
Kaki Nada tak mampu menopang berat tubuhnya, dia terkuyung di lantai, Andra yang melihatnya segera berlari membantu Nada untuk bangun.
Amarah yang tadinya meledak, sekarang hilang entah kemana. Dengan lembut Andra meraih tubuh lemas Nada.
Bibirnya Nada bergetar, begitu juga tangannya. Keringat dingin mulai keluar, Andra menatap lekat wajah istrinya yang ketakutan.
"Kamu Kenapa Nad?" tanya Andra sembari mendekat wajah Nada.
"A-alif" ucap Nada terbata, tangannya menunjuk ke arah ranjang Alif.
"Iya, Alif sedang tidur. Ada apa? Kamu kenapa?," tanya Andra semakin bingung.
Nada semakin pucat, tiba-tiba dia memeluk erat Andra sambil menangis sesenggukan. Tangisannya begitu parau dan sangat menyedihkan.
Andra mendekap erat Nada dan mencium lembut pucuk kepalanya, mencoba untuk menenangkan hati istrinya saat ini.
Beberapa menit yang lalu Nada tampak biasa saja, entah kenapa sikapnya berubah begitu cepat. Andra masih mencoba mencari apa kejanggalan dari istrinya.
"Panggil dokter Mas, tolong panggil dokter!" ucap Nada meraih tangan Andra.
"Panggil dokter?" ucap Andra mengulang ucapan istrinya.
"Ada apa? Kamu sakit?" tanya Andra lagi.
Nada menangkup wajah Andra dengan tangan jemarinya yang dingin karena keringat, dia menatap suaminya. Bibir nya berusaha keras untuk mengucapkan sesuatu yang amat pedih.
"Alif ... Alif sudah tertidur Mas," ucap nada parau.
"Iya Nad, dari tadi memang tertidur. Maksud kamu apa sih? Sebenarnya apa yang terjadi?" ucap Andra mulai hilang kesabaran.
"Nada, aku tau kalau kau menyimpan banyak rahasia dariku. Aku pahami itu dan aku mohon jangan memperkeruh masalah, Oke." ucap Andra menatap lekat mata Nada yang mengeluarkan buliran bening.
"Dan kau juga tau kan, Alif baik-baik saja. Dia juga sehat. Kau baru saja membacakan cerita dongeng kesukaannya kan, Lalu apa yang kau cemaskan hah," Andra mencoba meluruskan situasi kacau Nada.
"Ak-aku mohon, A-alif saat ini ... di-dia ..." ucap Nada terbata, dia tak berani mengucapkan hal tersebut karena takut kalau dia yang salah tebak.
Mata Nada terus menatap Alif yang masih memejamkan mata, aliran sungai di pipinya semakin deras ketika melihat tubuh Alif.
Melihat respon Nada yang berlebihan membuat Andra memastikan kondisi Alif, dia melangkah mendekat dan menempelkan punggung tangannya ke kening Alif.
"Lihat dia baik-baik saja, dia tidak demam," ucap Andra melempar pandangannya ke Nada.
Nada hanya menggelengkan kepala, dia masih tetap menatap wajah tenang Alif. Hingga akhirnya Andra mengetahui maksud Nada dari tadi.
Jantung Andra terasa sesak, jemarinya bergetar saat sudah hampir menjamah hidung Alif. Matanya menatap lekat dada Alif yang tenang, tanpa ada tarikan nafas sedikit pun.
"Ti-tidak Nak, kondisimu sudah baik-baik saja. Kenapa kau seperti ini!" ucap Andra menggelengkan kepala lirih.
Tak berapa lama suster datang dengan membawa nampan yang berisi obat. Melihat Nada dan Andra yang menangis membuat suster tersebut sedikit bingung.
Dia melihat putranya baik-baik saja di kasur, sebelumnya kondisi Alif juga sangat baik dan tak ada yang perlu di khawatirkan.
"Anak saya akan saya bawa pulang sekarang sus," ucap Andra di tengah tangisnya.
"Maaf Pak, tapi kondisi Putra Bapak masih dalam pengawasan dokter. Kondisinya belum benar-benar pulih," jawab Suster santai.
__ADS_1
"Putra saya sudah tertidur dengan tenang, tak ada yang bisa mengganggunya lagi." ucap Andra.
Mendengar ucapan Andra suster sudah mengerti, dia segera mengecek kondisi pasien-pasiennya dan benar saja, pasiennya sudah menghembuskan nafas terakhirnya beberapa menit yang lalu.
Suster menarik selimut Alif dan menutup wajahnya, kemudian melangkah mendekati Andra.
"Saya turut berduka cita Pak, saya akan segera menyiapkan ambulan. Di mohon bapak menemui administrasi sebentar." ucap Suster, kemudian melangkah keluar kamar.
Andra mendekati Nada dan membukanya erat,
"Dia sudah nggak sakit lagi Nad, kau adalah ibu terbaik." ucap Andra menenangkan Nada yang mulai histeris.
****
Di kamar lain Satria baru saja menyelesaikan operasi nya. Dia meraih ponselnya yang menyala berulang kali.
"Ada apa sus?" tanya Satria.
"Apa!" ucap Satria tak percaya. Dia segera berlari menuju tempat di mana ruangan Alif berada.
Tak peduli ada beberapa orang melihatnya dengan tatapan aneh, di tambah cacian karena berulang kali dia menabrak orang yang berlalu lalang.
Setelah tiba di ruangan, hanya ada Nada di sana, perlahan dia mendekati wanita yang masih terpukul tersebut.
"Nad, kamu baik-baik saja?" tanya Satria mendekat.
"Aku ibu yang jahat, harusnya menemaninya kan?" ucap Nada, tatapannya masih menatap kosong ke arah lantai dengan air mata membasahi pipinya.
"Maaf Nad, seharusnya ..." ucapan Satria terpotong.
"Kau sudah merebut dan saat ini sudah menghilangkan nyawa anakku, benar-benar hebat," lanjut Andra melewati Satria begitu saja.
"Aku tidak tau kenapa Alif bisa seperti itu, kau juga tau kan kalau kondisinya sudah membaik sebelumnya?" jawab Satria yang tidak mau kalah.
"Ya dia baik-baik saja sebelum kau meminta Bundanya untuk pergi bersamamu," jawab Andra menatap Satria dan Nada bergantian.
"Apa!" ucap Satria tidak percaya.
Nada terkejut mendengar ucapan Andra, namun hatinya masih hancur saat ini. Dia tak peduli dengan obrolan mereka, saat ini dia sangat menyesali perbuatannya sendiri.
"Aku tau, aku tidaklah sempurna seperti dirimu. Setidaknya masih punya belas kasih dari pada kamu!" lanjut Andra mencela Satria.
Nada bangkit dari kursi dan melangkah menjauh. Dirinya sudah sangat kacau dan tak mau terlibat kekacauan lagi.
"Nad ... Nada ... Maaf Nad ..." ucap Satria melangkah hendak menyusul Nada. Namun segera di cegah Andra.
"Jangan ganggu dia!" ucap Andra kemudian melangkah mengikuti Nada.
Mereka melangkah menuju ambulan yang sudah terparkir di halaman belakang rumah sakit, tubuh Nada masih membeku di pintu belakang ambulans.
"Kau bisa duduk di depan," ucap Andra melewati Nada begitu saja dan naik ke ambulan.
Tak ada sahutan dari Nada, dia hanya mengikuti langkah Andra yang masuk ke dalam ambulans. Dia duduk di belakang kursi kemudi sopir.
Di hadapannya terdapat selimut putih yang menutupi tubuh anak kecil, dan sudah di pastikan itu adalah Alif. Ambulance tersebut melaju perlahan.
__ADS_1
Dengan tangan bergetar Nada meraih selimut tersebut, kemudian membukanya perlahan. Tampak tubuh Alif yang sudah di bungkus kain putih dan hanya menyisakan bagian wajah yang masih terbuka.
"Alif, ini Bunda. Maafin bunda ya ..." ucap Nada sambil merangkul erat jasad putranya.
"Alif nggak pa pa nggak nepatin janji, Bunda yang lebih dulu jahat sama Alif." lanjut Nada di tengah isaknya.
Andra segera berganti posisi, dia segera duduk di belakang Nada. Mencoba menenangkan istrinya yang hancur saat ini.
Dia merangkul erat Nada dan menutup kembali selimut yang membuka jasad putranya.
"Lepasin, aku masih mau ngobrol sama Alif. Aku tau kok dia pasti dengar," ucap Nada meronta.
"Sadar Nad, Alif sudah tenang, kamu nggak boleh seperti ini. Kasihan anak kita Nad," jawab Andra mendekap erat Nada.
"Maafin Bunda Alif ..." ucap Nada sambil menangis sesenggukan.
Semuanya bagaikan mimpi di siang bolong bagi Nada, begitu cepat dan tak bisa dia kendalikan. Padahal baru kemarin dia merasakan kebahagiaan, melihat mata Alif terbuka kembali dan melihat senyuman indahnya.
Dia tak menyangka setelah dia melambung begitu tinggi, tiba-tiba terhempas begitu saja. Bagaikan terjatuh di sebuah tebing yang curam
Dan di sambut dengan banyak batu runcing dan dahan tajam yang melukai setiap centi tubuhnya. Hancur ... Remuk ...
"Maafin aku Mas, Aku nggak bisa jadi Bunda baik. Aku gagal," ucap Nada semakin terisak.
"Kita sama-sama belajar lagi Nad, Mas juga minta maaf nggak bisa jadi ayah yang baik buat Alif dan suami yang baik buat kamu," ucap Andra masih mendekap erat Nada.
Andra mencoba menenangkan hati Nada, tanpa peduli hatinya sendiri saat ini juga begitu rapuh. Dia tak menyangka akan kehilangan putra kebanggaannya.
Terlintas ingatannya saat Alif kecelakaan, di saat itu dia baru saja membentak dan menghakiminya. Rasa bersalahnya semakin besar jika mengingat ada Kinan di antara mereka.
Hatinya begitu perih ketika mengingat permintaan terakhir Alif, dia baru sadar kalau dongeng yang di baca Nada untuknya adalah sebuah pesan tersirat.
Betapa bodohnya dia yang tidak bisa memahami putranya, berulang kali dia mengutuk dirinya sendiri.
Ambulance sampai di depan rumah Andra, para tetangganya datang berkerumun membatu pemakaman keluarga Andra. Sebagian tetangga menangis ketika melihat jasad Alif, tak sedikit orang tua tentang semua masalah keluarganya.
Mulai dari Nada yang selalu tertekan, sampai fitnah yang di tebarkan oleh Laras. Sebenarnya sebagian banyak tetangga tak percaya dengan ucapan Laras.
Namun, banyak sekali orang yang iri hati dengan Keluarganya. Bayangkan saja Andra yang seorang duda tidak memiliki pekerjaan mapan bisa mendapatkan seorang Nada dengan segala kelembutannya.
Semua gosip yang bertebaran hanya untuk membuat Nada tidak bisa bertahan dengan kondisi rumah, dan ketika itu terjadi maka semua orang yang membencinya akan bertepuk tangan ria.
Seharusnya Laras mengerti hal sepele seperti ini, tapi nyatanya tidak, dia semakin menjadi saat kisahnya mendapat tanggapan dari semua orang.
Mirisnya, yang menanggapi omongan Laras hanya orang-orang yang bermuka dua. Di depannya sangat baik, berbanding terbalik saat di belakangnya.
Jenazah Alif di turunkan oleh para tetangga, sebagian tetangga membatu Nada untuk berjalan. Tubuhnya saat ini bagaikan seonggok daging yang tak mempunyai tulang.
Matanya terbuka lebar, langkahnya terhenti. Tubuhnya diam membatu ketika melihat seorang di hadapannya.
Ingin sekali dia mencabik-cabik wajah tersebut, menumpahkan semua emosinya dari dulu. Andaikan dia tidak bersama Andra saat itu, pasti Alif tidak akan mengalami hal seperti ini.
Dada Nada kembang kempis menahan amarah, dia mengayunkan kakinya mendekat ke wanita tersebut. Hingga beberapa centi lagi dia dapat meraihnya.
Brukk!
__ADS_1
"Nada!'' teriak Andra.