Lazy Girl

Lazy Girl
Latihan Drama


__ADS_3

Mira POV


Pagi-pagi gini udah ngeselin banget sih. Motorku nggak bisa nyala dan sekarang aku harus mohon-mohon ke Kelvin biar dia ngasih aku tumpangan. “Ayolah Vin. Gue bareng lo ya berangkatnya? Motor gue nggak bisa nyala.”


“Pokoknya enggak. Lo naik angkot, ojek, ojek online atau apalah. Gue nggak mau berangkat bareng lo.” Tolak Kelvin.


“Lo jahat banget sih, Vin. Sabtu kemarin lo udah gue traktir makanan-makanan mahal sampai gaji gue bulan ini hampir habis. Tapi sekarang lo malah nggak mau ngasih tumpangan ke gue.” Ucapku memelas.


“Gue bilang enggak ya, enggak.” Jawabnya. Saat dia mau masuk ke dalam mobil, aku segera memeluk lengannya.


“Lepasin gue Mir! Nanti gue telat.” Ucapnya marah.


“Gue juga. Makanya lo kasih gue tumpangan.” Paksaku. Dia berusaha ngelepasin diri dariku tapi aku semakin ngeratin pelukanku di lengannya.


Beberapa saat kemudian, Kelvin akhirnya menyerah. “Oke. Sekarang gue kasih lo tumpangan. Tapi nanti pulangnya lo harus pulang sendiri. Jangan nyariin gue buat barengin lo pulang.”


Aku mengangguk setuju. Lalu aku ngelepasin pelukanku dan masuk ke dalam mobil. Lima belas menit kemudian kami sampai di kampus. Aku langsung turun dari mobil setelah Kelvin markirin mobilnya dan segera berlari menuju kelas karena takut terlambat di kelasnya bu Susi.


Sesampainya di kelas, aku menghela napas saat tau kalau bu Susi belum datang. Kemudian aku duduk dan mainin handphoneku.


“Ciee… udah jadian nih ya.” ucap suara di depan pintu. Aku menoleh dan ngelihat Rian ada di sana.


“Berisik.” Balasku. “Siapa yang udah jadian?” tanya salah satu mahasiswi teman sekelasku.


“Kalian tau nggak? Tadi gue ngelihat Mira turun dari mobilnya Kelvin. Dan gue juga punya fotonya Mira sama Kelvin pergi ke restoran berdua.” Jawabnya. Lalu dia nunjukin sebuah foto pada anak-anak kelas.


‘Foto di restoran? Bukannya waktu itu ada aku, Kelvin, dan Vano? Kenapa Rian bilangnya lagi berdua?’ Pikrku. Aku berusaha buat ngintip foto yang ditunjukin sama Rian dan aku ngelihat ada fotoku sama Kelvin lagi duduk di mobil waktu kami berada di parkiran restoran.


“Lo dapat dari mana foto ini?” tanyaku pada Rian.


“Dari mana aja. Pastinya dari sumber yang terpercaya dong.” Jawabnya.


Aku kesal banget saat dengar jawaban dari Rian dan akhirnya aku nggak hirauin ocehan dia selanjutnya. Aku berharap kalau Kelvin nggak marah dan ngancam motong gaji aku saat dia tau tentang foto itu.


Setelah perkuliahan bu Susi selesai, aku segera masukin barang-barangku ke dalam tas. Saat aku mau berdiri, dua orang mahasiswi ngehampirin aku.


“Hai… Aku Lia dari klub teater. Kami berdua mau minta tolong sama kamu buat tampil bawain drama di acara Talent Show yang diadain sama pihak universitas kita.” Ucap salah satu mahasiswi itu.


“Kenapa harus gue? Bukannya klub kalian punya anggota?” tanyaku.


“Kami nyari orang yang bukan anggota teater buat bawain drama buatan klub kami. Tujuan kami cari pemeran dari luar klub karena kami pengen nunjukin ke orang-orang kalau setiap orang punya potensi untuk bisa akting.” Jawab Lia.


“Ah… gue nggak mau main drama.” Tolakku.


“Ayolah, aktingnya nggak susah kok. Kamu nggak perlu mikirin kostumnya karena kami yang nyiapin. Kemarin waktu klub kami ngadain voting, kamu yang terpilih jadi pemeran utama wanitanya.”


“Emang dramanya tentang apa?” tanyaku penasaran.


“Judul dramanya ‘Handsome Man and the Beast’. Lo yang jadi beast-nya.” Jawab temannya Lia.


“Gue jadi beast? Terus yang jadi handsome man-nya siapa?”


“Arya, anak fakultas kedokteran.” Jawabnya.


Arya… Arya ikut main drama. Dia jadi karakter utama cowok dan aku yang jadi karakter utama cewek. Kalau gitu aku mau banget tampil bareng dia.


“Oke. Gue setuju.” Jawabku antusias.


“Kalau gitu besok kamu datang ke ruangan klub teater buat latihan.” Ucap Lia. Aku mengangguk setuju, kemudian mereka berdua pergi.


Setelah itu, aku pergi nyari Sophie di kelasnya. Aku ngintip dari balik jendela buat ngelihat masih ada dosen atau nggak di kelas. Setelah mastiin nggak ada dosen di kelas, aku berdiri di depan pintu dan bertanya “Soph…”


Sebelum aku selesai bertanya, seseorang memotong ucapanku “Kalau lo nyari Kelvin, dia lagi ada di kantin.”


“Hah… Siapa yang nyariin Kelvin? Gue ke sini nyariin Sophie. Dia ada dimana?”


“Oh… gue kira lo nyariin Kelvin. Kalau Sophie, dia lagi ke toilet. Paling bentar lagi balik.” Jawabnya.


Aku menunggu Sophie di bangku depan ruang kelasnya. Beberapa saat kemudian, Sophie datang.


“Lho Mir. Lo ngapain di sini?” tanya Sophie.


“Lo pulangnya jam berapa Soph? Gue pulangnya bareng sama lo ya?” tanyaku.


“Lo nggak bawa motor Mir?” tanya Sophie balik.


“Enggak Soph. Tadi motor gue mogok. Nggak bisa nyala sama sekali. Nanti kan lo ngelewatin pertigaan. Lo turunin gue di sana aja. Biar ke apartemennya Kelvin gue jalan kaki. Kan dari sana udah dekat.” Jelasku.


“Iya lo boleh bareng kok. Tapi gue pulangnya sekitar jam dua belasan, habis ini masih ada perkuliahan. Lo mau nunggu?” tanyanya.


“Iya, nggak apa Soph. Gue nunggu aja. Kalau gitu gue nungguin lo di kantin aja ya.” Ucapku.

__ADS_1


Sophie mengangguk, lalu aku pergi ke kantin buat beli makanan dan nungguin dia selesai kuliah.


Tepat pukul dua belas lebih sepuluh menit, Sophie ngehampirin aku yang lagi duduk di kantin. “Ayo Mir!” ajaknya.


Aku berjalan sama dia ke tempat parkir. Di tempat parkir, kami nggak sengaja ketemu Kelvin.


“Eh, Vin. Lo mau pulang?” tanya Sophie.


Kelvin menoleh dan jawab “Iya.”


“Tuh Mir. Lo bareng Kelvin aja pulangnya. Daripada bareng gue, nanti lo harus jalan kaki panas-panas gini.” Ucap Sophie.


“Enak aja Mira kamu suruh pulang bareng aku. Biar dia pulang sendiri aja. Kamu juga Mir, kenapa kamu nggak naik kendaraan umum atau ojek online aja sih? Kenapa harus numpang sama orang?” ucap Kelvin.


“Suka-suka gue lah. ” Jawabku.


“Lo itu jahat banget sih Vin. Masa ngasih tumpangan ke teman sendiri nggak mau.” Ucap Sophie. Arya yang tiba-tiba datang pun menyahut “Iya, Vin. Lo itu emang jahat banget. Kalau lo nggak mau ngasih tumpangan ke Mira, gue bakal aduin ke mama lo, biar lo dimarahin.”


“Apaan sih Ar? Ngapain kamu juga ikut-ikutan?” ucap Kelvin kesal.


“Gue kasihan sama Mira harus tinggal sama… “ sebelum Arya nyelesaiin ucapannya, Kelvin ngebungkam mulut Arya.


“Dasar mulut ember.” Maki Kelvin ke Arya.


“Hmmppp… Hmmmp…” Gumam Arya. Kelvin yang ngebungkam mulut Arya segera ngelepasin tangannya.


“Ayo Mir, kita pulang bareng! Nanti kalau kelamaan di sini, si mulut ember ini malah ngomong yang macam-macam.” Ucap Kelvin.


“Lo bareng Kelvin aja Mir biar langsung sampai. Jadi nanti lo nggak perlu jalan kaki.” Ucap Sophie.


Kalau dipikir-pikir benar juga kata Sophie. Mending aku bareng Kelvin aja biar nggak jalan kaki.


Aku mengangguk dan langsung masuk kedalam mobil Kelvin. “Gue duluan ya.” Pamitku pada Sophie.


“Iya. Hati-hati.” Balas Sophie.


Kelvin masuk ke dalam mobil dan mulai nyalain mobilnya. Kemudian dia mulai jalanin mobilnya keluar dari tempat parkir.


Di perjalanan…


Kayaknya Kelvin nggak tau tentang foto itu. Soalnya dari tadi dia diam aja. Biasanya kalau tau dia pasti udah marah-marah sekarang. Semoga aja dia beneran nggak tau.


Sesampainya di apartemen, aku segera masuk ke kamar dan ganti baju. Setelah itu, aku berniat mau tidur, tapi tiba-tiba Kelvin berteriak manggil aku. Jadi, terpaksa aku harus keluar kamar dan nemuin dia.


Kelvin narik tanganku dan nyuruh aku duduk di sofa. Lalu dia mulai deketin wajahnyanya ke wajahku. ‘Dia mau ngapain? Apa dia mau marah-marah ke aku gara-gara foto kita berdua waktu di tempat parkir restoran tersebar.’ batinku.


Beberapa saat kemudian dia menjauh. “Kayaknya Vano mulai rabun deh. Besok aku bakal saranin dia buat beli kacamata atau lensa kontak.” Ucapnya.


“Maksud lo apaan sih Vin? Tadi teriak-teriak manggil gue, terus lo ngelihatin wajah gue, sekarang lo bilang mata Vano rabun.” Ucapku kesal.


“Enggak… nggak ada maksud apa-apa kok. Mending sekarang lo masakin gue makan siang aja deh. Nggak usah banyak tanya.” Jawabnya.


Tanpa protes dan tanya lebih lanjut, aku langsung pergi ke dapur buat masakin makanan buat Kelvin. Setelah selesai masak, aku nyuruh dia makan lalu aku pergi tidur.


Arya POV


Hari ini aku ada latihan drama di ruang klub teater. Entah kenapa aku bisa terpilih jadi pemeran utama cowok di drama Handsome Man and the Beast. Apa karena aku ganteng ya makanya bisa terpilih meranin Handsome Man? Tapi aku penasaran yang jadi Beast-nya siapa ya?


Sekarang aku udah sampai di ruang klub teater. Di sini aku mulai bertanya ke beberapa anggota klub teater siapa yang bakal meranin karakter Beast. Tapi, mereka cuma jawab kalau dia bentar lagi datang. Jadi terpaksa aku nunggu dia datang dulu buat tau siapa orangnya.


Sepuluh menit kemudian, Lia ketua klub teater manggil aku. Dia ngasih tau kalau pemeran Beast-nya udah datang. “Dia yang bakal meranin karakter Beast” ucapnya padaku. Aku lihat orang yang dikenalin Lia padaku dan ternyata yang bakal meranin karakter Beast itu Mira.


“Hai, Ar.” Sapa Mira.


“Oh… Hai, Mir. Lo diminta buat ikut drama juga?” tanyaku basa-basi.


“Iya.” Jawabnya singkat.


“Kalian berdua, ini skrip drama yang harus kalian hafalin. Sekarang kalian latihan akting sambil baca skrip dulu. Nanti aku benerin akting kalian kalau ada yang kurang.” Ucap Lia.


Setelah nerima skrip dari Lia, kami berdua mulai latihan akting.


“Ekspresi kamu kurang Mir. Terus gerakan nyerang kamu kurang garang. Di sini kamu meranin seorang cewek yang diubah kekasihnya yang ganteng jadi monster buas agar dia bisa jadi kaya. Jadi, setiap lihat cowok ganteng kamu bakal nyerang mereka.” Jelas Lia.


Mira mengangguk mengerti, kemudian kami lanjut latihan lagi.


Plakkk!!! Mira yang akting nyerang aku, tiba-tiba nampar pipiku lumayan keras.


“Aduh…” Rintihku. Mira yang ngelihat aku langsung panik dan minta maaf “Maafin gue, Ar. Gue beneran nggak sengaja mukul lo.”


“Nggak apa-apa kok, Mir. Kayaknya gue juga lagi kecapaian. Jadi gue nggak fokus buat hindarin lo waktu mukul tadi. Lia, kayaknya gue nggak bisa nerusin latihan hari ini deh.” Ucapku.

__ADS_1


“Ar, gue bener-bener minta maaf.” Ucap Mira ngerasa bersalah.


“Gue baik-baik aja kok, Mir. Lo nggak usah minta maaf terus.”


“Yah… padahal latihannya baru mulai. Kamu udah lumayan aktingnya, Ar. Tapi Mira masih kurang, butuh latihan lagi . Siapa ya yang bisa gantiin kamu buat latihan sama Mira? Yang lainnya pada sibuk nih, nggak ada yang bisa. Hmm... Kalau gitu nggak apa deh aku aja yang gantiin buat meranin Handsome Man-nya?” ucap Lia.


Tunggu… Lia bilang gantiin aku latihan sama Mira. Kalau gitu mending aku suruh Alan aja buat gantiin aku.


“Tunggu dulu. Kayaknya gue tau siapa yang bisa bantu gantiin gue buat latihan sama Mira.” Sahutku.


“Siapa?” tanya Lia.


“Bentar, gue telepon dia dulu.” Jawabku. Lalu aku telepon Alan dan nyuruh dia datang ke sini.


Lima menit kemudian, Alan datang. “Ada apa Ar?” tanyanya.


“Sini.” Panggilku. Kemudian Alan datang ngehampirin aku.


“Oh… dia yang bakal bantuin Mira latihan. Oke… Ini skripnya. Kamu meranin karakter Handsome Man.” Ucap Lia sambil ngasih Alan skrip dramanya.


“Hah… Aku bantuin Mira latihan drama? Aku nggak mau.” Tolak Alan.


“Ayolah Vin. Gantiin gue latihan sama Mira. Gue lagi nggak enak badan nih. Kalau gue baik-baik aja, gue juga nggak bakalan minta bantuan sama lo.” Pintaku.


“Huh… cuma kali ini ya. Habis itu aku nggak mau bantuin kamu latihan drama lagi.” Jawab Alan.


Aku mengangguk setuju. “Oke… sekarang kalian berdua mulai aktingnya.” Perintah Lia.


Alan dan Mira mulai beradu akting. Saat adegan Beast nyerang si Handsome Man, Mira nyerang Kelvin dengan ganas.


“Berhenti, Mir. Berhenti…” ucap Alan. Tapi Mira nggak hirauin ucapannya dan terus berusaha mukul dia.


Tepat saat Mira hampir berhasil mukul dia. Dia nangkap tangan Mira dan berkata “Kamu itu apaan sih Mir? Aku bilang berhenti tapi kamu terus-terusan mau mukul aku. Apa kamu mau balas dendam sama aku gara-gara biaya makan di restoran kemarin?”


Mira mengerucutkan bibirnya dan menjawab “Kenapa lo ngingetin gue soal itu sih? Kalau soal itu gue udah lupa. Gue cuma pengen dalemin karakter yang gue peranin aja kok.”


“Masa? Kalau gitu kamu pasti mau balas dendam gara-gara aku bikin badan kamu memar-memar?” balas Alan.


“Enggak kok.” Jawab Mira malingin wajahnya.


“Tuh kan. Kamu mau balas dendam.” Ucap Alan. Kemudian mereka berdua berantem.


‘Kayaknya enak nih kalau ngerjain Alan sekarang.’ Pikirku. Aku lalu pura-pura jalan ngelewatin mereka. Saat ngelewatin belakang Alan, ku dorong dia dan dia langsung jatuh di atas Mira.


“Aduh, Vin. Lo kenapa bisa tiba-tiba jatuh sih?” ucap Mira kesal.


“Nggak tau nih. Kayaknya waktu Arya lewat aku nggak sengaja kedorong sama dia.” Jawab Alan.


Sebelum Alan bangun, aku segera motret mereka berdua yang masih dalam posisi itu. Kemudian Alan bangun dan nolongin Mira berdiri.


Lia yang baru balik ke sini lagi sehabis pergi bantuin anggota klubnya, bertanya “Ada apa nih Ar? Kenapa ribut-ribut?”


“Mereka berdua tadi jatuh.” Jawabku.


“Kayaknya latihan hari ini sampai di sini dulu deh. Aku juga masih harus bantuin yang lainnya bikin properti. Kalian bertiga bisa pulang. Besok Mira sama Arya datang ke sini lagi ya buat latihan. Makasih udah mau bantuin kami?” ucap Lia.


Kami bertiga lalu pamit dan keluar dari ruangan. Mira katanya mau langsung pulang dan dia pergi ke tempat parkir buat ngambil motornya. Alan menuju ke mobilnya, katanya dia mau ketemuan sama pacarnya. Sedangkan aku duduk-duduk dulu di taman kampus dan mengirim foto Alan dan Mira waktu jatuh tadi ke grup chat kelasku.


HandsomeArya [«Send Photo» Hmmm…]


Bagus [Lo dapat foto itu dari mana?]


HandsomeArya [Lihat kejadiannya langsung dong. Terus gue foto.]


RatnaKamila [Itu yang pasangan baru itu kan? Yang ceweknya pernah digosipin ngerebut pacar orang tapi ternyata cuma salah paham aja?]


HandsomeArya [Iya, yang itu.]


Bagus [Tunggu… tunggu… Cowoknya itu Kelvin yang biasanya sama lo kan Ar? Yang kalau ketemu lo langsung peluk-peluk? Nggak nyangka ternyata dia sekarang udah punya pacar. Pakai mesra-mesraan kayak gitu lagi.]


RoniRon [Ya, ampun. Nggak nyangka si Kelvin bisa berbuat kayak gitu. Pakai tindih-tindih ceweknya di lantai lagi.]


HandsomeArya [Kita kan nggak tau sifat orang itu kayak apa. Kadang sifatnya di rumah sama di luar beda. Kadang sifatnya ke teman sama pacar beda. Ya, begitulah hidup.]


Bagus [Pakai sok bijak segala. Cuih…]


RoniRon [Iya nih. Itu jelasin diri lo sendiri ya?]


HandsomeArya [Udah ah. Kalian berdua nggak asyik. Ini yang lainnya mana lagi? Yang online cuma empat orang aja. Gue mau offline dulu ya kawan-kawan.]


Bagus [Pergi sana, hush…]

__ADS_1


Setelah ngakhirin chat di grup kelas, aku masukin handphoneku ke saku celana lalu pulang.


__ADS_2