
Satria sudah melangkah pergi, sedangkan Andra masih duduk terdiam di kursinya. Dadanya masih kembang kempis menahan amarah yang tertahan.
Di sisi kota lainnya, Nada sedang duduk di di depan meja makan. Di depannya sudah tersaji makanan favoritnya, ada nasi pecel lengkap dengan lauk telur dan rempeyek kacang.
Biasanya dia akan semangat untuk sarapan, dan entah akan habis beberapa porsi. Namun sekarang berbeda, nafsu makannya mendadak hilang entah kemana.
Kedua orang tua Nada saling berpandangan, seolah tau apa yang di alami putri semata wayangnya saat ini.
"Zaskia makan sama Oma ya?" ucap Mama Nada sambil menyendok kan nasi di sebuah mangkuk kecil.
Zaskia hanya memamerkan senyum riang di pangkuan Neneknya, dengan penuh kasih sayang dia menyuapi cucu kesayangannya.
Mama Nada sudah menyiapkan sayur khusus untuk Zaskia, dia selalu memperhatikan cucu kesayangannya tersebut. Sikapnya akan sangat berbanding terbalik bila yang di posisi Zaskia adalah Alif.
Nada sudah mencoba untuk menegur Mamanya, tapi semua hanya sia-sia. Dia selalu memandang Alif sebelah mata, padahal Alif adalah perisai bagi Nada.
"Udah makan, kok bengong?" ucap Mama Nada yang tersadar kalau putrinya sedang memperhatikannya.
"Iya Ma ..." jawab Nada singkat.
Nada hanya menyendok beberapa sendok nasi dan sayur mayur, tidak lupa guyuran sambal pecel di atasnya.
"Kok cuma dikit?" tanya Papa Nada.
"Sudah paa, lagi diet." ucap Nada sambil menundukkan pandangannya.
Papa Nada hanya mengangguk dan melanjutkan acara makan siangnya, dia tak mau bertanya lebih banyak lagi yang akan membuat putrinya merasa semakin tak nyaman.
Jangan tanya kenapa, dia yakin putrinya pasti akan bercerita. Hanya saja waktunya belum tepat, Nada bukanlah seorang yang pandai menyimpan masalah terlalu lama.
Semua sedang menikmati makanan yang di sajikan Mama, hanya dentingan sendok yang menabrak piring yang terdengar.
Akan tetapi, Nada masih menatap kosong ke arah piringnya. Tangannya hanya memainkan sendok dan nasi, tanpa ada keinginan untuk segera melahapnya.
Setelah Zaskia selesai makan, Papa Nada segara menggendongnya dan mengajaknya untuk bermain di halaman rumah.
Rumah Nada cukup teduh dan asri di halaman rumah terdapat sebuah pohon rindang, di bawahnya terdapat sebuah ayunan. Tempat ini adalah tempat Favoritnya Alif saat dia berkunjung kesini.
Sayangnya itu sangat jarang sekali, Andra terlalu sibuk. Di tambah, hatinya yang selalu berkecamuk saat berada di rumah Nada.
Karena Mama Nada belum makan, dia mengambil kesempatan. Dia mengambil seporsi nasi kemudian duduk di hadapan Nada.
Nada masih sama, hanya duduk dan mengaduk-aduk nasinya saja.
"Jadi apa yang ingin kau ceritakan ke Mama?" tanya Mama Nada langsung ke intinya, dia adalah seorang yang tidak suka berbelit-belit.
"Aku ingin pisah Maa, sama Mas Andra." ucap Nada sedikit ragu.
Mendengar ucapan Nada, Mama hanya tertawa kecil. Melihat reaksi Mama, dia menyatukan alis tebalnya.
"Kok Mama ketawa?" tanya Nada bingung.
"Semuanya terlalu singkat, apa kamu tidak ingat. Bagaimana kamu menentang Mama dan Papa?" ucap Mama Nada sambil melipat tangan di dadanya.
Dia menatap lekat manik mata milik putrinya tercinta, sedih? Ya Mama sangat sedih mendengar ucapan Nada. Tapi sebuah rumah tangga mema.g butuh kerja keras untuk berdiri kokoh.
Kita harus memahami semua sifat dan sikap yang jauh berbeda dengan diri kita sendiri, kita harus dapat mengatur ego dan selalu menimang keputusan.
Mama memang sangat membenci Andra, tapi hal itu tidak membuatnya memberi saran yang merugikan anaknya.
"Memang apa masalahmu?" tanya Mama sambil memulai acara makannya.
Nada masih terdiam, mulutnya terbuka mengatup. Begitu banyak yang ingin dia ceritakan, sampai dia bingung mau memulainya dari mana. Hingga akhirnya ...
__ADS_1
"Sudah tidak cocok aja Maa, sepertinya kita memang tidak sejalan." jawab Nada.
Mama Nada menatap putrinya sesaat, kemudian melanjutkan makannya. Kembali terukir senyum indah di wajah cantiknya.
"Bukankah dari awal kalian memang tidak sejalan?" tanya Mama Nada enteng.
Nada terdiam, untuk kali ini dia benar-benar tidak bisa menjawab. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Apakah Andra begitu sibuk?" lanjut Mama Nada bertanya.
Nada hanya menganggukkan kepalanya, sesekali jemari lentiknya mengusap tetesan air yang menetes di pipinya.
Hati Mama Nada mulai bergemuruh, putri yang begitu dia cintai ternyata tidak di perlakukan dengan baik oleh suaminya.
Amarah Mama Nada mulai melonjak, tapi dia bisa mengontrolnya. Bagaimanapun dia tidak mau terlalu ikut campur ke dalam rumah tangga anaknya.
"Mertuamu?" ucap Mama Nada sambil melempar pandangan ke Nada.
"Dia sering cemburu dengan Nada Maa," jawab Nada singkat.
"Andra?" Tanya Mama Nada lebih lanjut.
Nada mendongakkan kepalanya dan menghembuskan nafas panjang.
"Andra sering menegurnya tanpa sepengetahuanku, tapi ...' ucapan nada terpotong.
"Jalani saja dulu, tapi kalau kamu memang benar-benar tidak kuat lepaskan saja." sahut Mama sambil membuka mulut, dan memasukkan sesendok nasi ke dalam.
Entah mengapa Nada merasa mamanya sudah banyak berubah, padahal dulu dia sangat membenci Andra. Di tambah keberadaan Alif, Mama sering menyarankan untuk Alih di pondokan saja.
Yang Nada tangkap adalah, Mamanya ingin memisahkan Alif dari dirinya. Tentunya dengan cara halus, Namun setelah Papanya mengutarakan semuanya Nada baru tau kalau Mamanya hanya mencemaskan nya saja.
"Mama dulu juga sama sepertimu, banyak sekali drama di kehidupan rumah tangga Mama. Yang terpenting pasangan kita masih bertanggung jawab dengan kita." ucap Mama Nada melempar senyum perih.
"Yang perlu kamu tau, semua masalah rumah tangga tiap orang memang berbeda, berikut dengan karakter nya. Kamu tau hukum alam sangat egois?" Mama Nada menatap lekat anaknya.
"Temen Mama ingin bercerai dari suaminya, dan kau tau apa yang dia lakukan?" tanya Mama Nada masih dengan tatapan mata yang sama.
"Nggak," jawab Nada singkat.
"Pasrah." Mama Nada mengangkat alisnya.
Seketika wajah Nada berubah suram, dia sudah memasang mata dan telinga dengan baik untuk mencerna setiap ucapan Mamanya. Dan apa yang dia dengar? Hanya lelucon.
Dia segera beranjak dari kursinya dan tidak mempedulikan Mamanya lagi.
"Pasrah adalah jalan yang terbaik, karena sebelum suami menjatuhkan talak atas kita. Itu akan sangat sulit di proses secara hukum, bila kau memang ingin berpisah pastikan dulu Andra benar-benar Sudak tidak memiliki rasa. Semua lelaki memang egois dan ingin memiliki segalanya, meskipun itu tidak semua," ucap Mama Nada masih duduk menikmati makanannya.
Nada menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya,
"Makasih Maa, sebentar lagi aku akan berangkat ke rumah sakit. Kasihan Alif kalau ditinggal." ucap Nada dengan suara datar.
"Ya, Mama akan menjaga Zaskia dengan baik dan kau. Pikirkan semuanya dengan matang," Mama Nada beranjak dari kursinya.
Nada melangkah masuk ke kamarnya, membereskan semua barang-barang yang akan dia bawa. Hatinya selalu gelisah saat meninggalkan Alif di rumah sakit.
Meskipun Alif di dampingi banyak orang. Namun, dia tidak percaya kalau mereka benar-benar tulus menjaganya.
Nada duduk di kasurnya, dia menatap Foto pernikahannya dengan Andra yang di bingkai indah. Foto tersebut menempel indah di kamar Nada.
Haruskah secepat ini?
Benarkah sesingkat ini?
__ADS_1
Hati Nada terus bertanya, dia memasang lekat bagaimana ketulusan terpancar dari mata Andra saat itu. Begitupun tatapan bahagianya.
Semua begitu nyata dan indah, mengapa sangat sulit baginya untuk memutuskan keputusan ini. Kenapa hatinya seolah terpecah.
Disisi lain dia mengharapkan perpisahan, sedangkan sisi lainnya masih enggan melepas semua.perjuangannya begitu saja.
Ucapan Mama dan Laras juga berdengung di telinga dan otaknya, seolah memberi isyarat kalau perpisahan bukanlah jalan yang terbaik untuk masalah yang sedang dia hadapi.
Mendua?
Apakah mendua itu memang wajar di dalam hiruk pikuk rumah tangga, Nada kembali mengambil nafas panjang.
Kenyataanya, Laras. Teman yang selalu mendengar keluh kesahnya juga bilang berulang kali kalau suaminya juga sering selingkuh.
Apa mereka berpisah? Jawaban adalah tidak. Mereka bisa hidup bersama seolah tak ada masalah besar yang menerpa rumah tangganya.
Apakah semua ini karena Mertua?
Nada masih ingat betul bagaimana Mamanya menghadapi sang Nenek yang sangat cerewet kala itu. Hal itu pula yang menyebabkan Nada memilih kuliah diluar kota. Jadi dia cukup di pusingkan dengan tugas kuliah dan tidak mendengar omelan Neneknya yang tiada henti.
Apakah Mama memilih berpisah? Mamanya juga tidak berpisah, dia sanggup bertahan. Bahkan dialah yang merawat Nenek saat dia menutup usia.
Otak Nada semakin sakit bila mengingat semua kenyataan pahit yang bisa terlihat indah di sekitarnya.
Haruskah dia menyerah?
Nada tidak tau dia dapat bertahan berapa lama di samping Andra, bahkan dia juga tidak dapat memastikan perasaannya terhadap suaminya.
Apakah ini emosi sesaat, atau memang rasa yang sudah letih. Semuanya tampak samar bagi Nada.
Dering ponsel Nada bergetar, dia meraih benda pipih tersebut yang tak jauh dari jangkauannya. Terlihat nama suaminya di layar ponsel.
Rasa penasaran lebih dominan dari amarahnya, sehingga dia segera menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkan benda pipih tersebut di telinga kanannya.
"Hallo, ada apa Mas?" tanya Nada dengan suara lirih.
Tak ada suara jawaban, hanya keheningan yang Nada dengar. Nada berdecak sebal.
"Mas, bisa serius dikit nggak sih? Nggak penting banget," ucap Nada yang hendak menggeser tombol merah.
"Bunda ada dimana?" ucap suara yang amat dia rindukan.
Bibir Nada bergetar, lidahnya kelu dan tak dapat mengucapkan satu katapun. Yang ada hanya air mata bahagia yang berlinang membanjiri pipinya.
"Bu-bunda ko-kog di-diem sih?" tanya Alif dengan suara terbata.
Nada masih mematung, dia mencoba mendengarkan suara di ponsel lagi. Dia masih tak percaya kalau hal ini begitu nyata.
Berulang kali Nada menampar pipinya, berusaha bangun dari tidurnya. Nyatanya yang dia dapat adalah rasa perih dan panas di pipi.
"Kondisi Alif masih lemah, dari tadi dia mencari Mu. Bisakah kau menyapanya sedikit?" tanya Andra dengan intonasi lembut.
"Ba-baik," jawab Nada singkat
Andra memencet tombol bergambar speaker dan menaruh di sisi telinga Alif.
"Bunda ada dimana?" tanya Andra dengan suara lantang.
"Bu-bunda ada di rumah Nenek, sebentar lagi Bunda berangkat kesana ya," ucap. ada menahan isak.
"Bu-bunda nangis?" tanya Alif dengan suara yang melemah
"Iya, tapi nangis bahagia kok. Tunggu Bunda yaa sayang" ucap Nada terbata.
__ADS_1