
Miera menaiki taxi bukan untuk pulang kerumah ayahnya melainkan kesebuah tempat dimana banyak sekali gundukan tanah beserta papan nisan bertuliskan nama. Miera terduduk disalah satu makam ia melihat makam itu dengan bibir tersenyum.
"Bunda apa kabar disana? bunda kok udah nggak pernah datang ke mimpi Miera lagi sih? apa bunda udah nggak sayang sama Miera lagi." Miera tahu bahwa gundukan tanah dihadapannya tidak akan mengeluarkan suara. Namun dirinya yakin bahwa bundanya akan mendengarkannya.
"Bunda, pasti enak ya disana udah nggak ngerasain sakit lagi, tapi bun... Miera disini sakit banget, rasanya Miera pingin deh bareng disana sama bunda, Miera sebenarnya capek bun, mau cerita tapi nggak ada tempat." Air matanya mulai keluar dari mata indahnya, keputusasaan sangat terlihat jelas dimatanya.
"Bunda tahu, tadi aku menang lagi loh, seperti yang bunda katakan dulu, jangan menyerah sampai titik akhir sekalipun, Miera inget banget bun gimana sakitnya bunda dulu, Miera nggak mau kayak bunda dulu."
"Bunda sekarang pasti benci sama Miera, Miera sekarang jadi mafia bun bahkan nomor satu, haha pasti bunda benci banget, maafin Miera bun, Miera jahat sekarang, semoga bunda maafin Miera."
"Selamat ulang tahun bun, maafin Miera nggak bisa ngasih apa apa buat bunda." Miera mencium batu nisan bertuliskan nama bundanya itu. Sekarang hatinya sedikit lebih tenang jika disamping bundanya. Dadanya sesak menahan tangis.
Miera sekarang bukanlah Miera yang dahulu, dahulu Miera adalah gadis yang ceria, manja dan cerewet, setelah perceraian kedua orang tuanya sifatnya mulai berubah, ditambah lagi kepergian bundanya untuk selamanya. Tekadnya untuk menjadi kuat semakin bulat sampai dimana ia menjadi ketua mafia nomor satu.
Tiba tiba hujan turun dengan derasnya, seakan mendukung suasana hati Miera yang sedang sedih. Semakin lebat hujan semakin deras air mata Miera mengalir. Miera menumpahkan semua isi hatinya, meski kepalanya masih pusing ia tidak perduli hujan menerpanya sakit fisik tidak seberapa sakitnya dari pada sakit hati yang dia pendam selama ini.
"Ayok pulang." Ajak seorang laki laki memayungi Miera.
"Lo aja sendiri." Usir Miera, ia tahu sosok lelaki itu.
"Ayo dek pulang, nanti kamu sakit." Arya mencoba membujuk Miera agar mau pulang. Arya tahu jika hari ulang tahun ibunya pasti Miera akan datang. Arya meraih tangan Miera mencoba membawanya pulang.
"Dek, badan mu panas, kamu sakit, ayok pulang, bunda nggak suka jika melihat kamu seperti ini." Miera menatap mata Arya, benar apa yang dikatakan Arya pasti bundanya tidak suka melihat dirinya seperti ini.
"Hmm." Dehem Miera mencoba berdiri, namun kakinya terasa berat. Arya yang mengerti itu langsung membopong adiknya pergi dari pemakaman.
Sesampainya dirumah, Arya hendak membopong adiknya masuk, namun Miera ingin berjalan sendiri.
"Gue masih bisa jalan." Miera berjalan masuk melewati sang ayah yang menunggu kehadirannya pulang.
__ADS_1
"Miera ayah nggak suka kamu terus terusan begini, selalu acuh pada ayah, tidak mau mendengarkan apa kata ayah." Ucapan itu membuat Miera berhenti sejenak.
"Bundamu itu sudah lama mati, ayah ingin kamu melupakannya, lupakanlah masa lalu lanjutkan hidupmu rubahlah dirimu menjadi lebih baik, bukan seperti ini." Miera berbalik badan menatap mata sang ayah.
"Melupakan? semudah itu? berbah menjadi lebih baik seperti apa? melanjutkan hidup yang seperti apa? bahkan sampai detik ini ragaku masih berdiri dihadapanmu." Miera mengatakan hal itu dengan suara serak menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Maksud ayah...." Belum selesai Ayah Miera melanjutkan ucapannya, Arya sudah masuk kedalam.
"Kenapa lagi?" Tanya Arya yang baru saja masuk. Miera langsung pergi begitu saja membiarkan ayah dan kakaknya dibawah.
"Ragamu masih hidup, tapi jiwamu sudah lama tiada, ayah ingin kamu kembali hidup." Ucap Ayah Miera sebelum Miera benar benar hilang.
"Sudahlah ayah, kita harus bisa memahami miera lebih dalam, kita sudah membuatnya sakit hati yang amat sakit hingga dirinya sendiri juga sulit sembuh, aku bisa melihat masih ada sosok miera yang dulu, namun ia sembunyikan dibalik miera yang sekarang, sekarang tergantung bagaimana kita." Ujar Arya yang mulai sedikit memahami Miera.
"Aku lelah Arya, sudah lama aku melihat Miera seperti itu, bahkan dirinya seperti tidak menganggap aku ada."
Miera yang ada dikamar mengunci dirinya, dia membuka sebuah laci, didalamnya berisi obat yang biasa dia konsumsi, dia meneguk beberapa obat secara langsung, mengganti bajunya yang basah dan merebahkan dirinya. Perkataan ayahnya terus berputar dipikirnya.
"Apa apaan ini." Gumamnya. Ia memejamkan matanya berharap bisa tertidur, namun nyatanya tidak bisa, kepalanya berputar putar. "****!" Umpatnya. Miera meraih handphonenya menelfon seseorang.
"Dimana lo sekarang?" Panggilan itu tersambung dengan seseorang di sebrang sana. "Oke gue kesana sekarang." Ucapnya berdiri mengambil jaket hitamnya. "Gue nggak kenapa kenapa." Lanjutnya langsung mematikan panggilan.
Dia lupa bahwa motor sport yang biasa ia pakai masih ada disekolah, dia harus menggunakan motornya yang lain.
"Mau kemana lagi, kamu demam nggak usah pergi, kalau kamu pergi pasti pulang pagi lagi." Cegah Arya.
"Bentar." Miera langsung pergi begitu saja.
Sampai disebuah apartemen Miera langsung masuk kedalam menemui seorang perempuan yang dekat dengannya.
__ADS_1
"Kak, dimana lo?"
"Gue disini, kenapa lo?" Tanya Alca melihat Miera yang sudah ada didepannya. "Tumben mau ketemu kesini sendiri tampa gue minta." Lanjut Alca mengambilkan segelas air untuk Miera. "Sini cerita." Alca meminta Miera menceritakan masalahnya.
Alca adalah teman bahkan sudah dianggap Miera sebagai kakaknya, Miera bertemu dengan Alca disaat orang tua Alca meninggalkan Alca selamanya. Alca tahu profesi Miera adalah seorang mafia, bahkan Alca membantu Miera menyelesaikan masalah yang tidak dapat Miera selesaikan sendiri.
Miera mulai menceritakan perkataan Ayah dan kakaknya yang menjadi beban pikirannya.
"Gimana ya dek, pembahasan soal keluarga buat lo itu hal yang sensitif sama buat gue juga." Ucap Alca juga bingung menanggapi cerita Miera. "Gue tahu masalalu lo nggak akan bisa lo lupain, tapi coba deh lo pikir, lo masih ada ayah sama kakak yang bisa nemenin lo, dari kata kata mereka gue tahu mereka ingin dekat sama lo, ingin mengerti keluh kesah lo, tapi lo menutup diri dari mereka." Ujar Alca mencoba mengerti.
"Lo ambil contoh dari gue, gue udah nggak punya siapa siapa, nggak ada lagi yang bisa gue bahagiain, nggak ada yang bisa gue buat bangga, sedangkan lo? lo masih punya mereka berdua. Gue tahu pasti sulit memaafkan mereka, tapi coba perlahan lahan lo buka hati, juga lo nggak akan bisa mengulang waktu juga."
Miera terdiam mendengarkan ucapan Alca.
"Coba buka hati lo, pasti bunda lo bahagia melihat lo bahagia tanpa beban nantinya." Sambung Alca melihat Miera diam. "Diminum dulu." Alca menyodorkan gelas berisi air untuk Miera minum, saat meraih gelas itu, gelas malah pecah mengenai tangan Miera hingga berdarah.
"Dek, aduh maaf maaf." Alca khawatir langsung mengobati tangan Miera agar darah berhenti.
"Boleh gue minta kertas sama bolpoin." Minta Miera, Alca langsung mengambilnya memberikannya kepada Miera.
Miera menulis sesuatu dikertas itu, dua kertas ia tulis dan dimasukkan kedalam amplop yang berbeda.
"Kak, tolong lo simpen dua amplop ini, lo boleh buka amplop itu nanti disaat yang tempat, gue nggak akan minta lo buat buka, tapi nanti naluri lo sendiri akan tahu kapan amplop itu akan lo buka."
"Iya." Alca menerima amplop itu dengan bingung, apa maksudnya?
"Gue pulang dulu, makasih." Miera meninggalkan apartemen Alca. Sedangkan Alca masih dalam keadaan bingung dia ingin membuka amplop itu namun dia mengingat perkataan Miera untuk tidak membukanya sekarang.
"Semoga tidak terjadi apa apa." Alca menyimpan amplop itu kedalam sebuah laci dikamarnya.
__ADS_1