Lazy Girl

Lazy Girl
Berlian


__ADS_3

Mira POV


“Hai… Apa kak Alan ada?” tanya seorang cewek cantik yang sedang berdiri di depanku.


“Oh… Dia ada di kamarnya, masih tidur. Kamu masuk dan tunggu di sofa dulu ya. Aku mau bangunin dia.” Ucapku.


‘Dia siapa ya? Apa pacar barunya Kelvin?’ batinku.


Aku segera menuju kamar Kelvin. Dan saat aku mau buka pintu kamarnya, ternyata pintunya terkunci.


“Lan, bangun. Buka pintunya.” Aku berteriak dan menggedor-gedor pintu kamar Kelvin.


“Apaan sih? Pagi-pagi udah berisik banget.” Ucap Kelvin setelah membuka pintu kamarnya.


“Ada yang mau ketemu sama lo. Itu dia orangnya. Yang lagi duduk di ruang tamu.” Tunjukku.


Kelvin pun pergi ke ruang tamu dan langsung ngebentak cewek itu. “Ngapain kesini pagi-pagi? Gangguin orang tidur aja.”


“Kenapa sih Kak Alan selalu marah-marah kalau aku datang ke sini?” ucap cewek itu.


“Gimana nggak marah. Kamu kalau kesini selalu pagi-pagi banget. Kamu tau nggak kalau itu ganggu waktu tidur Kakak.” Ucap Kelvin.


“Ini kan udah jam tujuh. Udah siang. Kalau mama tau Kak Alan malas-malasan di apartemen, Kakak bakal disuruh mama tinggal sama kakek dan nenek di desa. Biar bisa bantuin kakek kerja di kebun sayur. Kak Alan kan takut ulat. Nanti waktu Kak Alan panen sayur ada ulat gede-gede merambat dari sayur ke tangannya Kakak lho.” Ucap cewek itu menakut-nakuti Kelvin.


“Dasar tukang ngadu.” Ucap Kelvin kesal.


'Kakak? Mama? Apa dia itu adiknya Kelvin?' Pikirku.


Aku yang sedang nguping percakapan mereka berdua, pergi ke dapur sebentar ngambilin minum buat mereka.


“Ini minumannya. Silahkan diminum.” Ucapku menyajikan dua cangkir teh pada mereka berdua.


“Terimakasih, Kak.” Ucap cewek itu.


“Sebenarnya dia siapa sih Vin?” bisikku pada Kelvin yang berdiri di sampingku.


“Adik gue.” Jawab Kelvin singkat. 'Oh, ternyata dia adiknya Kelvin.'


“Kenalin, nama aku Mira.” Ucapku ngenalin diri ke adiknya Kelvin.


“Nama aku Berlian kak.” Ucapnya.


Aku mengangguk dan segera pergi ke dapur buat ngelanjutin masak makanan yang ku tinggal tadi. Beberapa menit kemudian aku selesai memasak.


“Wah… kayaknya enak nih.” Ucap Berlian yang tiba-tiba datang ke dapur.


Aku yang lagi naruh masakan ke piring menoleh. “Oh… Kamu bisa ikut sarapan bareng.” Ajakku.


“Lo itu apa-apaan sih Mir? Lo kok selalu ngajak orang makan bareng. Ini kan tempat gue.” Sahut Kelvin yang juga datang ke dapur.


“Kak Alan tuh yang apa-apaan. Yang bayarin apartemen ini kan papa. Kenapa kak Alan ngaku-ngaku apartemen ini punya Kakak? Terus yang ngasih uang belanja ke Kakak kan mama.” ucap Berlian.


“Udah ah. Males kalau debat sama kamu.” Ucap Kelvin.


“Kalian berdua berhenti berantem. Mending kita makan aja.” Ucapku.


Mereka berdua akhirnya berhenti berantem dan duduk di meja makan. Lalu aku nyerahin piring ke mereka berdua. Setelah nerima piring, Kelvin langsung ngambil makanan dengan porsi besar.


“Lan, kok lo ambil makanannya sebanyak itu sih? Kami berdua jadi nggak kebagian kan.” Ucapku marah.


“Suka-suka gue lah.” Jawabannya benar-benar bikin aku kesal. Aku ngambil sendok dan mindahin sebagian makanan di piring Kelvin ke piringku.


“Kenapa lo ngambilin makanan di piring gue?” tanya Kelvin dan mulai mindahin balik makanan di piringku ke piringnya.


Kami berdua saling rebutan makanan hingga Berlian ngasih saran “Mending kalian makan sepiring berdua aja. Kalau kalian rebutan terus, kalian nggak jadi makan lho. Lihat itu, makanannya banyak yang tumpah. ”


Kami berdua berhenti rebutan dan ngelihat meja makan. Dan benar aja yang diucapin Berlian. Di atas meja, makanan yang kami rebutin berceceran.


“Gue nggak mau makan sepiring sama lo Mir.” Ucap Kelvin jijik.


“Kok lo ngomongnya kayak ngehina gue.” Ucapku kesal.


“Iya. Gue jijik makan sepiring berdua sama lo. Lo makannya aja belepotan. Entar makanan dari mulut lo jatuh ke piring.”


“Enak aja. Nggak bakalan lah makanan dari dalam mulut gue jatuh ke piring. Kalau belepotan kan makannnya Cuma nempel di wajah atau bibir, bukan dari dalam mulut.” Balasku.


“Menurut gue itu sama aja.” Ucap Kelvin nggak mau kalah berdebat sama aku.

__ADS_1


“Kalau Kak Alan nggak mau sepiring sama Kak Mira, makannya sepiring sama aku aja. Atau makanan yang Kak Alan ambil buat aku sama Kak Mira biar kita makan berdua. Kakak makan makanan yang tersisa aja.” Saran Berlian.


“Kakak nggak mau makan sepiring sama kamu. Makan makanan yang tersisa Kakak juga nggak mau, makanannya cuma tinggal dikit.” Tolak Kelvin.


“Kalau gitu Kak Alan makan sepiring berdua sama Kak Mira. Biar Berlian makan makanan yang tersisa.” Mau nggak mau aku setuju dengan saran dari Berlian daripada aku nggak makan dan harus masak lagi.


Berlian POV


Kak Mira baik dan perhatian banget sama aku. Aku jadi pengen punya kakak kayak kak Mira. Nggak kayak kakak kandungku, kak Alan. Dia selalu aja marah-marah sama aku. Dikit-dikit marah, bikin kesal aja kan.


Sekarang malah kak Alan berantem dan rebutan makanan sama kak Mira. Jadi, aku usulin aja sama kak Alan buat milih makan sepiring berdua sama kak Mira, makan sepiring sama aku, atau makan makanan yang tersisa. Kalau makan sepiring sama aku pasti kak Alan bakal nolak, soalnya aku kalau makan selalu ngambilin lauknya sampai sisa cuma nasinya aja. Terus makanan yang tersisa juga dikit, dia nggak bakal mau makan dikit. Pastinya kak Alan bakal milih buat makan sepiring sama kak Mira. Tapi lucunya mereka berdua mau aja ngikutin saranku. Padahal kan mereka bisa bagi makanannya jadi dua piring.


Aku ngambil handphoneku dan memotret mereka berdua yang lagi makan. Lalu aku kirimin fotonya ke mama.


Berlian [«send photo»]


Mama [Lho? Kenapa kakakmu sama kak Mira makan sepiring berdua?]


Berlian [Tadi mereka berantem Ma. Tapi sekarang udah baikan. Bahkan mereka mutusin buat makan sepiring berdua.]


Mama [Kakakmu itu memang suka bikin masalah. Kemarin badan kak Mira dibuat memar-memar sama dia. Terus waktu makan malam bareng kak Arya, Mama marahin dia karena main handphone terus. Eh… kakakmu malah nyalahin kak Arya padahal kak Arya nggak main handphone.]


Berlian [Iya, Ma. Tadi kak Mira nawarin aku buat sarapan bareng. Tapi kak Alan malah marahin kak Mira. Terus makanan yang dimasak kak Mira diambil semua sama kakak. Kami berdua jadi nggak kebagian makanan. Makanya mereka tadi berantem rebutan makanan.]


Mama [Mama nggak habis pikir sama kelakuan kakakmu itu. Kalau nanti Mama ketemu dia, Mama bakal marahin.]


Berlian [Udah dulu ya, Ma. Berlian mau makan.]


'Rasain tuh Kak. Nanti kalau ketemu sama Mama bakal dimarahin.’ Batinku. Aku kemudian menaruh handphoneku dan mulai makan.


Setelah kami semua selesai makan. Aku bantuin kak Mira beresin piring di meja makan.


Kemudian kak Mira nyuci piring-piringnya, sedangkan aku pergi ke ruang tamu. Di sana aku ngelihat kak Alan yang lagi tiduran di sofa sambil main handphone.


Aku nyoba buat ngelihat apa yang lagi dilakuin kak Alan sama handphonenya. Ku lirik sedikit dan ku lihat dia lagi chatting sama cewek. ‘Pasti pacar barunya.’ Batinku.


Aku ngitarin apartemen sambil nunggu kak Mira selesai nyuci piring. Beberapa saat kemudian kak Mira datang ngehampirin aku yang lagi di balkon.


“Kamu ngapain disini? Kamu nggak ngobrol –ngobrol sama Alan di dalam?” tanya kak Mira.


“Pacar? Bukannya beberapa minggu yang lalu mereka putus?” tanya kak Mira bingung.


“Kayaknya itu pacar barunya, Kak. Kok Kak Mira bisa tau kalau Kak Alan putus sama pacarnya?” tanyaku. Apa kak Alan cerita sama kak Mira? Biasanya kan dia kalau putus atau punya pacar baru cuma cerita sama kak Arya. Aku juga taunya dari kak Arya yang ku suruh ngasih tau aku kalau kak Alan putus atau punya pacar baru.


“Oh… mereka kan putusnya di sini. Jadi, aku tau kalau mereka putus. Bahkan pacarnya yang mutusin dia.” Jawab kak Mira. Aku benar-benar kaget. Dari cerita kak Arya, biasanya kak Alan yang mutusin pacar-pacarnya. Dan ini malah kebalikannya.


“Gimana kak kejadiannya? Kok bisa pacarnya kak Alan mutusin dia?” tanyaku penasaran.


Kak Mira menceritakan bagaimana kejadian saat kak Alan diputusin pacarnya. Dan kejadiannya benar-benar lucu banget.


“Hahaha… Lucu banget.” Tawaku. “Nggak nyangka kak Alan bakal diputusin pacarnya cuma gara-gara kecoa. Hahaha… Padahal ku kira pacarnya kak Alan mutusin dia gara-gara lihat kak Mira tinggal di sini.”


“Nggak mungkin lah cuma gara-gara aku tinggal di sini pacarnya jadi mutusin dia. Pasti dia jelasin panjang lebar sama pacarnya sebelum ketemu aku.” Balas kak Mira.


Aku menganguk setuju. “Eh… kak foto bareng yuk!” ajakku. Kak Mira setuju dan kami berdua foto bareng di balkon.


“Kalian ngapain sih? Berisik banget. Suara kalian sampai kedengaran dari ruang tamu.” Ucap kak Alan yang tiba-tiba ngehampirin kami di balkon.


“Lagi cerita sama foto-foto.” Jawabku ketus.


Kak Alan ngerebut handphoneku dan ngelihat hasil fotoku dan kak Mira.


“Hasil fotonya jelek banget. Lihat kalau aku yang foto.” Ucapnya sambil memotret dirinya dengan kamera handphoneku.


Dia lalu nyerahin handphonenya balik ke aku. “Kalau gitu lo aja yang fotoin kita berdua.” Perintah kak Mira pada kak Alan.


“Kalau gitu gue juga harus ikut foto.” Jawab kak Alan. Huh… bilang aja mau ikut foto bareng. Pakai alasan hasil dia motret lebih bagus. Padahal ku lihat hasilnya sama aja kayak punyaku.


Kami bertiga akhirnya foto-foto bareng di balkon selama setengah jam. Lalu aku ngelihat kak Alan sama kak Mira duduk sebelahan dibangku sambil ngobrol. Kemudian aku motret mereka berdua.


“Kak, Berlian pulang dulu ya.” Pamitku. Mereka berdua yang lagi ngobrol pun menoleh.


“Kamu mau pulang sekarang?” tanya kak Mira.


“Pulang sana.” ucap kak Alan. Tuh kan, kak Alan benar-benar nyebelin.


“Iya Kak. Berlian pulang dulu. kapan-kapan aku ke sini lagi.” Pamitku pada kak Mira dan aku langsung keluar ruangan apartemen tanpa pamit pada kak Alan.

__ADS_1


*********


Keesokan harinya…


Aku berangkat ke sekolah di antar papa. Sesampainya di sekolah aku mencium tangan papa dan segera turun dari mobil.


“Hai, Lian.” Panggil teman sekelasku yang juga baru sampai sekolah.


“Oh, lo. Baru sampai?” tanyaku basa-basi.


“Iya. Eh… Lo ngajak siapa aja buat datang di acara kelulusan? Kan katanya kita disuruh ngajak anggota keluarga.” Tanyanya. Aku tau maksudnya dia tanya kayak gitu. Pasti dia mau tau kak Alan datang atau enggak. Dia pasti mau ngedeketin kak Alan. Aku nggak suka banget sama kelakuan dia yang suka genit ke cowok. Apalagi waktu lihat kak Alan genitnya minta ampun. Jangan sampai kak Alan pacaran sama dia. Aku nggak boleh biarin itu terjadi.


“Gue nggak tau yang bisa datang siapa aja. Gue belum tanya.” Jawabku. Dia cuma mengangguk dan kami berdua jalan bareng ke kelas.


Mira POV


Huh… udah hari senin aja. Malas banget buat masuk kuliah. ‘Apa aku bolos aja ya?’ pikirku.


Sekarang aku lagi masak. Sedangkan Kelvin udah berangkat ke kampus dari tadi. Aku nggak tau kenapa dia berangkat pagi banget.


Setelah masakanku matang, aku segera memakannya. Lalu aku pergi ke kamar dan tiduran di kasur.


'Hmm… kayaknya aku lupa sesuatu.' Pikirku.


Aku berusaha buat ngingat-ingat, tapi masih nggak ingat juga.


Astaga! Hari senin kan ada kuliahnya bu Susi si dosen killer. Kalau aku nggak masuk tanpa alasan yang jelas, bisa-bisa aku dikasih nilai E.


Aku buru-buru mandi dan ngecek apa ada tugas dari bu Susi. Dan ternyata… ada tugas. Mana belum ngerjain lagi.


Kurang satu setengah jam sebelum kuliah dimulai. Aku harus cepat-cepat nyelesain tugasnya.


Setengah jam kemudian tugas yang ku kerjain udah selesai. “Untung aja tugasnya dikit.” Ucapku.


Ku masukin tugasku ke dalam tas. Kemudian aku segera berangkat ke kampus karena di kuliah bu Susi aku nggak boleh telat sedetik pun.


Sesampainya di kampus aku langsung memarkir motorku dan berjalan menuju kelas.


Di perjalanan menuju kelas, saat lewat fakultas ekonomi, ku dengar ada yang berkata “Eh… itu kan Mira yang katanya deketin Adit pacarnya Vivian. Padahal dia tau kalau mereka masih pacaran.”


“Iya. Sekarang dia malah pacaran sama Adit.”


Ternyata benar kata Kelvin, kalau cerita tentang aku pacaran sama Adit jadi gosip sefakultas ekonomi.


Aku harus cari Adit dan nyuruh dia buat jelasin kalau kami berdua itu nggak pacaran.


Aku cepat-cepat menuju kelas. Sesampainya disana aku ngelihat Adit yang lagi duduk sambil ngobrol sama Dannis.


Aku segera ngehampirin dia dan berkata “Dit, ikut gue! Gue mau ngomong sama lo.”


“Mau ngomongin apa?” tanyanya. Tanpa jawab pertanyaan dari Adit, aku langsung aja narik dia ke luar kelas menuju lorong yang agak sepi.


“Lo jelasin ke anak-anak fakultas ekonomi kalau kita nggak pacaran.” Perintahku.


“Gue nggak mau. Ngerepotin aja.” Jawab Adit.


“Ini kan salah lo. Jadi lo harus tanggungjawab. Lo kan juga udah janji.” Ucapku.


“Cuma diomongin gitu aja lo langsung kesal.”


“Masalahnya yang diomongin jelek bukan lo, tapi gue. Terus mereka bilang kalau gue deketin lo waktu lo masih pacaran sama Vivian. Padahal gue nggak deketin lo sama sekali. Kita kan emang sekelas. Wajar aja dong kalau kita sering ketemu.” Jelasku.


“Nggak ah, Mir. Gue nggak mau ngejelasin yang begituan. Nanti juga mereka lupa.” Tolak Adit.


Aku benar-benar kesal banget dengar jawaban Adit. Akhirnya aku tendang kakinya buat ngelampiasin kekesalanku.


“Berhenti Mir. Lo kebiasaan nendang-nendang gue kalau marah.” Aku nggak peduliin omongan adit dan terus nendang dia.


“Mir. Ada bu Susi. Mending kita balik ke kelas deh.” Ucap Adit.


“Nggak. Lo pasti bohong biar gue berhenti nendang lo.” Jawabku.


Adit langsung aja ngerangkul pundakku biar aku berhenti nendang dia. “Itu tuh lo lihat.Bu Susi lagi jalan ke sini.” Tunjuknya ke arah seorang wanita paruh baya.


Ternyata benar yang Adit bilang, kalau bu Susi jalan ke sini.


“Kalau gitu sekarang kita balik ke kelas. Nanti pulang kuliah kita lanjutin.” Ucapku. Kemudian kami berdua segera balik ke kelas.

__ADS_1


__ADS_2