Let The Heart Choose

Let The Heart Choose
kemarahan Orang Tua Nada


__ADS_3

Nada masih duduk di meja makan, Kedua orang tuanya masih asyik bermain dengan Zaskia. Mereka sangat senang dengan kedatangan cucunya, jangan tanya mengapa?


Karena Andra masih sanga sakit hati dengan kedua orang tuanya, membuat dia melarang Nada untuk bermain. Dulunya Nada hanya diam dan terus diam, dia tak mau memperpanjang masalah hanya karena alasan mudik.


Tapi semakin kemari, Nada semakin merasakan kalau suaminya mulai pilih kasih. Kalau Nada tidak bisa bertemu dengan orang tuanya, setidaknya dia harus bertindak tegas kepada Laras.


Tidak hanya selalu menuruti semua keinginannya dan membiarkan Laras selalu menyakiti jiwa raganya, Yang paling membuat ada dongkol adalah. Dia harus meminta maaf atas kesalahan Laras yang di sengaja.


Karena kelelahan bermain, Zaskia tertidur di gendongan Mama Nada. Mereka segera membawanya masuk ke kamar dan merebahkannya di kasur.


Tak berapa lama kedua orang tua mereka keluar dari kamar, kemudian ikut duduk bersama Nada di ruang tamu.


Tak ada obrolan, mereka semua secara bersamaan menatap lekat Nada. Tatapan tajam mereka seolah tau yang sedang Nada alami saat ini.


"Masih nggak mau cerita?" tanya Mama Nada sambil menatap wajah sendu Putrinya.


Dia tidak percaya kalau tidak terjadi sesuatu pada putrinya, Nada adalah seorang anak periang. Dia hanya akan terdiam saat masalah yang dia pikul sudah terlalu melelahkan.


"Alif masuk rumah sakit Maa," jawab Nada lirih.


Papa dan Mamanya hanya manggut-manggut mengerti, hubungan orang tua dan anak memang sudah sangat renggang karena pernikahan Nada.


Semenjak Nada menikah dan Andra memutuskan untuk membawa putrinya bersamanya, membuat mereka tidak tau kondisi anak dan cucunya.


Sebenarnya mereka menyayangi Alif, hanya saja mereka tidak rela kalau Nada harus kerepotan mengurusnya dan nantinya akan di perlakukan buruk oleh anak tersebut.


Bukan jadi rahasia publik, kalau banyak sekali anak kandung yang mengecap ibu sambungnya adalah perusak kebahagiaan keluarga kecil mereka.


Tapi nyatanya itu semua keliru, Alif sangat menyayangi Nada. Sama persis seperti dia menyayangi ibu kandungnya sendiri.


"Bagaimana kabar Suami dan mertuamu?" tanya Mama Nada.


"Mereka baik Maa, hanya Mama sedikit sakit kemarin." jawab Nada singkat.


Kedua orang tuanya saling menatap, seolah mereka tau apa yang terjadi dengan putrinya tersebut. Sebenarnya mereka ingin menanyakan kejanggalan ini, tapi melihat Nada yang sedikit berbeda takutnya akan malah melukainya.

__ADS_1


"Yasudah Mama mau masak dulu, kalau capek kamu bisa nyusulin Zaskia tidur di dalam," ucap Mama Nada beranjak dari kursi.


Mata Nada hanya menatap lekat kepergian Mamanya yang melangkah menuju kasur, ingin sekali dia bercerita banyak hal. Tapi lidahnya sangat kelu.


Jangankan menceritakan semua hal, hanya membayangkan dan mengingatnya saja mata Nada sudah rembes air mata.


"Bagaimana pekerjaan?" tanya Papa Nada.


Dia tau kekhawatiran yang terpancar di wajah senjanya, karena di banding Mamanya. Nada lebih dekat dengan Papanya.


"Alhamdulillah lancar Paa, meskipun hanya sedikit. Tapi insyaallah cukup." jawab Nada dengan senyuman getir.


"Papa bersyukur kalau dia bisa bertanggung jawab, dia sudah melampaui batas kepadamu. Setidaknya kalau kau bahagia bersamanya." ucap Papa Nada.


Nada hanya tersenyum kecil, kemudian melempar pandangan ke jendela yang terlihat jalan raya dengan banyak mobil berlalu lalang.


"Aku nggak tau Paa, apakah aku bahagia atau pura-pura merasakan bahagia?" ucap Nada mencengkram jemari lembutnya.


Papa Nada membenarkan posisi duduknya dan lebih mencondongkan tubuh ke arah Nada, berusaha untuk lebih jelas mendengar ucapan putrinya tersebut.


"Setiap rumah tangga akan menemukan masalahnya masing-masing, tinggal bagaimana cara kita menyikapinya," jawab Papa Nada dengan wajah serius.


"Mungkin karena aku terlalu kejam dengan Papa dan Mama, sehingga aku di beri cobaan seperti ini," ucap Nada sambil mendongakkan kepalanya.


Mendengar ucapan Putrinya Papa Nada menyandarkan punggungnya di sofa, dia menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan.


"Apakah Andra bersikap buruk kepadamu? Seperti KDRT," tanya Papa Nada serius.


Nada hanya menggelengkan kepalanya lirih, dia tak mampu berucap karena bibirnya kini bergetar hebat.


"Lalu, apakah Andra tidak menafkahi mu?" lanjut Papa Nada bertanya.


"Iya Paa, Mas Andra tetap bekerja dan menafkahi aku. Meskipun tidak seberapa, tapi cukup," jawab Nada.


Nada merasa tak kuat menahan air matanya yang hampir terjatuh, dia segera beranjak dan melangkah menuju kamar untuk menyusul Zaskia.

__ADS_1


Namun, langkahnya terhenti.


"Maaf Paa bila aku tidak bisa menjadi anak yang Papa banggakan lagi." ucap Nada datar dan melanjutkan langkahnya.


Papa Nada hanya terdiam, matanya masih menatap putrinya yang menghilang di balik pintu. Dia masih tidak mengerti maksud Nada.


Di kepalanya masih menerka-nerka, apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah tangga Putrinya tersebut.


Tak lama kemudian, Mama datang dan duduk di hadapan Papa Nada.


"Jadi apa masalah Nada?" tanya Mama khawatir.


"Papa nggak yakin, mungkin cuma masalah mertua. Bukankah setiap rumah tangga akan menghadapi masalah demikian." ucap Papa Nada dengan tatapan kosong, dia masih mencoba mencari tau apa yang sebenarnya terjadi pada Putrinya.


Mama Nada melempar bantal ke arah Papa, kemudian beranjak dari kursinya.


"Percuma Mama ngasih kesempatan ke Papa, tapi hasilnya nihil." keluh Mama Nada.


"Terus mau kamu gimana, pasti kamu akan menekan dia untuk pisah sama suaminya." ucap Papa Nada sambil menatap tajam ke arah istrinya.


"Ya iyalah, emang apalagi yang bisa di harapkan sama supir ojol kaya' dia? Udah nggak bisa mencukupi di tambah lagi orang tuanya yang pastinya bawel. Papa pernah lihat Mama bawelin Nada? Enggak kan, lah dia malah seenaknya memperlakukan anak kita. Nggak terimalah aku Paa ..." ucap Mama Nada sambil menahan emosinya.


"Lagian, dia tuh nggak tanggung jawab banget. Udah nyuruh Nada buat risgn dari kerjanya, sekarang dia malah nggak mampu nyukupin putriku. Ibu mana yang nggak emosi ..." ucap Mama Nada terputus.


"Cukup!" Papa Nada bersuara lantang.


"Papa juga nggak tega, tapi harus gimana? Setiap rumah tangga punya cobaan masing-masing. Akan salah bila kita terlalu ikut campur di dalamnya," lanjut Papa Nada.


"Ya, usaha kek. Gimana gitu?" ucap Mama Nada sambil melempar pandangan.


"Sudah, biarkan Nada istirahat. Nanti malam kita bahas lagi." Papa Nada beranjak dari kursi dan melangkah masuk ke kamar.


Tanpa mereka sadari Nada sedang duduk di belakang pintu, telinganya mencuri dengar semua percakapan Papa-mamanya. Hatinya selalu teriris perih bila mendengar semua nasehat Papanya.


Dia selalu memberikan nasehat tanpa berat sebelah, tapi apa balasan Nada? dia tidak bisa memberikannya kebahagiaan sedikitpun untuknya.

__ADS_1


Air mata Nada semakin deras membasahi pipinya,


BERSAMBUNG....


__ADS_2