Let The Heart Choose

Let The Heart Choose
Impas


__ADS_3

Nada melempar pandangannya, dia tak mampu menatap mata suaminya karena dia tau. matanya tak pernah bisa berbohong, terlebih dahulu pada suaminya.


Andra mendekati Nada, kemudian berjongkok di hadapannya.


"Apapun yang kau mau, aku akan kabulkan. Meskipun itu adalah perceraian, tapi aku mohon. Jangan sekarang, kondisi Alif belum sembuh total.” ucap Andra menatap wajah Nada.


Andra menghela nafas panjang, dia tak peduli dengan harga dirinya lagi. Bila Nada tak dapat bertahan di sampingnya, setidaknya Alif harus tetap ada.


"Tadi Alif menangis, dia kesakitan. Dan kau tau apa yang dia bilang? Dia mencarimu, aku tidak tau harus menjawab apa. Jujur aku kecewa, amat kecewa. Apa kau tak pernah berpikir jauh sebelumnya?" lanjut Andra, lalu berdiri.


"Dia kesakitan, tidak mau di periksa dokter, dia terus mencari mu ... dan kau tau pada akhirnya bagaimana?" ucap Andra melangakhkan menjauh.


Mata Nada mulai memanas mendengar penjelasan suaminya, dia tidak tau kalau putranya akan mencari keberadaannya. Padahal sebelum dia tinggal Alif sedang tertidur pulas.


"Aku tau dia bukan anak yang lahir dari rahimmu, sikapmu akan berubah dengan seiring berjalannya waktu ..."


"Oiya, jadi di otakmu sekarang aku begitu kejam!" sahut Nada. Hatinya sudah tak tahan mendengar omong kosong Suaminya.


Di sungguh tidak sengaja, kasih sayangnya kepada Alif masih sama seperti yang dulu. Hanya saja dia harus membayar dengan apa yang dia sepakati.


"Apa yang aku tidak tau?" tanya Andra menatap Nada.


Nada kembali duduk dan membuang muka ke arah lain, dia tak mampu menjawab semua pertanyaan Andra.


"Kau pasti menyembunyikan hal besar dariku kan?" tanya Andra memutar kursi yang Nada duduki


Mata Andra sudah memerah padam, angannya melayang jauh tak terkendali.


"Siapa dia, dan sudah berapa kali kalian berhubungan?" tanya Andra menahan amarah.


Dia tau Istrinya sudah tak mencintainya, namun itu bukan alasan untuk Nada cap cip cup sana-sini.


Nafas Nada bergemuruh ketika mendengar ucapan Andra, dia segera berdiri dan mendorong Andra. Seketika mata Nada menitihkan air mata, tangannya melayang dan mendarat ke pipi Andra.

__ADS_1


"Ya ... aku tidur dengan pria lain. Sudah tidak terhitung berapa kali aku tidur dengannya." jawab Nada dengan nafas bergemuruh.


"Sekarang kau mau apa!" lanjut Nada menunjuk wajah Andra.


"Cerai! iya kan. Sekarang ceraikan aku, kita tidak perlu basa-basi dan menunggu surat cerai," Nada menatap mata Andra yang mulai memerah, tangannya sudah mengepal seolah mengumpulkan segala amarah di sana.


"Menurutmu aku nggak capek! Aku capek banget Mas!" Lanjut Nada memalingkan tubuhnya.


"Kau tau bagaimana aku harus bertahan bersama ibumu? Semua caci-maki aku terima dengan lapang dada. Apa pernah sekali saja aku membentak Ibumu hah!" Suara Nada sedikit meninggi.


Andra mencoba menahan amarahnya dan memberikan ruang untuk Nada menumpahkan segala emosinya.


"Sekarang kau tanya seperti ini? Apa matamu buta hah!" Nada terisak.


"Dulu aku memiliki segalanya, kalaupun aku ingin. Aku akan meninggalkanmu saat itu juga! Apa menurutmu aku sayang dengan Alif hanya sebatas drama belaka?" Nada memutar tubuhnya dan menatap Andra sesaat.


Tampak mata Nada yang mengalir air mata, sesekali jemari lentiknya menghapus tetesan air mata tersebut.


"Karier, harga diri, waktu, kasih sayang. Semua sudah aku berikan secara cuma-cuma, tapi apa yang aku dapat?" tanya Nada sambil melangkah mendekat.


Kakinya sudah tak kuat menopang tubuh lemasnya, semua beban yang dia pikul saat ini seolah melemahkan segala tulang-tulangnya.


Andra hanya terdiam, dia tak mampu menjawab satu pertanyaan dari Nada. Semua yang istrinya ucapkan adalah kebenaran.


"Kenapa diam? Ayo ngomong, bantah aku seperti yang biasa kau lakukan." lanjut Nada lagi.


Dia ingat bagaimana setiap hari Andra selalu lari dari topik pembicaraan yang menyinggung ibunya, dan selalu menutup mata dengan semua masalah yang Nada alami.


Nada tau dia sangat lelah? Setelah seharian berkerja di luar rumah. Pasti dia mengharapkan kenyamanan di rumah. Nada bisa mencoba baik-baik saja tapi, waktu 6 tahun bukanlah waktu yang sebentar.


"Maaf," ucap Andra singkat.


Nada hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Andra, dia tak menyangka suaminya hanya merespon dengan satu kata.

__ADS_1


"Aku akan memilih berpisah, pernahkan Mas berpikir dari mana biaya pengobatan Alif selama ini? Di saat Ibumu repot dengan Kinan, apakah kau berpikir dari mana semua yang ini? Menurutmu rumah sakit sebesar ini akan menoleransi semua keterlambatan biaya!" ucap Nada lirih.


Mendengar ucapan Nada membuat perasaan Andra tidak enak, bayangan buruk sudua terlintas di benaknya dan dia berdo'a semoga yang dia pikirkan itu keliru.


Nada melempar pandangan ke arah Andra, tampak wajah pucat dan amarah yang bercampur. Sangat sulit di ekspresi kan.


"Kenapa? kau tidak mau main tebak-tebakan lagi?" tanya Nada melempar tatapan ke Andra.


"Tidak, kau tidak mungkin melakukan itu semua," jawab Andra tidak percaya.


"Kenapa? Kau kecewa karena istrimu ini sudah di jamah pria lain," ucap Nada tersenyum kecut.


Tubuh Andra terkuyung, belakang ini dia terlalu sibuk dengan kondisi ibunya yang mulai tak terkendali. Dia sampai meminta tolong tetangganya untuk menjadi ibunya.


Beberapa hari ini ojek nya juga sepi, tak ada pundi-pundi uang yang masuk. Kinan terkadang mengirim uang ke rekeningnya tanpa sepengetahuan Nada, namun itupun juga tak seberapa.


Kinan melakukan ini karena dia merasa bersalah, karena sadar diri. Karena kehadirannya, rumah tangga Andra jadi kacau balau.


"Kita seri, impas." ucap Nada.


"Kalau kau bisa menyembunyikan semua uang Kinan, aku juga bisa. Tapi kau kalah Mas, yang aku dapat lebih besar darimu!" lanjut Nada dengan mata melebar.


Mendengar ini Andra tak mampu untuk menahan emosinya, tangannya melayang hendak mendarat di pipi mulus Nada.


Namun semuanya terhenti saat kedua pasang mata saling bertatapan, melihat wajah hancur Nada membuatnya tak tega.


"Kenapa berhenti? Ayo tampar aku!" ucap Nada berdiri dari duduknya.


Dada Andra kembang kempis menahan amarahnya, dia segera menurunkan tangannya dan memutar badan.


Dia melangkah keluar ruangan dan meninggalkan Nada sendiri. Dadanya bergemuruh, dia takut kalau tak bisa mengontrol emosinya.


Melihat kepergian Andra, Nada hanya bisa kembali duduk dan menumpahkan semua air mata yang sedari dia tahan.

__ADS_1


Terdengar isakan yang menyayat hati. Sampai ...


"Bunda ..."


__ADS_2