Let The Heart Choose

Let The Heart Choose
Akhir ( Tamat )


__ADS_3

3 bulan kemudian ...


Nada duduk di sebuah taman, di sampingnya duduk seorang pria yang sedang menggenggam sebuah map. Tak ada obrolan, keduanya terdiam membatu.


"Mungkin ini memang jalan yang terbaik Mas," ucap Nada datar.


"Ya ... mungkin memang begitu. Kau pantas bahagia kan," ucap Andra melempar pandangan ke Nada.


"Kau bisa menyimpannya," lanjut Andra menyodorkan map tersebut.


Nada meraih map tersebut, kemudian beranjak dari kursinya. Langkahnya terhenti sesaat dan melempar pandangan ke Andra.


"Terimakasih atas semuanya Mas, Semoga kau mendapatkan wanita yang dapat mengerti kamu. Berjanjilah saat kau mendapatkannya, jangan kau lakukan hal yang sama seperti aku. Karena itu sangat sakit," ucap Nada dengan mata berkaca.


"Tidak semua wanita memprioritaskan uang, meskipun segalanya butuh uang. Semoga kau dapat mengerti maksudku," ucap Nada, kemudian melanjutkan langkahnya.


Andra menganggukkan kepalanya, matanya menatap kepergian Nada. Dia tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi.


Memang benar apa kata Nada, tidak semua membutuhkan uang. Bahkan kau tidak bisa membeli waktu yang sudah lampau untuk memperbaiki kekacauan ini.


'Semoga kita dapat bersama lagi Nad, entah kapan.' Batin Andra perih.


Andra duduk kembali setelah punggung Nada sudah hilang di tengah keramaian orang berlalu-lalang, dia mencengkram erat rambutnya.


Matanya memerah, kepalanya terasa sangat pusing saat ini. Dia memutuskan untuk segera kembali ke rumah.


Saat dia berdiri dan hendak melangkah, seorang tiba-tiba menghadangnya. Dia menahan pundak Andra dan mendorongnya untuk duduk kembali.


Andra menarik nafas perlahan, sejujurnya dia masih sangat emosi bila melihat orang ini.


"Bagiamana kabarmu?" tanya Satria.


"Seperti yang kau lihat," jawab Andra cuek, sambil melempar pandangan.


"Aku tidak percaya kalian akan berpisah secepat ini," ucap Satria menatap Andra.


Andra tersenyum kecut, dia tak percaya musuhnya akan mengibarkan bendera perang secepat ini. Padahal dia ingin beristirahat sebentar.


"Bukankah ini bagus? Jadi kau bisa mengejar Nada." jawab Andra menahan emosi.


Satria melempar pandangan, dia menatap kosong ke arah langit biru sambil tersenyum kecil.


"Sebenarnya aku tidak ingin memberitahumu, Namun Nada begitu berarti untukku." ucap Satria melempar pandangan.


Andra masih acuh, dia merasa obrolan ini tidak terlalu penting, sehingga dia beranjak pergi.


"Aku masih mencintainya ... Meskipun dia telah melukaiku. Aku tetap ..." ucap suara seseorang di ponsel Satria.


Andra mengehentikan langkah dan memutar tubuhnya. Alisnya berkerut setelah mendengar suara yang dia kenal.

__ADS_1


Dia menatap ke arah dari mana suara itu berasal, Satria menatap Andra dengan senyum kecut.


"Di hari itu, tepat dimana Alif menghembuskan nafas terakhirnya. Aku bersama Nada, Aku menagih janjinya untuk melayaniku." ucap Satria santai.


Mendengar itu Andra murka seketika, dia hanya tau kalau Nada bertemu dengan seorang pria karena telinganya berhasil mencuri dengar. Tapi dia tidak tau apa yang dilakukan Nada.


Dia segera melangkah dan mencengkram kerah satria, kepalannya sudah melambung di udara. Tak ada wajah ketakutan sedikitpun dari wajah Satria.


"Pukul! pukul ... setelah itu duduklah dan dengarkan aku," ucap Satria melotot.


Andra hanya menarik nafas dalam dan melempar Satria ke kursi. Dia tak dapat melakukan hal tersebut, toh percuma saja. Hubungannya dan Nada sudah hancur.


Andra duduk di samping Satria, mencoba meredam amarah yang bergelora.


"Nada tidak jadi melakukannya, Nada terlalu setia padamu. Sayangnya kau tidak bisa melihat hal yang sangat jelas itu!" ucap Satria mengeraskan rahangnya.


Andra tak peduli dengan semua omong kosong Satria, yang dia tau hanyalah pernikahan yang dia buna sudah hancur.


Satria memainkan jemarinya di ponsel, dan memutar sebuah aplikasi yang bersimbol musik.


"... Aku tidak bisa ..."


"Kenapa?"


"Aku tidak bisa melakukan ini,"


Hening tak ada suara ...


"Aku akan membayarnya, bulan depan. Aku akan mencari kerja."


"Kenapa kau selalu menoleransi kesalahan suamimu itu?"


"Karena aku mencintainya, dan akan selalu begitu. Bagaimanapun Zaskia masih membutuhkannya,"


"Aku tidak tau yang aku rasakan memang benar cinta atau sudah terbiasa, aku lelah. Tapi aku juga tidak bisa berhenti."


"Semuanya terasa hambar, tapi aku masih tidak bisa berpaling."


Suara terputus karena Satria mematikan record tersebut, kemudian Satria menatap Andra. Dia ingin melihat seberapa bahagianya Andra saat mengetahui ini semua.


Namun, Andra tetap membisu. Tak ada perubahan mimik pada wajahnya,


"Terimakasih, tapi ini bukanlah jalan keluar. Aku tidak bisa lagi bersamanya." ucap Andra kemudian bangkit dari kursinya.


Andra melangakhkan menjauh Satria begitu saja, melihat ini Satria tercengang. Bahkan Andra tidak menunjukan perasaan bahagia sedikitpun.


"Kau memang gila, Nada masih mencintaimu!" ucap Satria.


"Kejarlah dan manfaatkan kesempatanmu," ucap Andra kemudian berlalu.

__ADS_1


Satria menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya dengan apa yang di lihat di hadapannya.


****


Andra melangkah menyusuri terotoar, tanpa terasa air matanya menetes deras. Berulang kali dia mendongakkan kepala untuk menahan laju air mata tersebut.


Dia tak menyangka sudah menghancurkan Nada sekian lama, pantas saja sikap Nada sudah banyak berubah.


Dirinya baru sadar, setelah semuanya hilang. Yang dia pikir semua baik-baik saja, ternyata sudah hancur berkeping-keping.


Nada sudah lama berdiri di sampingnya tanpa rasa cinta, hanya keterpaksaan yang membuatnya bertahan selama ini.


Akan tetapi, Andra merasa lega. Keputusannya untuk bercerai tidaklah sia-sia, Hidup Nada akan jauh lebih baik ketika berpisah dengannya.


Egois kalau Andra tetap menahannya di dalam pernikahan yang memang sudah hancur ini. Karena pernikahan itu terjalin atas dasar cinta, bukan keterpaksaan.


****


Nada sampai di rumah, matanya terkejut ketika melihat betapa ramai rumahnya. Banyak kendaraan yang terparkir dihalaman rumah.


Nada perlahan masuk ke rumah, senyumannya mengembang sempurna ketika melihat seorang duduk di kursi ruang tamu.


"Hallo sayang aku," ucap Laras.


Beberapa teman Nada juga hadir, dia lupa kalau saat ini adalah ulang tahunnya. Dan mereka sudah berencana untuk pergi ke sebuah Cafe.


"Maaf, aku lupa. Bentar ya aku siap-siap dulu." ucap Nada segera masuk ke kamar.


Nada segera masuk ke kamarnya, dan menaruh map tersebut ke meja rias. Nada yang kurang hati-hati menjatuhkan map tersebut.


Nada melihat sebuah lembar kertas dan dua buku kecil terjatuh. Dia menautkan alisnya, karena penasaran Nada mengambil kertas tersebut.


'Buku Nikah?' batin Nada tak mengerti.


Dia membaca sebuah tulisan singkat yang tertera di selembar kertas tersebut.


(Nad, maaf. Aku tidak bisa melakukan ini, Aku sudah berjanji kepada Alif yang akan menjadikanmu Aisyah seperti kisah yang kau kisahkan pada Alif.


Aku memang tidak sesempurna Rasulullah, tapi aku akan berusaha berubah. Aku tau kau tidak bisa menerimaku untuk saat ini, dan aku tidak berharap banyak.


Aku menyerahkan semua keputusan padamu, bila memang harus bercerai. Aku ikhlas ...)


Nada menutup kembali map dan menaruhnya di lemari, dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Air dingin mengguyur tubuh Nada, matanya terpejam. Bayangan kehidupan rumah tangganya terputar jelas dalam kegelapan, bagai sebuah film yang di putar di bioskop.


Tak ada yang orang yang dapat merelakan rumah tangganya begitu saja, bagaimanapun dan banyak perjuangan di dalamnya.


Namun setiap orang berhak memilih untuk kebahagiaannya, karena psikis dapat merubah segala hal.

__ADS_1


__ADS_2