
3rd POV
Hari berikutnya pukul lima pagi, Kelvin bangun dari tidurnya. Lalu dia turun dari tempat tidurnya dan menuju ke dapur untuk mengambil minum. Saat dia membuka kulkas, dia sangat kaget karena mendapati puding yang seingatnya dia taruh di kulkas sudah tak ada. “Apa aku lupa kemarin pudingnya ku makan ya? Atau aku lupa naruhnya? Seingatku, aku taruh pudingnya di kulkas. Padahal itu kan titipan dari mama buat Mira. Masa aku makan sih? Kayaknya nggak mungkin.” Ucapnya. Kelvin lalu mencari puding coklat pemberian mamanya. ‘Kok nggak ada sih? Apa beneran ku makan?’ pikirnya.
Mira yang baru saja keluar dari kamarnya, heran melihat Kelvin yang kebingungan mencari sesuatu. “Lo lagi nyari apa Vin?” tanyanya. “Tadi kayaknya ada kecoa. Tapi sekarang nggak tau larinya kemana. Makanya gue tadi nyariin.” Jawab Kelvin. Kelvin tak ingin Mira sampai tahu kalau puding yang dititipkan mama Dinar untuk Mira, sudah habis dimakan olehnya.
“Oh…” Mira mengangguk mengerti. Kemudian dia berkata “Oh… iya, Vin. Puding coklat di kulkas itu punya lo? Tadi pagi gue makan, soalnya gue lapar.”
Kelvin memproses perkataan Mira. Beberapa saat kemudian dia berkata “Jadi lo yang makan pudingnya? Gue kirain kemarin gue yang makan pudingnya. Kapan lo makannya?”
“Tadi sekitar jam tiga pagi.” Jawab Mira.
**Flashback
Pukul tiga pagi Mira terbangun. “Hmm… lapar.” Ucapnya. Dia turun dari tempat tidur dan pergi ke dapur untuk mencari camilan. Dia lalu membuka kulkas dan melihat ada puding coklat di dalamnya. Tanpa pikir panjang dia langsung mengambil dan memakannya. Setelah menghabiskan semua puding coklat, dia pun kembali tidur.
Flashback End**
“Oh… jadi jam tiga pagi lo bangun. Terus karena lo lapar , lo makan puding di kulkas.” Ucap Kelvin. Mira mengangguk.
“Lo dapat puding dari mana?” tanya Mira.
“Dari mama gue. Sebenarnya itu titipan buat lo.” Jawab Kelvin
Mira mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya. “Eh… lo mau kemana Mir? Cepetan lo masak! Enak aja mau balik lagi ke kamar.” Ucap Kelvin.
Mira hanya terkekeh menanggapinya, kemudian dia mulai memasak.
*********
Pukul delapan pagi, Mira sudah sampai di kampus. Lalu dia mengikuti perkuliahan hari ini tetap dengan kebiasaanya yaitu tidur di tengah-tengah perkuliahan. Setelah selesai, dia menagih janji ke Adit untuk meluruskan gosip yang tersebar di fakultas ekonomi.
“Dit, lo harus jelasin semuanya ke anak-anak fakultas ekonomi hari ini.” Perintah Mira.
“Iya… iya. Gue bakal jelasin ke mereka. Gue mau masukin buku dulu ke tas.” Ucap Adit.
Setelah Adit selesai memasukkan bukunya ke dalam tas, mereka berdua pergi ke gedung fakultas ekonomi.
“Ngapain mereka berdua ke sini? Mau pamer kalau mereka berdua pacaran?” ucap salah satu mahasiswi ke temannya ketika mereka berdua memasuki gedung.
Mira sangat kesal saat mendengar ucapan mahasiswi tersebut. “Hei… Dit. Jelasin ke mereka.” Ucap Mira sambil menarik kerah baju Adit.
“Lepasin dulu tangan lo dari kerah baju gue.” Ucap Adit lalu Mira melepaskan genggamannya.
Adit pun mulai menjelaskan kepada para mahasiswi tersebut bahwa mereka berdua tak pacaran.
Vivian yang baru masuk gedung dan mendengar penjelasan Adit menyahut “Lo nggak perlu repot-repot jelasin semuanya, Dit. Gue tau lo cuma bilang kalau lo nggak pacaran sama dia biar dia nggak diomongin jelek lagi kan?”
“Udah gue bilang dari awal, gue bukan pacarnya Adit. Dia cuma bohongin lo biar lo nggak ngejar-ngejar dia lagi. Lo sih nggak mau dengerin gue.” Balas Mira.
“Alasan aja lo. Mana buktinya kalau yang lo omongin itu benar? Nggak ada kan? ” ucap Vivian.
“Yang Mira omongin itu benar kok. Gue bilang ke lo kalau Mira itu pacar gue, biar lo nggak ngejar-ngejar gue lagi. Gue males ngeladenin lo yang terus-terusan minta balikan.” Jelas Adit.
“Lo jangan banyak alasan. Gue minta balikan soalnya lo putusin gue tanpa alasan yang jelas. Jadi, gue nggak terima dong kalau lo putusin gue gitu aja. Dan lo sendiri yang jelasin ke gue alasan lo putus sama gue karena lo sekarang suka sama Mira.”
Tak terima dengan ucapan Vivian, Adit terus saja membalas ucapannya. Dan akhirnya mereka berdua bertengkar dan saling menyalahkan.
Mira yang melihat mereka berdua bertengkar, menjadi sangat kesal. Dia mengira masalah ini bakal selesai saat Adit menjelaskan semuanya. Tapi mereka malah tambah salah paham dan mengira Adit sedang membelanya karena tak terima Vivian menjelek-jelekkannya.
__ADS_1
Mira menghela napas, kemudian menatap ke depan dan melihat Kelvin yang sedang lewat. Tanpa pikir panjang, Mira memeluk lengan Kelvin dan menyeretnya menuju tempat Adit dan Vivian yang sedang bertengkar.
“Vivian dengerin gue!” Teriak Mira. Vivian yang mendengarnya menoleh. “Gue beneran nggak pacaran sama Adit karena sebenarnya gue itu suka sama Kelvin. Gue nggak mau Kelvin sampai salah paham dan ngira gue lagi deketin Adit juga. Jadi, gue suruh Adit buat jelasin yang sebenarnya ke kalian.” Ucap Mira yang masih memeluk lengan Kelvin.
Semua kaget mendengar ucapan Mira. Vano yang juga sedang berada di sana hampir saja menjatuhkan handphonenya mendengar Mira berkata kalau dia suka Kelvin.
Vivian tetap tak percaya dengan ucapan Mira. “Gue nggak percaya sama omongan lo.”
“Kalau lo nggak percaya, tanya aja Vano. Dia ngelihat gue sama Kelvin saling gelitik di gudang belakang.”
“Beneran Van?” tanya salah satu mahasiswi.
“Iya. Gue lihat sendiri mereka berdua saling gelitik di gudang belakang.” Jawab Vano jujur karena yang membuat mereka saling gelitik adalah dirinya.
“Tuh, kan. Gue beneran nggak pacaran sama Adit.” Ucap Mira.
“Kalian semua sedang apa berkumpul di sini?” tanya seorang dosen.
Semua mahasiswa yang berkumpul panik dan bingung mau menjawab apa. “Kami tidak sedang melakukan apa-apa Pak. Kalau begitu saya permisi dulu.” ucap salah satu mahasiswa lalu semua mahasiswa yang ada di sana langsung membubarkan diri. Adit langsung pergi meninggalkan gedung. Sedangkan Mira menarik Kelvin keluar gedung menuju ke tempat yang sepi dan Vano mengikuti mereka berdua.
“Mir, apa-apaan sih? Maksudnya tadi apa?” tanya Kelvin.
“Maaf… Maaf, Vin. Tadi gue terpaksa bilang ke semuanya kalau gue suka sama lo. Mereka sih nggak mau dengerin penjelasan gue sama Adit. Apalagi si Vivian. Gue nggak mau mereka makin salah paham tentang hubungan gue sama Adit.” Ucap Mira.
“Masalahnya ini tentang harga diri, Mir. Gu…” sebelum Kelvin melanjutkan ucapannya. Kelvin melihat Vano berdiri di belakang Mira. “Vano…”
Mira menoleh dan melihat Vano berdiri tak jauh dari tempatnya. Kemudian dia menghampirinya dan berkata “Van, makasih ya tadi udah bantuin gue.”
“Iya, Mir. Tapi beneran lo nggak pacaran sama yang namanya Adit itu?” tanya Vano.
“Enggak kok. Gue nggak pacaran sama dia. Dia cuma teman sekelas aja.” jawab Mira.
“Makasih Kelvin.” Ucap Mira. “Nggak… Nggak. Kamu salah ngucapinnya. Harusnya ‘Makasih Kelvin yang imut’.” Kata Kelvin membenarkan.
“Gue nggak mau. Lo itu nggak ada imut-imutnya. Kenapa gue harus bilang lo imut?” tolak Mira.
“Apa kamu lupa kalau tadi kamu bilang suka sama aku biar gosip jelek tentang kamu bisa selesai. Gimana kalau nanti fans-fans aku jadi ninggalin aku karena dengar omongan kamu tadi.” Balas Kelvin.
“Emang lo punya fans? Fans dari mana? Fans dari kebun binatang? Udah… gue nggak mau berdebat sama lo. Sebagai gantinya gue bakal traktir lo sama Vano.” Ucap Mira.
Kelvin antusias mendengar kata traktir dari Mira. “Traktirnya jadi double ya. Kan beberapa hari yang lalu kamu janji traktir aku.” Ucapnya.
“Iya… Iya… Gue nggak lupa kok.” Ucap Mira.
“Lo bantuin Mira apa sampai dia janji buat traktir lo?” tanya Vano penasaran.
Kelvin segera membungkam mulut Mira dengan tangannya sebelum dia menjawab pertanyaan Vano. “Itu Van. Aku bantuin Mira waktu dia lagi terkunci di toilet. Jadi, dia janji traktir aku sebagai rasa terimakasih.” Jawab Kelvin.
“Oh… gitu. Jadi lo traktir kita berdua kapan Mir?” tanyanya lagi.
Kelvin melepaskan tangannya dari mulut Mira. “Gimana kalau sabtu depan aja? Gue sabtu libur dan kayaknya juga nggak ada jadwal kuliah yang diganti ke hari itu. Kalian juga libur kan?” ucap Mira.Vano dan Kelvin mengangguk setuju kemudian Mira pamit pulang duluan.
*********
Sore hari, Mira bangun dari tidur siangnya dan langsung pergi ke dapur untuk mengambil minum. Kelvin yang kebetulan baru masuk ke apartemen menghampirinya dan marah-marah padanya. “Mira… Lo itu gimana sih? Kenapa lo bilang kalau lo suka gue buat nyelesain masalah lo? Gimana kalau nanti pacar gue tau dan mutusin gue?”
Mira yang mengambil air menghela napas dan menjawab “Vin… Lo itu bego atau pikun sih? Bukannya lo sendiri bilang kalau nggak ada yang ngenalin lo waktu penampilan lo kayak gini.”
“Oh, iya.. ya. Gue lupa.” Ucap Kelvin lalu dia pergi ke kamarnya. Mira meminum air yang sudah diambilnya kemudian dia pergi mandi.
__ADS_1
*********
Hari sabtu, hari dimana Mira berjanji untuk mentraktir Kelvin dan Vano. Mereka bertiga akan pergi ke tempat makan rekomendasi dari Kelvin. Awalnya Mira mengajak untuk pergi ke sana siang hari. Tapi karena Vano tak bisa datang siang hari karena ada urusan, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sana pada waktu jam makan malam.
“Gue berangkat sendiri aja Vin. Nanti Vano curiga lagi kalau kita berangkat bareng.” Ucap Mira di tempat parkir apartemen.
“Lo bareng gue aja. Kelamaan kalau kita berangkat sendiri-sendiri. Nanti kita tunggu Vano pulang duluan aja, biar dia nggak tau kalau lo pulangnya bareng gue.” Usul Kelvin.
Mira setuju dengan usulan Kelvin. Kemudian dia masuk ke dalam mobil Kelvin. “Eh… kenapa lo duduk di belakang? Gue itu bukan supir lo. Cepetan pindah ke depan!” ucap Kelvin marah.
Mau tak mau Mira turun dan pindah duduk di kursi depan. Setelah itu Kelvin masuk ke mobilnya dan mereka berdua berangkat.
“Vin, Vano ngechat gue nih. Katanya dia udah sampai. Gue balas apa?” tanya Mira.
“Lo balas aja lo udah hampir sampai, suruh dia masuk duluan.” Jawab Kelvin. Mira lalu membalas chat dari Vano sesuai dengan arahan Kelvin.
Lima belas menit kemudian mereka sampai di tempat makan. Tempat makan rekomendasi dari Kelvin yang Mira kira adalah sebuah restoran kecil atau cafe yang harganya terjangkau ternyata adalah sebuah restoran yang terkenal dengan harganya yang mahal. “Lo gila ya Vin? Lo mau habisin semua uang gajian gue?” protes Mira.
Kelvin yang mendengarnya tertawa dan keluar dari mobil. “Sekali-kali Mir. Traktir teman makanan-makanan mahal. Tenang aja, makanan di sini enak kok. Gue pernah makan di sini bareng keluarga besar papa gue. Hahaha…” ucapnya.
Mira lalu turun dari mobil dan mengikuti Kelvin yang berjalan masuk restoran. “Selamat malam. Meja untuk berapa orang?” ucap pelayan pria yang menyambut mereka.
“Kami ada janji dengan Revano Dermawan.” Ucap Kelvin.
Pelayan tersebut mengangguk dan berkata “Mari ikuti saya.” Pelayan tersebut lalu mengantar Kelvin dan Mira ke Vano.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di tempat Vano. Vano yang melihat mereka berdua datang bersamaan bertanya “Kalian kok datangnya bisa barengan?”
“Tadi aku ketemu Mira di pintu masuk.” Jawab Kelvin.
Vano mengangguk tanpa curiga. Mira kemudian berkata “Ya, udah. Kalian berdua pesan aja.”
“Mir, aku pesan dua porsi ya? Kan kemarin kamu udah janji.” Ucap Kelvin.
Mira mendengus dan menjawab “Iya… iya. Lo nggak usah ngingetin gue terus. Gue nggak lupa kok.”
Mereka bertiga mulai memesan makanan dan minuman. Beberapa saat setelah itu, pelayan menghidangkan makanan dan minuman yang mereka pesan. Kemudian mereka menyantap hidangan tersebut dan setelah habis, mereka mengobrol sebentar lalu pulang. Saat membayar, Mira rasanya ingin menangis karena total biaya yang harus dibayarnya hampir menghabiskan seluruh gajinya.
“Lo ke sini naik apa Mir?” tanya Vano ketika mereka sudah berada di luar restoran.
Mira yang ditanyai Vano menjadi panik karena bingung mau menjawab apa. “Gue… tadi diantar ayah gue.” Jawabnya.
“Oh… terus sekarang lo pulangnya gimana? Apa lo bareng gue aja?” ajak Vano.
“Eng…nggak usah Van. Lo pulang duluan aja. Gue dijemput sama ayah kok.” Jawab Mira mengelak.
“Oh… ya udah. Lo kenapa masih disini Vin? Lo nggak pulang?” tanya Vano pada Kelvin.
“Ini aku mau pulang. Tapi kayaknya perut aku agak sakit deh. Kamu nggak usah nungguin aku Van. Aku mau ke toilet dulu.” Pamit Kelvin yang langsung berlari menuju toilet.
“Siapa juga yang mau nungguin lo?” ucap Vano kesal. “Kalau gitu gue duluan Mir.” Pamit Vano. Dia lalu pergi ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya. Setelah memastikan mobil Vano sudah tak terlihat, Mira segera pergi ke tempat parkir menghampiri Kelvin.
"Vano udah nggak kelihatan Vin." ucap Mira.
"Ya udah. Cepetan lo masuk ke mobil." perintah Kelvin. Mira lalu masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Kelvin. Setelah itu Kelvin mengendarai mobilnya keluar dari tempat parkir.
Tanpa mereka sadari, salah satu mahasiswi fakultas ekonomi yang baru turun dari mobil bersama keluarganya melihat mereka berdua dan memotret mereka.
"Jadi beneran yang diomongin Mira kalau dia suka sama Kelvin dan nggak lagi pacaran sama Adit. Aku harus ngasih tau teman-teman nih." ucap mahasiswi tersebut. Kemudian dia mengirimkan foto Mira dan Kelvin yang berhasil diambilnya ke grup chat kelasnya.
__ADS_1