
Nada dan Satria terdiam sesaat, mereka larut dalam lamunan mereka masing-masing. Ingatan mereka akan masa lalu berputar di benaknya.
Penyesalan Satria sudah tidak berarti, semua sudah terlambat. Lamunan mereka terpecah saat deringan ponsel Satria berbunyi.
Satria segera meraih ponsel yang berada di dasbor mobil,
"Hallo," ucap Satria setelah menggeser tombol hijau ke atas.
"Baik, saya akan segera kesana." lanjut Satria sambil memutus sambungan.
"Baiklah, sepertinya urusan kita sudah selesai." ucap Nada hendak membuka pintu mobil.
"Tunggu," ucap Satria sambil meraih tangan Nada.
****
Di ruang rawat Alif sedang bercengkerama dengan Andra, sesekali Alif meringis kesakitan karena tertawa cukup kencang.
"Kamu nggak pa pa Nak?" tanya Andra saat Alif mencengkram kepalanya.
Tak ada sahutan dari Alif, mulutnya masih mendesah kesakitan. Hal ini membuat Andra panik, dia segera beranjak dari kursinya.
Namun langkahnya terhenti, saat tangan Alif meraih erat lengan bajunya.
"Ayah mau ke mana?" tanya Alif di tengah rintihannya.
"Ayah mau panggil dokter Nak," jawab Andra panik.
__ADS_1
Andra mulai cemas ketika melihat wajah putranya yang semakin memucat, di tambah lagi istrinya tak kunjung datang.
Untuk saat ini emosi Andra mulai terpancing kembali, dia mengerti bagaimana kondisi pernikahannya saat ini. Dia juga mengerti bagaimana perasaan Nada.
Akan tetapi, hal itu bukanlah alasan untuk Nada pergi meninggalkan Putranya. Bukankah momen ini adalah momen yang di tunggu olehnya beberapa hari terakhir.
Andra segera meraih ponselnya yang terselip di saku celananya, dan segera menggeser tombol hijau pada sebuah kontak.
Sambungan terus berdengung tak ada tanda-tanda untuk tersambung, hingga sampai pada beberapa panggilan. Namun hasil tetap sama, tak ada jawaban.
Sementara Alif hanya terdiam, wajahnya pucat. Mungkin dia sedang menahan sakit, karena Alif bukanlah tipe anak yang manja dan cengeng.
"Alif, Ayah panggil Dokter yaa. Lihat, kamu sakit loh," ucap Andra membujuk putranya.
Entah mengapa dia tidak memperbolehkan dirinya pergi, hatinya semakin takut membayangkan hal yang buruk terjadi.
Andra meraih ponselnya kembali,
Alif terus mencengkram erat lengannya, ingin sekali dia segera melangkah keluar dan berteriak sekencang-kencangnya memanggil dokter.
Dia tak tega melihat putra sulungnya kesakitan, jemari Andra hanya mampu mengusap lirih bagian kepala Alif.
Hingga dirinya bisa bernafas lega saat seorang suster datang membawa nampan yang berisi beberapa botol obat.
Melihat Alif kesakitan suster segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang,
"Pasien atas nama Alif, korban kecelakaan sedang merintih kesakitan dia bagian kepala." ucap Suster tersebut.
__ADS_1
Setelahnya suster hanya mengangguk lirih, sambil menyiapkan beberapa obat yang dia bawa di nampan.
Sekian menit kemudian Suster tersebut melepas ponsel dari telinganya, dan mulai menusukkan jarum suntik ke beberapa botol. Setelah selesai, dia menyuntikkan jarum tersebut ke selang infus Alif.
Tak lama kemudian rintihan Alif mulai terdengar lirih dan tertidur.
"Saya beri pereda nyeri dan obat tidur ya Pak putranya, biar bisa istirahat. Rasa sakit memang biasa terjadi karena efek dari oprasi di kepalanya, jadi tidak perlu khawatir." ucap Suster tersebut menjelaskan.
"Nanti kalau anak saya sakit lagi bagaimana sus?" tanya Andra dengan wajah cemas.
"Sebisanya di tahan ya Pak, soalnya bila berlebihan memberi obat anti nyeri malah tidak naik untuk lambung nya," lanjut dokter tersebut menjelaskan sambil membereskan sampah obat yang berserakan di kasur.
Suster tersebut melangkah pergi setelah menyelesaikan tugasnya, sementara Andra masih duduk sambil memandang lekat wajah tenang putranya.
Terdengar kursi yang diseret, membuat Andra menoleh ke arahnya.
Tampak Nada yang baru saja datang dan duduk dengan santai tanpa dosa, mulut Andra sudah gatal.
"Apa telingamu sudah tuli, setelah beberapa hari tinggal di rumah orangtuamu?" tanya Andra dengan suara datar.
Nada hanya terdiam, mencoba mencerna ucapan suaminya. Bahkan suaminya tidak mengucapkan sesuatu apapun sebelumnya, yang dia dengar hanya celana yang baru saja di lontarkan.
Melihat wajah cuek Nada membuat amarah Andra semakin membara,
"Siapa pria itu?" tanya Andra tegas.
Mendengar pertanyaan Nada seketika jantung Nada berhenti berdetak, dia tak menyangka Andra akan menanyakan hal demikian.
__ADS_1
Alis Nada bertaut dan melempar pandangan ke arah Suaminya,
"Aku pergi dengan teman, bukan pria!" ucap Nada dengan menekan suaranya.