
Kelvin POV
Apa-apaan si Arya tadi. Mau ngingetin Mira kalau waktu kecil dulu aku ngajak dia mandi bareng? Aku kan nggak tau kalau dia cewek. Penampilannya aja kayak anak cowok.
Kalau dipikir-pikir, dulu kalau berantem sama Mira, yang dimarahi mama cuma aku. Waktu rebutan permen dan aku ditonjok sama Mira, mama nyuruh aku buat ngalah. Terus pas aku ajakin dia mandi bareng, mama marahin aku dan ngatain aku kecil-kecil udah genit.
“Kok aku nggak sadar ya?” ucapku.
Sekarang aku lagi nyuci piring karena Mira katanya sakit. ‘Harusnya aku tadi nggak banting Mira ke lantai. Jadi harus nyuci piring sendiri kan.' Batinku.
Selesai nyuci piring aku langsung pergi ke kamar dan tidur. Saat aku nutup mataku terdengar suara rintihan.
“Huuu... huuu...” ‘Suara apa itu?' Batinku.
“Huuuu... huuuu...” suara yang ku dengar semakin keras. Asal suaranya dari kamar Mira. 'Mira kenapa?' Pikirku.
Aku segera bangun dan pergi ke kamar Mira. Aku ngetuk pintu dan manggil dia, tapi nggak ada jawaban. Akhirnya ku putusin buat buka langsung pintu kamar Mira yang ternyata nggak dikunci.
Ku lihat dia menatapku dengan wajah pucatnya. “Mir… lo kenapa?” tanyaku saat menghampirinya.
“Gara-gara lo nih Vin. Badan gue sakit semua. Gue jadi nggak bisa tidur. Sekarang anterin gue berobat.” Ucapnya.
“Hah… ini udah malam, gue ngantuk. Besok aja gue anterin.” Ucapku.
“Nggak bisa Vin. Gue maunya sekarang. Sakit banget nih.” Pintanya.
“Iya… iya, gue anterin.” Ucapku terpaksa. Gimana pun juga ini salahku, jadi mau nggak mau aku harus anterin dia.
“Bantuin gue Vin.” Ucap Mira.
Aku memapah Mira dari kamarnya sampai ke dalam mobil.
Di perjalanan dia cuma diam dan memejamkan matanya. 'Apa sakit banget ya?' Batinku.
Setelah sampai di rumah sakit, aku segera memarkir mobil dan memapah Mira masuk ke dalam.
“Sakit… cepetan Vin.” Ucap Mira saat aku masih ngurus registrasi.
“Sabar Mir. Ini lagi registrasi dulu.” Jawabku.
Setelah registrasi kami harus antri sebentar. Karena udah malam rumah sakit agak sepi jadi kami nggak antri lama.
Saat nomor antrian kami dipanggil, aku segera bawa Mira masuk ke ruangan buat diperiksa.
“Kok bisa kayak gini? Pinggang sama lengannya memar-memar sampai hitam. Apa kamu kena KDRT?” tanya dokter wanita pada Mira. Mira yang ditanyai cuma diam aja.
“Pak, kalau punya istri itu dijaga bukan malah disiksa kayak gini. Untung saja cuma memar tidak sampai luka-luka dan infeksi.” Ucap dokter yang lagi meriksa memar-memar di badan Mira.
Aku yang dengar perkataan dokter menjawab “Dia bukan istri saya kok. Dia itu kerja di apartemen saya. Saya juga nggak mukul dia.”
“Lah… memar ini darimana? Apa ibu ini habis jatuh?” tanya si dokter.
“Iya. Dia tadi jatuh.” Jawabku yang nggak mau ngejelasin kejadian sebenarnya.
“Maaf, Pak. Saya kira bapak melakukan kekerasan. Makanya Bu, hati-hati kalau bekerja.” Ucap si dokter.
Mira yang nggak terima dinasihati karena yang bikin memar badannya bukan dirinya berkata “Eh, Vin. Ini semua kan gara-gara lo. Kalau lo nggak ngajak gue gulat terus banting gue ke lantai sampai kebentur kursi, gue nggak bakalan kayak gini.”
“Gulat?” ucap dokter yang kebingungan.
“Iya dok, dia ngajakin saya gulat. Katanya biar tau siapa yang paling kuat. Padahal saya udah tolak tapi dia malah narik saya terus banting saya.” Jelas Mira.
Si dokter yang dengar cerita Mira jadi bingung. Akhirnya dia cuma memberikan resep buat ngambil obat di bagian farmasi.
Setelah ngambil obat dan langsung pulang, kami berdua akhirnya sampai di tempat parkir apartemen.
“Vin, gendong gue sampai kamar.” Perintah Mira. Sekarang dia malah minta digendong sampai kamarnya. Padahal yang sakit bukan kakinya.
“Kan kaki lo baik-baik aja. Ngapain gue harus gendong lo?” Ucapku.
“Pokoknya gue mau gendong.” Rengeknya.
‘Mending kali ini aku ngalah. Lagian aku juga udah ngantuk.' Pikirku.
Akhirnya aku gendong Mira di punggungku dan bawa dia ke apartemen.
“Mir, udah sampai kamar lo nih. Cepet turun.” Ucapku saat sampai di kamar Mira.
Beberapa kali aku nyuruh Mira turun, dia masih belum turun-turun juga dari punggungku. Kulihat ternyata dia lagi tidur.
Aku yang kesal langsung aja jatuhin Mira di kasurnya.
“Aduh…” ucapnya saat badannya mendarat di atas kasur.
“Apa-apaan sih ini? Kenapa lo lemparin gue ke kasur gitu aja? Apa lo lupa kalau gue lagi sakit?” ucapnya.
Aku hanya menghela nafas dan jawab “Gue udah capek-capek gendong lo tapi lo malah enak-enakan tidur. Gue juga udah bangunin lo berkali-kali tapi lo nggak bangun-bangun juga.”
“Lo kan bisa nurunin gue pelan-pelan.” Balasnya.
“Terserah gue lah. Mendingan sekarang lo minum obat dan pakai salepnya lalu lo tidur deh. Gue juga mau tidur, ngantuk.” Ucapku sambil nyerahin obat dan salep ke Mira.
Setelah itu, aku pergi ke kamar dan tidur.
“KELVIN ALANDO WIJAYA… kemari kamu!” Aku pun terbangun saat dengar teriakan dari luar kamar.
“Siapa sih pagi-pagi gini teriak-teriak?” kataku kesal.
Aku pun turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar.
__ADS_1
Saat aku udah keluar dari kamar, aku ngelihat mama lagi duduk di sofa ruang tamu dengan muka masamnya.
Aku pun ngehampirin mama dan bertanya “Ada apa Ma?”
Mama tiba-tiba aja jewer telingaku dan marah-marah. “Kamu apain Mira?” tanya mama padaku.
“Aku nggak ngapa-ngapain dia kok, Ma.” Jawabku.
“Nggak ngapa-ngapain gimana? Kamu jatuhin Mira ke lantai terus kamu tindih itu nggak ngapa-ngapain dia?” ucap mama marah.
“Mira ngadu ke Mama?” tanyaku keceplosan.
“Tuh kan. Kamu ngapa-ngapain Mira. Kamu sekarang sudah berani bohong sama Mama.”
'Miraa… berani-beraninya dia ngadu ke Mama' batinku marah.
“Kamu ngapain pakai melotot-melotot begitu. Kamu sudah mulai nggak sopan sama Mama.”
“Enggak kok Ma. Beneran, Alan nggak ngapa-ngapain Mira. Alan cuma ngajak dia tanding gulat.” Jawabku jujur.
“Tanding gulat apaan? Masa kamu ngajak perempuan buat tanding gulat sama kamu. Kamu mau bohong? Mama tau kalau kamu tarik-tarik Mira terus kamu tindih di lantai.”
“Alan nggak tindihin Mira. Mama tau dari mana kalau aku tindihin Mira di lantai padahal aku nggak ngelakuin itu?” tanyaku.
“Mama dapat kiriman video dari Arya. Kalau Arya nggak kirim video, Mama juga nggak bakal tau apa aja yang kamu lakuin ke Mira.” Jawab mama sambil menunjukkan video di handphonenya.
Aku ngelihat video di handphone mama. Emang di video kelihatan kayak aku maksa Mira dan tindihin dia. Padahal aku cuma jongkok sambil nekan tangannya aja. Apalagi suara di video kecil banget hampir nggak kedengaran. Jadi bikin yang ngelihat salah paham.
‘Dasar Arya kurang ajar. Mau balas aku, nggak perlu pakai cara kayak gini juga.' Batinku.
“Alan bener-bener nggak bohong Ma. Kalau Mama nggak percaya, tanya aja sama Mira.” Ucapku.
“Sekarang Mira dimana?”
“Di kamarnya Ma.”
Mama segera pergi menuju kamar Mira dan aku pun ngikutin dari belakang.
“Mir, bangun.” Ucap mama lembut.
Mira yang masih nutup matanya menjawab “Apa sih Vin? Gue masih sakit nih.”
“Ini tante Dinar, Mir.” Kata mama.
Mira yang dengar ucapan mama langsung bangun.
“Eh… tante. Mira kira tadi Kel… Alan. Maaf tante saya lagi sakit jadi hari ini saya nggak bisa kerja.” Ucap Mira.
“Kamu sakit apa?” tanya mama.
Mira nunjukin memar di lengannya yang menghitam. “Kok bisa gini Mir?” tanya mama yang kaget ngelihat memar di tangan Mira.
“Bener kan Ma. Alan nggak bohong. Alan cuma ngajak gulat aja.” Kataku.
Kulihat Mama malah kelihatan semakin marah. “Kamu itu gimana sih Lan? Kamu itu kayak anak kecil aja. Lihat badan kamu, pakai ngajak Mira yang badannya kecil gulat segala. Sekarang badan Mira jadi memar-memar kan.” Omel mama.
‘Tuh kan, pasti aku tambah dimarahin.’ Batinku. “Badan kecil tapi berat banget. Kebanyakan dosa kali.” Ucapku setengah berbisik.
“Apa kamu bilang? Pakai ngatain Mira segala. Sekarang kamu bersih-bersih!” Perintah mama padaku.
“Tapi Ma… Alan harus ngerjain tugas kuliah.”
“Nggak usah banyak alasan. Ini kan salah kamu sendiri, bikin Mira sakit jadi dia nggak bisa masak sama bersih-bersih.” Ucap mama.
Aku cuma bisa pasrah ngelakuin perintah mama. Waktu aku noleh nggak sengaja aku lihat Mira tersenyum mengejek kepadaku.
‘Ini semua gara-gara Arya sialan.’ Batinku.
“Mira mau makan apa? Nanti tante masakin” Ucap mama.
“Nggak usah tante. Biar Mira nanti masak sendiri. Mira nggak mau ngerepotin tante.” Ucap Mira.
“Nggak apa-apa. Kamu kan sekarang lagi sakit. Kapan-kapan kamu yang masak, tante pengen cicipin masakan kamu.”
“Makasih tante.” Ucap Mira.
Setelah ngobrol sama Mira mama menatapku dan berkata “Kenapa kamu masih diam disini? Cepat bersih-bersih.”
Aku segera keluar dari kamar Mira dan mulai bersihin apartemenku.
Habis bersih-bersih kulihat mama dan Mira asyik ngobrol di meja makan. Aku langsung saja duduk bareng mereka dan ngambil makanan di meja makan.
“Eh… kamu nggak sopan ya. Yang lain belum makan kamu udah ambil duluan.” Ucap mama.
“Alan capek habis bersih-bersih, Ma. Laper.” Jawabku.
“Ya udah kalau gitu. Ayo makan.” Ucap mama. Mama ngambilin makanan buat Mira sementara aku dibiarin gitu aja. ‘Sebenarnya anaknya Mama itu siapa sih? Kok lebih perhatian sama Mira.’ Gerutuku dalam hati.
Setelah sarapan aku bertanya pada mama “Mama nggak pulang?”
“Kamu ngusir Mama?” jawab mama.
“Enggak Ma. Alan cuma tanya. Biasanya Mama kalau ke sini kan cuma sebentar.” Ucapku.
“Hari ini Mama mau menginap disini.”
Aku yang mendengarnya kaget dan berkata “Ma… Mama mau tidur dimana? Tidur sama Mira? Disini kamarnya cuma dua.”
“Bukannya ada tiga?” tanya Mama.
__ADS_1
“Yang satunya Alan pakai buat nyimpan barang-barang Alan Ma.” jawabku.
Mama membalas “Kan tetap masih ada kasurnya. Kamu bisa tidur disitu, Mama tidur di kamar kamu. Kalau kamu nggak mau, kamu bisa tidur di sofa.”
Huh… Kalau mama ada disini pasti nggak bisa keluar malam. Ditambah lagi aku harus tidur di kamar yang penuh barang-barang. Akhirnya aku putusin buat diam-diam keluar ruangan apartemenku dan menelepon Arya.
Saat telepon diangkat “Ar… lo kurang ajar banget pakai jahilin gue. Mama gue jadi nginep di apartemen hari ini. Padahal gue udah janjian sama teman-teman mau ikut nongkrong entar malam. Pokoknya lo harus tanggung jawab, jemput gue nanti malam biar gue bisa keluar.”
“Apaan sih Lan? Pakai teriak-teriak di telepon. Bikin kuping gue sakit aja.” Ucap Arya dari seberang telepon.
“Jangan lupa nanti malam jemput gue!” ucapku lagi.
“Kenapa harus gue? Gue nggak mau.”
“Ini kan gara-gara lo ngirim video ambigu ke mama gue, semuanya jadi kayak gini.”
“Eh, Lan. Lo kan yang mulai semuanya. Kalau lo nggak bikin salah paham cewek gue, gue juga nggak bakal ngelakuin ini.” Jelas Arya.
“Gue cuma peluk lo aja buat hindarin cewek gue yang kebetulan lagi di kafe juga. Biar dia nggak curiga kalau gue pakai panggilan dan penampilan lain. Lagian cuma masalah cewek doang, biasanya kan lo gonta-ganti pacar dua minggu sekali.” Ucapku.
“Lo enak cuma bilang gitu. Oang-orang lihatin gue kayak orang aneh apalagi teman-teman sekampus. Gimana kalau nggak ada lagi cewek yang mau jadi pacar gue?”
“Nggak mungkin. Pokoknya inget kata-kata gue tadi, harus jemput nanti malam. kalau gitu gue tutup dulu.” pamitku pada Arya dan segera matiin panggilan.
Aku pun masuk kembali ke apartemenku. “Dari mana kamu?” tanya mama.
“Dari luar Ma. Cari angin.” Mama yang dengar jawabanku cuma ngangguk dan pergi ke kamarku.
Malamnya…
Aku dengar suara bel dan segera keluar kamar buat bukain pintu.
Saat udah sampai depan, kulihat mama udah bukain pintu duluan.
“Eh… Arya. Ayo masuk!” ajak mama.
“Iya tante.” Arya menjawabnya dan masuk kedalam apartemen.
“Kamu ikut makan malam bareng ya. Tante tadi masak banyak.” Ajak mama.
“Ma, Alan sama Arya mau keluar.” Ucapku menyela.
“Kamu itu kerjaannya main melulu. Apa karena Mama menginap hari ini? Jadi kamu alasan keluar buat hindarin Mama?”
“Enggak Ma. Alan emang ada janji sama teman sekarang.” Jawabku.
“Alasan aja kamu. Pokoknya kamu nggak boleh kemana-mana.” Perintah mama.
“Iya, Lan. Mending kita semua makan malam bareng aja. Nanti kita juga bisa ngobrol-ngobrol.” Ucap Arya.
“Iya, Ar. Ini si Alan kalau dibilangin ngeyel terus nggak pernah mau dengar ucapan tante.” Ucap mama.
Si Arya ini emang suka banget kalau ada makanan gratis. Sampai-sampai perintah buat jemput aku biar bisa keluar nggak digubris.
Terpaksa aku nggak jadi keluar ketemu teman-temanku dan berakhir makan malam bareng di apartemen. Aku cuma bisa ngirim chat ke grup.
Alan_123 [Woi, gue g jadi ikut nongkrong.]
makhLUKAStral [Knp?]
Alan_123 [Gara2 si Arya. Mama gue jadi nginep di apartemen. Gue g diijinin keluar. Dimarahin melulu nih.]
CayaankKamoe [Yg sabar ya]
Alan_123 [@CayaankKamoe Lo siapa sih?]
CayaankKamoe [Gue Bagas. Masa gitu aja g tau.]
Alan_123 [nama akun lo aja kayak gitu, gimana gue bisa tau]
CayaankKamoe [@makhLUKAStral aja tau]
makhLUKAStral [gue g tau. Lagian ngapain pakai lo ganti segala. Dulu kan pakai BagasF]
HandsomeArya [«send photo» Makan2 nih]
CayaankKamoe [Wih… g ngajak2 nih. Tega banget kalian berdua]
makhLUKAStral [Cewek yg duduk sebelahnya Alan itu siapa? Pacar baru lo Ar?]
HandsomeArya [Dia sama Alan tinggal bareng]
CayaankKamoe [@Alan_123 Hebat banget lo. Tinggal berdua bareng pacar. Mama lo ngebolehin lagi. 😡]
NikoNiko [Ada apa nih rame2? @CayaankKamoe Kalau dibolehin tinggal bareng pasti kalau g calon istri ya udah nikah. @Alan_123 Selamat ya.]
@CayaankKamoe [@Alan_123 Wow… g nyangka lo udah nikah. Diam2 lagi.]
Tiba-tiba aja mama marahin aku saat aku mau balas chat buat jelasin kalau Mira cuma kerja di apartemenku. “Bukannya makan malah main handphone terus.”
“Tapi Arya kan sama. Main handphone juga.” Ucapku.
“Mana? Apa kamu nggak lihat Arya lagi makan?” ucap mama.
Aku ngelihat Arya dan dia beneran lagi makan. Lah terus gimana dia nggak ketahuan? Padahal barusan dia lagi lihat pesan grup. Dia juga duduknya di sebelah mama.
“Taruh Handphonenya! Cepat makan!” perintah mama.
Aku menaruh handphoneku dan segera makan. Sedangkan Mira yang ngelihat aku dimarahin, tertawa pelan. Hari ini semuanya benar-benar nyebelin.
__ADS_1