
"Siapa kau?" Amei melihat seorang perempuan dibalik sebuah pohon, hanya terlihat punggung seorang yang terbalut oleh baju hanfu berwarna merah. Wanita yang dilihat oleh Amei tidak menoleh bahkan seperti tidak mendengar ucapan Amei.
Amei mendekati wanita itu. "Nona siapa kau? mengapa disini sendiri?" Tanyanya sekali lagi, wanita itupun menoleh melihat Amei, betapa terkejutnya Amei yang dilihat adalah tubuhnya sendiri.
"Hah, wajah kita." Amei terkejut bukan kepalang, dia pikir dirinya punya kembaran, namun nyatanya tidak.
"Aku adalah kau, dan kau bukanlah aku." Ucap wanita itu.
"Kau Amei yang sesungguhnya, dan aku adalah Miera dari duniaku?"
"Benar."
"Kenapa kau ada disini? lalu kenapa kau tidak kembali kedalam tubuhmu ini, aku ingin kembali kedunia ku."
"Aku sebenarnya ingin, tetapi jiwaku lelah dan butuh pengganti, hanya sementara, setelah semuanya selesai dan baik baik saja aku akan kembali, dan kau pasti akan kembali keduniamu." Amei menjelaskan, penjelasan Amei membuat Miera bingung, apa apaan jiwa lelah butuh pengganti.
"Apa kau tidak pernah berpikir bagaimana nasib keluargaku diduniaku?" Ucap Miera menatap dalam mata Amei.
"Aku tahu itu, tetapi aku sangat membutuhkanmu ada disini, kubilang hanya sementara, orang tuaku belum tenang disana." Amei seakan menenangkan Miera bahwa ini akan segera selesai, namun nyatanya tidak, Miera malah ingin marah dan membunuh Amei. "Kumohon tolonglah aku, kau bisa mendapatkan petunjuk dirumah orang tuaku." Sambung Amei lalu menghilang entah kemana.
"Hei!" Miera berteriak marah saat melihat Amei menghilang begitu saja dengan memberikan petunjuk yang masih harus Miera cari.
__ADS_1
"Dasar wanita lemah tak berguna, jiwa lelah apanya, apa dia pikir aku tidak lelah, petunjuk apa itu." Gerutu Miera.
Amei terbangun dari tidurnya, yang tadi hanyalah mimpi, namun rasanya sangat nyata.
"Hah, apa tadi." Amei tersentak dari tidurnya dengan keringat yang bercucuran.
"Ada apa jenderal?" Pelayanan Mou yang tidur disebelah Amei juga ikut terbangun.
"Tidak."
"Sepertinya jenderal mengalami mimpi buruk, saya ambilkan air." Pelayanan Mou mengambilkan segelas air yang tidak jauh dari tempat tidur. "Silahkan jenderal."
Amei menenguk secangkir air itu, sembari menetralkan jantungnya.
"Mou, apa kau tahu dimana rumah orang tuaku?"
"Tentu saja jenderal, itu rumah masa kecil kita."
"Besok bawa aku kesana sebelum petang."
"Baik." Sebenarnya Mou merasa aneh, mengapa jenderalnya tiba tiba ingin mengunjungi kediaman orang tuanya.
__ADS_1
"Bukannya jenderal sudah tidak ingin kesana lagi agar kenangan orang tuanya tidak teringat kembali, apa jenderal lupa, tapi sebenarnya aku yang lupa kalau jenderal kehilangan ingatannya." Batin pelayanan Mou sebelum melanjutkan tidurnya.
Amei melanjutkan tidurnya dengan tenang tanpa ada mimpi aneh menghampirinya.
Pagi harinya Amei terus saja memikirkan mimpinya tadi malam, ia tidak sabar ingin kerumah orangtuanya, tetapi sebelum itu dirinya harus menemui kaisar terlebih dahulu.
Amei mengenakan hanfu hitamnya berjalan dengan percaya diri menuju ke kediaman kaisar, semua prajurit menatap kagum dan hormat pada Amei.
"Kaisar." Amei sudah berada di ruangan kaisar, memanggil kaisar yang sedang membaca sebuah buku.
"Jenderal, kau sudah datang, mari." Ujar Kaisar meminta Amei untuk duduk disamping kaisar, Amei merasa aneh akan hal itu.
"Tidak yang mulia, saya disini saja." Tolak Amei halus. Kaisar yang merasa aneh akan perubahan Amei hanya diam tanpa bertanya.
"Hari ini kau kembali aktif menemaniku." Ucap kaisar tersenyum.
"Benar yang mulia, tapi bolehkah hamba meninta izin untuk sebelum petang sisan nanti saya keluar isatana."
"Mau pergi kemana?"
"Saya ingin mengunjungi rumah kedua orang tua saya, saya merindukan kenangan disana, saya sudah lama tidak mengunjungi kediaman, setelah saya terjatuh saya sangat merindukan kenangan bersama mereka, saya pikir juka saya berkunjung ke rumah orang tua saya, rasa rindu itu dapat terobati. Jelas Amei.
__ADS_1
"Boleh saja, kau bisa pergi kesana." Kaisar memberikan izinnya dengan mudah.