LINTAS

LINTAS
LINTAS 1


__ADS_3

Miera adalah seorang gadis yang berasal dari keluarga menengah keatas, kehidupannya amat sangat tercukupi, namun Miera merasa tidak lengkap akan hal itu, bukan ia tidak merasa cukup tetapi bukan hal itu yang ia inginkan. Keluarga kaya namun tidak ada kehangatan didalamnya.


Kedua orang tuanya bercerai saat ia berusia 10 tahun, ibunya pergi meninggalkannya, ia sekarang tinggal bersama ayah dan kakaknya, Miera mempunyai seorang kakak laki laki berama Arya. Dengan tidak adanya sosok ibu dalam hidupnya sifatnya sangat dingin juga tidak ada rasa kasihan, karena ayah dan kakaknya selalu memberi contoh sifat itu kepadanya.


Miera sekarang menduduki bangku sekolah menengah atas, dengan sifat dingin yang dimilikinya tidak jarang banyak laki laki yang enggan mendekatinya, namun hal itu tidak membuat Miera merasa kecil hati, tidak masalah baginya tidak memiliki teman atau bahkan kekasih, yang penting ia masih bisa melihat dunia.


Sejak kecil Miera menyukai bela diri, ia bahkan sempat meraih juara dibidang itu, Miera membuat harum nama sekolahnya, tidak salah jika Miera terkenal disekolah.


"Jam berapa nih, udah pagi aja." Ujar Miera sembari mengerjapkan matanya karena sinar matahari yang menembus jendela kamarnya.


"Udah siang ternyata, gua ada latihan." Gumam Miera beranjak dari tempat tidur yang jarang ia singgahi itu. Miera hari ini ada janji latihan bela diri bersama teman sekolahnya.


Saat ia turun kebawah untuk berangkat ia melihat ayah dan kakaknya yang sedang menonton TV diruang keluarga. Namun Miera hanya cuek dan melintas begitu saja.


"Mau kemana hari libur begini keluar?" Tanya Pak Harun, ayah Miera.


"Latihan." Jawab Miera langsung pergi dengan motor sport miliknya.


"Tidak ada rasa lelahnya, mau hari libur atau tidak tetap saja latihan, siang sore maupun malam selalu latihan." Gumam Pak Harun melihat punggung putrinya yang semakin lama semakin menjauh. Sedangkan Arya hanya diam saja tanpa berkata apa apa.


Sesampainya ditempat latihan, Miera melihat para siswa yang lain sedang melakukan pemanasan, semua siswa melihat Miera yang baru datang, namun Miera tidak perduli akan tatapan siswa siswa disana, ia terlalu bodo amat.


Sampai sore ia latihan, sampai dimana ia memutuskan untuk pulang, jika kalian pikir Miera akan pulang ke rumah, kalian salah, Miera menuju kesatu tempat dimana ia bisa menjalankan bisnisnya, tempat itu jauh dari pemukiman warga, amat terpencil dan sedikit akses jalan, hanya orang orang tertentu saja yang mengetahui tempat tersebut.


"Lady." Sapa seorang disana menyambut kedatangan Miera.

__ADS_1


Miera masuk kedalam ruangannya mengecek beberapa detail pekerjaan.


Brak! Miera menggebrak meja dengan keras.


"Bagaimana bisa gagal, tidak becus bekerja, mati saja!" Miera mengatakannya dengan penuh emosi, itulah Miera jika marah bisa meledak ledak seperti bom atom.


"Ada apa lady?" Tanya seorang pria disana yang diketahui adalah bawahan Miera.


"Bagaimana?" Ucap Miera dengan tatapan tajamnya sembari melemparkan sebuah kertas berisi beberapa tulisan serta sebuah foto seseorang didalamnya.


"Maaf lady, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi target sulit didapatkan." Ucap pria tersebut ketakutan, karena Miera membenci kegagalan, ia tidak ingin gagal dalam hal apapun.


"Keluar, siapkan semuanya, akan ku urus sendiri." Ucap Miera memerintahkan pria itu.


Ia akan mengurus masalah itu sendiri. Untuk itu ia mempersiapkan dirinya, ia mengenakan baju serba hitamnya serta tak lupa sarung tangan hitam juga beberapa alat yang perlu ia gunakan nantinya.


"Permisi." Ucap Miera sesaat setelah sampai. Para penjaga mansion tidak curiga akan kedatangan Miera.


"Cari siapa?"


"Pak Gunawan."


"Bapak ada didalam, saya tanyakan sebentar."


"Tidak perlu, saya sudah ada janji dengannya sebelum datang kemari, lebih baik anda tunjukkan dimana ruangannya." Ucap Miera tidak ingin bertele tele.

__ADS_1


Penjaga mansion itu mengantarkan Miera masuk kedalam, sebelum masuk Miera memberikan kode kepada para anak buahnya untuk mengurus yang lain sembari Miera menuju target.


"Ekhm." Dehem Miera mengagetkan Pak Gunawan yang ada didalam ruangan, sekarang posisi mereka berhadapan didalam satu ruangan hanya ada mereka berdua saja, sontak Pak Gunawan terkejut melihat Miera yang sekarang ada dihadapannya.


"Lady M!" Kaget Pak Gunawan melihat Miera.


"Sudah cukup bermain main, mari kita selesaikan malam ini juga." Ucap Miera.


"Tidak semudah itu Nona kecil." Ucap Pak Gunawan menodongkan pistol kehadapan Miera.


Miera tersenyum kecil melihat kebodohan orang dihadapannya. Miera melemparkan sebuah jarum kecil yang hampir tidak terlihat tepat mengenai dada Pak Gunawan.


"Ck, dasar bodoh." Decak Miera karena kesal.


"Sudah berani berkhianat masih saja berlaga." Sambung Miera. Ia mulai menghajar Pak Gunawan.


Pak Gunawan tentu melawan Miera, namun akibat sebuah jarum mengenai dadanya tadi, kekuatan Pak Gunawan sedikit demi sedikit mulai melemas.


"Merepotkan." Ucap Miera langsung mendekati Pak Gunawan.


"Jangan harap akan lepas dariku." Ucap Miera.


"Maaf Lady." Cicit Pak Gunawan mulai lemas dan tak berdaya.


"Penghianat tetap harus mati." Ucap Miera tegas.

__ADS_1


Miera memanggil anak buahnya untuk membawa Pak Gunawan untuk dibawa kemarkasnya.


"Bawa." Perintah Miera lalu pergi terlebih dahulu.


__ADS_2