
Mira POV
Sekarang hari minggu dan Kelvin nyuruh aku buat belanja. Jadi disinilah aku, di supermarket belakang apartemen sama Kelvin.
**Flashback
“Mir, lo pergi belanja sana. Ada supermarket di belakang apartemen. Jadi lo nggak perlu belanja jauh-jauh.” Ucap Kelvin.
“Gue belanja sendiri?” Tanyaku.
“Iya lah. Emang sama siapa lagi?” tanyanya.
“Tapi gue nggak ngerti mau belanja apa.”
“Belanja bahan-bahan makanan lah. Lo bisa beli apa aja yang bisa lo masak. Jangan lupa camilan sama barang-barang yang lainnya” Perintahnya.
“Gue nggak ngerti lo mau beli camilan sama barang apa. Mending lo ikut deh.” Kataku.
“Lo nyuruh-nyuruh gue?” jawabnya.
“Ini saran Vin... saran.”
“Iya, gue ikut. Lo jangan panggil gue Kelvin, panggil gue Alan.” Ucapnya.
“Ya udah. Ayo.” Ajakku.
Flashback end **
“Jadi lo mau beli apa?” tanyaku saat masuk ke supermarket.
“Lo sekarang belanja bahan makanan aja. Gue mau lihat-lihat dulu. Nanti kita ketemuan di kasir.” Ucap Kelvin.
Aku cuma ngangguk dan mulai ngambil bahan-bahan makanan. Setelah aku selesai, aku nunggu Kelvin di dekat kasir tapi udah lima belas menit dia nggak datang-datang juga. Akhirnya aku mutusin buat nyari dia.
Aku mengitari supermarket dan nemuin Kelvin di bagian perlengkapan mandi sama seorang nenek.
Aku menghampiri mereka dan ku dengar nenek tersebut berkata “Wah... belanja sama istrinya ya? Nenek jadi ingat waktu muda dulu sama suami suka belanja bersama. Sekarang suami nenek sedang sakit.”
“Bukan Nek. Bukan sama istri tapi sama ART.” Jawab Kelvin.
“Iya. Kamu sayang sekali sama istrimu.” Ucap nenek.
“Ada apa Lan?” tanyaku.
“Oh. Ini istri kamu? Cantik, kalian berdua cocok sekali.” Ucap nenek menyela. Aku yang dengar nenek bilang cantik ngerasa senang.
“Bukan, Nek. Saya cuma kerja di tempatnya dia.” Jawabku ngejelasin dengan suara agak keras.
“Maaf... maaf. Pendengaran Nenek agak kurang. Tadi Nenek nggak begitu dengar.” Ucap beliau.
“Nggak apa-apa Nek. Kalau begitu kami pamit duluan.” Kataku sambil narik tangan Kelvin menuju kasir.
“Tadi kenapa suara lo nggak lo kerasin waktu ngomong sama nenek tadi? Biasanya kan suara lo keras kalau marah-marah.” Tanyaku.
“Enak aja lo kalau ngomong. Lagian kalau gue ngomong keras-keras nanti dilihatin orang-orang, gue nggak mau.” Jawabnya.
“Jadi lo belanja apa?” tanyaku.
Dia nunjukin barang belanjaannya dan aku lihat isinya cuma camilan aja satu troli penuh.
“Kata lo tadi mau beli yang lainnya. Kok cuma camilan aja?”
Dia nunjukin sebuah pasta gigi. Jadi maksudnya dia barang-barang lain cuma satu pasta gigi.
“Tadi kan tinggal bilang kalau lo cuma butuh pasta gigi sama camilan.” Ucapku marah.
Dia cuma diam dan berkata “Ya udah sini belanjaannya. Gue mau bayar”.
Aku nunggu Kelvin yang lagi bayar belanjaan di sebelah kasir.
Setelah itu kami balik ke apartemen jalan kaki.
“Gue mau tidur.” Ucapku pada Kelvin saat sudah masuk ke ruangan apartemen.
“Lo mau tidur? Beresin dulu belanjaannya.” Ucapnya.
“Besok aja lah Vin. Gue capek, ngantuk.”
“Nggak bisa. Lo beresin dulu baru boleh tidur. Potong gaji.” Ucapnya mengancam.
Aku mulai mengambil belanjaan dan menatanya di dapur.
Setelahnya aku masuk ke kamar dan dengan kesal aku membanting pintunya.
3rd POV
Keesokan harinya, Mira menjalani aktivitas seperti biasa. Bekerja di apartemen Kelvin, kuliah, dan sekarang dia berada di kantin kampus menunggu ketiga sahabatnya selesai kuliah.
Dia membeli jus alpukat kesukaannya. Setelah dia menerima jus alpukat dari penjual, dia berbalik dan tak sengaja menyenggol orang dan menumpahkan jus di bajunya.
“Apa-apaan sih lo? Kenapa nggak hati-hati? Lihat nih baju gue jadi kotor.” Ucap orang tersebut.
Mira mendongakkan kepalanya dan melihat orang yang ditabraknya adalah Kelvin.
“Nggak nyangka Vin, lo sekarang pakai panggilan 'Lo-gue'.” Ucap Vano teman sekelas Kelvin.
‘Astaga, gue lupa kalau ini di kampus' batin Kelvin.
“Enggak kok. Ini si Mira ngeselin banget numpahin jus alpukat ke baju aku. Jadi aku nggak sadar pakai panggilan kayak gitu.” Jawab Kelvin.
“Oh... Sini Vin. Lo mau balas Mira nggak? Nanti gue sama temen gue bakal bantuin lo.” Bisik Vano pada Kelvin.
“Emangnya balas kayak gimana?”
“Udah deh. Serahin sama kami. Lo mau apa nggak?” tanya Vano.
Kelvin berpikir sejenak dan akhirnya menyetujuinya. “Iya, deh. Aku mau. Tapi nggak pakai kekerasan kan?”
“Enggak lah. Nggak pakai kekerasan kok. Tenang aja.” Jawab Vano meyakinkan.
Kelvin hanya mengangguk setuju.
__ADS_1
Sementara itu Mira membeli jus alpukat lagi tanpa mempedulikan mereka dan kemudian duduk menunggu sahabatnya.
“Mira...” Mira yang mendengar namanya dipanggil menoleh dan melihat ketiga sahabatnya berjalan menghampirinya.
“Kalian bertiga kok bisa bareng?” tanya Mira.
“Kami ketemu waktu jalan kesini.” Jawab Safira.
Mereka berempat asyik mengobrol. Tak lama kemudian Mira pergi ke toilet. “Gue ke toilet sebentar ya.” Pamitnya.
Saat Mira keluar dari toilet, Vano mencegatnya. “Lo ikut gue sekarang Mir.” Ajaknya.
“Hah... kemana? Gue nggak mau.” Ucap Mira.
Vano menarik tangan Mira dan menyeretnya ke gudang belakang kampus.
“Lo ngapain ngajak gue kesini?” tanya Mira.
“Udah. Lo diem aja.” Ucap Vano sambil menarik Mira masuk kedalam gudang.
Vano kemudian mendudukkan Mira di kursi dan mengikatnya.
“Lo ngapain sih? Ada salah apa gue sama lo? Pakai ngikat gue segala. Kalau lo ada masalah sama gue omongin baik-baik dong. Kayak anak kecil aja pakai ngikat gue di gudang.”
“Ndre, panggil Kelvin!” perintah Vano pada salah satu temannya.
Andre menelepon Kelvin dan menyuruhnya datang ke gudang belakang kampus.
Tak lama kemudian, Kelvin datang.
“Kenapa manggil aku kesini?” tanyanya.
Vano memberikan kemoceng bulu ayam pada Kelvin dan berkata “Nih gelitikin Mira pakai ini”.
“Nggak apa-apa nih?” tanya Kelvin.
“Ya nggak apa-apa lah. Kan nggak pakai kekerasan. Cuma gelitikin doang.” Jawab Vano.
Kelvin mulai mendekati Mira dan mengelitikinya dengan kemoceng.
“Berhenti Vin. Berhenti.” Pinta Mira yang sedang tertawa terpingkal-pingkal.
Kelvin terus menggelitik Mira dan Mira mulai mengancam “Kalau lo nggak mau berhenti, gue sebarin rahasia lo.”
Kelvin yang mendengarnya menghentikan gelitikannya. “Lepasin ikatan gue Vin.” Pinta Mira memelas.
Kelvin mau tidak mau melepas ikatan tali dari tubuh Mira.
Setelah Mira bebas, dia menggelitiki Kelvin sampai jatuh terduduk di lantai.
“Berhenti Mir.” Pinta Kelvin. Mira tak menghiraukannya dan terus menggelitiki.
Melihat dua orang yang asyik saling menggelitik, Vano pun berkata “Huh... jomblo kayak gue nggak kuat lihat adegan romantis gini. Ndre, Din, kita tinggalin mereka berdua.”
Vano dan kedua temannya pun keluar dari gudang.
Sementara itu ketiga sahabat Mira menyusul ke toilet karena Mira tak kunjung kembali ke kantin.
“Mira yang biasa sama lo? Tadi gue lihat dia sama Vano. Nggak tau mau kemana.” Ucap salah satu teman Sophie.
“Ya udah. Makasih ya.” Ucap Sophie yang pergi ke arah lain diikuti Safira dan Devi.
“Mira kemana lagi? Kok sering banget ngilang.” ucap Devi.
“Tadi kan lo dengar sendiri. Mira lagi sama Vano.” Jawab Safira.
“Iya. Maksudnya ngapain mereka berduaan?” tanya Devi lagi.
“Nggak tau Dev. Ini lagi cari mereka.” Jawab Safira kesal.
Mereka bertiga mencari Mira dan saat mencari mereka tak sengaja melihat Vano dan temannya berjalan dari arah belakang kampus. Mereka kemudian menghampirinya.
“Vano... mana Mira?” tanya Sophie.
“Di gudang belakang.” Jawab Vano.
“Lo apain Mira? Kenapa dia ada di gudang belakang?” tanya Safira marah sambil menarik kerah baju Vano.
“Nggak gue apa-apain. Beneran. Dia lagi sama Kelvin.” Jawab Vano.
Ketiga sahabat Mira segera pergi menuju gudang belakang.
“Hah...Harusnya gue aja tadi yang gelitikin Mira.” Ucap Vano pelan.
Dino yang sedikit mendengar ucapan Vano bertanya “Ngomong-ngomong lo ngapain Van pakai bantuin si Kelvin balas Mira?”
“Nggak apa-apa. Gue cuma iseng.” Jawabnya.
“Bukan karena lo suka sama Mira kan?” tanya Dino memastikan.
“Nggak mungkin lah. Ada-ada aja lo. Udah cepetan, gue mau pulang.” Jawab Vano sambil memalingkan muka dan mempercepat jalannya.
Setelah sampai di gudang ketiga sahabat Mira segera masuk. Mereka melihat Kelvin yang berbaring dan tertawa di lantai sedangkan Mira menggelitiki perut Kelvin.
“Kalian lagi ngapain? Kok Kelvin sampai tiduran di lantai.” tanya Sophie.
“Gue cuma ngebales Kelvin. Tadi dia sama Vano sekongkol buat gelitikin gue. Lho... Vano sama temannya mana?” ucap Mira sambil melihat sekitar.
“Udah pergi dari tadi. Kalian sih asyik sendiri.” Ucap Safira.
“Ya udah. Balik yuk! Udah jam segini.” Ucap Mira.
Mereka berempat pergi dari gudang meninggalkan Kelvin yang masih tergeletak di lantai.
“MIIRAAA...” teriak Kelvin kesal.
Mira POV
“Udah jam segini kok Kelvin belum balik juga.” Ucapku yang lagi masak.
‘Mungkin lagi sama temannya.' Pikirku.
__ADS_1
Nggak lama kemudian aku dengar suara pintu depan dibuka. Aku cuma ngintip sebentar lalu ngelanjutin kegiatan masakku.
“Lho... Mira. Ngapain lo disini?” tanya seseorang di belakangku saat aku lagi menata makanan di meja makan.
Saat aku menoleh, aku ngelihat Arya yang lagi ngelihatin aku menata makanan.
'Aaaa.... Arya lagi ngelihatin aku. Aku harus kelihatan rajin.' Batinku.
Sebelum aku jawab pertanyaan Arya, Kelvin jalan ke dapur dan nyuruh Arya minggir. “Minggir... Minggir. Gue mau makan.”
Kelvin langsung ngambil makanan dan memakannya tanpa nawarin tamunya.
“Kalian berdua nikah?” tanya Arya tiba-tiba.
Kelvin yang kaget dengar pertanyaan Arya, nyemburin makanan di mulutnya ke wajahku yang kebetulan duduk di depannya.
“Kelviinn...” ucapku marah sambil jalan ke wastafel buat cuci muka.
“Hah... nikah? Dia cuma kerja di sini. Ngapain juga gue nikah sama dia.” Jawab Kelvin yang samar-samar ku dengar.
“Emangnya kenapa kalau nikah sama gue?” tanyaku pada Kelvin saat aku kembali duduk.
“Lo pengen nikah sama gue?” tanyanya balik.
“Ya, enggak lah.” 'Mending aku nikah sama Arya.' Batinku.
“Ayo ikut makan juga Ar!” ajakku.
“Nggak bisa. Ini makanan gue. Pokoknya lo nggak boleh ikut makan.” Larang Kelvin pada Arya.
“Ini kan gue yang masak.” Balasku.
“Tetap nggak bisa. Lagian ini juga apartemen gue.”
“Udah Mir. Nggak apa kok. Alan itu emang pelit dari kecil.” Ucap Arya sambil senyum.
Aku yang dengar Arya manggil Kelvin pakai panggilan Alan bertanya “Lo tau nama panggilan Kelvin yang lain?”
“Iya, gue tau. Kita kan sering bareng waktu kecil dan kita juga satu sekolah dari SMP sampai SMA. Dan sebenarnya kami berdua itu sepupu.” Jawab Arya.
“Apa?? Kalian berdua sepupu? Jadi, keluarganya Kelvin tau soal penampilan dia kalau ke kampus.” Kataku. Aku benar-benar kaget saat tau dua orang dihadapanku ini sepupu.
“Mereka nggak tau, Mir. Kalau mereka tau, Alan bakalan diusir dari rumah.” Ucapnya sambil tertawa.
“Terus lo inget waktu kecil dulu. Lo sama Kelvin rebutan permen dan lo nonjok dia karena nggak mau ngasih permennya. Pulangnya dia nangis lalu ngadu ke mamanya. Bukannya dibela, dia malah dimarahi.” Cerita Arya.
“Kapan gue pernah ketemu Kelvin waktu kecil?” tanyaku nggak ingat.
“Waktu dia main ke rumah gue. Kita bertiga sering main kok.”
“Gue juga nggak pernah ngerasa pernah main sama anak cewek waktu di rumah lo.” Ucap Kelvin.
“Lo nggak tau kalau dia cewek Lan? Mira waktu kecil dulu rambutnya pendek kayak anak cowok. Penampilannya juga. Padahal dulu lo sering banget gulat sama dia.” Jelas Arya sambil tertawa.
“Hah... dia Mira? Gue kira namanya Amir. Soalnya lo panggil dia Mir... Mir gitu.” Ucap Kelvin kaget.
Aku yang dengar Kelvin ngira namaku Amir jadi sebal.
“Iya. Dan dulu lo ngajak dia man....”. Sebelum Arya selesai ngomong Kelvin teriak “AAAAAA... Lo mendingan makan aja deh.”
“Mir, ambilin dia piring!” perintahnya.
Aku segera ngambil piring dan memberikannya ke Arya. Dia mulai ngambil makanan dan bertanya “Ini lo yang masak Mir?”
“Iya.” Jawabku.
Arya mulai makan masakanku dan memujinya “Ini enak Mir.”
Aku yang dipuji Arya tersenyum senang. Aku kadang-kadang sedikit melirik Arya yang lagi makan.
“Mir, lo suka Arya ya?” Bisik Kelvin padaku.
Aku menoleh pada Kelvin. Ku lihat dia sedang tersenyum. Kemudian dia berkata “Ar, Mira suka sama...”.
Sebelum Kelvin nyelesaiin ucapannya, aku segera bangkit dari kursi dan ngebungkam mulut Kelvin.
“Hmmmmpp.... hmmmmppp...”.
Arya menoleh pada kami berdua. “Kalian deket banget ya.” Ucapnya.
“Enggak kok. Kita biasa aja.” Jawabku sambil langsung ngelepas tanganku dari mulut Kelvin.
“Jadi ingat waktu kecil kalian sering gulat dan Mira selalu menang. Kalau sekarang gimana ya?”
“Apa?? Kalau sekarang tentu aja gue yang menang. Lihat badan gue, lebih gede dan kuat dari Mira.” Ucap Kelvin.
“Dulu waktu kecil badan lo juga lebih gede dari Mira. Tapi tetap aja lo kalah.” Balas Arya.
“Oke. Kita buktiin aja. Mir, ayo kita tanding gulat!” ajak Kelvin.
‘Ngapain dia ngajakin aku gulat?' Batinku. Aku segera nolak ajakan Kelvin “Nggak Vin. Kita kan udah dewasa, ngapain pakai gulat-gulat segala. Lo kira kita ini anak kecil?” ucapku.
Kelvin nggak hirauin kata-kataku. Dia langsung narik tanganku dan menjatuhkanku ke lantai.
“Aduh... sakit Vin. Lepasin gue.” Rintihku.
“Lo lihat kan Ar. Sekali dorong Mira langsung jatuh.” Ucapnya.
“Hmm... hmm...” ucap Arya sambil mengangguk.
“Lepasin gue Vin. Minggir dari atas gue. Pinggang gue sakit. Auh...” rintihku kesakitan.
Kelvin segera berdiri dan kemudian bantuin aku bangun.
“Eh... gue pulang dulu ya. Udah jam segini. Makasih makanannya.” Pamit Arya pada kami dan bergegas keluar apartemen.
“Sakit banget Vin. Pokoknya lo yang harus beresin piring-piringnya. Gue mau istirahat.” Ucapku.
“Nggak bisa Mir. Gue nggak mau. Lo yang harus beresin.” Tolak Kelvin.
“Lo nggak lihat gue sakit.” Ucapku kesal sambil nunjukin pinggang dan lenganku yang merah.
__ADS_1
Kelvin cuma diam. Aku ninggalin dia dan berjalan ke kamar.