Lord Of The Heaven And Hell

Lord Of The Heaven And Hell
Boneka Yang Berjuang Sia Sia (1).


__ADS_3

Di suatu jalan dekat rumah klein, klein sedang menikmati waktu senggangnya dengan sedikit joging di pagi hari itu, ia benar benar bosan hari ini.


Aku benar benar pusing dengan perkataan sherly, tapi menurutku segalanya bagiku itu apa? keluarga? mungkin itu, di dunia ini teman saja aku tak punya satupun, tapi jika menyebutkan the justice, the hanged man, dan the empress.. Mereka hanya seorang rekan kerja sama di organisasi. Basahnya tubuh klein dengan keringat yang membanjirinya, ia benar benar ingin membuka baju olahraga yang ia kenakan.


Klein tanpa sadar sudah berlari ke ujung kota atau lebih tepatnya ia tak sadar bahwa dia sudah di gerbang keluar kerajaan. Tanpa sadar ia sedikit terkejut, Huft huft huft.. aku tak pernah sadar bahwa aku akan joging sampai sini... Hmm!? Seketika klein melihat sebuah anak kecil yang memegang sebuah boneka di tangannya, seketika itu juga klein merasakan aura spiritualitas yang cukup besar pada boneka itu.


"Apa boneka itu mempunyai aura spiritual!?" Klein menyeka sedikit keringat di keningnya, ia benar benar berjalan ke arah gadis kecil yang duduk di sebuah bangku taman dekat gerbang keluar masuk kerajaan.


"Nak.." Klein menyapa dengan sopan gadis kecil itu, lalu anak kecil itu mendongak sedikit, dia melihat klein dengan tatapan kosong dan dengan wajah yang pucat, kulitnya benar benar putih seolah olah ia adalah mayat hidup, namun penampilan wajah gadis itu benar benar imut, matanya yang berwarna hitam, serta dengan rambut poinnya yang berwarna hitam juga.


"Hm? oh kakak, ada apa memanggilku?" Jawab gadis itu dengan suara yang halus. Klein lalu menanyakan tentang kenapa dia sendirian disini, lalu anak kecil itu hanya menjawab, "Aku di tinggalkan oleh ibu dan ayahku..." Mendengar hal itu klein sedikit terkejut, lalu menyipitkan sedikit matanya, "Nak bolehkah aku melihat bonekamu?" Ucap klein melihat boneka kelinci berwarna putih salju yang ia peluk, anak kecil itu menyerahkannya tanpa berkata kata, klein melihat dengan detail boneka itu, "Divine Eye." pupil mata klein berubah keemasan seketika.


Ketika klein melihat kembali dengan divine Eye, klein melihat boneka itu layaknya sensor panas, namun klein melihat ada sebuah jiwa asing di dalamnya, "I-ini jiwa seseorang!?" Klein terlihat terkejut.

__ADS_1


"Ada apa kakak?" Ucap gadis kecil itu, lalu klein menanyakan nama dari gadis itu, dan gadis itu menjawab bahwa namanya adalah Liya.


Klein tersenyum, klein bangkit dari bangku taman itu, lalu menjulurkan tangannya kepada gadis kecil itu.


Gadis kecil itu heran dengan sedikit memiringkan kepalanya ke kanan, "Kenapa?" Ucapnya heran, Klein lalu membalas, "Ayo pulang.."


Mendengar hal itu gadis kecil itu sedikit tersentak, lalu beberapa saat air matanya keluar sedikit demi sedikit, ia malah mengingat ketika ibunya meninggalkannya di taman itu, "Nak tunggulah disini.." Seorang wanita misterius menangis ketika meninggalkan Liya di bangku itu.


Liya lalu meraih tangan klein, saat itu pula awal kehidupan gadis itu berubah..


Sebuah pintu terbuka bersamaan dengan bunyi lonceng, Yuri yang mendengar itu menduga pasti suaminya. "Suami Selamat datan....g?" Yuri seketika berubah, tatapannya menjadi dingin wajahnya datar, ia sudah memegang sebuah pisau di tangan kanannya.


"Ah, istriku aku pulan...g!?" Klein seketika melihat wajah istrinya langsung panik, dan lupa menjelaskan anak yang dia gandeng.

__ADS_1


"Suamiku, apa itu anak dari selingkuhanmu? atau kau bosan denganku karena belum hamil? sehingga kau tak sabar memiliki anak, dan lebih memilih meniduri wanita cantik di luar agar cepat cepat memiliki anak!?" Ucap yuri sambil tersenyum dengan mengerikan, melihat itu klein langsung panik dan segera menjelaskan segalanya, mulai dari joging, dan sampai ia bertemu anak ini.


"Jadi kau bilang di ditinggal oleh ibunya, dan ibunya tak kunjung kembali?"


"Apa itu benar.....?" Yuri makin mendekatkan wajahnya ke hadapan klein. Lalu Klein dengan santai menanggapinya, "Kau benar, daripada dia menangis sendiri disana, biar aku bawa saja sekalian." Balas klein, yang lalu menanyakan keberadaan Melissa, lalu yuri hanya bilang bahwa ia akan pulang sedikit larut karena tugas sekolahnya, karena ujian kelulusan akademi akan segera dimulai.


Tak lama kemudian, yuri menggandeng Liya, ia menuntunnya ke meja makan, yuri menyuruh Liya untuk makan, makanan yang sudah di sediakan, karena ini sudah mulai malam.


Liya tentu menerimanya, dia benar benar makan dengan lahap.


Klein tak ada di meja makan, sebaliknya dia berada di kamarnya bersama boneka kelinci yang di pegang Liya.


Klein berada di atas kasurnya duduk sambil tersenyum menyeringai, "Hei, kenapa kau diam saja, Tuan kelinci?" Kelinci itu sedikit bergoyang di tempat kursi kayu belajar yang ada di hadapan klein, klein yang duduk di atas kasurnya pun langsung sedikit takjub.

__ADS_1


Klein lalu melambungkan tangannya rendah, lalu di telapak tangannya yang menghadap ke bawah, sebuah gelombang energi berwarna keemasan tak terlihat menyebar dengan cepat memenuhi ruangan.


"Nah, tuan kelinci bisakah kita berbicara santai Sekarang?" Ucap klein menyeringai lagi.


__ADS_2