
3rd POV
Setelah menginap di apartemen Kelvin selama sehari, mama Dinar pun pulang. Sedangkan Kelvin yang masih kesal langsung mengurung diri di kamar dan bolos kuliah.
“Vin, sarapannya gue taruh di meja makan. Gue mau berangkat kuliah sekarang.” Teriak Mira dari luar kamar Kelvin.
Mira segera berangkat ke kampus tanpa mempedulikan jawaban dari Kelvin yang mengurung diri di kamarnya.
Sesampainya di kampus, Mira segera memarkirkan motornya dan berlari menuju kelas karena dia sudah terlambat 5 menit di kelas pak Bono.
Dia masuk ke kelas dan mengucapkan salam ke pak Bono “Selamat pagi Pak”.
“Kamu itu selalu terlambat di kelas saya. Apa kamu tidak suka sama mata kuliah ini atau cara saya mengajar? Kalau kamu terus-terusan seperti ini, bisa-bisa kamu tidak lulus di mata kuliah yang saya ajarkan.” Ucap pak Bono marah.
“Maaf, Pak.” Ucap Mira.
“Kamu itu sama saja seperti anak laki-laki saya. Cuma bilang maaf kalau ada salah, tapi nyatanya terus diulangi lagi dan lagi. Lama-lama saya jodohkan kamu sama anak saya. Sekarang kamu duduk.” Ucap pak Bono kesal.
Mira duduk di bangku kosong di sebelah Adit. Tak lama kemudian Adit berbisik “Mir, mending lo jangan pernah terlambat lagi di kelas Pak Bono. Kasihan banget anaknya kalau dijodohin sama lo yang pemalas.”
“Sialan lo, Dit.” Ucap Mira sambil mencubit pinggang Adit.
“AUUWWWW…” teriak Adit.
Pak Bono menoleh ke arah mereka berdua. “Kalian berdua sedang apa? Apa kalian mau saya keluarkan dari kelas?”
“Maaf, Pak.” Ucap Adit dan Mira bersamaan.
“Mereka berdua pacaran Pak. Mereka sering mesra-mesraan seperti itu.” Ucap Rian.
Pak Bono memandang mereka berdua dengan raut wajah penasaran. “Tidak, Pak. Kami berdua tidak pacaran.” Ucap Mira menjelaskan.
“Halah… Cuma alasan aja.” Ucap Rian.
“Sudah, kalian bertiga diam.” Kata pak Bono.
Tak ada yang berani bersuara selama pak Bono mengajar karena takut kena marah. “Saya akan beri kalian tugas kelompok. Satu kelompok terdiri dari dua orang. Sekarang kalian tulis nama anggota kelompoknya dan kumpulkan ke saya. Untuk tugasnya dikumpulkan minggu depan dan bagi yang tidak mengumpulkan akan saya beri nilai C.” ucap pak Bono sebelum mengakhiri kelas hari ini.
“Nis… Nis, lo satu kelompok sama gue ya!” pinta Adit pada Dannis.
“Nggak bisa Dit. Gue satu kelompok sama pacar gue Shelli.” Jawab Dannis.
“Lo jahat Nis. Lo lebih mentingin pacar lo.”
“Biasanya lo juga lebih mentingin pacar lo daripada gue.” Balas Dannis.
Adit pun ganti bertanya pada mahasiswa yang duduk di belakangnya. “Lo mau nggak satu kelompok sama gue?”
“Nggak, gue udah buat kelompok. mending lo buat kelompok sama Mira.” Saran mahasiwa tersebut.
“Gue nggak mau satu kelompok sama Mira. Lo tau sendiri kan kalau dia itu pemalas. Dia selalu lupa kalau dapat tugas. Gue nggak mau nilai gue C.” jelas Adit.
“Terserah lo lah.” Ucap mahasiswa yang duduk di belakang Adit.
Adit terlihat kebingungan mencari anggota kelompok, berbeda dengan Mira yang santai saja meskipun dia masih belum mendapatkan kelompok.
“Apakah semuanya sudah mengumpulkan?” tanya pak Bono.
“Saya belum dapat kelompok Pak.” Ucap Adit sambil mengangkat tangan.
Mira juga mengangkat tangannya tapi tak mengatakan apapun.
“Tinggal kalian berdua. Jadi kalian satu kelompok.” Ucap pak Bono.
“Hah. Maaf Pak saya tidak mau satu kelompok sama dia. Apa bisa ditukar?” tanya Adit tak setuju.
“Sudah jangan banyak protes. Saya mengajar kelas lain setelah ini. Baik, kita akhiri sesi perkuliahan hari ini.” Ucap pak Bono dan kemudian beliau keluar dari kelas.
Mira menoleh dan menatap Adit, kemudian dia tersenyum. “Ngapain lo senyum-senyum ke gue?” tanya Adit.
“Lo kerjain ya Dit! Gue cuma numpang nama aja.” Ucap Mira.
“Enak aja. Lo juga harus ikut ngerjain. Kalau lo nggak bantuin, gue nggak bakal nulis nama lo di tugas dan gue bakal bilang ke pak Bono.”
Mira memasang muka cemberut dan menjawab “Oke… oke gue bantu.”
“Nah… Karena hari ini hari rabu, kita kerja kelompoknya hari sabtu aja. Lo mau tempatnya dimana? Di rumah lo?” tanya Adit.
“Terserah.” Jawab Mira. ‘Tunggu… tunggu. Kalau kerja kelompok di rumahku, berarti kita kerja kelompoknya di apartemen Kelvin dong. Kan sekarang aku tinggal di sana. Nanti kalau Adit tau aku tinggal sama cowok, dia bakalan nyebarin ke anak-anak kampus. Terus nanti Kelvin tau dan gajiku bakalan dipotong.’ Pikir Mira.
“Eh… Dit. Di rumah lo aja deh kerja kelompoknya.”
“Hah… di rumah gue? Kenapa nggak jadi di rumah lo? Tadi kan lo setuju.” Ucap Adit.
“Tadi gue lupa. Hari sabtu orang tua gue katanya mau ke rumah tante gue. Nanti nggak enak sama tetangga kalau cuma kita berdua di rumah. Atau kalau lo nggak mau kerja kelompoknya di rumah lo, kita bisa nyari tempat buat kerja kelompok di luar.” Jawab Mira.
Mendengar perkataan Mira, Adit berpikir ‘Kalau kerja kelompok di luar, nanti pasti Mira beli banyak makanan dan pasti aku yang disuruh bayar. Mending kerja kelompok di rumah aja kalau gitu.’
“Di rumah gue aja Mir. Hari sabtu selesai kuliah langsung ke rumah gue.”
Mira menganggukkan kepalanya setuju. Setelah selesai mengikuti mata kuliah berikutnya, dia bergegas untuk pulang. “Mira…” terdengar suara seseorang yang memanggilnya.
Mira menoleh kearah kantin dan melihat Sophie. Dia menghampiri Sophie dan bertanya “Lo kenapa belum pulang Soph?”
“Gue sama temen-temen kelas lagi diskusi buat acara liburan bareng. Oh, iya Mir. Gue mau ngomong sama lo. Lo tungguin gue dulu Mir. Ini mau selesai kok.” Ucap Sophie.
Mira mengangguk dan memutuskan untuk tak langsung pulang. Dia pun duduk menunggu Sophie.
“Maaf Mir lama.” Ucap Sophie.
“Mau ngomongin apa Soph?”
“Besok gue main ke rumah lo ya. Gue udah lama nggak main ke rumah lo. Lo nggak kemana-mana kan?”
Mira berpikir sejenak, dia ingat belum menceritakan kepada sahabatnya kalau dia mendapat hukuman harus bekerja menjadi asisten rumah tangga.
__ADS_1
“Maaf, Soph. Gue lupa belum cerita ke kalian. Sebenarnya…” Mira menceritakan bagaimana dia dihukum orangtuanya dan sekarang dia harus bekerja sebagai asisten rumah tangga.
“Hahaha… kok bisa. Jadi sekarang lo tinggal di apartemen milik anaknya teman ayah lo?” ucap Sophie sambil tertawa.
“Iya.” Jawab Mira singkat.
“Gue jadi penasaran gimana tempat tinggal lo sekarang. Besok gue main kesana ya?” pinta Sophie.
“Tapi Soph, gue nggak tau dia ngebolehin lo dateng ke sana atau enggak.”
“Lo tanyain deh nanti. Nanti jangan lupa chat gue ya!” Ucap Sophie. Mereka berdua duduk di kantin dan lanjut mengobrol hal lain.
*********
Setelah mengobrol dengan Sophie, Mira segera pulang. Saat masuk ke apartemen, Mira melihat Kelvin duduk di ruang tamu sambil memandangnya tajam.
“Dari mana aja lo?” tanya Kelvin.
“Dari kampus, kuliah. Emangnya kenapa?” balas Mira.
“Sekarang udah jam tiga. Bukannya pulang kuliah paling siang jam satu?”
“Terserah gue mau pulang jam berapa. Kok lo marah ke gue sih.”
“Lo harusnya langsung pulang, terus masak buat gue. Sekarang cepetan lo masak! Gue lapar.” perintah Kelvin.
“Lo kan bisa beli atau pesan makanan. Ngapain lo nungguin gue pulang buat masakin lo?” tanya Mira.
“Pokoknya cepetan sekarang lo masak!”
Mau tak mau Mira harus mengerjakan perintah Kelvin. Setelah meletakkak tasnya di kamar, dia mulai memasak.
“Nih, lo makan!” Ucap Mira sambil meletakkan makanan di meja makan.
Kelvin mulai memakan makanan yang di masak Mira. Mira pun duduk di hadapan Kelvin dan bertanya “Vin, teman gue mau main kesini. Boleh ya?”
“Nggak.” Jawabnya.
“Ayolah Vin! Boleh ya. Boleh!”
“Gue bilang enggak ya enggak.” Jawab Kelvin marah.
“Gue janji bakal traktir lo kalau gue udah dapat gaji pertama. Boleh ya Vin?” ucap Mira.
Kelvin berpikir sejenak dan memutuskan untuk menyetujuinya. ‘Lumayan kan dapat traktir dari Mira. Nanti aku bisa beli sesuatu yang mahal atau banyak. Hehehe…' pikir Kelvin.
“Oke, lo boleh bawa teman lo kesini. Tapi lo harus panggil gue Alan waktu teman lo ada disini. Jangan panggil gue Kelvin. Dan satu lagi, kalau sampai lo ceritain tentang gue sama teman-teman lo, gue bakal potong gaji lo.” Ucap Kelvin.
“Oke, gue setuju.”
Mira kemudian memberi tahu Sophie kalau besok dia boleh datang ke apartemen.
*********
Keesokan harinya…
“Iya. Kemarin Mira kasih tau gue alamat sama nomor apartemennya.” Jawab Sophie.
“Tapi kok dari tadi si Devi mencet bel nggak ada yang keluar bukain pintu?” tanya Safira lagi.
“Mana gue tau.” Jawab Sophie kesal karena Safira bertanya terus.
Devi memencet bel berkali-kali hingga akhirnya ada yang membuka pintu.
“Siapa sih pencet-pencet bel terus? Ganggu istirahat gue aja.” Ucap Kelvin membukakan pintu dengan hanya memakai kaos putih polos dan boxer berwarna pink bermotif bunga-bunga.
Ketiga sahabat Mira memandang pria tampan yang ada di hadapan mereka. Hingga akhirnya Sophie berkata “Kelvin?”.
Kelvin menatap tajam Sophie dan berteriak “Mir, gaji lo gue potong.”
Mira yang berada di dapur segera berlari menghampiri Kelvin. “Kenapa lo tiba-tiba mau motong gaji gue?” tanyanya.
“Lo cerita tentang gue ke teman-teman lo.” Jawab Kelvin.
“Gue nggak pernah cerita ke siapapun.” Ucap Mira membela diri.
“Kalau bukan lo yang cerita, terus siapa? Kucing? Jelas-jelas tadi si Sophie manggil gue Kelvin padahal gue lagi berpenampilan kayak gini.” Ucap Kelvin sambil menunjukkan pakaiannya.
Mira dan Kelvin mulai bertengkar di depan pintu. Sedangkan ketiga teman mereka cuma bisa terdiam menyaksikan pertengkaran mereka.
“Eh… Kalian berdua bisa berhenti berantem nggak?” ucap Sophie memisahkan mereka berdua.
“Gue beneran nggak cerita sama siapapun.” Ucap Mira.
“Lo…” Sebelum Kelvin membalas ucapan Mira dan memulai pertengkaran lagi Sophie berkata “Mira nggak cerita apapun ke gue. Gue tau sendiri. Apa lo lupa kalau kita sekelas waktu SMP?”
“Tapi teman-teman gue waktu SMP bahkan SMA, nggak tau kalau gue itu Kelvin kalau gue berpenampilan kayak gini.” Ucap Kelvin.
“Jangan samain gue sama mereka ya. Ingatan gue lebih tajam.” Ucap Sophie membanggakan diri.
“Gue juga. Waktu pertama ketemu langsung tau.” Sahut Mira.
“Apaan yang langsung tau? Lo panggil gue mas waktu pertama kali ketemu.” Balas Kelvin.
“Ya wajar lah. Terakhir kali gue ketemu lo waktu masih SD. Tapi setelah itu gue tau kan.” ucap Mira.
“Kalau bukan karena lo panggil gue banci, lo juga nggak bakalan tau.” Balas Kelvin lagi.
“Udah ah. Gue capek berantem sama lo. Ayo, kalian bertiga masuk!” ajak Mira.
“Ini kan apartemen punya gue. Kenapa lo bertingkah kayak apartemen ini punya lo?”
“Terserah gue lah. Gue mau apa. Ayo, kalian bertiga masuk! Kalian nggak usah peduliin dia.” ucap Mira kesal.
Mereka berempat masuk ke dalam ruangan meninggalkan Kelvin yang masih berdiri di depan pintu.
__ADS_1
Kelvin yang kesal masuk dengan membanting pintu. Kemudian dia duduk di ruang makan sambil memperhatikan Mira dan ketiga sahabatnya yang sedang duduk di ruang tamu.
“Bentar, ya. Gue ambilin minum sama camilan dulu.” Pamit Mira pada sahabatnya.
Mira pun menuju dapur dan mengambil minuman. Saat dia mau mengambil camilan, Kelvin berkata “Jangan ambil disitu. Itu punya gue.”
“Lo pelit amat sih. Nanti gue ganti.” Ucap Mira.
“Nggak. Lo beli aja sendiri.”
Mira yang kesal akhirnya keluar dari dapur cuma membawa minuman saja. “Gue mau ke supermarket di belakang apartemen. Kalian mau ikut?” tanya Mira.
“Gue ikut Mir.” Ucap Safira.
Safira ikut Mira pergi ke supermarket sedangkan Sophie dan Devi memilih untuk tak ikut. Saat berjalan menuju supermarket Safira bertanya “Tadi gue lihat Kelvin lagi ngemil. Kenapa sekarang lo harus beli? Apa udah dihabisin Kelvin camilannya?”
“Masih ada Fir. Dia itu pelit. Gue tadi cuma mau ambil sedikit aja nggak dibolehin. Padahal nanti juga gue ganti.” Jawab Mira. Safira merespon jawaban Mira dengan anggukan.
Sekitar 20 menit kemudian, keduanya sudah kembali berada di apartemen.
“Ini camilannya kalian makan.” Ucap Mira mempersilahkan.
“Eh, Mir. Apa lo nggak ngerasa gimana gitu waktu tinggal sama Kelvin?” tanya Devi tiba-tiba.
“Ngerasa gimana? Maksudnya? Gue nggak ngerti.” Mira balik bertanya karena bingung.
“Kan sekarang lo tinggal sama cowok. Apa lo nggak ngerasa malu atau canggung gitu?” jelas Devi. Sophie dan Safira juga tertarik mendengar jawaban Mira.
“Oh, enggak.” Jawab Mira.
“Bahkan waktu Kelvin pakai pakaian kayak tadi lo juga nggak canggung?” tanya Safira.
“Enggak. Pertama kali gue kesini dia juga pakai pakaian kayak gitu.”
“Kok lo aneh si Mir. Biasanya cewek kan ngerasa canggung kalau tinggal bareng cowok. Apalagi Kelvin kelihatan lumayan kalau berpenampilan kayak gitu.” Ucap Devi sambil memandang Kelvin.
“Entah. Mungkin karena itu Kelvin, jadinya gue biasa aja.” Jawab Mira.
“Maksudnya lo biasa aja karena ngerasa nyaman sama dia?” tanya Sophie.
“Ngerasa nyaman apaan? Maksudnya gue pengen mukul sama nendang dia jadi gue nggak canggung atau malu. Habisnya dia ngeselin banget sih.” Ucap Mira keras.
“Lo mau apa Mir? Mukul sama nendang gue? Emang lo bisa? Gulat sama gue aja kalah.” Sahut Kelvin dari ruang makan.
“Gulat? Lo gulat sama Kelvin, Mir?” tanya Sophie kaget.
“Dia pengen tau lebih kuat mana dia atau gue. Jadi, dia narik gue dan jatuhin gue ke lantai. Padahal gue udah nolak. Lihat nih gara-gara dia lengan sama pinggang gue memar.” Ucap Mira sambil menunjukkan lengannya yang masih menghitam.
“Astaga, Mir. Dia emang keterlaluan banget.” Ucap Sophie.
Mira mengangguk setuju.
“Terus yang lo bilang terakhir kali ketemu Kelvin waktu masih SD itu gimana?” tanya Devi yang masih penasaran.
“Gue juga baru tau itu dari Arya. Kelvin itu ternyata sepupunya Arya dan dulu waktu kecil kita bertiga sering main bareng. Gue nggak begitu ingat sih. Tapi, dulu Kelvin ngira nama gue Amir. Kan ngeselin.” Jelas Mira.
Mereka bertiga tertawa mendengar cerita Mira.
“Jadi Kelvin sama Arya tetangga lo itu masih sepupuan. Gue baru tau. Makanya mereka dekat banget.” Ucap Sophie.
Mereka berempat saling bercerita dan mengobrol hingga tak terasa sudah hampir jam lima sore.
“Udah jam segini nih. Gue harus pulang.” Ucap Safira.
“Iya. Gue juga.” Sahut Devi.
“Tolong lo panggilin Kelvin Mir. Kami bertiga mau pamit. Nggak enak kalau nggak pamit sama tuan rumah.” Ucap Sophie.
Mira mengangguk dan pergi mengetuk pintu kamar Kelvin. “Vin teman-teman mau pamit.” Panggilnya.
Kelvin keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang tamu.
“Eh… Vin. Kami bertiga pamit pulang dulu ya.” Ucap Devi sambil tersenyum.
“Jangan cerita sama siapapun tentang rahasia gue! Awas aja kalian kalau cerita.” Ancam Kelvin. Sophie, Safira, dan Devi mengangguk.
Mira mengantar ketiga sahabatnya keluar. Saat menoleh dan melihat Devi yang sedang berjalan di sampingnya sambil tersenyum, dia bertanya “Dev, lo naksir Kelvin?”
Devi yang mendengar pertanyaan Mira tidak menjawab melainkan cuma tersenyum menatapnya.
“Kami pulang dulu ya.” Pamit mereka bertiga.
“Hati-hati di jalan.” Jawab Mira. Setelah ketiga sahabatnya pulang Mira berjalan kembali menuju apartemen Kelvin.
********
Di kamar Devi…
Devi memandang laptopnya sambil tersenyum lebar.
Di layar laptopnya terpampang sebuah komik. Dan sekarang dia sedang membaca komentar-komentar di dalamnya.
LalaAkira [Wah… plot twistnya keren]
LittleKoiPrincess [Hmm…]
IchigoAi [Wah… author komiknya keren banget kalau buat cerita. Gambarnya juga bagus]
AnakAyamImut [Nggak nyangka ternyata Ariya yang deket sama Elvin itu cuma sepupunya. Terus penampilan Elvin yg biasanya ternyata cuma penyamaran. Dan waktu Elvin ngajakin Amir gulat buat deketin dia imut banget.]
PerwakilanParaPembaca [Updatenya tiap hari thor. Kami butuh lebih…]
TsukiNoMegami(Author) [Terimakasih sudah membaca komik ini. Tunggu update selanjutnya ya!]
“DEVI WULAN SARI… sampai kapan kamu mau di kamar? Cepat keluar dan makan malam! Ibu sama ayah nungguin kamu nih.” Terdengar suara laki-laki yang memanggil dari luar kamar Devi.
__ADS_1
“Iya… iya. Aku keluar.” Jawab Devi. Kemudian dia keluar dari kamar dan makan malam bersama keluarganya.