
Setelah sampai markas, Pak Gunawan dibawa kedalam ruangan bawah tanah, disana hanya ada satu lampu gantung satu kursi dan rantai yang menjerat tubuh Pak Gunawan.
"Lepaskan saya Lady, saya mengaku salah, saya minta maaf." Pak Gunawan mengatakan itu dengan tubuh terjerat lemas.
"Maaf? kau sudah berani beraninya berkhianat kepadaku dan kau minta maaf? tidak ada kata maaf didalam kamusku." Miera mengatakan itu dengan nada berat juga banyak penenakanan disetiap katanya.
Miera mulai menyiksa Pak Gunawan dengan sayatan juga tembakan, ruangan itu diisi oleh raungan kesakitan dari Pak Gunawan. Miera bukannya merasa kasihan melihat Pak Gunawan yang sudah sekarat, ia malah menikmatinya sembari tersenyum menyeringai.
"Langsung bunuh saja aku!" Teriak Pak Gunawan yang sudah kesakitan, daripada ia harus merasakan kesakitan sebelum ajalnya, lebih baik ia langsung mati saja.
"Tenang." Ucap Miera menghentikan aktivitas menyiksanya.
"Baiklah jika kau ingin begitu." Miera melemparkan pisau kesembarang arah dan langsung menembak jantung Pak Gunawan sehingga dia tewas seketika.
Anak buah Miera membawa jasad Pak Gunawan kedalam satu ruangan yang berbeda, sedangkan Miera membersihkan dirinya dari bercak darah yang menempel.
"Sudah selesai Lady."
"Taruh mobil, kita berangkat."
Tepat jam 1 dini hari, Miera bersama dua anak buahnya pergi meninggalkan markas menuju suatu tempat gelap tetapi sangat ramai. Ia menemui seseorang disana.
"Masih fresh." Kata Miera memberikan sebuah kotak berisi organ tubuh Pak Gunawan yang sudah dipisahkan sebelumnya.
Orang itu membuka kotak itu, lalu tersenyum senang.
__ADS_1
"Kau ini wanita kecil, bagaimana caramu mendapatkannya." Ucap orang itu dengan nada mengejek.
"Ya atau tidak?" Miera sudah mulai malas dengan orang dihadapannya ini, berani beraninya ia mengejek seorang Lady mafia yang kejam. Rasanya Miera ingin membunuhnya sekarang juga.
"Ya ya ya, akan ku transfer sekarang, sudah ku transfer, sekarang bagaimana?"
"Urus saja sendiri." Ujar Miera langsung pergi, namun saat ia berjalan pergi, ia melihat pelelangan senjata, ia naksir dengan senjata yang dilelangkan, sebuah katana tajam yang hanya ada satu didunia.
"15M." Miera berteriak agar didengar oleh host.
"15M! ada yang lain?" Ucap host mencari pesaing harga yang lebih tinggi. Semua peserta hanya diam dan berdecak kesal, apa apaan seorang gadis kecil menawar katana itu dengan harga selangit.
Host mulai menghitung, sayangnya tidak ada yang melebihi harga yang Miera tawarkan. Katana itu sah menjadi milik Miera. Ia langsung membawa dan menyimpan katana itu didalam markasnya. Ia mengendarai motor sport miliknya kembali kerumah ayahnya.
"Jam berapa sekarang." Ujar Arya, Kakak Miera yang melihat Miera baru pulang sekitar jam 3 dini hari. Miera tidak memperdulikannya, ia langsung masuk kedalam kamarnya, sedangkan Arya hanya diam melihat punggung adiknya yang perlahan menghilang.
Sedangkan Miera dikamar langsung merebahkan tubuhnya dikasur, sembari melihat handphonenya, ia tidak merasa ngantuk sama sekali, dirinya asik bermain handphone sampai sinar matahari muncul. Miera bergegas menyiapkan dirinya untuk pergi ke sekolah.
"Sarapan dulu." Ucap Ayah Miera melihat putrinya sudah keluar kamar. Miera hanya diam langsung duduk, memakan sarapannya.
"Miera, ayah ingin bicara, setiap hari kamu pergi pulang pagi, kemana saja kamu?" Tanya Ayah Miera yang sudah mulai muak melihat Miera yang selalu pulang pagi.
"Iya Dek, kemana saja kamu, bahkan kamu jarang tidur, kakak tahu kamu tidak tidur lagi." Imbuh Arya.
Miera menghentikan aktivitas makannya, menatap ayah dan kakaknya, ia tahu ada rasa khawatir diantara keduanya. Namun hati Miera sudah sedingin es, ia tidak menjawab pertanyaan itu, Miera langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
"Miera!" Bentak Ayah Miera.
"Ayah sudahlah, Miera mungkin tidak ingin menjawabnya." Arya mencoba meredakan emosi ayahnya yang mulai meledak.
"Anak itu masih saja tidak berubah, dengan cara apa lagi aku harus bersikap." Ayah Miera mulai putus asa.
"Entahlah ayah, Miera begitu juga bukan sepenuhnya salahnya, kita yang membuatnya seperti itu." Ucap Arya mengingat sebuah kejadian dimasa lampau.
Miera yang menaiki motor sport dengan kencang, melewati keramaian itu mendapatkan sumpah serapah dari pengguna jalan yang lain. Sampai disekolah ia langsung pergi ke kantin, ia masih merasa lapar, ia ingin melanjutkan sarapannya yang tertunda tadi. Ia memesan semangkuk bakso juga es teh.
"Mir, baru sampai bukannya ke kelas malah ke kantin, bentar lagi masuk nih." Ujar Erika, teman sebangku Miera, tidak ada yang berani mendekati Miera kecuali Erika.
"Masuk sana lo." Usir Miera terganggu.
"Masuk? nggak lah ngapain mending makan sama lo." Ucap Erika memesan makanan mulai makan bersama Miera.
Sampai dikelas ternyata pelajaran sudah dimulai.
"Mampus kita telat." Erika menepuk jidatnya ia pasti akan dihukum nanti. Sedangkan Miera langsung masuk begitu saja tanpa menghiraukan guru yang sedang mengajar.
"Dari mana saja kamu Miera? jam segini baru masuk."
"Toilet." Jawab Miera singkat.
"Kamu Erika?" Erika masih saja didepan pintu.
__ADS_1
"Eh itu bu, tadi saya juga ada ditoilet, mules banget bu."
"Yasudah kamu duduk, kita sambung pelajaran." Erika menghela nafasnya lega, ia diperbolehkan masuk karena alasan yang masuk akal.