
Andra duduk di sebuah bangku, dia menggenggam secarik kertas yang berisi resep obat untuk di tebus. Saat ini kantongnya sudah menipis, bahkan untuk menebus resep obat pun kurang.
Sudah beberapa hari ini dia tidak narik ojek karena masalah rumah tangganya yang berantakan, terlebih saat ini. Hatinya tidak dapat tenang sedikitpun.
Entah berapa masalah yang sudah Nada adukan pada orang tuanya, pasti kehidupan kedepannya akan menjadi semakin sulit.
Sesungguhnya Andra masih mencintai istrinya, namun dia sudah tak mau memaksakan kehendaknya lagi. Bila memang Nada lebih nyaman tanpa dirinya, Andra akan mengikhlaskan hubungan ini.
Andra tak dapat berbuat apa-apa, di sisi lain. Laras adalah seorang Ibu yang harus dia jaga, apalagi kesehatannya mulai menurun seperti ini.
Mungkin ini sudah nasipnya di hadapkan pilihan yang cukup sulit. Dia tidak menutup mata dengan semua perlakukan Laras kepada Nada, selama ini dia hanya berusaha menetralkan masalah. Bukan menuntaskannya.
Dia tidak berdaya dengan keduanya, di tambah lagi tanggung jawab yang tidak seharusnya dia pikul. Kepala Andra seakan ingin pecah saat ini.
Sisa-sisa rokok sudah menumpuk di sampingnya, tapi otaknya juga tidak kunjung tenang. Hingga ...
"Lepasin dia," ucap Faisal.
Andra hanya menoleh ke arah Faisal dan kembali menunduk, jemarinya memijat pangkal hidung. Matanya terpejam seolah menahan emosi yang bisa meledak kapan saja.
"Lo nggak bakal bisa bahagiain dia, dia terlalu istimewa buat lo," ucap Faisal dengan wajah datar.
Karena tak mau emosinya meledak menghadapi pria yang selalu terobsesi dengan istrinya ini, dia memilih untuk pergi.
Andra beranjak dari duduknya dan melangkah melewati Faisal begitu saja,
"Kalo ada masalah tuh hadapi, bukan kabur!" ucap Faisal dengan suara lantang.
Andra menghentikan langkahnya dan memutar badannya, dia menatap lekat Faisal yang saat ini sudah pasang kuda-kuda untuk berkelahi.
Terukir senyum kecut di wajah tampan Andra, dia melangkah mendekati Faisal. Dengan penuh tenaga Faisal melayangkan pukulan ke wajah Andra.
Namun dengan mudah Andra menangkap tangan Faisal dan mencengkeramnya.
"Gue udah bilang kan? kejar dia, gue nggak akan ganggu. Tapi kayaknya Nada memang beneran masih sayang sama gue deh," ucap Andra berbisik.
"Gue nggak punya waktu buat ngurusin masalah bayi, sorry." ucap Andra mendorong tubuh Faisal begitu saja.
__ADS_1
Andra melangkah pergi, dengan mengepalkan jemarinya kuat. Untung saja dia adalah teman Nada, kalau tidak, pasti kepalan tangan ini sudah mendarat indah di wajahnya.
Lebih baik dia menjenguk Alif, dia masih punya tanggung jawab untuk menjaganya sampai Nada kembali bukan? Dia tidak mau terjerat masalah rumit lagi.
Namun langkahnya terhenti lagi ketika melihat sosok gagah yang berdiri di hadapannya.
"Aku sangat bersyukur memiliki istri dengan pesona yang luar biasa, setelah ini lelaki mana lagi yang akan memintanya dengan terang-terangan seperti ini," ucap Andra berdecih.
Orang itu berbalik, tampak tatapan teduhnya menatap Andra lekat dan melangkah mendekatinya.
Dari pada Faisal, Andra lebih khawatir dengan pria yang saat ini berada di hadapannya. Terpancar jelas bagaimana pria ini sangat lembut dan begitu perhatian.
"Bisa kita sarapan?" tanya Satria dengan ramah.
Andra masih terdiam, matanya masih menatap lekat ke arah dokter tersebut. Mencari sebuah petunjuk tentang apa yang akan di lakukan dokter di menit berikutnya.
"Karena waktu sangat minim jadi saya akan langsung ke inti masalahnya saja," ucap Satria sambil menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ada hal yang harus anda tau tentang Alif dan ... Nada," Satria menatap lekat pria yang saat ini ada di hadapannya
"Kita ngobrol di sini saja," Ucap Andra melipat tangannya ke dada.
"10 menit," lanjut Satria sambil melangkah menuju kantin rumah sakit.
Tak ada pilihan lain, Andra mengikuti langkah Satria yang sudah melangkah jauh di depannya. Hingga sampailah mereka di sudut kantin, tempat yang tidak banyak orang berlalu lalang.
"Seperti biasa ya Bu," ucap Satria ramah kepada Ibu penjaga kantin.
Andra dan Satria duduk bersamaan, mereka saling tatap sesaat, kemudian melempar pandangan ke arah berlawanan.
"Semakin hari jantung Alif semakin lemah, kalau sampai besok dia tidak sadarkan diri. Akan sangat sulit di hari-hari berikutnya." ucap Satria memainkan jemarinya di meja.
"Aku akan cari dokter yang lebih baik darimu," ucap Andra menahan amarah
Entah mengapa setiap Andra melihat dokter di hadapannya saat ini emosinya mendadak naik di ujung ubun-ubun.
Satria hanya tersenyum menanggapi ucapan Andra, tak ada raut amarah yang terpancar di wajah tampannya itu.
__ADS_1
"Bisakah kau berpikir dewasa saat ini," ucap Satria.
"Nada sangat menyayangi anak itu, meskipun dia bukan anak yang terlahir dari kandungannya. Harusnya kau tau apa maksudku mengucapkan semua ini." Satria menyilangkan tangannya ke dada.
Otak Andra terlanjur panas dan tak bisa mencerna semua ucapan yang terlontar dari mulut tipis Satria. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah, ingin melayangkan tonjokan hangat di wajah sok baik itu.
"Langsung saja ke intinya, aku juga tidak punya cukup waktu untuk melayani kau," ucap Andra mencoba menenangkan diri.
Satria tersenyum meremehkan dan membuang pandangan ke arah lain.
"Pantas Nada sangat tersiksa, bahkan kau tidak bisa mencerna ucapan ringanku." Satria menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Kau!" reflek Andra bangkit dari kursi dan menunjuk Satria dengan tatapan penuh amarah.
Sontak semua orang yang ada di sekitar mereka menatap ke arah Andra, begitupun Ibu kantin yang sedikit terkejut akibat tingkah Andra.
"Maaf Bu, temen saya sedikit terkejut," ucap Satria meraih nampan yang berisi dua gelas teh hangat.
Ibu kantin tersenyum kemudian segera melangkah menjauhi meja mereka.
"Duduk!'' titah Satria penuh penekanan dan menatap tajam ke arah Andra.
Andra menghempaskan tubuhnya ke kursi, hingga menimbulkan suara gesekan antara kami kursi dan lantai yang menyayat hati.
"Aku tidak tau apakah anak itu bisa selamat atau tidak, semua dokter sudah berusaha keras. Syukur kalau memang ada keajaiban." ucap Satria menyodorkan segelas teh hangat ke Andra.
"Tugasmu hanya buat Nada tenang dan tidak merasakan kesedihan yang mendalam. Aku tau kalian sedang bertengkar, segera selesaikan masalahmu." lanjut Satria sambil menuangkan teh ke piring kecil yang sudah di siapkan.
"Nada masih mencintaimu, harusnya kau bisa bersyukur." tutur Satria sambil menyeruput teh hangat.
Andra masih terdiam, tangannya sudah gatal ingin melempar teh panas ini ke dokter yang duduk di hadapannya.
"Semua biaya Alif dan Zaskia sudah aku bayar lunas ..." ucapan Satria terputus.
"Aku tidak membutuhkan bantuanmu," ucap Andra menggerakkan rahang.
"Siapa bilang aku membantumu, saat kau tidak bisa melakukan tugasmu itu. Dengan terang-terangan aku akan merebut Nada darimu lagi, karena saat anak itu menutup usia. Di saat itu juga Nada akan meninggalkanmu!" ucap Satria menatap tajam Andra.
__ADS_1
"Aku sudah mengalah banyak, dan saat Nada berpisah denganmu. Aku akan menerimanya dengan tangan terbuka lebar, ingat itu." ujar Satria beranjak dari kursinya sambil membawa tehnya.