
3rd POV
Pagi yang tenang di apartemen milik Kelvin. Hingga ketenangan itu hilang saat Kelvin berteriak marah-marah.
"MIR...BANGUN." teriaknya di samping tempat tidur Mira.
"Bentar Bun. Mira masih ngantuk." Jawab Mira.
"Ini udah jam tujuh lebih lima belas Mir. Sampai kapan lo mau tidur? Lo harus bersih-bersih sama masak."
"Ngapain Mira harus bersih-bersih sama masak Bun. Biasanya kan Bunda yang bersih-bersih sama masak. Mira cuma bersihin kamar Mira aja." Ucap Mira yang masih memejamkan matanya tanpa berniat untuk bangun.
"WOI... Mir. Gue Alan. Sekarang lo ada di apartemen gue buat kerja." Ucap Kelvin.
"Alan siapa sih? Aku nggak kenal." Kata Mira yang masih tidur.
Kelvin yang kesal mengambil segelas air dan menyiramkannya ke wajah Mira.
Mira hanya mengusap wajahnya yang terasa basah dan melanjutkan tidurnya.
Kelvin yang sudah tak bisa menahan amarahnya berjalan menuju kamar mandi dan mengisi air di bak mandi. Kemudian dia mengangkat tubuh Mira dan menceburkannya ke dalamnya.
"AAAAA... Tolong. Tolong." Teriak Mira yang langsung terbangun dari tidurnya.
"Apa-apaan sih Vin? Ganggu orang tidur aja." Makinya pada Kelvin.
"Lo itu gimana sih Mir? Lo disini itu kerja, kok malah gue yang bangunin lo. Sekarang udah mau setengah delapan. Lo cepetan bersih-bersih sama masak, gue laper. Gue juga ada jadwal kuliah jam setengah sembilan." ucap Kelvin.
“Iya. Sekalian gue mandi dulu. Ini badan gue udah basah semua.” Ucap Mira menunjuk tubuhnya yang basah.
Kelvin keluar dari kamar Mira dan menunggu di sofa sambil bermain handphone-nya. Beberapa menit kemudian Mira keluar dari kamarnya dan pergi menuju dapur untuk memasak.
“Vin, udah mateng makanannya.” Ucapnya memanggil Kelvin setelah selesai memasak.
Kelvin yang mendengar panggilan Mira segera pergi ke dapur dan mulai mengambil makanan di meja makan kemudian duduk dan memakannya.
“Gimana Vin? Enak kan?” tanya Mira.
“Lo pakai bumbu instan lagi buat masak telur balado ini?” tanya Kelvin balik.
“Enggak lah Vin. Kali ini gue buat bumbunya sendiri.” Jawab Mira bangga.
“Rasanya lumayan. Oh , iya. Habis ini lo harus bersih-bersih.” Sahut Kelvin.
“Nggak bisa Vin. Gue juga ada jadwal kuliah jam sembilan.” Elak Mira.
“Kan lo bisa nyapu aja. Lagian ruang apartemen ini nggak begitu luas. Sepuluh menit juga selesai. Lo nggak ingat ancaman gue soal potong gaji?” kata Kelvin.
“Iya deh. Iya.” Jawab Mira pasrah.
“Oh, Iya. Pulang kuliah nanti gue langsung pulang kerumah. Gue seminggu kedepan nggak bakalan ke sini. Lo jangan sampai lupa tetep harus bersih-bersih selama gue nggak ada.”
Mira hanya mengangguk dan dalam hatinya dia sangat gembira.
Mira POV
'Yes, Kelvin bakalan pergi seminggu. Aku jadi bisa tidur tanpa diganggu.' Batinku.
Setelah selesai mencuci piring dan menyapu apartemen Kelvin, aku segera ganti baju kemudian berangkat ke kampus.
Aku baru tau ternyata cuma butuh waktu sekitar sepuluh menitan dari apartemen Kelvin ke kampus.
Sesampainya aku di tempat parkir kampus, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku.
Saat aku menoleh kearahnya, ternyata itu Adit.
“Ngapain?” tanyaku padanya.
“Nggak ngapa-ngapain kok.” Jawabnya sambil tersenyum.
'Kenapa dia senyum-senyum ke aku?' Pikirku. Aku berusaha nggak mempedulikannya dan berjalan menuju kelas. Adit yang lagi jalan di sampingku tiba-tiba saja menggandeng tanganku.
“Lo ngapain gandeng-gandeng tangan gue?” Ucapku marah sambil berusaha ngelepasin genggaman tangan Adit.
Adit bukannya ngelepasin malah mempererat genggaman tangannya.
Saat Adit mau ngomong sesuatu, dari belakang kami seorang cewek memanggil Adit dan kami pun menoleh.
Dia berjalan mendekat dan sesampainya di depan kami si cewek itu pun marah dan memaki-maki. “Jadi ini alasan kamu mutusin aku, Dit. Lo itu perebut pacar orang ya. Apa nggak ada cowok lain jadi lo ngedeketin Adit waktu dia masih pacaran sama gue.” Ucapnya sambil menunjuk-nunjukku.
Aku yang mendengarnya hanya melongo keheranan. “Ini maksudnya apa ya? Kok jadi nyalahin gue.” Ucapku.
“Halah, Lo nggak usah sok polos deh. Gue tau lo ngedeketin Adit, padahal lo tau kan kalau dia pacaran sama gue.”
“Maaf ya, gue nggak ngerti maksud lo.” Balasku.
“Vivian, udah deh. Lo jangan ganggu gue sama Mira. Lagian gue juga udah mutusin lo. Jadi, hubungan kita udah berakhir.” ucap Adit.
“Kamu kok lebih pilih Mira dari pada aku sih Dit? Apa bagusnya Mira dari aku? Lihat penampilanya, masih cantikan aku Dit. Terus kata teman-teman kamu, dia juga sering tidur di kelas.” Ucap Vivian.
“Itu dia Vi. Gue suka Mira apa adanya. Dia nggak peduli omongan orang lain tentang dirinya. Dia selalu jadi dirinya sendiri. Contohnya aja yang lo sebutin tadi, dia tetap tidur di kelas walaupun banyak yang ngomongin.”
‘Kalian lagi berantem atau ngehina aku sih.’ Batinku. Aku mutusin buat jongkok sambil ngelihat pertengkaran mereka berdua.
“Kamu ngapain jongkok disini?” ucap seseorang di belakangku dan saat aku menoleh itu adalah Mr. Eric salah satu dosen pengajarku.
“Itu Mr. Eric. Saya sedang lihat drama.” Jawabku sambil menunjuk Adit dan Vivian.
“Kamu dan dia bukannya harus ikut kelas saya sekarang?” Tanya Mr. Eric.
Aku yang baru sadar kalau Mr. Eric adalah dosen pengajar hari ini, segera berdiri dan minta maaf. “Maaf, Mr. Eric. Saya akan segera ke kelas.” Ucapku.
__ADS_1
“Kalian berdua kenapa bertengkar disini? Apa kalian tidak malu dilihat banyak orang?” Ucap Mr. Eric.
Adit dan Vivian yang dengar perkataan Mr. Eric segera menoleh. Karena malu ditegur oleh seorang dosen, Vivian hanya minta maaf dan pergi ke gedung fakultasnya. Sementara Adit juga minta maaf dan ngikutin aku jalan menuju kelas.
Sesampainya di kelas kami langsung duduk. Beberapa saat kemudian Mr. Eric masuk ke kelas. “Hari ini kalian maju satu persatu mempresentasikan jawaban dari pertanyaan yang saya berikan dua minggu lalu. Saya beri waktu kalian lima menit saja untuk menyampaikannya.” Ucap beliau.
‘Tugas??? Tugas apa aku nggak ingat’ batinku. “Dit, emangnya ada tugas apa?” tanyaku pada Adit yang duduk di sampingku.
“Lo nggak ngerjain Mir? Tugas dua minggu lalu, yang kita disuruh jawab pertanyaan dan kita juga harus nyebutin referensinya dari mana.” Jawab Adit.
“Pertanyaannya apa?”
“Pertanyaannya kan beda-beda tiap orang. Gue nggak tau lo dapat pertanyaan apa.”
“Gue lupa nggak ngerjain, Dit. Gimana dong? Gue juga nggak ingat dapat pertanyaan apa.” Ucapku panik.
“Oh.. gue inget. Gue catat pertanyaannya di buku catatan gue yang satunya. Tapi sekarang nggak gue bawa.” Kataku.
“Apa ada yang tidak mengerjakan tugas saya?” tiba-tiba saja Mr. Eric bertanya.
Aku bingung apakah aku harus mengaku atau enggak. Akhirnya aku mutusin buat mengaku aja dan mengacungkan tanganku. “Maaf Mr. Eric saya tidak mengerjakan tugas.” Kataku jujur.
“Kamu itu bagaimana? Apa kamu tidak niat untuk kuliah? Masih banyak yang ingin kuliah tapi tidak bisa. Kamu diberi tugas sedikit saja tidak dikerjakan.” Ucap Mr. Eric marah.
“Maaf” Aku hanya bisa ngucapin maaf aja.
“Karena sekarang kamu nggak mengerjakan. Sebagai gantinya besok kamu harus presentasi ke saya di ruang dosen.” Kata beliau.
“Baik. Mr. Eric.” Jawabku.
“Makanya kayak gue dong Mir, selalu ngerjakan tugas.” Ucap Adit membanggakan diri.
“Nih, lihat. Eh… tugas gue dimana ya? Perasaan tadi gue masukin di tas.” Aku ngelihat Adit membongkar tasnya dan dia sama sekali nggak nemuin lembar tugasnya.
“Kayaknya nggak gue masukin ke tas. Aduh… gimana nih.”
“Ya sekarang giliran Galang Aditya. Silahkan maju ke depan.” Panggil Mr. Eric mempersilahkan.
Adit cuma bisa pasrah dan berkata “Maaf, Mr. Tugas saya ketinggalan di rumah.”
“Kamu juga sama saja. Pakai alasan tugas ketinggalan. Bilang saja kamu tidak mengerjakan tugas dari saya.” Ucap Mr. Eric marah.
“Tapi tugas saya benar-benar ketinggalan.” Sanggah Adit.
“Sudah, tidak perlu banyak alasan. Pokoknya besok kalian berdua datang ke kantor dosen menemui saya dan presentasi disana.”
“Ciie… romantis banget sih. Pakai dihukum bareng segala.” Ucap tukang gosip kelas Rian dengan suara keras sampai kedengaran satu ruangan. Ngomong-ngomong Rian itu cowok tapi suka ngegosipin orang.
“Sudah… sudah, kalian semua diam.” Ucap Mr. Eric dan beliau pun ngelanjutin manggil satu persatu mahasiswa lainnya buat presentasi.
“Dit, maksud lo apaan sih tadi pagi gandeng tangan gue? Terus pacar lo juga marah-marah ke gue.” Tanyaku setelah kelas berakhir.
"Emangnya kenapa lo putus sama dia? Bukannya dulu lo yang ngejar-ngejar dia?" Tanyaku.
"Ya... itu kan dulu waktu gue nggak tau dia sifatnya kayak apa. Sekarang gue ogah. Masa gue cuma satu kelompok sama cewek, dia selalu marah-marah. Terus dia nggak ngebolehin gue kerja kelompok bareng. Kan tugas gue jadi nggak selesai dan nggak dapat nilai." jelasnya.
“Tapi gara-gara tadi reputasi gue di kampus jadi jelek kan.”
“Emangnya reputasi lo di kampus bagus apa? Enggak kan.” Katanya.
“Kurang ajar lo Dit. Pokoknya kalau sampai gue dicap jelek. Itu tanggungjawab lo.” Kataku mengancamnya.
“Iya… iya, Mir. Sebagai rasa terimakasih gue ke lo. Besok gue traktir.”
“Beneran kan? Lo nggak bohong?” tanyaku.
“Iya" jawabnya.
Aku pun pulang ke apartemen Kelvin dan segera mengerjakan tugas dari Mr. Eric. Setelah itu aku bisa bersantai dan langsung tidur karena nggak ada Kelvin disini.
*********
Keesokan harinya aku pergi ke kampus walaupun nggak ada jadwal kuliah karena harus presentasi ke Mr. Eric di ruang dosen.
Di depan ruang dosen aku ketemu Adit yang lagi ngintip di jendela luar ruang dosen.
“Woi…” sapaku padanya.
“Apaan sih Mir. Ngagetin aja.”
“Lo ngapain?” tanyaku.
“Di dalem banyak dosen Mir. Lo presentasi duluan aja.” Jawabnya.
“Enak aja. Lo kan sampai duluan. Jadi lo duluan yang presentasi.” Ucapku.
Kami pun berdebat siapa yang harus presentasi duluan sampai pintu di sampingku terbuka dan Mr. Eric muncul dari dalam ruangan.
“Kalian ayo cepat presentasi. Lima belas menit lagi saya ada rapat” ucap beliau.
“Lo duluan Mir.” Ucap Adit.
“Lo aja yang duluan.” Balasku.
“Jangan berdebat. Kalian berdua masuk sama-sama saja" kata Mr. Eric.
Aku dan Adit masuk ke ruangan dan disini benar-benar banyak dosen. Aku dapat giliran presentasi pertama.
Setelah kami berdua selesai presentasi, aku menagih janji traktiran dari Adit. “Katanya lo mau traktir gue. Lo mau traktir gue ke mana?” ucapku antusias.
“Gue traktir lo dikantin aja ya Mir. Duit gue tinggal dikit belum dikasih.” Ucapnya.
__ADS_1
“Padahal gue mau pesan makanan yang paling mahal kalau lo traktir gue di luar.”
“Enak aja lo mau pesan makanan mahal. Kita ke kantin aja Mir. Ayo!” ajaknya.
Aku cuma mendengus kesal dan berjalan ngikutin Adit. Nggak lupa aku chat sahabatku buat ke kantin juga kalau selesai kuliah.
Adit POV
“Nggak bisa Mir, lo pesan satu aja.” Tolakku saat Mira mau pesan empat macam makanan.
“Tapi Dit, lo kan udah janji traktir gue dan gue maunya empat macem.”
Dari pada debat sama Mira yang nggak selesai-selesai akhirnya aku bilang “Oke. Lo boleh pesan empat macem tapi lo pesan yang paling murah. Kalau lo nggak mau, gue bakalan bayar setengahnya aja”.
Mira akhirnya setuju dan dia pesan siomay, sosis bakar, pempek, kue putu, dan bakso.
“Lo kok pesan lima Mir? Kata lo Cuma pesan empat.” Tanyaku saat ngelihat dia pesan lima macam makanan.
“Baksonya gue yang bayar sendiri.” Jawab Mira.
'Ini anak makannya banyak banget' batinku. Selesai pesan, aku dan Mira nyari tempat duduk sambil nunggu pesanan dianterin.
Beberapa menit kemudian, pesanan kami sudah diantar. Mira segera ngambil semangkuk baksonya dan aku makan mie ayam pesananku. Kulihat ada saus tomat yang muncrat ke dagu Mira saat dia lagi nambahin saus ke baksonya.
“Mir ada saus di dagu lo".
“Mana sih. Nggak ada.” Ucapnya sambil ngelap dagunya.
“Sini Mir gue tunjukin.” Ucapku sambil ngelap dagunya pakai tisu. “Disini Mir".
“Ehem…. Kalian berdua ngapain?” ucap Safira dari belakang Mira.
Mira yang dengar suara temannya menoleh dan nyuruh temannya duduk dan makan.
“Safira, Devi, sini duduk. Cicipin nih makanannya, ini Adit yang traktir”.
“Traktiran buat apa? Kalian jadian?” tanya Safira.
Aku yang lagi makan mie ayam hampir aja tersedak dengerin pertanyaan Safira.
“Apa? Enggak lah Fir. Ini traktiran karena gue udah bantuin Adit.” Jawab Mira.
“Sophie mana?” tanya Mira.
“Hari ini dia nggak ada jadwal kuliah. Lo nggak baca balasan chat di grup?” jawab Safira.
“Hehehe… enggak.”
Aku ngelanjutin makan sambil dengerin mereka bertiga asyik ngobrol.
Setelah mie ayamku habis aku pamitan sama mereka dan langsung pulang.
“Lain kali nggak bakalan minta bantuan lagi sama Mira.” Gerutuku.
3rd POV
Seminggu kemudian…
Hari ini Kelvin kembali ke apartemennya dan dia mendapati apartemennya dalam keadaan berantakan. Lantai dan meja yang penuh debu, pakaian yang belum disetrika, serta beberapa piring yang belum dicuci.
“MIRA… lo dimana?” teriaknya. Mira yang baru selesai mandi bergegas keluar dari kamarnya.
“Apaan sih Vin. Pakai teriak-teriak segala?” ucap Mira.
“Lo ngapain aja seminggu ini? Kenapa apartemen gue berantakan semua?” tanya Kelvin.
“Kuliah. Terus nyuci baju, ngerjain tugas, lalu tidur.” Jawab Mira.
Kelvin yang mendengar jawaban Mira jadi kesal “Cuma cuci baju doang? Yang lainnya nggak lo kerjain?”
“Gue sibuk Vin.” Jawab Mira.
“Sibuk ngapain? Tidur? Gue nggak mau tau. Pacar gue mau kesini nanti sore. Lo beresin semuanya sekarang.” Perintah Kelvin.
“Iya. Gue beresin sekarang" ucap Mira malas.
Mira mulai membersihkan ruang tamu, setelah itu dia menyetrika baju yang dia taruh seenaknya di meja setrika. Sekitar pukul empat pacar Kelvin datang. Kelvin dan pacarnya asyik berduaan di ruang tamu, sementara Mira dari tadi belum selesai membersihkan dapur.
“Itu siapa? Adik kamu?” tanya pacar Kelvin yang tidak sengaja melihat Mira di dapur.
“Bukan. Dia tukang bersih-bersih.” Jawab Kelvin.
Kemudian mereka berdua lanjut mengobrol.
“Apa ini?” ucap Mira saat menemukan sesuatu yang berwarna kecoklatan di bawah meja makan.
Dia kemudian menyentuhnya. Ternyata sesuatu yang disentuh Mira adalah beberapa ekor kecoa dan salah satu kecoa itu mulai terbang. Mira yang kaget segera berlari.
“Selamatkan diri kalian” teriaknya berlari menuju kamar dan menutup pintunya. Sang kecoa pun terbang ke arah ruang tamu. Kelvin yang mendengar teriakan Mira menoleh ke arah dapur dan melihat ada seekor kecoa yang sedang terbang ke arahnya. Dia sangat takut dan mulai berlari masuk ke kamarnya tanpa mempedulikan pacarnya.
“Kamu kok ninggalin aku gitu aja sih. Kamu ngeselin banget. Pokoknya sekarang kita putus.” Teriak pacar Kelvin dari ruang tamu dan dia berjalan keluar apartemen.
Beberapa saat kemudian, Mira dan Kelvin keluar dari kamar mereka.
“Gara-gara lo nih Mir. Gue jadi diputusin pacar gue.” Maki Kelvin.
“Kok gara-gara gue sih. Itu kan salah lo sendiri ninggalin dia gitu aja. Harusnya lo itu gandeng tangannya terus ajak dia sembunyi juga di kamar lo.” Ucap Mira.
“Pokoknya ini salah lo. Kalau lo bersih-bersih tiap hari pasti nggak gini kejadiannya.” Kata Kelvin kesal dan berjalan keluar dari apartemen.
Mira hanya bisa mendengus kesal dan melanjutkan membersihkan dapur dengan diiringi teriakan karena masih banyak kecoa lain disana.
__ADS_1