Let The Heart Choose

Let The Heart Choose
Aku Hancur


__ADS_3

Waktu mulai senja, jantung Nada berdegup begitu cepat. Entah yang dia lakukan ini salah atau benar, yang jelas seorang ibu akan melakukan apapun demi putranya.


Wajah Nada mulai gelisah, jemarinya saling meremas. Keringat dingin mulai bercucuran hinggap ...


Deringan ponsel terdengar, dengan tangan bergetar dia mencoba meraihnya.


"Kau masih di rumah sakit?" tanya Satria.


Bibir Nada tiba-tiba kelu, tak bisa menjawab pertanyaan sederhana dari Satria.


Satria melihat layar ponsel karena tak ada suara yang membalasnya, namun detik di panggilan masih berjalan.


"Nad, kamu masih di sana kan?" tanya Satria dengan khawatir.


"Ma-masih, maaf. Alif masih minta di suapi," dusta Nada,


"Baiklah, akan aku tunggu di hotel melati." ucap Satria dengan suara riang.


"Baik Dok," jawab Nada lirih.


Sambungan terputus, nada menarik nafas panjang. Sejujurnya dia tidak ingin melakukan hal ini akan tetapi tidak ada pilihan lain.


Tanpa dia sadari Andra sudah berdiri di belakang nada dari tadi dan mendengarkan semua percakapannya dengan seorang di ponsel.


"Jadi kamu mau ke mana?" tanya Andra.


Andra belum rela untuk melepas istrinya, telinganya tidak tuli untuk mendengar semua percakapan itu. Akan tetapi, hatinya tidak tega bila harus egois dan bersikukuh untuk menyuruhnya agar tetap berada di sisinya.


Ekonominya sekarang sedang surut, ditambah lagi orang tuanya yang membutuhkan perhatian yang khusus. Dia takut akan membuat hari-hari istrinya semakin kelam.


"Pergi sama teman doang," jawab Nada dengan sikap yang berbeda.


"Kalau kamu emang sudah menentukan pilihanmu. Aku akan segera mengurus surat perceraian ini, kau berhak bahagia," ucap Andra


Nada mendongakkan kepalanya, dia menatap wajah sedih Andra melihat ekspresi suaminya yang begitu pedih membuat dirinya semakin tak tega untuk meninggalkannya.


Bagaimanapun 5 tahun bukanlah waktu yang sebentar, banyak kenangan dan perjuangan yang mereka lewati bersama.


Meskipun ada banyak batu sandungan, tapi mereka bisa sukses melewatinya. hanya ujian bertubi-tubi beberapa bulan ini yang membuat cinta mereka mulai goyah.

__ADS_1


Kesalah pahaman, di tambah dengan komunikasi yang kurang baik dan masalah yang sudah di timbun beberapa tumpuk membuat api kecil semakin berkobar.


Nada memang tidak mentoleransi kesalahan jika berkaitan dengan perselingkuhan namun ada juga tidak menutup kenyataan kalau suaminya tidak sepenuhnya bersalah.


"Aku akan pergi sebentar, dan segera kembali," ucap Nada beranjak dari kursinya dan melangkah keluar ruang rawat Alif.


Andra hanya melihat kepergian Istrinya dan berusaha untuk pasrah. Saat ini dia baru merasakan bagaimana pedihnya setiap detik yang Nada lewati setiap harinya.


Nada melangkah perlahan menuju tepi jalan, hatinya masih ragu untuk melanjutkan langkahnya. Hingga ada sebuah mobil yang berjalan perlahan mendekat.


Sinar lampunya membuat mata Nada mengernyit, tangannya melambung untuk menahan sinar lampu yang langsung menerpa matanya tersebut.


Mobil tersebut melaju melambat dan berhenti tepat di hadapannya. Nada segera menurunkan tangannya dan melihat ke arah mobil tersebut.


Kaca mobil perlahan turun, dan menampakkan pengemudi tersebut.


"Dokter?" ucap Nada terkejut.


"Bukankah dia sudah memilih tempat dan menunggu disana? Tapi kenapa dia ada disini?" batin Nada penuh tanya.


"Masuk," ucap Satria singkat.


Dia melempar pandangan ke seorang pria di sebelahnya, tampak wajah sendu terpancar jelas di wajah tampannya.


"Maaf Dok ..." ucapan Nada terputus.


"Saya tidak bisa ambil jam istirahat, ada pasien yang menunggu. Jadi persiapkan dirimu besok." ucap Satria dingin.


Nada menghembuskan nafas lega, setidaknya dia masih memiliki waktu tenang sampai besok.


"Aku masih sama seperti yang dulu, selalu mengutamakan karier dan pasienku." lanjut Satria sambil menatap motor yang berlalu lalang di jalan raya.


"Tapi bukankah semua sudah terbayar tuntas, sekarang Anda sudah menjadi dokter hebat di rumah sakit ini," ucap Nada melempar senyum manisnya.


Satria melempar pandangan ke Nada, tanpa sengaja tatakan mereka saling bertemu. Dia melihat betapa indah mata yang selalu dia rindukan tersebut.


Satria terpesona dengan mata yang selama ini mengganggu hari-hari, ingin sekali dia bercerita kalau bayangan Nada selalu menghantuinya setelah perpisahan mereka.


Ingin dia putar waktu dan melepaskan semua gelar dokternya, sungguh sesak bila mengingat wanita istimewa yang menghilang karena sikap acuhnya.

__ADS_1


"Tapi aku sangat tersiksa setelah kehilangan kamu," jawab Satria lirih.


"Bukankah Dokter sudah memilih, jadi jangan di sesali. Bukankah pencapaian yang besar membutuhkan pengorbanan besar juga?" ucap Nada menatap Satria.


"Tapi ini semua tidak sepadan dengan apa yang aku korbankan," ucap Satria menatap Nada dengan tatapan sendu.


Nada tau apa yang di maksud oleh Satria, dia memainkan kukunya. Meremas ujung baju yang dia kenakan.


"Kembalilah kepadaku, please." lanjut Satria meraih jemari Nada.


Nada terbelalak setelah mendapatkan reaksi yang tiba-tiba itu,


"Bukankah Dokter tau ..."


"Namaku Satria, bukan Dokter. Apa kau sudah melupakan semuanya? Apa rasa itu sudah benar-benar hilang?" sahut Satria dengan suara sedikit kasar.


"Aku sudah punya keluarga sendiri Mas, bukankah kau juga tau itu?" tanya Nada kembali.


"Tapi kau tidak bahagia bukan? kembalilah padaku Nad, aku akan menerima Alif dan Zaskia sepenuh hati." ucap Satria mempererat genggamannya.


"Sekarang situasinya berbeda Mas, kalau dulu hanya. ada satu hati yang memutuskan. Kali ini aku harus meminta persetujuan kedua buah hatimu," ucap Nada melempar pandangan nya.


"Mereka pasti menerimaku," sahut Satria semangat.


"Apa tidak ada yang di bicarakan lagi? Aku akan kembali kedalam," ucap Nada yang ingin segera mengakhiri pembicaraan.


Melihat Nada yang sudah mengerti apa maksud dari semua ucapannya, Satria segera menarik tangan Nada dan menyondongkan tubuhnya mendekat.


Dia meraih tengkuk Nada dan menekannya perlahan, dia mengecup lembut bibir yang telah lama dia rindukan. Meskipun dia tau saat ini bibir itu bukanlah miliknya.


Nada yang mendapatkan perilaku demikian, dia terkejut dan reflek mendorong tubuh gagah Satria. Seketika tangannya melayang dan mendarat indah di pipi Satria.


"Aku tau, kau jauh lebih baik segala-galanya dari Mas Andra. Aku juga tau dan sadar hubungan rumah tangga ku saat ini, tapi aku mohon jangan seperti ini! Apakah aku begitu rendah di hadapan mu Mas?" ucap Nada dengan emosi yang membara.


Dia tak menyangka, sosok yang lembut dan perhatian tiba-tiba berubah menjadi monster seketika.


"Maaf, aku hanya pria normal yang sedang jatuh cinta." ucap Satria parau.


"Ingat ... itu dulu." ucap Nada dengan tegas.

__ADS_1


"Apa menurutmu aku tak hancur? Aku hancur tiap saat Mas, Kau selalu memilih pekerjaanmu. Aku tau kau sibuk untuk merintis karir agar kehidupan kita lebih baik mendatang. Tapi hidup ini bukan cuma tentang harta dan kebutuhan, bukankah manusia memiliki perasaan." lanjut Nada lirih.


__ADS_2