
3rd POV
Tak terasa sudah seminggu berlalu. Mira yang setiap hari belajar memasak dan sering kena omelan bundanya hari ini akan mulai bekerja.
“Bun, Yah, apa nggak dibatalin aja?” pinta Mira dengan wajah memelas.
“Nggak bisa. Lagian tempatnya kan Cuma 30 sampai 40 menitan aja dari sini. Jadi kamu bisa pulang sekali-sekali.” Ucap bunda Rika.
“Sini kopernya Ayah masukin bagasi. Ayah sama Bunda naik mobil, nanti kamu ikutin pakai motor.” Ucap ayah Rudi.
Mira menyerahkan kopernya dan bersiap-siap mengendarai motornya.
Mereka pun berangkat menuju apartemen milik anak om Rama. Setelah menempuh perjalanan selama 35 menit, mereka pun sampai.
"Ini Mir koper kamu." Ayah Rudi menyerahkan koper pada Mira yang selesai memarkirkan motornya.
"Kalau gitu kami berdua pulang dulu Mir. Ingat Mir, nomor apartemennya 309. Anaknya Om Rama namanya Alan." Pamit bunda Rika.
"Iya." Jawab Mira singkat. Setelah kedua orangtuanya pulang, Mira segera menuju ke apartemen nomor 309.
Mira POV
'Huh sebel deh. Harus dihukum jadi asisten rumah tangga. Udah nggak bisa tidur seharian kalau libur, tinggal sama cowok lagi. Gimana kalau anaknya Om Rama itu mesum? Aghh... udah ah nggak usah dipikirin' batinku.
Aku berjalan menuju apartemen nomor 309 dan sesampainya disana aku membunyikan bel. Sudah beberapa kali aku membunyikan bel tapi nggak ada yang membuka pintu.
'Apa nggak ada orang ya? Tapi kata bunda anaknya Om Rama ada di apartemen' Pikirku. Akhirnya ku putusin buat mencet tombol bel terus menerus.
Beberapa saat kemudian, pintu apartemen terbuka dan sesosok cowok dengan wajah masamnya berdiri di depan pintu berkata "Lo ngapain disini? Pencet bel terus-terusan. Ganggu orang aja."
'Wah... gantengnya' batinku. Memang cowok di depanku ini ganteng dengan tubuh tinggi dan tegap.
"Maaf Mas. Aku anak temannya Om Rama yang disuruh bersih-bersih disini." Kataku ngejelasin.
"HAH... Lo yang disuruh kerja bersih-bersih disini? Tau gitu gue nolak aja permintaan Mama gue." Ucapnya kasar.
"Kok marah-marah sih Mas? Emangnya Mas kenal aku?" Tanyaku.
"Siapa yang nggak kenal lo. Lo itu sering telat kalau masuk kelas. Terus sering tidur di kelas." Ucapnya.
"Kalau Mas kenal aku. Berarti aku kenal Mas dong. Kalau nggak berarti Mas teman sekelasnya sahabat aku." Ucapku.
"Mungkin." Ucapnya pelan. "Apa gue kenal ya? Kayaknya nggak pernah lihat dia di kampus atau kelas teman-teman gue. Tapi entah kenapa kok suaranya kayak si banci Kelvin ya." Ucapku berusaha pelan.
"Lo bilang apa?" Ucapnya marah. "Kenapa marah-marah sih. Emangnya aku bilang apa?" Tanyaku balik. "Lo bilang banci Kelvin" jawabnya.
"Kamu kan bukan... tunggu..." Aku menangkup wajah cowok di depanku dan mengubah gaya rambutnya. "Cih... Jadi, lo Kelvin." Aku cabut kata-kataku kalau dia ganteng.
"Kok lo yang kesel sih? Harusnya gue yang kesel karena tempat gue bakalan dijagain sama orang kayak lo" ucapnya ketus. Aku yang dengar cara bicara Kelvin yang beda dari biasanya jadi penasaran.
"Gaya bicara lo kok beda kayak biasanya. Lo lagi sakit ya?" Ucapku hati-hati takut dia tersinggung dan marah.
"Lo nyumpahin gue? Sini masuk." Ucapnya sambil narik aku kedalam ruangan. "Eh... jangan tarik-tarik gue. Sakit tau" ucapku marah.
Kelvin yang narik aku masuk pun berkata "Pokoknya jangan bilang siapa-siapa. Gue berperilaku kayak Kelvin yang lo kenal cuma di kampus aja. Kalau lo cerita ke orang lain, gue bakalan potong gaji lo." Ancamnya.
"Tapi yang gaji gue kan orangtua lo. Mana bisa lo main potong-potong aja. Lagian gaji gue ditransfer kok." Balasku.
"Gue tinggal bilang ke orangtua gue, Mira mau gajiannya pakai uang cash. Nanti pasti dititipin ke gue. Nah, nanti gaji lo gue potong dari situ." Jelasnya.
“Pokoknya nggak bisa! Lo nggak boleh potong atau ambil gaji gue seenaknya.” ucapku.
“Makanya, lo harus janji nggak bakal bilang ke siapa-siapa. Bahkan sama teman-teman lo. Dan panggil gue Alan kalau penampilan gue kayak sekarang.” Perintahnya.
__ADS_1
“Iya… Gue nggak bakal bilang siapa-siapa. Tapi gue nggak janji, gue orangnya pelupa. Kamar gue mana?” ucapku.
“Lo baru dateng udah tanya kamar. Harusnya lo tanya kerjaan lo apa disini. Lo disini kan kerja bukan nginap.” Ucap Kelvin.
“Gue udah tau… KELVIN. Makanya gue tanya kamar gue dimana. Mau taruh barang-barang gue nih.” Kataku kesal.
“Kamar lo yang di sebelah kanan. Ingat panggil gue Alan bukan Kelvin kalau penampilan gue kayak gini.” Ucapnya ngingetin.
“Iya… KELVIN.” Balasku dan cepat-cepat berlari masuk ke kamar yang tadi ditunjukin sama Kelvin.
Kelvin POV
‘Ngeselin banget sih Si Mira itu. Kalau ketemu aku mukanya kayak kesel-kesel gimana gitu. Emangnya aku salah apa sama dia? Kalau aku tau waktu orangtuaku bilang yang bakalan kerja disini namanya ada cantik-cantiknya itu si Mira bakalan aku tolak. Si Mira bukannya nggak cantik tapi kelakuannya ngeselin banget. Dia juga terkenal pemalas sama sering tidur waktu kuliah. Gimana nasib apartemenku kalau dia yang bersihin. Pasti bersihinnya nggak bersih atau ngggak dibersihin sama sekali. Salah mama juga sih, pakai ngancam aku kalau nggak terima Mira jadi tukang bersih-bersih di apartemenku, aku yang suruh bersihin sendiri.’ Batinku.
**Flashback
“Alan sini deh! Mama mau bicara” panggil mama Dinar.
“Apaan Ma?” Tanyaku. “Mbok Inah kan sudah tua jadi nggak bisa bolak-balik rumah-apartemen. Jadi Papa sama Mama mutusin buat nyari asisten rumah tangga buat apartemen kamu.” Ucap mama Dinar.
“Katanya Mama sama Papa nggak gampang percaya orang yang nggak dikenal. Kok tiba-tiba mutusin nyari tukang bersih-bersih buat apartemenku.” Tanyaku pada mama.
“Nah, itu dia Lan. Kebetulan minggu lalu Papa sama Mama ketemu temannya Papa kamu Dia mau nyari kerja part-time buat anaknya biar dia bisa mandiri. Jadi sekalian aja Mama tawarin kerja buat beres-beres apartemen kamu.” Jelas mama Dinar padaku.
“Anak temannya Papa laki-laki, Ma?” tanyaku.
“Perempuan, Lan. Kalau nggak salah dia satu kampus sama kamu. Namanya ada cantik-cantiknya gitu.” Jawab mama Dinar.
“Tapi beneran Ma, aku nggak apa-apa tinggal sama perempuan?” tanyaku penasaran karena dimana-mana anak cewek nggak bakal diizinin buat tinggal sama cowok.
“Nggak apa-apa lah. Kamu lupa ya kalau Mama udah pasang cctv di ruang tamu sama dapur. Jadi kamu nggak bakalan bisa macam-macam. Kalau kamu nolak juga nggak apa-apa. Nanti kamu bersihin apartemen kamu sendiri.” Jawab mama Dinar.
“Alan setuju-setuju aja kok Ma.” jawabku. ‘Lumayan kan bisa kenalan sama cewek cakep. Hehehe…’
Dan disinilah aku terjebak bareng Mira. Aku meratapi nasibku yang menyedihkan ini. Niatnya pengen kenalan sama cewek cakep dan rajin. Eh... dapatnya si Mira yang pemalas.
Setelah selesai meratapi nasib selama satu jam dikamar, aku mutusin buat keluar. 'Mira mana?' Batinku ngelihat keadaan apartemen yang sepi.
Aku mengetuk pintu kamar Mira berkali-kali tapi nggak ada jawaban. Akhirnya aku putusin buat buka pintu kamarnya dan ternyata dia sedang tertidur pulas. 'Anak ini hari pertama kerja langsung tidur'. Aku nyamperin dia dan teriak di dekat telinganya “MIRAAAA... BANGUUUNN.”
Mira yang kaget pun langsung lompat dari kasur dan jatuh tengkurap di lantai. “Hahaha…hahaha…” tawaku pun pecah ngelihat cara dia terjatuh.
“Aduh… sakit. Ngapain sih Vin? Ngagetin gue aja. Badan gue jadi sakit semua nih gara-gara jatuh.” Gerutunya.
“Lo bukannya mulai bersih-bersih, malah enak-enakan tidur. Sekarang udah jam enam sore, lo beli atau masak makanan gitu. Udah hampir waktunya makan malam, tapi nggak ada makanan.” Perintahku.
Mira pun bangun dan berjalan menuju dapur. “Lo mau ngapain?” tanyaku penasaran. “Ya masak lah.” Jawabnya.
“Emang lo bisa masak? Jangan deh, Mir. Mending lo beli aja. Gue takut apartemen gue kenapa-napa.” Ucapku was-was.
Mira nyeret aku keluar dapur dan nyuruh duduk di sofa ruang tamu. “Mending lo duduk aja. Tunggu gue selesai masak.” Ucapnya dan dia balik lagi ke dapur.
Aku yang masih was-was takut terjadi apa-apa saat Mira masak, mutusin buat balik ke dapur dan mengamati dari kejauhan. Aku lihat dia dengan cekatan nyuci beras hingga menanak nasi di rice cooker. Saat lihat nggak ada hal aneh yang dilakuinnya di dapur, aku balik lagi duduk di sofa nunggu Mira selesai masak. ‘Percaya Mira dikit nggak apa kan.’ Batinku.
Setengah jam lebih kemudian Mira manggil aku “Vin, udah selesai”. Aku bergegas pergi ke dapur dan di meja makan sudah tersaji dua piring nasi goreng, dua telur mata sapi, dan beberapa potong nugget yang kapan hari dimasukin mama ke kulkas.
Aku duduk dan ngambil sepiring nasi goreng dengan lauk telur mata sapi kemudian memakannya. Mira yang juga lagi makan menatapku dan bertanya “Gimana Vin? Enak kan?”. ”Lumayan.” jawabku. “Gue nggak nyangka lo bisa masak Mir.”
“Hehehe.. tentu aja. Mira gitu lho.” Ujarnya terkekeh. “Bumbunya enak kok Mir.” Pujiku. “Iya dong. Kan bumbu nasi goreng instan. Hahaha…” ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak.
“Sialan lo Mir. Gue udah muji-muji lo tapi ternyata lo pakai bumbu instan.” Ucapku marah. Dia malah tambah ngerasin suara tawanya dan akhirnya tersedak. “Syukurin lo Mir.” Ucapku.
Dia buru-buru minum air putih yang ada di depannya. Dia natap aku dengan wajah cemberut dan bilang “Hmmpp…”. ‘Salahku apa coba? Kenapa dia marah? Itu kan salah dia sendiri.’ Batinku.
__ADS_1
“Lo kenapa sih Mir? kalau lihat gue muka lo cemberut terus. Padahal kita juga jarang ketemu. Salah gue apa?” Tanyaku penasaran karena emang Mira kayak ada dendam sama aku.
“Lo kok tanya gitu sih Vin. Kesalahan lo sama gue itu banyak. Apa lo lupa?” jawabnya.
“Gue nggak ingat ada salah sama lo.” Jelasku.
“Gue bakal bilang apa kesalahan lo kalau lo juga mau cerita kenapa kepribadian lo di kampus sama di luar beda.” Pintanya.
Sebenarnya aku malas jelasin tentang hal itu. Tapi aku penasaran kenapa dia marah sama aku? Aku nggak suka kalau ada orang yang punya dendam atau marah sama aku tapi aku nggak ngerasa ada salah sama mereka. Akhirnya aku setuju sama permintaan Mira “Oke, gue bakal cerita.”
“Gue bakal sebutin kesalahan lo sama gue. Yang pertama, lo ingat waktu ospek dulu? Lo injak rok gue sampe melorot. Untung aja gue pakai daleman celana panjang. Coba kalau enggak?” jelasnya.
“Itu kan udah lama Mir. Gue juga udah minta maaf sama lo.” Balasku nggak mau kalah.
“Terus ada lagi. Waktu gue jalan ke parkiran, gue lihat lo robohin motor gue sampai lampu depannya pecah. Terus habis itu lo malah kabur dan nggak ada niat mau ganti. Gue jadi dimarahin bunda gue seharian dan uang saku gue dipotong buat biaya perbaikan.” Jelasnya panjang lebar.
“Oh… Jadi itu motor lo. Gue kan nggak tau.” Balasku. “Ya walaupun punya gue atau bukan. Kan tetap aja lo harus ganti karena udah ngerusakin.” ucapnya.
“Udah itu aja? Kata lo banyak.” “Banyak atau nggaknya lo tetap salah. Sekarang lo yang jelasin pertanyaan gue tadi.” Jawabnya.
“Iya… iya… nggak sabaran amat sih lo. Jadi, ceritanya waktu SMA gue punya pacar beda sekolah. Dia terus-terusan nyamperin gue di sekolahan, padahal gue udah larang dia. Nah, karena gue sebel, gue mutusin dia. Tapi meski gue putusin dia tetep nekat datengin sekolah gue terus. Akhirnya gue ngubah penampilan gue, penampilan kayak gue biasanya waktu di kampus. Terus dia nggak ngejar-ngejar gue lagi." Ceritaku panjang lebar.
"Oh, gitu" ucapnya datar sama sekali nggak tertarik sama ceritaku.
"Kalau lo nggak tertarik ngapain minta gue cerita." Makiku.
"Gue kira ceritanya bikin sedih atau gimana, ternyata cuma gitu. Coba gue tebak. Sekarang lo punya pacar tapi pacar lo taunya nama lo Alan dan dia nggak tau kalau lo juga dipanggil Kelvin." Katanya menebak.
Aku yang dengar ucapannya cuma bisa jawab "Kok lo tau sih kalau gue punya pacar".
Dia pun membalas kata-kataku "Gue udah tau. Gue sering lihat cerita kayak gini di komik-komik yang gue pinjam dari Devi."
Aku cuma menatap Mira datar dan berkata "Ya udah. Terserah gue lah mau apa. Ini juga bukan urusan lo."
"Ngomong-ngomong kenapa lo di panggil Alan?" tanyanya penasaran.
"Lo nggak tau nama lengkap gue?". Dia cuma menggelengkan kepala.
"Nama lengkap gue Kelvin Alando Wijaya. Masa gitu aja nggak tahu." Jawabku.
"Emang gue nggak tau. Jadi, kalau panggilan lo yang lain itu Alan. Apa orang yang kenal lo sebagai Alan manggil lo si Alan?" Ucapnya.
'Maksudnya si Alan apa sih? Aku benar-benar nggak ngerti' Pikirku. 'Si Alan... si Alan... si Alan... Arghhh... aku nggak ngerti. Tunggu... tunggu. Si Alan... sialan'
"Kurang ajar lo Mir" makiku. Dia cuma menatapku sambil tertawa. Setelah puas tertawa dia bangkit dari kursi dan bilang "Gue mau tidur dulu."
"Enak aja mau tidur. Ini piring-piring kotornya belum diberesin." Cegahku.
"Besok aja atau lo aja yang beresin deh Vin. Gue ngantuk nih."
"Enak aja, lo kan yang kerja disini kenapa jadi gue yang harus beresin. Mau gaji lo gue potong?" Ancamku.
"Iya, Kelvin cerewet." Ucapnya sambil mengambil piring di meja kemudian mencucinya.
"Gue bilang panggil gue Alan kalau penampilan gue kayak gini." Ucapku ngingetin dia.
"Gue belum kebiasa panggil lo pakai nama Alan. Nanti juga jadi kebiasaan kalau udah lama." Jawabnya.
"Ya udah, gue mau keluar. Ingat jangan berantain apartemen gue."
"Emangnya gue apaan pakai diingetin segala jangan berantain apartemen? Lagian habis ini gue mau tidur." Ucapnya.
Aku cuma menatapnya sekejap dan langsung pergi buat ketemu sama teman-temanku.
__ADS_1