LINTAS

LINTAS
LINTAS 9


__ADS_3

"Jenderal, anda sudah kembali." Pelayanan Mou melihat Amei kembali ke kediaman.


"Ya." Jawab Amei singkat. "Apa kaisar mencariku?" Sambungnya bertanya.


"Iya Jenderal dua hari yang lalu kaisar mencari anda, namun saya mengatakan bahwa jenderal sedang beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuh." Mou menjelaskan.


"Bagus." Amei tersenyum pada pelayan Mou, "Pintar." Batinnya. "Apa saja yang sudah terjadi saat aku pergi?"


"Beredar rumor bahwa kaisar akan menikah dengan putri perdana menteri atas kehendak ibu suri, namun kaisar seperti tidak setuju, jenderal."


"Mengapa?"


"Karena kaisar tahu bahwa perdana menteri adalah orang yang licik."


"Tolak saja apa susahnya."


"Tidak semudah itu Jenderal, kaisar sudah berusaha menyingkirkan perdana menteri, namun dia tidak memiliki bukti kuat untuk menyingkirkan perdana menteri, juga karena hubungan ibu suri dengan perdana menteri yang dekat." Mou menjelaskan seakan dia adalah seorang mata mata istana.


"Apa kaisar diperbonekakan oleh orang orang licik." Ucap Amei dalam hati.


"Kau ini sebenarnya pelayan atau mata mata." Ucap Amei sembari melihat kearah luar jendela kamar.

__ADS_1


"Haha jenderal ini, tentang perdana menteri juga kaisar yang dikendalikan oleh ibu suri itu jenderal yang pertama mengetahui, sayang saja jenderal kehilangan ingatan." Mou menertawakan Amei.


"Hei, ingatanku hilang bukan dengan sengaja ku hilangkan." Kesal Amei.


"Iya Jenderal maafkan saya." Mou merasa tidak enak pada Jenderalnya ini. "Saya siapkan makanan untuk anda, pasti anda lapar juga lelah setelah melakukan perjalanan jauh." Pelayan Mou pergi mengambil makanan untuk Amei.


"Aku harus banyak mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, balas dendam wanita ini harus aku selesaikan secepatnya, dunia ini sangat asing bagiku."


"Mengapa kaisar ini sepertinya memang dijadikan boneka oleh ibunya juga diperalat oleh perdana menteri, apa kaisar ini tidak memiliki pendirian atau ada sesuatu yang membuatnya takut, juga kenapa dia harus menggunakan jenderal perempuan jika disini banyak jenderal laki laki, apa jangan jangan kaisar ini menyukai wanita ini."


Amei bergumam didepan jendela sembari menikmati udara segar pedesaan, udara di istana ini sejuk tidak seperti udara didunianya sebelumnya.


"Andai saja ada petunjuk, sayang sekali tidak ada, wanita ini tidak meninggalkan petunjuk, jika saja ada sedikit petunjuk mungkin masalah ini akan selesai secepatnya, aku ingin kembali keduniaku menemui ayah dan kakakku." Amei terus menggerutu meratapi nasibnya.


"Sebanyak ini?" Amei terkejut, bahkan makanan ini untuk porsi dua orang lebih.


"Tidak ada Jenderal, saya sengaja membawakan banyak makanan, jenderal pasti lapar."


"Aku tidak akan bisa menghabiskannya sendiri, mari makan bersama." Ajak Amei pada Mou, Mou awalnya menolak, namun dipaksa oleh Amei.


Namun saat pertengahan makan, Mou tiba tiba menangis yang membuat Amei terkejut dan bingung.

__ADS_1


"Hei, kenapa kau menangis, aku tidak akan mungkin membunuhmu." Ucap Amei menghentikan aktivitas makannya.


"Tidak jenderal, saya hanya terharu, saya tidak pernah makan bersama jenderal."


"Mengapa tidak pernah."


"Jenderal selalu sibuk, bahkan pulang ke kediaman bisa satu bulan hanya sekali, saya selalu sendiri, tapi sekarang saya bersama jenderal seperti ini rasanya sangat senang." Ucap Mou menyeka air matanya.


"Sudah, jangan menangis lagi, jika kau ingin makan bersamaku katakan saja aku pasti akan makan bersamamu, jika kau merindukanku datanglah ke menemuiku." Ucap Amei menatap Mou.


"Terlalu berbahaya jika saya menemui jenderal saat bekerja, jika terjadi sesuatu pasti saya akan mengusahakan jenderal, tugas jenderal sudah sangat berat, tidak baik jika saya merepotkan Jenderal."


"Tidak masalah, apa kau tidak bisa menggunakan senjata?"


"Bertarung dengan tangan kosong saja tidak bisa apa lagi menggunakan senjata."


"Belajarlah, aku akan mengajarimu besok."


"Waaah! benarkah jenderal?" Senang Mou.


"Ya, mulai besok."

__ADS_1


"Baik."


__ADS_2