Lazy Girl

Lazy Girl
Satu Sendok


__ADS_3

Mira POV


Hari ini hari sabtu, kuliahku libur. 'Yes, berarti nanti bisa tidur lama' pikirku. Saat ini aku masih sarapan tapi belum mandi alias nggak mandi pagi. Kalau dipikir-pikir kayaknya aku lupa sesuatu ya. Tapi apa? Astaga aku lupa, hari ini aku harus ikut kelasnya pak Bono.


Aku cepat-cepat mandi dan langsung memakai jeans hitam, kemeja biru laut, dan sneaker berwarna senada. Ku ambil tas selempang yang biasa ku pakai dan segera keluar kamar.


"Bun, Mira hari ini ke kampus ada kuliah. Aku berangkat dulu Bun." pamitku sambil mencium tangan bunda.


"Tapi Mir..." aku segera mengambil motor di garasi dan melajukannya ke kampus.


Setelah sampai, aku segera memarkir motor dan berlari ke kelas. Saat aku udah sampai di kelas, ternyata kelasnya kosong. Aku langsung melihat jam tangan.


"AAARGGHH... masih jam setengah delapan" teriakku. Untung aja kampus nggak terlalu ramai jadi teriakanku nggak ganggu orang lain.


Setelah nunggu dua jam dan mengikuti kelas pak Bono sambil tidur, akhirnya aku bisa pulang.


Sesampainya aku di rumah, aku segera menghampiri bunda dan bertanya. "Bun, tadi kok nggak bilang Mira kalau masih jam setengah 7".


"Bunda udah bilang kok. Kamunya saja yang buru-buru berangkat. Bunda bahkan sudah teriak-teriak panggil kamu"jawab bunda.


**Flashback


"Bun, Mira hari ini ke kampus ada kuliah. Aku berangkat dulu Bun." pamit Mira sambil mencium tangan bunda Rika.


"Tapi Mir kamu kan masuknya jam 10. Ini masih jam setengah 7 lho" ucap bunda Rika.


Mira melajukan motornya dan berangkat tanpa mendengarkan ucapan bunda Rika.


"MIR... MIRA..."teriak bunda Rika. Namun dia  sudah jauh dari rumah.


Flashback end


"Oh... jadi gitu ceritanya, Bun" ucapku.


"Iya, itu salah kamu sendiri. Harusnya kamu itu kalau mau berangkat lihat jam dulu. Kamu juga harus mendengarkan orang bicara sampai selesai jangan langsung pergi saja" nasihat bunda.


Aku cuma ngangguk-ngangguk aja. "Oh... ya Mir. Besok kamu ikut Bunda ke pasar. Setelah itu, Bunda ajarin kamu masak" ucap bunda.


"Belajar masak Bun? Hukumannya jadi Bun?" Tanyaku.


"Ya, jadi dong Mir. Kamu kira Bunda sama Ayah cuma bercanda" jelas bunda.


"Iya, Bun. Besok Mira ikut ke pasar" ucapku dan langsung pergi ke kamar.


Keesokan paginya aku ikut bunda ke pasar. Aku udah dibangunin bunda dari jam 4. Bayangkan, biasanya bangun jam 5 dan nanti agak siangan tidur lagi. Tapi, hari ini aku harus belajar masak. Jadi, aku nggak bisa tidur lagi.


"Bun, bau banget. Mira nggak kuat" rajukku. Aku benar-benar nggak kuat. Di sini bau banget. Apalagi dekat tempat jualan daging dan ikan.


"Kamu itu harus biasakan diri. Jangan protes terus!" ucap bunda.


"Tapi Bun, Mira kan nggak lagi pilek. Jadi, baunya menyengat banget" ucapku.


"Kamu gimana sih? Harusnya kamu bersyukur diberi kesehatan. Kok malah ingin pilek. Kalau pilek kamunya juga sering susah nafas" omel bunda ke aku.


Aku cuma diam aja. Aku bingung. Tapi benar juga kata bunda. Kalau aku pilek kan sering susah nafas. Aku jadi serba salah.


Setelah belanja bahan-bahan makanan tentunya dengan penuh perjuangan, kami bergegas pulang. Saat sampai di rumah, aku langsung masuk kamar tanpa sepengetahuan bunda. Aku harap bunda nggak tau kalau aku kabur


Aku tiduran di atas kasur hingga beberapa saat aku sudah tertidur. Tiba-tiba tanganku terasa sakit dan terdengar teriakan manggil namaku. "MIRA..."


Aku kaget dan langsung lompat dari atas kasur. Alhasil kaki kiriku terbentur pinggir ranjang dan kaki kananku terpleset. Akhirnya aku jatuh tengkurap di lantai.


"Aduh..." rintihku. "Rasain itu Mir. Disuruh belajar masak malah kabur" ucap bunda. "Iya Bun. Mira ke dapur sekarang" ucapku yang masih dalam posisi tengkurap di lantai.


Setelah bangkit dari jatuh, aku segera menuju ke dapur. "Bun, Mira belajar apa hari ini?" Tanyaku. "Kamu belajar kupas sama potong sayuran. Hari ini kita masak sup ayam" jawab bunda.


"Iya Bun" responku. Aku mulai memotong sayuran. Setelah memotong sayuran aku mengupas bawang merah. Kalau soal memotong sama mengupas itu hal yang mudah buatku. Aku kan hebat.


'Kenapa mataku kayak kelilipan ya'. Aku mengucek mata dan rasanya panas banget.


"Bunda, mata Mira kenapa Bun"

__ADS_1


"Ada apa sih Mir?" tanya bunda.


"Ini Bun. Mata Mira kok panas banget" jawabku.


"Sini Bunda lihat" kata bunda sambil ngelihat mataku.


"Perih Bun" ucapku. "Kamu sih enggak hati-hati. Udah tau ngupas bawang malah tangannya dipakai ngucek mata" omel bunda padaku.


"Mira kan lupa Bun" jawabku. "Lupa apanya? Kamu masih ngupas juga. Cuci muka sana" suruh bunda.


Aku segera mencari kran terdekat dan mencuci mukaku. Setelah mataku agak mendingan, aku kembali kedapur untuk melanjutkan pekerjaanku tadi.


*********


"Mir, setelah pulang kuliah kamu langsung pulang ya. Nanti kamu belajar masak lagi" ucap bunda sebelum aku berangkat kuliah.


"Iya Bun. Mira berangkat dulu." pamitku.


"Iya Mir. Hati-hati di jalan." jawab bunda.


Aku menjalani kegiatan di kampus seperti biasa. Dengerin dosen bicara, mencatat, kalau bosan ku tinggal tidur sampai jam mata kuliah selesai.


Setelah selesai mengikuti dua mata kuliah, Aku segera menemui ketiga sahabatku yang lagi di kantin. Ngomong-ngomong aku dan ketiga sahabatku memang beda jurusan. Aku jurusan sastra Inggris, Sophie jurusan manajemen bisnis, sedangkan Safira dan Devi jurusan sastra Jepang. Aku, Sophie, dan Safira sudah sahabatan dari SMA. Kalau Devi kami kenalnya waktu kuliah, soalnya dia sering sama Safira.


BRUUKK... Tiba-tiba ada yang nabrak aku sampai jatuh "Siapa sih yang lari-larian sampai nabrak gue?" Tanyaku.


"Eh... Mira. Lo nggak apa-apa kan?" Ucap orang yang nabrak aku.


"Nggak apa-apa gimana? Gue jatuh di atas kerikil lancip malah tanya nggak apa-apa. Dasar Galau" makiku.


"Enak aja manggil gue Galau. Nama gue itu Galang Aditya" ucap orang yang nabrak aku dan itu teman sekelas aku Adit.


"Terserah lah" jawabku sambil berdiri dibantu Sophie yang hampirin aku saat ngelihat aku jatuh.


"Lo kenapa sih lari-lari Dit?" Tanya Sophie.


Sebelum Adit menjawab, tiba-tiba seorang cowok kurus berlarian sambil teriak. "ADIIIT..." ucapnya. "Apaan sih Dannis?" tanya Adit. "Pak Joko makin deket. Cepat kabur" ucap Dannis.


"Gue duluan ya" Pamit Adit pada kami berdua dan bersiap-siap kabur. Namun dengan cepat Sophie menarik kerah baju Adit. "Lo mau kemana? Udah nabrak orang nggak minta maaf, mecahin mangkuk nggak tanggung jawab." ucap Sophie.


Pak Joko penjual bakso di kantin berteriak dari jauh dengan nafas terengah-engah “JANGAN DILEPASIN MBAK. DIA SUDAH MEMECAHKAN LIMA MANGKUK SAYA. DIA NGGAK MAU GANTI RUGI”. Ketika sampai di dekat kami Pak Joko langsung megang lengan Adit biar dia nggak kabur lagi. "Cepat ganti rugi mangkuk-mangkuk saya. Gara-gara kamu dagangan saya hari ini bukannya untung malah rugi.”


“Maaf pak. Tolong lepasin saya. Saya bakal ganti rugi mangkuk-mangkuk bapak. Memangnya saya harus ganti rugi berapa pak?” Tanya Adit.


“Seratus ribu… kamu harus ganti dengan uang seratus ribu.” Jawab Pak Joko.


“Kok mahal pak? Kan cuma lima mangkuk. Tidak bisa ini pak ini namanya pemerasan.” Ucap Adit mengelak.


“Pemerasan apanya? Itu sudah termasuk sama bakso-bakso saya yang kamu tumpahin. Kalau kamu nggak mau ganti rugi, saya akan laporkan ke pihak kampus.” Jawab Pak Joko marah.


Adit kaget dengerin ucapan Pak Joko dan langsung memohon “Tolong jangan laporin saya ya Pak! Saya janji akan ganti rugi. Tapi bukan hari ini, saya lagi nggak bawa uang.”


“Baik, saya kasih kamu waktu tiga hari. Kalau kamu tidak bayar saya akan laporkan ke pihak kampus.” Ucap Pak Joko yang langsung pergi dari lokasi.


“Huh… sebel banget mana uang saku bulan ini tinggal sedikit.” ucap Adit.


“Nis… ganti ruginya kita bagi. Gue setengah, lo setengah.”


“Enak aja lo, Dit. Itu kan salah lo sendiri, jalan sambil main handphone. Kok jadi gue harus ikut bayar juga.” Jawab Dannis marah.


“Lo kan barengan sama gue. Harusnya lo kasih tau gue kalau Pak Joko mau lewat”.


“Ya nggak bisa gitu Dit. Gue juga lagi noleh karena ada yang manggil gue, mana gue tau kalau Pak Joko mau lewat.” Ucap Dannis kesal.


"Itu emang salah lo Dit. Udah tau kantin rame, malah jalan sambil main handphone" ucapku menyela pertengkaran mereka berdua.


"Lo kok ngebela Dannis sih Mir. Kita kan selalu bareng-bareng. Lo udah nggak peduli lagi sama gue Mir. Lo jahat." Ucap Adit sambil berlari secara dramatis ke arah tempat parkir.


"Gue duluan ya." pamit Dannis pada kami berdua.


3rd POV

__ADS_1


Sophie menatap Mira dengan pandangan penuh tanya "Lo ada hubungan apa sama Adit?" Tanya Sophie.


"HAH!! Nggak ada. Gue sama Adit cuma teman sekelas." Jawab Mira.


"Tapi Adit bilang kalian selalu bareng. Apa kalian sering jalan-jalan bareng?"


"Hahaha... Bukan lah. Maksudnya, gue sama Adit kan sering telat. Jadi kita sering papasan di tempat parkir lalu barengan deh kalau masuk kelas."


"Oh...Gitu. Gue kirain apa. Tapi Adit ngomongnya ambigu sih bikin salah paham aja." Gerutu Sophie.


"Mungkin dia lagi stress mikirin ganti rugi. Udah ah Soph. Ayo kita ke kantin!" Ajak Mira.


Mereka berdua berjalan menuju kantin menemui Safira dan Devi. Mereka berempat asyik mengobrol hingga lupa waktu dan saat mulai menjelang sore hari mereka memutuskan untuk pulang.


**********


Sesampainya di rumah, Mira memasukkan motornya ke dalam garasi dan segera masuk ke dalam rumah. "Bunda, Mira pulang." Ucapnya.


"Ehem...ehem." Jawab bunda Rika yang sedang duduk di ruang tamu.


"Kenapa Bun? Apa Bunda lagi sakit tenggorokan? Nanti Mira antar ke Dokter." Ucap Mira.


Bunda Rika mulai marah dan mengomeli Mira "MIRAA... Katanya kuliah pulang jam dua belas, tapi baru sampai rumah jam setengah empat. Bunda telepon nggak bisa, diSMS nggak dibalas. Tadi pagi kan kamu sudah janji mau belajar masak."


"Hehehe... Maaf Bun Mira lupa." Jawab Mira.


"Kamu itu alasan aja. Besok kan kamu nggak ada jadwal kuliah. Pokoknya besok kamu harus belajar masak seharian." Perintah Bunda.


"Iya, Bun. Iya. Mira besok belajar masak." Jawab Mira enggan dan berjalan menuju kamarnya.


Keesokan harinya, bunda Rika membangunkan Mira pagi sekali untuk belajar memasak. "Mir, hari ini kamu belajar masak telur balado. Ini Bunda sudah siapin bahannya. Kamu tinggal buat bumbu balado sama merebus telurnya. Bunda cuma awasi kamu aja." Jelas bunda Rika.


"Iya, Bun." Jawab Mira yang mulai mengambil bahan-bahan untuk membuat bumbu balado.


"Tunggu Mir. Yang pertama itu rebus telur dulu. Nanti sambil nunggu telurnya matang, kamu buat bumbu baladonya biar kalau telurnya sudah matang bisa langsung dicampur sama bumbunya." Ucap bunda Rika.


Mira yang mendengar arahan bunda Rika segera mengambil telur dan merebusnya. Setelah menyalakan kompor, Dia mulai mengambil bahan-bahan untuk membuat bumbu. Karena dia nggak bisa ngulek, bunda Rika menyuruhnya menggunakan blender.


Beberapa saat kemudian Mira selesai membuat bumbu Balado dan mengupas telur rebus yang sudah matang dan menggorengnya. Lalu dia memasukkan minyak, bumbu dan telur yang sudah digoreng kedalam wajan.


"Astaga! Hampir lupa. Mir, Bunda tinggal dulu ya. Bunda mau ambil jahitan baju di rumah tante Diana soalnya tante Diana mau ke rumah orangtuanya selama seminggu. Nanti kamu tambahin garam satu sendok teh. Kalau udah agak lama kamu tambahin kecap satu sendok makan aja. Bunda tinggal dulu ya." Ucap bunda Rika yang bergegas keluar dari dapur.


Setelah masakannya matang, Mira memindahkannya ke mangkuk dan meletakkannya di meja makan. Tak lupa dia juga menyiapkan nasi dan tumis kangkung buatan bunda Rika. Kebetulan sekali bunda Rika sudah pulang dan memujinya yang sudah selesai memasak “Wah… bau telur baladonya enak Mir. Kamu itu sebetulnya bisa, tapi cuma malas aja. Kalau kamu belajar masak masakan lain pasti cepat mengerti.”


Mira yang mendengarnya hanya terkekeh dan melanjutkan menyiapkan peralatan makan dan air minum.


“Bunda panggil Ayah dulu. Kita sarapan sama-sama.” Ucap bunda Rika.


Beberapa saat kemudian bunda Rika dan ayah Rudi datang dan mereka bertiga sarapan bersama. Ayah Rudi juga memuji masakan Mira yang terlihat menggiurkan “Telur baladonya kelihatan enak”.


“Itu Mira yang masak, Yah” jawab bunda Rika.


“Oh… kamu bisa masak gitu Mir. Jadi kamu nggak akan kesulitan bekerja di apartemen anaknya Om Rama.”


Mira cemberut mendengar perkataan ayahnya dan berkata “Yah, apa hukumannya nggak bisa dibatalin?”.


Ayah Rudi menatap Mira dan menjawab “Nggak bisa lah Mir. Itu udah keputusan Ayah sama Bunda. Om Rama sama Tante Dinar juga setuju kok kamu kerja di sana.”


“Sudah… sudah… ayo makan!” ajak bunda Rika. Mereka bertiga mengambil nasi, sayur, dan telur balado buatan Mira. Saat memakan telur balado buatan Mira, bunda Rika berkata “Kenapa ini asin banget Mir. Kamu kasih garam berapa sendok?”.


“Satu sendok Bun.” Jawab Mira.


“Satu sendok teh kan?” tanya bunda Rika.


“Satu sendok makan Bun. Tadi bukannya Bunda bilang satu sendok makan?” tanya Mira polos.


“Astaga Mira! Yang satu sendok makan itu kecapnya, kalu garamnya satu sendok teh. Makanya dengerin waktu Bunda ngomong ” Ucap bunda Rika marah.


“Sudah. Makan telurnya aja, bumbunya dipinggirin” ucap ayah Rudi menenangkan bunda Rika yang marah.


Akhirnya mereka bertiga sarapan dengan lauk telur yang bumbunya sudah disisihkan dan Mira mendapat omelan dari bunda Rika setelah ayah Rudi berangkat kerja.

__ADS_1


__ADS_2