
Mira POV
Hari ini aku ada kerja kelompok di rumah Adit. Kami janjian buat berangkat ke rumahnya sepulang kuliah. Dan sekarang aku berada di tempat parkir kampus nungguin Adit. Tadi dia di nyuruh aku nungguin dia tempat parkir dulu, katanya dia ada urusan sebentar. Tapi, udah 30 menit berlalu dan dia masih belum datang juga. ‘Apa aku telepon aja ya?’ pikirku.
Ku coba buat menelepon dia dan ternyata nggak bisa tersambung. Ku telepon berkali-kali sampai hampir lima menit tapi tetap aja nggak bisa.
“Adit mana sih. Katanya mau kerja kelompok. Udah 30 menit lebih belum datang-datang juga. Ngeselin!!!” Ucapku kesal.
“Hai, Mir. Lo nunggu siapa disini?” ucap seseorang.
Aku menoleh dan mendapati Adit yang mau ngambil motornya. Apa dia tanya kayak gitu buat ngerjain aku?
“Lo ngerjain gue ya Dit? Gue nungguin lo udah hampir 40 menit. Lo dari mana aja sih?” Tanyaku.
“Lo nungguin gue Mir? … Maafin gue Mir. Gue lupa kalau kita mau kerja kelompok. Hehehe…” jawabnya.
Aku yang kesal menendang-nendang kaki Adit. “Lo ngeselin banget Dit. Gue nungguin lo 40 menit. Tapi lo malah lupa.”
“Maaf… Maaf Mir. Tadi keasyikan ngobrol. Jadi lupa kalau kita mau kerja kelompok. Berhenti nendang-nendang kaki gue Mir.” Ucapnya.
Aku terus menendang-nendang dia. Sampai akhirnya satpam kampus yang lewat berkata “ Anak muda zaman sekarang kayak gini ya.”
Aku pun berhenti nendang Adit dan berkata “Ayo cepetan ke rumah lo! Mumpung masih jam dua siang. kalau nggak berangkat-berangkat entar kemaleman.”
Adit mengangguk, lalu dia ngambil motornya. “Nanti lo ikutin gue dari belakang.” Ucapnya.
Aku mengangguk dan mulai nyalain motorku. Aku ngikutin Adit yang ngendarain motornya hingga nggak kerasa udah sampai di depan rumahnya.
“Ini rumah lo Dit?” tanyaku.
“Iya. Lo taruh motor lo disana.” Ucapnya menunjuk tempat kosong di bawah pohon mangga. Aku segera memarkirkan motorku bawah pohon mangga yang di tunjukin Adit.
Ngomong-ngomong soal rumah Adit, rumahnya nggak terlalu besar juga nggak terlalu kecil. Tapi halaman rumahnya luas banget. Banyak pohon-pohon sama tanaman-tanaman hias. Di sini juga ada kolam ikan di tengah-tengahnya.
“Gue nutup gerbang dulu Mir.” Ucapnya. Aku cuma ngangguk nanggepinnya. Aku berjalan mendekati kolam ikan dan naik ke atas pinggiran kolam. Aku sedikit nunduk buat lihat ikan-ikan yang lagi berenang.
“Lo ngapain Mir?” tanya Adit yang udah selesai nutup gerbang sambil dorong punggungku. Byuur… Aku pun masuk ke dalam kolam. Untung cuma kakiku aja yang masuk karena tanganku pegangan sama air mancur di tengah kolam yang kebetulan lagi nggak nyala.
“Sialan lo Dit. Lihat nih sepatu sama celana gue jadi basah.” Makiku.
Adit cuma tertawa ngelihat aku tercebur kolam. “Hahaha… Lo lucu banget Mir. Peluk-peluk patung ikan di tengah-tengah kolam.”
Aku segera keluar dari kolam dan menendang Adit dengan kakiku yang basah. “Berhenti Mir. Kaki lo basah. Jangan tendang tas gue.” Pintanya.
“Makanya jangan ngusilin orang. Untung aja cuma kaki gue yang masuk ke dalam air.” Ucapku kesal.
“Ya udah. Ayo masuk! Nanti gue pinjamin lo celana.” Ucap Adit.
Aku ngikutin Adit berjalan menuju pintu depan. “Kok nggak bisa dibuka? Ma… bukain pintunya.” Teriak Adit. Tapi, nggak ada jawaban dari dalam rumah.
“Kenapa Dit?” tanyaku. “Mama gue kayaknya nggak di rumah.” Jawabnya.
“Terus gimana? Kita nggak jadi kerja kelompok?”
“Jadi lah. Gue bawa kunci. Mama gue palingan cuma pergi belanja atau di rumah tetangga. Bentar lagi juga pulang.”
Adit membuka pintu dan nyuruh aku masuk “Lo masuk aja Mir. Gue ambilin celana buat lo dulu. Sepatu lo lepas di depan aja.”
Aku ngelepas sepatuku dan masuk ke dalam rumah Adit. Nggak lama kemudian, Adit keluar sambil membawa celana pendek. “Nih, Mir. Kayaknya cukup. Lo ganti di kamar mandi sana!” perintahnya sambil dorong aku ke arah kamar mandi dekat ruang tamu.
Aku mengganti celanaku dengan celana yang dipinjami Adit. Celana yang kalau dipakai Adit mungkin sekitar selutut, saat ku pakai malah jadi celana tiga perempat dengan bagian bawahnya yang lebar.
Aku keluar dari kamar mandi dan saat Adit melihatku dia tertawa. “Hahaha… Lo kayak badut Mir.” Ucapnya.
Aku bersiap nendang dia lagi. Sebelum aku mulai nendang, Adit berkata “Jangan tendang gue Mir. Gue nggak bakal ngetawain lo lagi. Lo ambil buku di kamar gue aja ya. Kamar gue yang pintunya kebuka. Gue mau ke dapur dulu.”
Aku pergi ke kamar Adit, ngambil beberapa buku di rak, dan menaruhnya di atas kasur. Lalu aku nyari buku yang bakal digunain buat ngerjain tugas sambil tiduran di atas kasur. Lama-kelamaan mataku terasa berat dan aku memejamkan mataku.
__ADS_1
Adit POV
Aku yang habis dari dapur, balik ke ruang tamu sambil bawa minuman dan buah anggur. Ku lihat nggak ada seorang pun di ruang tamu.
'Mira kok belum balik ya? Apa masih belum nemuin bukunya?' Pikirku.
Aku pergi ke kamarku buat nyari Mira. Ku lihat dia lagi tidur dengan tumpukan buku di atas badannya. “Ini anak. Malah enak-enakan tidur disini.”
“Woii… Mir. Bangun!!” teriakku ngebangunin dia.
Mira bukannya bangun tapi malah ganti posisi tidur. Karena posisi tidurnya lucu, aku ngambil handphoneku dan memotretnya. Aku berjalan pelan ngedeketin kasur dan ngubah posisi tidur Mira jadi pose-pose lucu lalu aku memotretnya. Aku ngubah posisi tidurnya beberapa kali dan sekarang di handphoneku penuh foto-foto Mira dengan posisi tidur yang lucu.
“Padahal aku udah ganti posisi tidurnya berkali-kali, tapi Mira masih nggak bangun-bangun juga. Untung aja dia lagi sama aku, coba kalau sama orang lain atau orang jahat bisa-bisa dia diapa-apain. Tapi lumayan dapat foto-foto aneh Mira, bisa buat ngancam dia. Hahaha…” ucapku tertawa.
“Lo ngapain Dit ketawa-ketawa sendiri?” aku menoleh dan ngelihat Mira dengan mata sayunya yang menatapku.
“Gue nggak ketawa sendiri kok. Gue ketawa baca chat dari Dannis.” Jawabku mengelak. Aku nggak mau kalau dia sampai tau kalau aku nyimpen fotonya yang lagi tidur dengan posisi lucu. Bisa-bisa dia mukul dan nendang aku.
Dia mengangguk saat dengar jawabanku. Lalu dia berkata “Gue tidur bentar ya Dit. Nanti bangunin gue!”
“Lo nggak boleh tidur lagi Mir. Ngebangunin lo itu susah.” Ucapku sambil menarik tangan Mira agar dia turun dari kasur.
“Lepasin gue Dit. Gue cuma tidur bentar kok.” Ucapnya.
“Enggak Mir. Kita harus nyelesain tugas kelompok. Lo nggak boleh balik tidur. Cepat turun dari kasur.” Ucapku yang masih berusaha menariknya turun dari kasur.
“Gue nggak mau Dit. Lepasin gue… Lepasin gue…” Ucapnya. Saat kami saling tarik-menarik, sesorang membuka lebar pintu kamarku yang agak tertutup. Kami berdua menoleh dan aku ngelihat mamaku masuk dan menatap kami berdua. Setelah itu mama menatapku tajam.
“Kamu mau ngapain anak orang Dit?” ucap Mama yang langsung aja menjewer telingaku.
“Aduh, Ma. Sakit. Adit nggak ngapa-ngapain kok. Adit cuma bangunin dia yang ketiduran.” Jelasku.
Mama ngelepasin telingaku yang dijewernya. “Beneran kamu cuma bangunin dia?” tanya mama curiga.
“Beneran Ma. Mana berani Adit ngelakuin yang aneh-aneh di rumah.” Jawabku.
“Oh… Maksud kamu kalau nggak di rumah kamu berani ngelakuin yang aneh-aneh?”
“Kamu juga. Sebagai perempuan harusnya lebih hati-hati. Kalau kamu lagi berdua saja sama teman laki-lakimu, kamu harusnya berada di teras atau ruang tamu saja dekat pintu depan dan jangan kamu tutup pintunya. Jadi kalau dia ada niat jahat, kamu bisa keluar dan minta tolong sama orang-orang sekitar.” Nasihat mama pada Mira.
“Iya Tante. Saya bakal lebih hati-hati. Tadi sebetulnya Adit nyuruh saya buat mengambil buku di kamarnya karena dia mau pergi ke dapur. Tapi saya malah ketiduran di kasur.” Jawab Mira.
“Lain kali kamu hati-hati. Untung saja Tante pulang cepat. Kalau enggak, mungkin kamu sudah diapa-apain sama dia.” Ucap mama sambil nunjuk aku.
“Mama apaan sih. Masa sama anak sendiri nggak percaya.” Ucapku sedikit kesal. Kenapa Mama lebih ngebelain Mira?
“Ya jelas lah, Mama nggak percaya. Kamu saja jarang di rumah, kerjaannya pacaran terus. Tiap hari juga kamu pulangnya malam. Mama nggak yakin kamu di luar nggak ngapa-ngapain sama pacar kamu.” Ucap Mama.
Jadi, selama ini mama ngira aku tiap hari jalan sama pacarku. Padahal aku jalan sama pacarku cuma dua kali seminggu. Sisanya aku nongkrong sama Dannis. Masa aku mau ngapa-ngapain Dannis. Kalau minta traktir sih, iya.
“Adit nggak pernah ngapa-ngapain Ma. Adit tau batas, mana yang boleh mana yang enggak.” Jawabku.
“Makanya kamu sering-sering di rumah. Jangan keluyuran terus. Masa seminggu penuh kamu pergi keluar, pulangnya saat orang sudah tidur. Mama saja kalau ketemu kamu cuma waktu pagi.” Ucap Mama sedih.
“Iya, Ma. Iya. Adit bakal sering-sering di rumah.” Jawabku. Aku nggak tega lihat mama masang muka sedih.
Setelah mendengar percakapanku dan mama, akhirnya Mira turun dari atas kasur. “Kok kamu pakai celananya Adit?” tanya mama yang kaget waktu ngelihat Mira pakai celanaku.
“Itu Tante, tadi saya tercebur di kolam ikan gara-gara didorong sama Adit. Jadi, saya pinjam celananya Adit karena celana saya basah.” Jawabnya.
Mama yang dengar jawaban Mira menatapku dengan penuh amarah. “ADIIIT… Kamu itu keterlaluan ya. Gimana kalau waktu kamu dorong dia, dia jadi keseleo atau terluka. Kamu ini nggak mikir apa? Kamu juga mau dihukum papamu kalau ikan-ikan di kolam ada yang mati?” ucap mama marahin aku.
Aku cuma diam aja dengerin omelan mama.
“Ayo ikut Tante. Tante pinjamin kamu baju.” Ajak mama.
Mira ngikutin mama keluar dari kamarku. Setelah mereka berdua keluar, aku mulai ngambil buku yang dibutuhin buat ngerjakan tugas dan pergi ke ruang tamu.
__ADS_1
3rd POV
Saat sampai di depan kamar orangtuanya Adit, mamanya Adit berkata “Kamu tunggu di sini ya! Tante ambilin baju dulu.”
Beberapa saat kemudian mamanya Adit keluar membawa sebuah dress putih selutut berlengan pendek dan bermotif bunga mawar di bagian bawahnya.
“Kamu ganti pakai baju ini.” Ucap mamanya Adit saat memberikan bajunya ke Mira.
“Baju ini terlalu bagus buat saya pinjam, Tante. Saya jadi nggak enak pakainya. Apa saya boleh pinjam bawahan aja? Baju atasan saya nggak kenapa-kenapa kok. Masih bersih.” Tolak Mira.
Saat Adit lewat dan mendengar ucapan Mira, dia menyahuti “Jangan bohong Mir. Gue tau kalau lo malu pakai dress. Takut nggak cocok kan? Lo waktu kuliah aja selalu pakai celana. Gimana mau pakai dress? Pasti nggak cocok banget. Gue nggak bisa bayanginnya.”
Mira diam saja tidak membalas perkataan Adit. Dia hanya menatap Adit tajam.
“Kamu ini diajari siapa sih? Jadi suka menghina orang lain. Ayo, kamu ganti saja pakai saja baju ini!” ucap mamanya Adit.
“Tapi, Tante…”
“Nggak usah tapi-tapian. Ayo kamu ganti! Lagian ini juga baju Tante waktu masih muda dulu. Sudah nggak pernah Tante pakai.” perintah mamanya Adit pada Mira.
Mira akhirnya menerima baju tersebut dan pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
“Wah… kamu cocok sekali pakai baju ini. Sini ikut Tante sebentar!” ucap mamanya Adit sambil menarik tangan Mira dan membawanya masuk ke kamarnya.
“Tante dandanin kamu dulu ya. Ngomong-ngomong nama kamu siapa? Maaf tadi Tante nggak sempat tanya.”
“Nama saya Mira, Tante.” Jawab Mira.
“Oh… nama kamu Mira. Kalau nama Tante, Dian.” Ucap mama Dian sambil merias wajah Mira.
Setelah selesai merias Mira, mama Dian menata rambut Mira yang agak kusut. “Sudah lama Tante nggak pernah dandanin anak perempuan, soalnya anak tante laki-laki semua. Dulu pernah dandanin sepupunya Adit waktu masih kecil. Tapi, itu sudah lama sekali.” Cerita mama Dian.
“Nah, sudah selesai Mir.”
Mira melihat penampilannya di cermin. Dia terkagum-kagum dengan hasil riasan mama Dian. “Terimakasih Tante.” Ucapnya.
Mama Dian mengangguk. Mira kemudian pergi ke ruang tamu untuk mengerjakan tugas kelompok. Mendengar langkah kaki mendekat, Adit tak menoleh sedikitpun dan terus berkutat dengan buku di tangannya. Kemudian dia berkata “Gue udah dapat materi buat tugasnya, Mir. Lo yang bagian ngetik. Gue baik kan cuma nyuruh lo ngetik aja.”
Mira langsung saja membuka laptopnya dan bertanya “Mana yang harus gue ketik?”
“Nih, yang gue kasih garis bawah pakai pensil yang harus lo ketik.” Jawab Adit menyerahkan buku yang dipegangnya.
Adit menoleh kearah Mira dan memperhatikan penampilannya. “Lo nggak cocok dandan kayak gitu Mir. Jelek.” Ucapnya tiba-tiba.
Mira balik menatap Adit. Namun, Adit malah memalingkan wajahnya.
“Maksudnya apa kamu bilang jelek? Hasil riasan sama baju pilihan mama menurut kamu jelek?” ucap mama Dian yang sedang membawa nampan berisi puding mangga.
Adit kaget dan panik saat mendengar ucapan mamanya. Dia segera menjawab “Enggak Ma… Enggak… Mira cantik kok dandan kayak gini. Hehehe…”
Mama Dian tak menghiraukan jawaban Adit. “Ini puding mangga buatan Tante. Ayo dimakan!” ucap mama Dian.
“Terimakasih, Ma.” ucap Adit mengambil puding mangga yang diletakkan mamanya di meja.
“Ini buat Mira, bukan buat kamu. Kalau kamu mau, ambil saja sendiri di kulkas.” Ucap mama Dian merebut puding mangga di tangan Adit.
Adit mendengus kesal. Lalu dia pergi ke dapur untuk mengambil puding mangga.
“Terimakasih, Tante.” Ucap Mira. Dia memakan puding mangga yang disuguhkan kepadanya. “Pudingnya enak.” Ucapnya memuji puding buatan mama Dian.
“Kamu bisa saja.” Balas mama Dian.
“Mira nggak bohong loh. Puding buatan Tante memang sangat enak.”
Mama Dian membalas perkataan Mira dengan senyuman. Kemudian beliau pergi ke kamarnya.
“Habis makan cepetan lo ketik tugasnya.” Ucap Adit yang baru saja kembali dari dapur.
__ADS_1
“Iya. Nanti juga gue ketik. Gue mau makan puding dulu.” balas Mira.
Setelah selesai memakan semua pudingnya, Mira mulai melanjutkan mengetik tugas kelompoknya.