LINTAS

LINTAS
LINTAS 7


__ADS_3

"Tempat apa ini." Ucap seorang gadis yang tiba tiba bangun dari tidur lamanya. Dirinya mengerjapkan matanya, melihat sekeliling ruangan yang dipenuhi ornamen kayu dan bambu. "Dimana gue sekarang." Sambungnya berdiri.


"Jendral, jendral sudah bangun." Salah seorang wanita berpakaian aneh datang menghampirinya dengan senang, pakaian apa yang dikenakannya sungguh pakaian yang norak, pikirnya melihat wanita itu dari atas hingga bawah.


"Siapa kau?"


"Jendral melupakan saya? apa benar Jendra tidak ingat dengan saya."


"Siapa kau?" Pernyataan yang sama diulang kembali, yang diinginkan bukanlah pertanyaan balik, tetapi jawaban.


"Saya Mou pelayan anda Jendral, apa Jendral benar benar tidak ingat?" Mou heran dengan Jenderalnya ini, mengapa tidak mengingat dirinya, bahkan dirinya yang menemani dari kecil hingga besar.


"Permisi, Jendral."Mou pergi meninggalkan ruangan.


"Jendral tidak bisa mengingat apapun, apa yang terjadi pada Jendral?" Mou membawa tabib untuk memeriksa Jenderal.


"Jendral kehilangan ingatannya, mungkin karena benturan yang keras dikepalanya saat terjatuh dari tebing." Jelas sang tabib sembari memeriksa Jenderal. Mou menutup mulutnya seakan tak percaya apa yang dikatakan oleh tabib, seorang Jenderal wanita yang hebat kehilangan ingatannya, bagaimana bisa Jenderal menjalankan hidupnya sekarang.


"Kau, bisa jelaskan siapa diriku."


"Baik, Jendral."


"Anda adalah Jenderal wanita satu satunya yang ada dinegeri ini, kekuatan anda melebihi Jenderal laki laki lainnya, Anda diangkat oleh kaisar sebagai Jenderal sekaligus pengawal pribadi kaisar." Mou menjelaskan dengan pelan pelan.


"Siapa namaku, dan kenapa aku bisa seperti ini."


"Nama anda adalah Amei, anda seperti ini karena terjatuh dari tebing yang tinggi saat berperang menghadapi musuh yang ingin membunuh kaisar." Jelas Mou lagi.


"Jadi aku tersesat kedalam tubuh gadis ini, aku ingat bahwa diriku tertembak oleh lion." Batinnya mengingat kejadian sebelum ini. "Apa mungkin ini yang dinamakan lintas waktu, atau bahkan reinkarnasi." Bingung Amei


"Lalu bagaimana lagi."


"Anda amat sangat terkenal dinegeri ini, tidak ada satupun orang yang berani kepada anda." Terangnya menjelaskan betapa berpengaruhnya Amei.


"Orang tua?"


"Maaf Jenderal, orang tua anda sudah lama tiada, karena dieksekusi mati oleh kaisar terdahulu."

__ADS_1


"Bagaimana bisa?"


"Karena dahulu orang tua anda juga jenderal, namun karena ada salah faham pada kaisar terdahulu, sekarang anda menjadi Jenderal karena anda ingin membalas dendam kepada kaisar atas kematian orang tua anda." Tutur Mou jujur.


"Hmm baiklah."


"Sekarang aku mengerti kenapa aku berada di dunia ini, wanita ini belum bisa menerima kematiannya karena balas dendamnya belum terlaksana." Batin Amei mengerti.


"Permisi Jenderal, saya ingin mempersiapkan air untuk anda mandi."


"Hmm." Mou pergi begitu saja.


"Mengapa setelah jenderal sadar, sikapnya banyak berubah, tidak seperti biasanya." Batin Mou


"Jenderal airnya sudah saya siapkan."


"Ini?"


"Benar, Jenderal." Ucap Mou membenarkan bak yang berisi air tanpa penutup hanya ada tirai tipis disana. Mou pergi meninggalkan Amei untuk mandi.


"Astaga kamar mandi seperti apa ini, bahkan kamar mandi kos kosan kecil saja tidak seburuk ini." Amei menggerutu kesal.


"Pakaian apa ini, berlapis lapis juga berwarna merah." Amei tidak suka pakaian itu. "Tidak ada yang lain?"


"Tentu saja tidak ada Jenderal, pakaian sehari hari jenderal memang seperti itu."


"Aku tidak suka warna ini, ambilkan warna hitam." Amei membenci pakaian berwarna, bahkan dia dahulu tidak memakai pakaian berwarna, hanya warna hitam saja.


"Baiklah jenderal saya ambilkan."


"Aku ingin setiap hari pakaian ku berwarna hitam, yang lain buang saja." Putus Amei akan warna pakaian yang akan dikenakannya setiap hari.


"Baik, Jendral saya mengerti."


"Ada apa dengan jenderal, sebelumnya beliau sangat suka pakaian berwarna, tapi sekarang, ah sudahlah tidak mengapa." Gumam Mou terheran heran.


"Jendral kita harus menemui kaisar sekarang, kaisar meminta anda menemuinya setelah sadar." Mou mengatakan pesan kaisar.

__ADS_1


"Baiklah ayo, kau tunjukkan jalan."


Mou berjalan disamping Amei, sembari menunjukkan beberapa ruangan istana yang mereka lewati. Amei berdecak kagum akan kemegahan dan suasana istana, sama seperti film yang pernah ia tonton dulu.


Semua warga istana yang berpapasan dengan Amei menunduk hormat.


"Ada apa dengan mereka, mengapa berjalan menunduk?" Tanya Amei heran ada apa dibawah sana.


"Itu suatu bentuk penghormatan kepada anda, jenderal." Jawab mou. "Kita sudah sampai Jenderal." Mereka berdua sudah sampai di istana kaisar.


Kaisar yang melihat keberadaan Jendralnya tersenyum senang, pengawalnya kembali menemuinya.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Baik." Kaisar terkejut akan jawaban Amei, begitu tidak sopan.


"Maaf yang mulia, jenderal sebenarnya kehilangan ingatannya akibat benturan yang keras dikepalanya." Mou mencoba menjelaskan kepada kaisar. kaisar memahami hal itu.


"Baiklah jenderal, untuk memulihkan kondisi tubuh mu, kau boleh beristirahat selama satu pekan." Kaisar memberikan waktu istirahat kepada Amei. "Nanti Jenderal yang lain yang akan menemani saya." Lanjutnya.


"Baik." Amei pergi begitu saja tanpa memberi hormat kepada kaisar.


"Maaf Kaisar, kami permisi." Mou memberi hormat lalu menyusul Amei.


"Jadi bagaimana sekarang? aku sama sekali tidak mengenal siapapun." Ucap Amei pada Mou.


"Bagaimana jika kita pergi kelapangan jenderal, biasanya jenderal memantu para prajurit saat berlatih." "Baik."


Para prajurit yang melihat Amei datang langsung menghentikan aktivitasnya, langsung memberikan hormat pada jenderal Amei.


"Hormat kami Jenderal." Serempak para prajurit lalu melanjutkan latihan.


"Sepertinya aku harus banyak beradaptasi." Amei bergumam mulai memahami dunia yang ditinggalinya sekarang.


Amei mengambil sebuah busur beserta anak panah, ia sudah lama tidak memanah, dulu dimafianya dia sangat pandai menggunakan banyak senjata. Satu anak panah berhasil tepat sasaran, panahan kedua membuat para prajurit melongo, pasalnya anak panah pertama terbelah oleh anak panah kedua, betapa akuratnya bidikan Amei.


"Kemana sekarang?"

__ADS_1


"Perpustakaan saja Jenderal, anda sangat suka membaca." Mou membawa Amei ke perpustakaan istana.


"Sejak kapan aku suka membaca." Batin Amei, bahkan dirinya tidak pernah membaca sama sekali.


__ADS_2