
"Letta mana?"
"Dia ga ikut?"
"Gue itu kesel banget sama si Letta berani banget dia nolak gue cuman buat nemenin tuh cowo lumpuh".
Leon menyerngitkan keningnya ia merasa heran dengan pernyataan dari Vana. Bukankah Letta sangat membenci pernikahan nya dengan cowo cacat itu? Apa itu hanya alasan Letta saja untuk menolak pertemuan dengan mereka?
"Gue juga ngerasa aneh kenapa Letta ga mengirim chat ke gue". Baik Vana ataupun Leon saling memikirkan alasan mengapa Letta menolak pergi bersama mereka. Letta tidak pernah menolak untuk pergi dengan mereka sebelumnya,bahkan dia akan merasa sangat senang jika mereka mengajaknya pergi keluar bersama. Letta juga sering menempeli Leon kemana pun dia pergi,kenapa sekarang berbeda padahal Leon telah berada di sini?
"Apa dia sadar kalo kita cuman manfaatin dia?" tanya Leon pada Vana.
"Ya ga mungkin lah Letta kan cewe bodoh buktinya dia gatau kita punya hubungan di belakang dia". Leon mengangguk-anggukan kepala nya mendengar perkataan dari Vana. Vana memang benar Letta ga mungkin sadar. Pasti cowo lumpuh itu yang maksa Letta buat tetap berada di rumah.
Tak ingin pusing mengenai keanehan dari Letta baik Vana ataupun Leon akhirnya memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama sambil membahas langkah mereka yang selanjutnya.
****
Sementara disisi lain hubungan Letta dan suaminya semakin manis. Letta tidak menyangka bahwa Andre bisa bertingkah seperti ini selama ini baik di kehidupan sebelumnya Letta selalu menganggap bahwa pria itu sangat dingin dan kaku sehingga dulu dia sangat membenci hubungan nya dengan Andre. Apalagi dulu dia merasa takut melihat wajah hancur dari pria itu.
"Kenapa melamun?",pria itu memperhatikan bahwa Letta nya seakan larut dalam pemikiran nya sendiri. "Aku cuman ga nyangka ternyata kamu engga sedingin yang aku bayangkan" Letta bahkan jujur kepada pria itu mengenai pemikiran nya,ya walaupun dia tidak memberitahukan semua hal yang ada di pemikiran nya.
Sedangkan pria itu memikirkan perkataan Letta dengan serius. Apa aku sedingin itu?sehingga Letta nya menganggap dia seperti itu padahal dia merasa bahwa selama ini dia selalu mencoba bersikap dengan tenang ketika berhadapan dengan Letta nya.
"Loh kok jadi kamu yang malah melamun?"
Melihat bahwa pria itu akhirnya sadar dari lamunannya Letta akhirnya menanyakan hal yang selama ini mengganjal di pemikiran nya,dia merasa bingung mengapa kaki pria itu tidak sembuh bahkan di kehidupan lalu saat pria itu meyelamatkan nya kaki pria itu tetap pincang walaupun sedikit membaik daripada lumpuh.
Saat itu hanya wajah pria itu yang membaik. Dia bingung dia tahu bahwa perusahaan yang dipimpin oleh Andre memiliki aset yang sangat melimpah ia bahkan yakin harta pria itu tidak akan habis tujuh turunan walaupun dia bersikap boros,lantas mengapa kaki pria itu tidak sembuh-sembuh?.
__ADS_1
"Ndre aku boleh nanya ga?"
"Hm?" Pria itu penasaran dengan pertanyaan yang akan ditanyakan oleh Letta.
"Kaki kamu apa itu sulit disembuhkan?"
Mengetahui bahwa Letta bertanya mengenai kaki nya pria itu mengencangkan tangan nya dia berfikir apa Letta nya membenci kaki cacatnya? Apa dia tidak akan pernah menyukainya jika kaki nya cacat?
Selama sebenarnya dia tidak pernah lagi memberikan pengecekan yang rutin kepada kaki nya. Setiap kali melihat kaki cacat nya dia akan teringat kepada perkataan dokter saat kakinya pertama kali nya lumpuh yang mengatakan bahwa sangat kecil harapan bahwa kaki nya dapat sembuh.
Awalnya dia masih percaya bahwa kaki nya masih dapat pulih tapi sudah setahun sejak dia kecelakaan selama setahun juga ia mencoba berbagai pengobatan di kakinya.
Tapi hal itu tidak membuahkan hasil apapun,kaki nya tetap tidak dapat berjalan.
Ia marah dan putus asa sehingga ia tidak memberikan pengobatan lagi terhadap kakinya. Ia menganggap bahwa ia memang ditakdirkan untuk menjadi cacat. Bahkan luka di wajahnya belum sepenuhnya sembuh dari kecelakaan 4 tahun yang lalu. Dokter menyarankan dia untuk operasi plastik tapi ia menolak saran dari dokter itu.
Ia sudah benar benar putus asa sehingga ia menganggap baik kaki dan wajahnya memang sudah ditakdirkan untuk menjadi cacat. Lagipula dia tidak memiliki seseorang yang menyanginya jadi buat apa dia berjuang dengan kondisi nya.
Awalnya dia akan mencari perhatian dari orangtuanya dengan nilai nilai dan olimpiade yang diraihnya,tapi kedua orang tua nya mengabaikan nya bahkan menganggap hal itu memang suatu kewajiban yang harus di lakukan.
Ketika dia beranjak remaja dia tidak pernah lagi mengharapkan kasih sayang dari orang tuanya jadi buat apa dia berjuang menyembuhkan cacatnya jika tidak ada orang yang menyanginya.
Tapi kali ini saat Letta nya orang pertama yang dia cintai bertanya mengenai kondisi kaki nya saat itu pula dia seketika membenci kondisi cacatnya.
Melihat raut menyeramkan pria itu Letta menggenggam kepala tangan pria itu dengan lembut. "Maaf aku ga bermaksud membuat mu teringat akan kondisi mu".
Merasakan tangan kecil yang menggenggam tangan nya pria itu semakin merasa sedih.
Apa dia benar-benar tidak akan pernah disukai oleh Letta karna kondisi cacatnya?
__ADS_1
Apakah sudah menjadi takdir nya untuk tidak pernah dicintai? Dia semakin larut dalam pemikiran nya dan tidak membalas perkataan dari Letta.
"Ndre,a-aku minta maaf tolong jangan marah sama ku a-aku cuman ingin tahu kondisi kaki mu,a-aku berharap kakimu bisa sembuh".
Letta bahkan menangis kecil ketika mengatakan hal ini kepada pria itu,dia sangat takut kalau pria itu akan marah padanya.
Mendengar isakan kecil dari Letta nya pria itu akhirnya menatap wajah Letta lalu menghapus dengan lembut air mata di pipinya.
"Jangan nangis", Letta menggenggam tangan yang berada di pipinya ia menatap lembut ke arah pria itu "Maaf....".
Mendengar kata maaf yang berulang kali dari bibir Letta pria itu merasa tidak nyaman.
"A-apa Tata benci dengan kondisiku?"
"A-apa Tata akan meninggalkan ku?"
Mendengar suara menyedihkan dari pria itu Letta menggeleng kan kepalanya dengan tegas. "Ga...aku ga akan pernah ninggalin kamu,aku juga ngga benci dengan kondisi kamu aku yakin suatu saat nanti kaki kamu pasti sembuh".
"Gimana jika kaki ku akan tetap cacat selama -lamanya apa Tata masih akan tetap bersama ku?" Pria itu tetap merasa takut jika Letta akan pergi meninggalkan nya. Di dunia ini hanya Letta satu satunya matahari di kehidupan nya yang gelap. Hanya Letta sumber cahaya dari segala kegelapan di hidupnya.
Dia bahkan tidak sanggup memikirkan akan seperti apa hidupnya tanpa Letta.
Walaupun dia tahu bahwa Letta tidak mencintainya dia akan merasa cukup jika Letta tetap berada di sisinya. Dia bahkan tidak peduli jika Letta mengkhianati nya,bagi nya selama Letta tidak meninggalkan nya dia siap menerima resiko apapun.
Sebenarnya dia juga tidak tahu mengapa dia sangat mencintai Letta bahkan baru sehari Letta nya memperlakukan nya dengan lembut dia semakin merasa bergantung dengan Letta. Dia ingin Letta nya tetap seperti ini.
Bolehkan dia dengan egois berharap bahwa Letta nya akan tetap berada di sisinya. Ia sadar bahwa sebenarnya Letta bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari dia yang tidak cacat dari dia.
Tapi sekali dia dia berharap bolehkah cahaya nya tetap menyinari kegelapan nya?
__ADS_1
****