
"Permisi." Kepala sekolah datang ke kelas Miera.
"Iya silahkan masuk, Pak." Ucap guru mempersilahkan kepala sekolah untuk masuk.
"Anak anak kalian akan ada teman baru, dia bernama Deren, Deren silahkan memperkenalkan diri."
"Hai, nama gue Deren, gue pindahan dari Australia." Deren memperkenalkan dirinya dengan singkat. Ia melirik Miera yang ada dibangkunya, Miera yang tahu hanya acuh.
"Deren silahkan kamu duduk dibangku kosong disana." Ucap guru menunjuk bangku kosong dibelakang tempat duduk Miera dan Erika. Kepala sekolah pergi meninggalkan ruang kelas.
"Hai kenalin gue Erika, ini temen gue Miera." Erika memperkenalkan dirinya, tak lupa juga memperkenalkan Miera yang hanya cuek acuh tak acuh.
"Bu, kepala saya pusing, saya izin ke uks." Ucap Miera langsung pergi dari kelas, bukannya pergi ke uks, Miera malah pergi ke belakang sekolah, disana ada satu pohon besar yang rindang, ia merebahkan dirinya dihamparan rumput yang tidak begitu lebat. Ia memijit kepalanya pusing.
"Hmm ga enak juga." Ia merasakan pusing yang amat sangat dikepalanya, mungkin karena ia kecapean dan kurang tidur, mungkin juga memikirkan ucapan ayah dan kakaknya tadi pagi. Perlahan lahan matanya terpejam menikmati angin yang berhembus perlahan.
"Eh lu mau kemana buru buru amat, temenin gue keliling sekolah napa, gue belum tau sekolah ini kalau nyasar gimana." Ucap Deren menghentikan langkah Erika yang hendak pergi ke uks menghampiri Miera.
"Sendiri aja dulu, gue mau nyamperin Miera."
"Oh ok, gapapa gue sendiri aja."
"Lah dimana Miera kok ga adasih, apa jangan jangan dia ke kantin." Gumam Erika yang tidak melihat keberadaan Miera di uks, ia berfikir jika Miera sedang ada dikantin.
Sedangkan Deren yang sedang berkeliling sekolah tidak sengaja tersesat sampai ke belakang sekolah, dimana disana sedang ada Miera yang masih tertidur diatas rumput.
"Lah itu tadi yang izin ke uks, kok disini sih." Deren menghampiri Miera. Ia melihat Miera yang masih terpejam, matanya terus menatap wajah cantik Miera tanpa berkedip, sangat sangat terpana, jantungnya berdegup kencang.
Sedangkan handphone Miera bergetar terus menerus, Deren meraihnya, namun ia tidak mengangkatnya, dia tidak sengaja memegang tangan Miera.
"Lah dia sakit, panas banget badannya, padahal gue kira tadi dia mau bolos." Deren terkejut badan Miera panas.
Miera yang merasakan keberadaan seseorang langsung membuka matanya, Deren terkejut melihat Miera membuka matanya.
"Ngapain lo." Kaget Miera langsung berdiri.
"Nggak kok gue tadi keliling sekolah nyasar kesini, malah gue lihat lo tidur disini, jadi gue samperin kesini." Jawab Deren sedikit gugup, bak tertangkap basah mencuri sesuatu.
"Handphone gue." Miera meminta handphonenya yang ada ditangan Deren, disana masih ada panggilan dari Erika.
__ADS_1
"Nih angkat dulu, temen lo dari tadi nelfon mulu." Deren memberikan handphone Miera. Bukannya mengangkat, Miera malah hendak pergi.
"Badan lo pa..." Belum Deren menyelesaikan kata katanya Miera sudah pergi meninggalkannya.
"Akhirnya ketemu juga lo." Ujar Erika menemukan Miera. "Gapapa kan lo? dari tadi dicariin juga." Lanjutnya kesal.
"Gapapa." Jawab Miera singkat.
"Tadi lo dicari sama Pak Gading, dia mau ngingetin kalau ntar sore lo ada pertandingan." Ujar Erika menyampaikan pesan Pak Gading.
Hampir saja Miera lupa, untung saja temannya mengingatkannya.
"Hmm." Dehem Miera mengerti.
"Untung aja pertandingannya nanti disekolah kita, jadi gue bisa nonton temen gue dibarisan depan." Ujar Erika senang.
Sedangkan Deren sedang berkeliling sekolah sampai dilapangan utama.
"Rame banget, ada acara apaan." Gumam Deren heran. "Ada acara apaan sih?" Tanyanya pada salah satu siswi disana.
"Oh itu nanti ada pertandingan bela diri, sekolah kita yang jadi tuan rumah, makannya ini lagi dipersiapkan." Jawabnya.
"Oh oke thanks."
"Eh eh nanti ada pertandingan bela diri kan ya?" Tanya Deren pada Erika.
"Iya."
"Nanti gue ikut nonton, ntar temenin ya, nanti kita bertiga." Ujar Deren.
"Berdua aja nanti kita."
"Miera nggak ikut nonton?" Tanya Deren matanya melirik Miera yang sedang menaruh kepalanya dimeja bertumpu pada kedua tangannya.
"Ya enggak lah, orang nanti yang tanding dia kok, masa dia yang tanding dia juga yang nonton." Deren terkejut, bagaimana biasa Miera sedang sakit seperti itu bisa ikut tanding. "Udah sana duduk." Sambung Erika menyuruh Deren duduk agar tidak berisik.
Saatnya pertandingan dimulai, dilapangan dipenuhi suara seru penonton mendukung Miera agar menang dan dapat mengharumkan nama sekolah untuk kesekian kalinya. Namun disisi lain rasa pusing dikepala Miera tak kunjung menghilang, rasanya rasa pusing itu semakin bertambah saja, namun Miera bertekad pasti dirinya bisa.
Babak pertama sudah berlalu, Miera menenangkannya, namun peformanya sedikit menurun dari biasanya, itu disadari oleh Pak Gading juga Erika yang selalu menonton Miera.
__ADS_1
"Miera kenapa hari ini? apa dia sakit?" Ucap Erika khawatir.
"Temen lo itu tadi sakit, badannya panas." Deren memberi tahu.
"Lo kok bodoh banget sih, nggak bilang dari tadi, nanti kalau Miera kenapa napa lo yang harus tanggung jawab." Erika kesal langsung menghampiri Miera disudut lapangan bersama Pak Gading.
"Kok jadi gue yang disalahin sih." Kesal Deren.
"Mir lo masih kuat?" Tanyanya pada Miera. "Pak kalau nanti Miera nggak kuat gimana?" Lanjutnya bertanya pada Pak Gading.
"Gapapa." Ucap Miera langsung melanjutkan pertandingannya. Dalam hatinya dia menyemangati dirinya sendiri, "Gue pasti bisa." Ucapnya dalam hati.
Babak demi babak sudah berlalu, kini babak terakhir, tenaga Miera perlahan lahan mulai melemah, dirinya seperti sudah tak berdaya.
"Gue bisa!" Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Semua penonton yang ada disana menjadi tegang, suara hiruk piruk dukungan untuk Miera semakin keras dan menggema sampai ujung sekolah. Miera mulai berdiri lagi dan melanjutkannya.
Akhirnya pertandingan berakhir, Miera menenangkannya, untuk kesekian kalinya Miera mengharumkan nama sekolah. Pak Gading sangat bangga ia selaku coach dari Miera menghampiri Miera.
"Selamat Miera, sekali lagi kamu bisa membuktikan kamu bisa, bapak bangga sama kamu." Ujar Pak Gading. Namun saat ingin menjabat tangan Miera, Miera sudah lemas pingsan, Pak Gading dengan panik langsung membopong Miera pergi dari lapangan menuju rumah sakit.
"Aduh gimana nih, Miera." Khawatir Erika.
"Ayo ikut." Deren membawa Erika menyusul Pak Gading kerumah sakit.
Tak berapa lama setelah Miera ditangani, ia kembali sadar.
"Mir, lo gapapa?" Tanya Erika.
"Gapapa." Jawabnya langsung duduk.
"Lo mau kemana? disini aja dulu." Deren menghentikan Miera yang ingin pergi.
"Kamu disini dulu Miera, bapak akan hubungi orang tuamu untuk menjemputmu." Pak Gading mengeluarkan handphone dari sakunya.
"Tidak perlu, saya bisa pulang sendiri." Miera berdiri berjalan keluar rumah sakit diikuti yang lain yang mencoba membujuknya.
"Gue anter." Deren tidak tega melihat Miera harus pulang sendiri dengan keadaannya yang seperti itu.
__ADS_1
"Nggak." Tolak Miera mentah mentah, ia menaiki taxi yang ada didepan rumah sakit lalu pergi begitu saja.
"Keras kepala." Erika berdecak kesal dengan tingkah Miera yang selalu menolak bantuan dari seseorang.