LINTAS

LINTAS
LINTAS 11


__ADS_3

Kaisar sedang melihat peta negerinya bersama para jenderal yang lain, Amei sangat mengerti itu, dia mengamati dengan jelas.


"Perang." Batinnya melihat peta itu seperti ada yang mengganjal.


"Bagaimana jenderal?" Tiba tiba Kaisar mengajukan pertanyaan kepada Amei.


"Dari timur ke barat." Jawab Amei spontan, itu membuat Kaisar tersenyum.


"Benar dugaanku, kau pasti menjawab seperti itu." Ujar Kaisar menaruh bangga. "Meski ingatanmu hilang, tapi jika dengan perang tidak hilang." Sambung kaisar. Sedangkan Amei hanya diam mengamati kembali peta itu.


"Bergerak dari arah timur ke barat mengikuti arus sungai, disana akan aman, karena jalan tersebut sulit dilalui, musuh tidak akan terfikir untuk melewati jalur itu." Jelas Amei, itu bukan naluri Miera, ingatan Amei tentang perang masih melekat didalam dirinya, sejatinya seorang jenderal tidak akan menghindari perang.


"Jenderal memang hebat." Ujar salah seorang jenderal yang lain, Amei hanya tersenyum tanpa terlihat.


"Untuk apa kita berperang?" Tanya Amei, "Bukankah wilayah barat sudah ada dalam peta, mengapa harus ada perang?" Sambung Amei bertanya kepada Kaisar.


"Wilayah barat memang wilayah kita, namun direbut oleh negara tetangga, disana banyak sekali rakyat yang menderita beberapa minggu lalu, kita harus mengambil kembali dan membuat rakyat menjadi tentram." Kaisar menjelaskan, Amei pun mengerti.


Pertemuan itu sudah usai, kini tinggalah kaisar bersama dengan Amei.


"Ibu suri memintaku menikah." Tiba tiba Kaisar mengatakan hal itu, membuat Amei terheran, apa hubungannya dengannya, mengapa kaisar mengatakan itu kepada Amei. Amei hanya diam melihat Kaisar.

__ADS_1


"Ah maaf aku melupakan ingatanmu, hubungan ku denganmu sungguh dekat." Sambung Kaisar.


"Dekat?" Amei memicingkan matanya, kedekatan seperti apa yang terjalin antara Amei dengan kaisar.


"Ibu suri memintaku menikah dengan putri perdana menteri, namun aku menolaknya, dengan dalih akan adanya perang." Ujar Kaisar, "Tetapi..." Kaisar ingin melanjutkan ucapannya, namun sudah dipotong terlebih dahulu oleh Amei.


"Menikahlah." Ucap Amei begitu saja tanpa memikirkan ucapan kaisar sebelumnya.


"Seandainya kau tidak kehilangan ingatanmu, kau tidak akan mengatakan itu." Kaisar melihat mata Amei dengan tatapan mendalam, seperti tersirat kesedihan dan rasa yang ingin dia sampaikan, namun tidak bisa.


Amei juga menatap mata kaisar, jantungnya berdegup kencang, entah mengapa ini.


"Apa apaan wanita ini, kenapa jantungku berdetak kencang begini, atau jangan jangan wanita ini menyukai kaisar." Batin Amei mengalihkan pandangannya kesegala arah.


"Mou, ayo pergi." Ucap Amei setelah sampai dikediaman memanggil pelayan Mou. Pelayanan Mou yang terkejut menjatuhkan sebuah pedang yang baru saja ia pegang.


"Jendral." Kaget Mou mengambil kembali pedang itu.


"Jangan sembarangan menyentuh pedang itu mou." Amei mengambil pedang itu, memperingati pelayanan Mou agar tidak sembarangan menyentuh pedang miliknya itu.


"Maaf Jenderal, saya sedang membersihkan ruangan, namun melihat pedang indah itu, jadi saya memegangnya, bukankah itu pedang yang langka, hanya ada satu dinegeri ini, hanya tingkat kultivasi tertinggi yang memilikinya." Ucap pelayanan Mou panjang lebar menjelaskan.

__ADS_1


"Jadi?" Amei menaruh pedang itu kembali ke tempatnya, tempat dimana tidak ada yang bisa menjangkau pedang itu, hanya Amei seorang.


"Jadi jenderal adalah pemilik kultivasi tertinggi." Ucap Mou menyimpulkan dengan raut wajah yang terkejut. Ia tidak menyangka jenderalnya adalah seorang master.


"Master." Ucap pelayanan Mou menunduk hormat.


"Kau ini tidak usah melebih lebihkan, jangan katakan apapun kepada orang lain, ini hanya aku dan kau yang mengetahuinya, ada saatnya aku akan menunjukkan kesemua orang siapa aku sebenarnya." Terang Amei.


"Baik jenderal, saya mengerti." Pelayanan Mou mengerti.


"Ayo cepat pergi kerumah orang tuaku." Ajak Amei.


"Iya mari, Jenderal." Pelayanan Mou menunjukkan jalan.


"Mou, apa hubunganku dengan kaisar sangat dekat?" Tanya Amei pada pelayan Mou saat sedang diperjalanan.


"Sangat dekat, Jenderal."


"Sedekat apa?"


"Dulu sempat ada rumor bahwa kaisar menyukai jenderal begitu juga sebaliknya, namun kaisar dan jenderal tidak pernah mengatakan apapun."

__ADS_1


"Baiklah, aku mengerti."


"Aku mengerti sekarang, wanita ini tujuan utamanya adalah membalaskan dendamnya atas kematian orang tuanya, tapi dia terjerat cinta kepada kaisar." Amei membatin dan mulai mengerti alur hidup tubuh yang dia tempati ini.


__ADS_2