
Nada meletakkan ponsel di sampingnya, dia segera bersujud di lantai dengan isak tangis bahagia. Dia tak menyangka do'anya begitu cepat di kabulkan.
Dia menangis tersedu-sedu, bibirnya begitu kelu untuk berucap. Hatinya tak henti bersyukur atas keajaiban ini.
****
Di sisi lain, tepatnya di sebuah ruangan. Terdapat banyak sekali tumpukan kertas putih, di sampingnya sedang duduk seorang pria tampan dengan stetoskop yang melingkar di lehernya.
Matanya menatap nanar ke arah kursi yang berada tepat di hadapannya, masih terlihat jelas bagaimana wanita yang dia kagumi duduk di sana.
Dengan air mata yang terus berderai dia memohon untuk keselamatan putranya, perasaan yang sudah lama dia simpan dan terkunci rapat, tiba-tiba terbuka begitu saja.
Dia sadar saat ini sangat tidak mungkin baginya untuk meraih wanita itu kembali, memang salah nya telah melewatkan wanita yang begitu berharga dalam hidupnya dulu.
Dirinya hanya fokus pada cita-cita dan obsesinya pada pekerjaan, sehingga dia tidak sadar telah kehilangan seorang yang penting.
Penyesalan, hanya satu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Mungkin ini juga sebab kenapa dirinya tidak segera melabuhkan hati, padahal usianya sudah lebih dari cukup.
Kabar kondisi Alif yang membaik, baginya adalah kabar buruk sekaligus bahagia. Setidaknya dia bisa mengembalikan senyuman indah di wanita yang sudah dia buat sakit hati.
Buruknya, mungkin tidak akan ada lagi kesempatan untuk bersamanya kembali. Dan mau atau tidak, dia harus bisa menerima takdir kalau dirinya tidak berjodoh dengannya.
Di hadapannya terapat banyak kwitansi atas nama dirinya, terlukis senyum kecut di wajah tampannya.
"Aku yang bantu mereka, tapi ... aku juga yang menyesal. Argh ...!" Satria mengacak rambut nya.
Saat ini moodnya sangat kacau, di sisi lain dia bahagia karena pasiennya dapat terselamatkan. Tentunya gelarnya sebagai dokter unggul tidak dapat di geser dengan dokter lain.
Setiap oprasi yang dia kerjakan tidak pernah gagal, sebenarnya akan sangat mudah baginya untuk membiarkan bocah kecil itu dalam keadaan kritis.
Namun kembali lagi ke perasaan sosialnya, dia tak bisa mengorbankan seorang yang tidak bersalah demi menebus kesalahannya.
Ponselnya berdering kencang, memecah lamunannya. Matanya menatap nama yang tertera di layar ponsel.
Alisnya bertaut, dia tak menyangka akan secepat ini wanita itu menghubunginya. Tanpa pikir panjang dia segera menggeser tombol hijau ke atas.
__ADS_1
Dia menempelkan ponsel tersebut di telinga, dengan senyum indah merekah.
"Hallo, Nad?" sapa Satria.
Tak ada jawaban, hanya suara isak yang tersedengar. Satria menarik nafas perlahan.
"Aku sudah melaksanakan janjiku, bila permintaanku memberatkan mu. Lupakan saja, aku juga tidak memaksa." ucap Satria lirih.
Nada adalah wanita yang memegang teguh komitmen, dia tidak mungkin melakukan hal yang dia minta dengan mudah.
"Melihatmu bahagia, sudah cukup bagiku Nad," lanjut Satria dengan suara riang.
Masih tetap tak ada suara, mendengar isakan Nada membuat Satria merasa bersalah. Harusnya dia memberi bantuan tanpa syarat seperti ini, bila memang akan membebankan Nada.
"Bukankah janji adalah hutang?" ucap Nada lirih di tengah isaknya.
Satria terbelalak mendengar ucapan Nada, dia tak menyangka keinginannya akan di kabulkan oleh Nada.
"Dokter sudah menolong putra kesayanganku, dan sebelumnya Anda juga telah menyelamatkan nyawa Mama. Hanya ini yang bisa saya berikan." lanjut Nada lirih.
"Besok, di hotel Camelia Indah." ucap Nada mematikan sambungan sepihak.
Rasa kecewa dan bahagia bercampur jadi satu, angannya melayang jauh membayangkan hal yang telah lama dia impikan.
"Nad harusnya kau lebih memilih untuk tidak melakukan ini semua," ucap Satria lirih.
***
Di ruangan yang berada ada seorang yang sedang menyuapi putra tercintanya. Berulang kali matanya meneteskan air mata bahagia.
Dia tak menyangka keajaiban akan terjadi padanya, sejujurnya dia sudah putus asa dan mengikhlaskan apa yang terjadi pada-Nya.
Tapi Tuhan berkehendak lain, dia masih di beri kesempatan untuk merubah semuanya. Dan Andra berjanji akan memperbaiki sikap dan prilakunya terhadap keluarga kecilnya.
Mata sayup yang baru saja terbuka, menatap lekat pria yang sedang duduk di hadapannya sambil menyuapkan beberapa cuilan biskuit ke arahnya.
__ADS_1
"Ayah kenapa? Kok nangis terus," tanya Alif dengan suara sedikit serak.
Andra hanya menggeleng kepalanya lirih, terukir senyum manis di wajah tampan Andra, tangannya membelai pucuk rambut Alif yang sedikit lengket.
"Ayah nggak pa pa kok, Alif masih sakit?" tanya Andra dengan lembut.
Alif menggelengkan kepalanya lirih, dia menatap lekat mata Andra seolah Ada yang ingin dia sampaikan.
Bibir mungil Alif hendak terbuka, ingin mengatakan suatu hal yang harus ia sampaikan. Akan tetapi, semua tertunda karena seorang suster melangkah mendekati mereka.
"Bapak bisa tolong keluar sebentar, Alif mau di periksa sebentar." ucap Suster tersebut.
Mata Andra terbelalak ketika melihat seorang yang melangkah di belakang suster. Rahangnya mengeras ketika orang tersebut perlahan mendekat.
"Pangeran ganteng," Seru Alif.
Mendengar pujian Alif, membuat emosi Andra semakin tak terkendali.
"Alif kenal?" tanya Andra.
Alif menggelengkan kepalanya lirih, dia tidak kenal. Tapi entah mengapa dia seperti familiar dengan wajah pria tersebut.
Satria tersenyum teduh melihat putra Nada yang memujinya, dia tak menyangka akan mendapatkan respon baik oleh Alif.
"Om Pangeran periksa dulu ya? Ayah biar keluar sebentar." ucap Satria lembut.
Alif mengangguk pelan, Andra sampai tak berkutik. Setelah dengan terang-terangan dia meminta istrinya, dan saat ini dia sangat akrab dengan Satria. Kemudian ia membalik badan, kakinya terasa berat untuk melangkah kembali keluar ruangan.
Haruskah dia kehilangan harta yang paling berharga secara bersamaan?
Satria melempar pandangan ke arah Andra, mengisyaratkan untuk segera pergi dari sini. karena akan ada pemeriksaan yang di butuhkan ketenangan.
Dengan menahan amarahnya Andra segera memutar badan dan melangkah menjauhi Alif dan beberapa suster yang mengitarinya.
"Kamu lucu banget sih? Jadi anak Om mau?" tanya Satria basa-basi.
__ADS_1
"Jangan Om, kasihan bunda." Reflek Alif menjawab.
"Tapi kan ..."