekarang baru jam berapa sih Bun? Ini masih gelap. Mira ngantuk mau tidur lagi" ucap Mira.
"Sekarang sudah jam 7, gelap darimana sih Mir. Kan jendela kamar kamu belum dibuka jadi masih gelap" jawab bunda Rika.
Mendengar jawaban dari bundanya, Mira langsung melesat ke kamar mandi. "Kenapa Bunda nggak bangunin Mira dari tadi?" teriaknya dari dalam kamar mandi.
"Bunda sudah bangunin kamu dari tadi kok. Kamu aja yang nggak bangun-bangun" jawab bunda Rika dan langsung keluar dari kamar tersebut.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Mira mengambil tas selempang hitamnya. Dia menuju ruang makan untuk berpamitan pada orangtuanya."Bun, Yah. Mira berangkat kuliah dulu" pamitnya.
"Kamu nggak sarapan dulu Mir?" tanya bunda Rika sambil menata makanan di meja makan. "Enggak Bun, nanti terlambat. Mira berangkat." ucap Mira sambil mencium tangan orangtuanya.
" Hati-hati di jalan " ucap bunda Rika. Mira menganggukkan kepala dan menuju garasi untuk mengambil motornya.
Dia mengendarai motornya membelah jalan yang mulai padat kendaraan. Sesekali matanya terpejam karena rasa kantuk yang menyerangnya. Dia merasa was-was apalagi banyak kendaraan yang hampir ditabraknya. Namun,dia tetap melajukan motornya hingga sampai di kampus. Untungnya dia sampai dengan keadaan selamat.
Setelah sampai dan memarkir motornya, dia buru-buru menuju ruang kelasnya. Sesampainya disana dia mengetuk pintu kelas yang tertutup. Ceklek. Terdengar pintu dibuka dari dalam ruangan
"Sudah jam berapa ini? Kamu sudah terlambat 20 menit. Kamu masih ingat peraturan untuk mengikuti mata kuliah saya kan?" kata Pak Bono dosen berkumis tebal yang sedang menatap Mira tajam.
" Saya masih ingat peraturannya Pak, berpakaian rapi, bersepatu, sama toleransi keterlambatan 15 menit setelah mata kuliah dimulai." Jawab Mira.
"Jadi, kamu tidak boleh mengikuti mata kuliah saya" ucap Pak Bono.
"Tapi Pak. Saya kan terlambat baru 10 menit" jawab Mira tidak terima.
"Kamu sudah terlambat 20 menit. Kamu lihat jam tanganmu"
"Masih jam 8.10 Pak" jawab Mira sambil melihat jam tangannya.
"Sekarang sudah jam 8.20. Jadi kamu terlambat 20 menit" balas Pak Bono sambil menunjukkan jam tangaanya kepada Mira.
Mira melihat jam tangannya lagi.
"AAAARRRGGHH. Ternyata jam tangan ini mati".
"Kamu jangan teriak-teriak. Nanti mengganggu kelas lain" marah Pak Bono.
"Tapi Pak, jam tangan saya kan mati jadi saya tidak tahu kalau sudah terlambat 20 menit" ucap Mira memelas.
"Saya tidak menerima alasan apapapun. Kamu bisa mengikuti mata kuliah saya di kelas lain untuk mengganti mata kuliah hari ini" ucap Pak Bono kemudian menutup pintu.
"Mendingan tadi nggak usah berangkat. Mana cuma satu mata kuliah lagi" ucap Mira kesal. Akhirnya dia memutuskan untuk ke kantin menunggu sahabat-sahabatnya.
2 jam kemudian ...
Mira masih menunggu di kantin sambil meminum jus alpukat kedua yang dia pesan. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang dan membuat jus alpukat yang dipegangnya tumpah di kemeja pinknya.
"Siapa sih?" ucap Mira sambil menoleh ke belakang. "Ternyata kalian bertiga. Bikin kaget gue aja. Lihat nih, kemeja gue jadi kotor"
"Sorry Mir. Kita nggak tau kalau lo bakalan kaget" ucap Sophie.
"Iya Mir. Kita kan nggak sengaja" kata Devi.
"Jangan marah ya Mir. Kita beneran nggak sengaja kok. Nanti gue beliin jus alpukat lagi" kata Safira.
Mira menghela nafas. "Iya... iya... gue nggak marah kok. Gue tinggal sebentar ke toilet. Mau bersihin kemeja" ucap Mira lalu berjalan ke toilet.
Mira POV
‘Huh... hari ini aku sial banget. Udah nggak boleh masuk kelas ketumpahan jus lagi. Benar-benar sial kan. Oh, ya. Namaku Mira Cantika. Ingat !! Mira Cantika bukan Mirasantika lho. Sekarang aku lagi berada di toilet tepatnya di salah satu bilik toilet. Tapi, lagi-lagi aku kena sial. Pintu di bilik ini nggak bisa dibuka. Alhasil aku teriak-teriak sambil gedorin tuh pintu, udah sampai 15 menitan sayangnya nggak ada yang nolongin aku. Huh...betapa menyedihkannya diriku.’
3rd POV
Tiga sahabat Mira yang masih berada di kantin heran karena tidak biasanya Mira berlama-lama di toilet. Hingga 20 menit berlalu dan Safira buka suara. "Hei, Mira kemana ya? Udah 20 menit tapi nggak balik-balik" ucap Safira. Sophie dan Devi yang masih sibuk dengan ponselnya lantas menoleh ke arah Safira.
"Jangan-jangan ketiduran lagi. Si Mira kan suka tidur di mana aja" sahut Devi.
"Yee... lo kira si Mira itu hamster demenan lo di kartun itu." Ucap Safira sambil menoyor kepala Devi. Devi hanya terkekeh.
"Tapi bener juga kata Devi, Mira kan emang suka tidur. Jangan-jangan dia ketiduran di toilet lagi" kata Sophie menjelaskan.
"Ya udah. Mending kita samperin aja si Mira di toilet." Usul Safira. Sophie dan Devi mengangguk.
Ketiganya pergi menyusul Mira ke toilet. Tapi, ketika sampai di sana keadaan toilet sangat sepi.
"Kok sepi sih?" ujar Devi.
"Ya kali. Kalau rame ya di pasar sana" balas Sophie kesal.
"Ihh... maksud gue kalau ada orang kan biasanya ada suara air" ucap Devi.
"Iya juga. Kalau gitu Mira dimana?" tanya Sophie.
"Mungkin ketiduran di bilik toilet paling pojok tuh" tunjuk Safira.
"Kalau gitu ayo, cari Mira di sana" ajak Sophie.
"MIRAAAAAA...LO ADA DI DALEM" teriak Devi sambil menggedor pintu bilik.
__ADS_1
"Dev, ngapain lo teriak-teriak gitu. Lo kira ini di hutan apa?" ucap Safira kesal.
"Hehe...Maaf" ucap Devi.
Mendengar teriakan dari luar, Mira segera berteriak minta tolong.
"TOLONG...GUE NGGAK BISA KELUAR. PINTUNYA NGGAK BISA DIBUKA" teriaknya dengan suara serak.
"AAAAAAAAAAAAA" teriak Devi ketakutan.
"Lo ngapain sih teriak-teriak lagi" ucap Safira menahan amarahnya.
"Tadi ada suara serak minta tolong dari dalam. Jangan-jangan hantu" ucap Devi.
"Hantu gigi lo. Itu suaranya Mira yang minta tolong" ucap Sophie sambil memukul lengan Devi.
"Ya, maaf. Gue kan inget cerita horor yang gue baca kemarin" kata Devi cengengesan.
"Ya udah. Kita coba buka pintunya" kata Safira.
Mereka bertiga mencoba membuka paksa pintu tersebut, hingga 5 menit mereka mencoba masih tidak bisa terbuka.
"Gimana nih? Nggak bisa terbuka. Kalau didobrak gimana?" usul Sophie.
"Iya, mending didobrak aja. Tapi, badan kita bertiga kan kurus. Kalau dobrak pintu nggak mungkin terbuka" ucap Safira.
"Kalau gitu, kita cari bantuan aja" usul Sophie.
"Ayo" ucap Safira dan Devi bersamaan.
Mereka bertiga segera keluar dari toilet dan mencari bantuan. Tepat saat mereka bertiga keluar dari toilet, seorang cowok berbadan atletis, memakai kacamata berbingkai merah, kemeja pink, dan jeans merah kebetulan lewat. Mereka bertiga segera menyeret cowok tersebut ke dalam toilet.
"Ihh... ngapain sih kalian tarik-tarik aku" ucap cowok tersebut.
"Kami butuh bantuan Vin. Lo dobrak pintu bilik itu" tunjuk Sophie.
"Dobrak pintu? Nggak mau. Nanti kulit aku jadi merah terus badan aku sakit" tolak cowok itu.
"Astaga, Kelvin. Mira terjebak di dalem dari 30 menit yang lalu. Lo nggak kasihan apa?" kesal Safira.
"APAAA?? Mira terjebak di dalem. Gimana kalau Mira pingsan, terus kehabisan napas, terus nggak tertolong, terus..."
"Terus...terus...nabrak lo. Makannya cepet dobrak pintunya." potong Safira.
"Nggak mau. Nanti kulit aku jadi merah dan badan aku sakit" tolak Kelvin lagi.
"KELVIN... LO DOBRAK PINTUNYA ATAU PULANG NANTI SEMUA BAN MOBIL LO UDAH NGGAK ADA " teriak Safira marah.
"Iya...iya... aku dobrak nih" ucap Kelvin pasrah sambil bersiap-siap mendobrak pintu.
"MIRA..." teriak ketiga sahabatnya.
"Cepetan lo gendong Mira ke ruang kesehatan" perintah Safira pada Kelvin.
"Nggak mau. Tadi aku udah dobrak pintu. Kalian angkat aja sendiri" tolak Kelvin.
"Oh...gitu. Ya udah. Pulang nanti ban mobil lo bakal nggak ada semua. Mau?" ancam Safira.
"Iya deh. Aku gendong sampai ruang kesehatan" ucap Kelvin pasrah dan mulai mengangkat tubuh Mira. "Badan kurus tapi berat banget sih. Jangan-jangan kebanyakan dosa" omel Kelvin.
"Hush...sembarangan aja. Mendingan lo jalan lebih cepet nggak usah ngomel-ngomel mulu." Ucap Sophie.
Kelvin akhirnya diam dan mereka berempat berjalan menuju ruang kesehatan.
Mira POV
Aku mengerjapkan mata. 'Aku dimana ya? Kayaknya ini bukan kamarku. Oh, ya. Tadi kan aku pingsan di toilet' batinku. Aku mendengar suara berisik dari samping dan sedikit melirik, ternyata ada tiga sahabatku dan si banci Kelvin lagi ngobrol. Aku kerjain ah. Batinku terkikik.
"Engh...ini dimana?"ucapku dengan suara keras.
Mereka berempat menoleh ke arahku dan menghampiriku. "Ini bukan di surga ya. Kok ada kembarannya monyet disini" ucapku sambil menahan tawa.
"Enak aja kembaran monyet. Lo itu kembarannya beruang, hibernasi terus" ucap Sophie sambil menoyor kepalaku.
"Aduh, orang lagi sakit kok ditoyor sih. Mending kembaran beruang, lebih imut" balasku.
"Udah, udah. Lo udah baikan" tanya Safira.
"Iya, makasih ya udah tolongin gue"
"Iya, sama-sama" jawab mereka berempat.
Tiba-tiba pintu ruang kesehatan terbuka dan menampilkan sosok pangeran berkuda putih. Kyaa... itu Arya, tetanggaku yang super ganteng. Ngapain dia di ruang kesehatan? Jangan-jangan dia khawatir sama aku. Tunggu bentar, Arya kan ngambil jurusan kedokteran. Ya ampun, aku lupa. Arya kan petugas di ruang kesehatan ini. Huhuhu...aku jadi sedih. Tapi nggak apalah, kan bisa nyapa dia. Saat aku mau ngomong.
"AAAA...Arya, Elpin kangen deh" ucap Kelvin sambil memeluk Arya.
"Dasar banci" ucapku pelan. Kenapa aku ngucapin kalimat itu pelan. Soalnya kalau Kelvin dengar pasti marah dan bilang gini 'Elpin itu bukan banci. Elpin itu cowok imut'. Imut-imut dari jamban. Eh...yang di jamban itu nggak imut sama sekali, beneran deh. Gara-gara Kelvin aku nggak bisa ngobrol sama Arya. Mereka berdua yang malah asik ngobrol.
"Yang sabar ya… Mereka emang deket dari SMP jadi wajar kalau mereka ngobrolnya lama. " ucap Sophie.
"Siapa?? Siapa yang deket?" ucap Devi semangat.
“Aduh Dev, kalau orang ngomong itu dengerin baik-baik biar nggak tanya-tanya lagi. Kebiasaan deh. Maksud gue, mereka itu ya Arya sama Kelvin.” Jawab Sophie dengan emosi.
“KYAAA...” teriak Devi sambil senyum-senyum sendiri.
“Aish… Kumat lagi jiwa fujo-nya. Tapi lo beneran suka Arya, Mir? Maksud gue, Arya kan mantannya banyak dan setahu gue mantannya itu cewek-cewek populer semua.” ucap Safira.
__ADS_1
Mendengar ucapan Safira ‘Arya kan mantannya banyak dan setahu gue mantannya itu cewek-cewek populer semua.’ bikin aku jadi down. Huh… aku cuma bisa menghela nafas dan menjawab “Nggak kok, cuma ngefans aja.Hehehe.”
"Gue mau pulang. Kalian nggak pulang?" tanyaku.
"Lo mau pulang sekarang? Gue anterin ya." Tanya Sophie.
"Nggak usah. Gue bisa pulang sendiri. Gue kan naik motor berangkatnya" tolakku.
"Nggak boleh. Lo kan habis pingsan. Pokoknya gue anterin, rumah kita kan searah. Nanti motor lo taruh kampus aja, titipin sama pak satpam. Besok lo bareng gue aja" ucap Sophie.
"Iya deh" jawabku.
Kami berempat mutusin buat pulang. Nggak lupa juga aku pamit sama Arya dan Kelvin. Arya bilang hati-hati di jalan ke aku sambil nunjukin senyum gantengya. Hatiku jadi berbunga-bunga. Setelah sampai di parkiran aku segera masuk ke mobilnya Sophie. Baru beberapa menit mobil Sophie jalan, aku merasa ngantuk dan akhirnya tertidur.
"Mir, bangun. Udah sampai rumah lo, nih. Ish...anak ini kalau tidur banguninnya susah amat" ucap suara yang samar-samar ku dengar.
"Mir, ada Arya dateng, mau ngelamar lo" dengerin kalimat barusan aku langsung bangun dan celinnggak-celinguk nyari Arya. Tapi di sini Cuma ada Sophie. Tunggu dulu, ada Sophie. "SOPHIE...LO NGERJAIN GUE YA" teriakku di dalam mobil.
"Apaan sih, Mir. Nggak usah pakai teriak-teriak. Abisnya lo sih, susah banget dibangunin" balas Sophie.
"Ya maaf. Gue duluan Soph. Makasih ya. Lo nggak mampir dulu?" ucapku setelah turun dari mobil.
"Sama-sama. Nggak usah Mir. Gue langsung pulang aja" jawab Sophie kemudian menjalankan mobilnya.
"Mira pulang" ucapku saat memasuki rumah.
"Bun, Ayah mana?" Aku menghampiri bunda yang asik nonton TV dan mencium tangannya.
"Belum pulang" jawab bunda.
Aku segera ke kamar dan langsung mandi. Setelah itu mengerjakan tugas-tugas kuliah. Sekitar jam 7 bunda manggil aku buat makan malam.
"Gimana kuliah kamu?" tanya ayah setelah makan.
"Baik" jawabku.
"Bunda sama Ayah mau bicara sama kamu" kata ayah dengan nada serius.
"Bicarain apa Bun, Yah?" tanyaku penasaran.
"Kamu tau Om Rama sama Tante Dinar?" tanya bunda.
"Yang mana sih Bun? Aku nggak ingat" ucapku.
"Temannya Ayah. Yang dulu waktu kamu masih SMP kelas 2 bunda sama ayah ajak kamu ke rumah mereka" kata bunda.
"Oh...yang itu Bun. Mira ingat. Memangnya kenapa Bun?" tanyaku makin penasaran.
"Mereka kan punya anak laki-laki" ucap ayah menambahkan.
Aku jadi penasaran. 'Jangan-jangan aku mau dijodohin lagi' pikirku.
"Anak laki-laki mereka kan kadang-kadang tinggal di apartemen. Mereka butuh orang buat bersih-bersih dan masak di apartemen anaknya itu" ucap bunda menjelaskan.
Gue kira mau dijodohin. Ternyata disuruh jadi asisten rumah tangga. APAAA...ASISTEN RUMAH TANGGA.
"Bun, Yah, kok Mira disuruh jadi asisten rumah tangga sih" ucapku.
"Bukan asisten rumah tangga. Cuma bersih-bersih sama masak aja kok" jelas bunda.
"Sama aja Bun. Terus kuliah aku gimana?" tanyaku.
"Kamu kuliah sambil kerja di apartemen itu. Setahu Ayah anak mereka kuliah satu kampus sama kamu" jawab ayah.
"Terus Mira harus berangkat pagi dari rumah ke apartemen habis itu baru berangkat ke kampus?" tanyaku pada mereka.
"Kamu nanti juga tinggal di apartemen itu" jawab bunda.
"Tapi Bun, masa aku tinggal sama laki-laki di satu apartemen. Nanti kalau terjadi hal-hal yang nggak diinginkan gimana Bun? Terus kenapa mereka nggak nyewa jasa cleaning service apartemen aja? Lagian Mira juga nggak bisa masak" ucapku.
"Dengar ya Mira. Anak itu jarang berada di apartemen, seringnya di rumah. Lagian nggak mungkin anaknya Om Rama itu mau sama kamu. Kamu itu malas, kalau tidur kayak kebo lagi. Terus, mereka nggak nyewa jasa cleaning servis soalnya mereka nggak bisa langsung percaya sama orang. Biasanya yang bersih-bersih itu Mbok Inah, orangnya agak tua. Tante Dinar kasihan lihat Mbok Inah bolak-balik dari rumah ke apartemen. Kalau soal masak, nanti Bunda ajarin. Kan kamu kerjanya mulai minggu depan. Kamu nanti juga digaji kok" jelas bunda.
"Tapi Bun, Yah..."
"Kamu nggak boleh nolak atau protes. Sebenarnya ini hukuman buat kamu" ucap ayah.
"Hukuman karena apa?" tanyaku pada ayah.
"Kamu itu sering terlambat masuk kelas. Kamu juga sering tidur waktu mata kuliah berlangsung. Di rumah kamu juga kerjaannya cuma tidur nggak pernah bantuin Bunda bersihin rumah. Kamu cuma bersih-bersih kamar kamu aja, bersihinnya nggak bersih lagi." Ucap bunda.
"Kok kalian tau Mira sering terlambat masuk kelas sama sering tidur waktu ada kelas?" ucapku kaget.
"Bunda tau jadwal kuliah kamu, kamu berangkatnya aja mepet jam masuk. Dosen salah satu mata kuliah kamu ada yang temannya Ayah waktu SMA, dia juga selalu bilang ke Ayah kalau kamu sering tidur di kelasnya" ucap Bunda.
"Siapa teman Ayah yang jadi dosen aku?" tanyaku pada ayah.
"Kamu nggak perlu tau" jawab ayah.
"Mira janji nggak akan ngulangi lagi. Mira akan bangun pagi-pagi. Hukumannya nggak jadi ya" pintaku dengan puppy eyes.
"Pokoknya kamu tetap dihukum. Kamu sering janji tapi nggak ada yang dilaksanain" ucap ayah.
"Nanti Mira yang bangunin siapa?" tanyaku.
" Kamu disana kan kerja bukan menginap. Jadi, kamu harus bangun pagi buat bersih-bersih dan masak. Hitung-hitung kamu disana belajar jadi lebih rajin dan mandiri. Pokoknya kamu nggak boleh nolak" ucap ayah.
"Iya, deh. Mira mau. Mira ke kamar dulu Bun, Yah" ucapku dan pergi menuju kamar. Di kamar, aku cuma bisa mengacak-acak rambut karena frustrasi. "Aarghh...hari ini benar-benar hari tersialku". Akhirnya aku memutuskan tidur daripada mikirin masalah hukuman tadi.
__ADS_1