
Amei dan pelayanan Mou berada didalam perpustakaan Amei berkeliling banyak sekali buku buku disana, ia mengambil sebuah buku dengan sampul hitam, membacanya dengan seksama.
"Kultivasi." Amei membaca buku itu ditemani sang pelayan.
"Ku kira aku harus belajar ini." Batin Amei ingin meningkatkan tingkat kultivasinya.
"Ditingkat berapa tahap kultivasiku?" Tanya Amei pada Mou.
"Tingkat pertama jenderal, bukankah dahulu jenderal pernah mengatakan bahwa tingkat kultivasi itu tidak penting, yang penting pandai bela diri juga bersenjata." Terang pelayanan Mou. Sedangkan Amei hanya berdehem.
"Kita pergi ke kamar." Ajak Amei tetap membawa buku itu, dibuku itu tertera dimana dia akan melakukan kultivasi juga bagaimana caranya.
"Mou, aku akan pergi, kaisar memberikanku waktu istirahat selama satu pekan, aku akan menggunakan waktu itu untuk meningkatkan tingkat kultivasiku, jadi bagaimana caramu agar orang orang tidak tahu jika aku pergi." Terang Amei.
"Tapi jenderal, bagaimana jika kaisar membutuhkan anda." Mou khawatir.
"Bilang saja aku sedang dalam masa pemulihan, aku akan berangkat malam ini juga."
"Baik, jenderal." Mou hanya bisa menurut tanpa membantah.
__ADS_1
Malam harinya Amei benar benar pergi, dia pergi meninggalkan istana secara diam diam, Mou yang ada didalam kediaman hanya bisa berharap sang jenderal dalam keadaan baik baik saja.
Amei terus berjalan masuk kedalam hutan mengikuti buku itu, sampai dimana dia masuk kedalam sebuah goa, hanya gelap disana, tanpa ada rasa takut dirinya masuk hingga ada sebuah cahaya disana.
"Lembab sekali." Amei merasakan kelembaban goa yang akan dia tempati beberapa hari. "Baiklah akan ku mulai sekarang, lebih cepat lebih baik." Gumam Amei mulai bertapa diatas sebuah batu.
Beberapa jam sudah dia melakukan itu, tiba tiba ada angin kencang menerpa dirinya Amei merasakan kesejukan itu, bukankan ini didalam goa, mana bisa ada angin sekencang ini menerpanya.
"Tuan." Ucap seseorang yang sudah berdiri dihadapannya, sontak Amei membuka matanya terkejut.
"Siapa aku." Amei terkejut bukan kepalang, bukan manusia yang dia lihat melainkan siluet putih tembus pandang.
"Akulah elemen angin, anda berhasil mengeluarkan hamba, engkaulah tuan hamba sekarang, izinkanlah hamba masuk kedalam tubuh tuan, kapan saja tuan membutuhkan hamba, hamba akan siap membantu tuan." Ucap elemen angin yang tiba tiba masuk menembus tubuh Amei.
Dua hari sudah berlalu, tiba tiba goa bergemuruh seperti ingin roboh, batu serta tanah yang ada didalam goa jatuh seakan menyerangnya, Amei menepis semua batu yang hendak mengenai tubuhnya, nafasnya naik turun kelelahan.
"Selamat Tuan, anda berhasil menaklukkan saya." Ucap sebuah gundukan tanah.
"Hah!" Amei terkejut bukan main, tanah itu berbicara kepadanya.
__ADS_1
"Izinkan hamba berbakti kepadamu." Ucap gundukan tanah itu lalu meraih tangan Amei, menghilang secara tiba tiba.
"Selanjutnya api." Gumam Amei, 3 hari sudah Amei duduk diatas batu itu untuk mendapatkan elemen apinya, tanpa dia sadari ada sebuah fireman menatapnya dengan senyum.
"Tuanku, hamba yang anda panggil." Fireman menyapa Amei. Amei seakan sudah tahu apa yang akan terjadi dia hanya diam menatap Fireman tanpa berbicara.
"Tingkat kultivasi tuan sudah sampai ditingkat tertinggi, selamat tuan, elemen angin, tanah api dan air sudah bisa anda kendalikan semua." Fireman menjelaskan kepada Amei yang sekarang menjadi tuanya.
"Air?" Amei bingung bukankah elemen air belum dia kuasai.
"Iya Tuan, dengan anda menaklukkan elemen api, maka elemen air akan mengikuti, sekarang ikutlah hamba tuan." Fireman membawa Amei kedalam satu ruangan yang sangat gelap didalam goa, tapi dengan cahaya fireman kegelapan itu tidak ada artinya.
"Cabutlah pedang itu tuan, jika tuan bisa mengambilnya, pedang itu akan menjadi milik tuan selamanya." Ujar Fireman, Amei terpana dengan keindahan pedang itu, hanya ada satu dinegeri ini.
Amei mencoba menarik pedang itu, namun sangat sulit, pedang itu seakan menancap sangat dalam, namun nyatanya tidak.
"Gabungkanlah semua elemen yang ada tuan, anda akan bisa mengambilnya." Fireman memberikan saran. Amei langsung memejamkan matanya mengumpulkan semua energi dan semua elemen untuk dia keluarkan, ia mencabut pedang itu tanpa tenaga, goa kembali bergemuruh ingin roboh. Amei berlari keluar goa.
"Mengapa goa menjadi hancur." Amei bertanya tanya.
__ADS_1
"Karena akan hanya satu orang yang bisa mengambil pedang itu, goa ini bertugas melindungi pedang, sekarang pedang itu milikmu lalu untuk apa goa ini ada." Fireman menjelaskan. "Jika tuan membutuhkan saya, saya ada didalam tubuh anda." Fireman mengatakan hal itu langsung menghilang begitu saja.
Amei langsung berjalan meninggalkan hutan kembali ke istana.