Let The Heart Choose

Let The Heart Choose
Teka Teki Wanita


__ADS_3

Nada turun dari bis yang menepi tepat di depan rumah sakit, tempat dimana putra tercintanya di BB rawat. Dan yang paling membuat bahagia adalah, dia sudah sadar sekarang. Dirinya sudah berhasil melewatinya, melewati masa sulit di antara hidup dan mati.


Dengan langakah terburu-buru Nada segera melangkah memasuki rumah sakit dia sudah tidak sabar untuk memeluk putra tercintanya.


Sebelumnya dia sudah merasakan hampa dalam dirinya, tak ada semangat untuk melanjutkan hari kedepan. Begitulah berartinya Alif dalam kehidupan Nada


Matanya sudah berkaca, tak mampu menahan rasa bahagia yang menyelimuti hatinya pagi ini. Dia mengayunkan kakinya dengan senyuman yang mengembang di wajah pucat nya.


Hingga akhirnya dia sampai di depan pintu ruang HCU, Namun langakahnya terhenti saat matanya melihat seorang yang sudah berdiri di hadapannya.


Sepertinya dia memang sedang menunggu kedatangan Nada,


"Cepat sekali sampainya," sapa Satria.


Kehadiran Satria di hadapannya seolah menagih sua janji yang telah dia sepakati sebelumnya, perasaan dengan yang dia rasakan sebelumya mendadak jadi gelisah.


Dia melangkah kan kakinya perlahan mendekati Satria, matanya menatap gugup ke arahnya.


"Kok gitu sih ekspresi nya?" tanya Satria mengembangkan senyum.


"Nggak pa pa kok," Jawab Nada dengan terbata.


"Alif sudah menunggumu di dalam," ucap Satria yang segera meraih tangan Nada dan menariknya masuk.


Satria sangat bersemangat pagi ini, bahkan ini bukanlah jam shift nya bekerja. Hanya karena menantikan kedatangan Nada, dia rela bangun pagi setelah pulang lewat tengah malam.


Mata Nada mendadak terasa panas ketika melihat pemandangan di hadapannya, seorang anak sedang duduk di kasurnya dan meminum segelas susu.


Di sampingnya ada seorang pria yang masih menatap dengan tatapan teduh, tatapan yang selama ini dia rindukan.


Tatapan perhatian yang tulus, dan nyatanya telah lama hilang. Entah kapan tatapan itu bisa kembali lagi? Padahal Nada sudah yakin kalau hal itu mustahil untuk kembali.


Satria dengan santainya menggandeng tangan Nada mendekati Alif dan Andra.


"Alif, ini bunda udah datang." ucap Satria semangat.


Mendengar suara Satria yang begitu bersemangat, Alif dan Andra memalingkan wajahnya ke arah suara yang begitu lantang dia hadapan mereka.


Mata Andra terasa memanas, saat melihat tangan Nada sudah di pegang erat dengan Dokter yang selalu membuat tensinya tinggi.


Melihat tatapan Andra yang berubah, Nada segera menyadari kesalahannya dan segera menarik tangannya dari genggaman Satria.


Dia tau kondisi hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja, hanya saja Nada masih sadar diri kalau. dirinya belum resmi bercerai dengan Andra dan itu artinya dia masih berstatus sah istri pria yang saat ini menatapnya tajam.


"Maaf," ucap Nada menyingkirkan tangannya dari genggaman tangan Satria.


Wajah Satria mendadak kecewa, tapi dia juga sadar kalau dirinya sudah sangat berlebihan.


"Oh, maaf ..." ucap Satria melepas genggamannya.


Andra melangakhkan kaki mendekati keduanya dan meraih tangan Nada satunya, matanya menatap lekat Satria dengan tatapan penuh amarah yang tertahan.


"Bukankah Dokter sedang sibuk? Sepertinya tadi malam Andra baru saja pulang kan," tanya Andra dengan intonasi berat.


"Apa? baru pulang tadi malam," sahut Nada melempar pandangan ke Satria.


"Iya Sayang, dia sangat memanjakan Putra kita. Bukankah Dokter Satria harus istirahat sekarang, atau ada oprasi mendadak yang harus dia lakukan. Sehingga bisa mampir kesini untuk menyambut kedatanganmu?" ucap Andra dan menarik pinggang Nada untuk mendekat.


Satria hanya melempar pandangan, yang di katakan Andra ada benarnya. Haruskah dia memang tidak berlaku berlebihan seperti ini.


"Baiklah, maaf. Mungkin benar saya harus istirahat sekarang." ucap Satria melempar senyum kecil ke arah Nada dan Andra.


"Dokter pulang dulu ya Alif, jangan lupa minum obatnya." ucap Satria melempar pandangan ke arah Alif dan melambaikan tangannya.


Alif membalasnya dengan lambaian dan jemari yang berbentuk tanda hati. Satria kembali melempar senyum dan satu kecupan jauh.


"Ehemm ..." Andra berdehem, dia mulai muak dengan tingkah dokter yang selalu caper ini.


Satria melangakhkan kakinya pergi dari ruangan tersebut, sesekali dia menoleh kebelakang. Mencari tau, apakah Nada benar-benar masih menerima Andra menjadi suaminya?.


Kenyataanya, mereka menampakkan wajah ceria. Andra memeluk erat Nada sambil mengecup keningnya, Mereka bertiga berpelukan. Tampak peluh yang menetes dari mata Nada, senyuman kebahagiaan yang dia rasakan saat itu tidak dapat dia tutupi.


Satria menghela nafas panjang dan melanjutkan langkahnya pergi, bukankah dia harus bersabar untuk pertemuan privat nya dengan wanita pujaannya.


***


"Alif, bunda kangen banget sama kamu," ucap Nada mendekap erat Alif, seolah mendapatkan barang yang dia sayangi setelah sekian lama menghilang.


"Kenapa sih semua nangis, kemarin Ayah. Sekarang Bunda," ucap Alif polos.

__ADS_1


"Oke, maafin Bunda. Janji nggak akan nangis lagi." jawab Nada sambil mengacungkan kelingkingnya.


Dengan tersenyum lebar, Alif segera mengaitkan kelingkingnya. Nada mengecup lembut jemari kecil Alif.


"Janji yaa, kamu nggak boleh ninggalin bunda lagi. Bunda sayang sama Alif," ucap Nada dengan mata memanas.


"Alif janji Bunda, asal Bunda juga janji ya ... nggak boleh cengeng," ucap Alif menatap Nada dengan mata berbinar.


"Ayah akan selalu jaga bunda, jadi Alif nggak perlu khawatir kalau bunda cengeng lagi." sahut Andra memeluk dia orang yang sangat berarti di hidupnya.


Tak lama suster datang, dia membawa sebuah map. Nada sudah tau apa yang akan dia lakukan.


"Maaf, Mas Alif. Kita pindah kamar dulu yaa, kan Mas Alif sudah sembuh." ucap Suster ramah.


"Oke sus," jawab Alif, kemudian perlahan merebahkan tubuhnya yang di bantu oleh Nada.


"Beneran di pindah sus?" tanya Nada tidak percaya.


Nada masih sangat khawatir melihat keadaan Alif saat ini, meskipun dia sudah pulih. Tapi kepalanya masih di perban, tubuhnya juga masih lemah.


"Tidak apa Bunda, nanti akan terus di pantau oleh Dokter Satria," jawab Suster ramah.


Mendengar nama itu di sebut lagi, Andra mendadak mual.


"Selain Dokter Satria, apakah tidak ada dokter lain?" tanya Andra menahan emosinya.


Nada dan Suster menatap Andra dengan tatapan heran, bahkan di luar sana rela membayar mahal untuk jasa Satria. Dengan mudahnya Andra bertanya seperti itu.


"Maaf Pak, Alif sudah jadi pasien Dokter Satria. Jadi dokter harus memastikan kesehatannya sampai pulih." jawab Suster.


Beberapa perawat pria datang, mereka mulai melepas sebagian alat medis yang terpasang di tubuh Alif dan mendorong tempat tidurnya keluar ruangan.


Nada dan Andra melangkah mengikuti langkah perawat yang menuju ruangan Alif yang baru. Kondisi Alif sudah perlahan membaik, tidak di sarankan untuknya kalau terus ada di ruangan sebelumnya.


"Aku akan mencari sarapan dulu," ucap Andra berpamitan dengan Nada.


Nada hanya mengangguk lirih, sambil melangkah mengikuti suster. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah kamar rawat untuk Alif.


Ruangan ini sama seperti tempat rawat Zaskia kemarin, satu ruangan dengan 2 kasur. Namun satu kasur masih kosong, kamar mandi berada di dalam.


Para perawat menata kasur Alif, setelah selesai satu persatu pergi meninggalkan kamar. Dan hanya menyisakan Nada dan Alif.


"Sekarang, mana yang sakit?" tanya Nada lembut.


"Sedikit pusing Bunda, sama lemes." jawab Alif lirih.


"Sebentar lagi Alif pasti sembuh," ucap Nada mengecup kening Alif.


Alif tersenyum kecil, matanya seolah ingin menyampaikan sesuatu akan tetapi urung untuk di lontarkan.


"Alif mau tanya apa?" tanya Nada yang sudah mengerti apa arti tatapan putranya.


"Maafin Alif Bun, udah buat bunda nangis," ucap Alif penuh dengan rasa bersalah.


"Alif nggak salah, kan bunda memang cengeng," jawab Nada sambil mengecup tangan Alif.


Alif masih terdiam, dari sorot matanya, dia seperti menyembunyikan sesuatu yang besar. Namun entah apa itu, Nada tak bisa menerkanya.


Yang jelas mata Alif mulai berkaca, wajahnya menyimpan penyesalan yang mendalam.


"Bunda nggak marah sama Alif?" tanya Alif lagi, seolah tak puas dengan jawaban Bundanya.


"Apa Bunda kelihatan marah sama Alif?" Nada berbalik bertanya, sambil memamerkan gigi putihnya.


Alif menggeleng pelan, wajanhanya menunduk lesu. Perlahan Nada meraih wajah mungil Alif dan mendongakkan ke atas.


"Bunda nggak pernah marah sama Alif, karena Alif adalah kekuatan Bunda. Jadi Alif harus janji yaa ... nggak boleh ninggalin Bunda lagi," ucap Nada menyondongkan tubuhnya dan mendekap erat Alif.


"Jangan pergi-pergi lagi Nak, bunda nggak tau akan jadi apa kalau kamu pergi." ucap Nada dengan menahan isak.


"Bunda jangan pergi yaa, tetap disini temenin Alif," ucap Alif lirih.


"Oke, Bunda akan jagain Alif kok. Sekarang kamu istirahat dulu ya." ucap Nada melepaskan dekapannya.


Alif menganggukkan kepalanya lirih, tak selang berapa lama Andra datang dengan membawa sekantong pelastik yang berisi 2 bungkus nasi dan 2 pelastik teh.


Dia melempar pandangan ke Alif, tampak putranya yang sudah terpejam. Andra mendekati Nada dan menyodorkan sebungkus nasi.


"Bagaimana kabar Papa-mama?" tanya Andra membuka percakapan.

__ADS_1


"Mereka sehat," jawab Nada singkat.


"Alhamdulillah," ucap Andra sambil menyeret kursi di sebelahnya untuk duduk.


Tak ada percakapan lagi, mereka seolah berhadapan dengan seorang yang berbeda saat ini. Mereka mencoba menikmati nasi bungkus yang ada di hadapannya, meskipun rasanya hambar. Entah memang rasa nasi tersebut atau lidah mereka yang sakit.


"Maaf ..." ucap mereka bersamaan, kedua saling menatap sesaat kemudian menundukkan kepala masing-masing.


"Kamu dulu," ucap Andra.


"Maaf, mungkin kita memang harus bercerai." ucap Nada sambil menarik nafas kecil.


Tak ada sahutan dari Andra, dia mencoba mencerna ucapan Nada dan berusaha untuk tenang. Semakin dia tersulut emosi, maka istrinya akan semakin yakin untuk meninggalkannya.


Dia tau hal ini akan terjadi cepat atau lambat, karena semua peristiwa yang Nada alami bersamanya merupakan penderitaan yang tak berujung.


Andra meletakkan sendok pelastik yang terselip di jemarinya dan menghentikan acara makannya.


"Apapun keputusan mu, aku tidak akan pernah melarangnya. Aku tau kau selama ini sangat tersiksa di sampingku," ucap Andra menatap kosong ke arah nasi di hadapannya.


"Aku tidak bisa membahagiakan mu, atau bahkan hanya membuatmu nyaman. Maaf," ucap Andra sambil membungkus kembali nasi yang ada di hadapannya.


Lidah yang tadinya pahit, kini malah semakin pahit. Di dukung oleh tenggorokan nya yang seolah menolak benda apapun untuk masuk.


Perutnya terisi penuh dan tak dapat diisi lagi, meskipun itu hanya sebungkus teh hangat.


"Apa kau sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Nada menatap lekat Andra.


"Aku tidak pernah berniat menceraikan mu, jadi ..." Ucapan Andra tergantung.


"Apa kau sudah memilih jalan untuk bersama Kinan?" tanya Nada memperjelas pertanyaan sebelumnya.


Memang benar apa kata orang, wanita adalah makhluk paling rumit. Dan suka memindah topik pembicaraan secara cepat.


Alis Andra mengkerut, otaknya tiba-tiba membeku. Pertanyaan yang di lontarkan Nada tidak pernah terbesit di angannya.


Jangankan memikirkan Kinan, otaknya sudah di penuhi Alif, Nada dan Laras yang kondisinya semakin memburuk.


"Aku ... aku nggak pernah punya niat begitu Nad," ucap Andra bangkit dari duduknya.


"Tapi keputusan mu sudah menjelaskan semuanya," Ucap Nada tanpa ekspresi.


Untuk detik ini, ingin sekali Andra menjentuskan kepalanya ke tembok. Dengan susah payah dia menuruti semua keinginan Nada, agar dia bisa tau betapa dirinya menyesal atas perbuatannya. Dan apa yang dia dapat?


"Astaghfirullah, Nada. Lalu aku harus bagaimana?" tanya Andra mendekati Nada.


"Lakukan apa maumu, aku akan melakukan apa yang aku mau," ucap Nada melewati Andra begitu saja.


Dengan amarah yang tiba-tiba meledak, Nada melangkah keluar ruangan Alif. Dia duduk di kursi taman rumah sakit.


Dia juga tidak bisa mencerna apa yang sedang dia lakukan saat ini, otak dan dirinya tidak singkron. Padahal dia sangat menginginkan ini semua.


Sudah perceraian yang mudah dan tak berbelit-belit seperti kebanyakan orang, tapi di sisi lain. Hati Nada merasa sangat kecewa mendengar jawaban pasrah dari suaminya.


Apakah dirinya begitu tidak berharga di mata suaminya sehingga dengan mudahnya dia memutuskan keputusan besar.


Setelah sekian lama dia bersama, bukankah 6 tahun bukanlah waktu yang singkat? Kenapa nama Kinan lebih terukir dalam hatinya.


Berulang kali Nada memijat pangkal hidungnya, kepalanya mendadak pening mendengar jawaban yang telah lama dia nantikan.


"Galau amat Bu," sapa Laras.


"Tauk ah, ribet banget punya laki," jawab Nada, masih dengan jemari yang memijat keningnya.


"Emang Lo punya laki? katanya mau udahan aja," ucap Laras sambil cengengesan.


"Gue pengen sendirian," ucap Nada, mungkin memang kata itulah yang mampu dia andalkan saat ini.


Tak menampik kenyataan, ucapan Laras sedikit menampar wajahnya. Dirinya cukup malu, bukankah arti ucapan Laras adalah ... secara tidak langsung, dia masih mengharap suaminya itu.


Nada semakin bingung dengan perasaannya saat ini,


***


Andra duduk di kursi, di hadapannya ada Alif yang tertidur pulas. Mungkin efek obat masih melekat di tubuhnya, sehingga dirinya belum seaktif sebelumnya.


"Argh, nggak Kinan, Ibu. Sekarang Nada, Astaghfirullah, aku harus ngapain lagi?" keluh Andra sambil mengacak rambutnya.


Kenapa semua wanita tidak langsung mengucapkan apa kemauan nya, tidak selalu memberi teka-teki pada setiap tingkahnya.

__ADS_1


__ADS_2