
Klein lalu meletakan buku yang ia tunjuk tadi, kini satu tangannya membolak balik halaman buku, untuk mencari sampai halaman mana yang ia baca tadi sebelum ia makan.
5 menit kemudian mereka selesai makan, dan adiknya mencuci piring, suara piring yang sedang di cuci membuat suara yang mengganggu, sehingga membuat klein bangkit dari kursi meja makannya dan berjalan menuju kamarnya.
"Suara bising seperti itu tak akan membuatku bisa membaca buku ini dengan tenang.."
Klein membuka pintu kamarnya di sebelah kanan, "Baiklah, mari kita duduk di meja belajar dan mari kita amati, cerita kuno apa lagi yang menarik di buku ini." Klein lalu mengambil kacamatanya yang terletak di atas meja samping tangan kanannya.
Lalu ia membaca buku itu dengan sangat teliti, 2 jam kemudian...
Perlahan lahan mata dari klein tiba tiba sangat berat, ia sangat mengantuk, dan tiba tiba ia tergeletak di atas mejanya dengan kepalanya yang di atas buku yang masih terbuka.
Tanpa sepengetahuan dari klein hidungnya tiba tiba berdarah.
Tetesan darah dari hidung klein kini mulai menyebar dan membasahi satu halaman buku yang sedang ia baca.
Lalu tiba tiba, buku itu bercahaya, yang membuat ruangan klein bersinar sangat terang, warna keemasan terlihat di balik jendelanya.
"Ugh..."
Klein mendapati dirinya berada di tempat yang penuh dengan taman yang indah, kolam yang indah terlihat jelas di samping kirinya, lalu di depan klein terdapat sebuah bangunan megah berwarna putih dengan pola keemasan yang berdesain cahaya, dan kegelapan.
"Tunggu, jika tidak salah aku barusan tiba tiba tertidur?" Klein memegang dagunya dengan tangan kanan. "Apakah aku mengalami mimpi lucid dream!?" Klein mencoba memikirkan sebuah sarung tangan.
Tiba tiba sebuah cahaya tiba tiba muncul dari tangannya klein, lalu cahaya itu menjadi sarung tangan berwarna hitam legam, dengan salah satu jari tengahnya yang tak di lapisi oleh kain sarung tangan itu.
"Aku benar benar mengalami lucid dream!" Klein lalu memikirkan sebuah kemeja berwarna putih, dengan jas yang terbelah 2, dan benar saja pakaian yang diinginkannya benar benar terwujud, raut muka klein tampak senang dengan mata yang bersinar.
"Dimana ini!?"
__ADS_1
Suara pria dan wanita terdengar dari belakang klein.
"Huh?! bagaimana bisa ada orang yang masuk ke dalam mimpiku!?" Klein berfikir dengan keras di depan 2 orang ini.
Klein sedikit menoleh, namun tak sampai terlihat wajahnya.
Klein melihat bahwa wanita itu berambut pirang blonde, wajah yang mempesona, badannya yang tinggi sekitaran 173, dan ia mengenakan gaun bangsawan yang bermotifkan bunga di gaunnya itu.
2 orang itu yang baru menyadari bahwa bukan hanya mereka di sana, mereka berdua menatap klein dengan tatapan terlejut dan waspada.
"Tuan, boleh kah saya tau ini dimana?" Ucap wanita berambut pirang blonde itu dengan nada yang bergetar dan cemas. "Jika tidak salah tadi aku sedang di depan meja riasku di kamar, lalu tiba tiba aku secara tak sadar aku sudah berada di sini!"
"Huh!?" Seorang pria yang datang bersamanya juga langsung merespon. "Kau juga seperti itu ya non!?"
Klein menoleh ke kana namun tak sampai wajahnya terlihat. Klein melihat bahwa pira itu memiliki tubuh yang sedang, tak bisa di bilang terlalu kekar, dengan sorot mata seorang pejuang, dan dengan rambut berwarna biru tua, ia mengenakan pakaian seorang bajak laut.
Klein dengan perlahan kembali, lalu ia berjalan perlahan lahan menuju bangunan megah di depannya.
Setibanya di dalam sebuah ruangan yang cukup besar, dengan bangunan layaknya istana dewa yang megah menyambut mereka bertiga.
Klein perlahan berjalan dan menemukan sebuah meja dan kursi. Meja yang panjang dan kursi yang berjumlah 22 terpampang jelas di depan mata mereka, lalu klein kembali berjalan perlahan meraih satu kursi dari salah satu 22 kursi yang berada di tengah dan ujung meja yang langsung menghadap pintu besar dari tempat mereka masuk ke aula ini.
Klein tiba tiba menyeringai, dan klein menggunakan kabut abu abu tebal untuk menutup wajahnya.
Klein merentangkan tangannya layaknya menyambut mereka berdua.
"Selamat datang di aula dewaku!"
Suara yang terdengar sedikit berat terdengar oleh mereka, dan suara itu bergema sepanjang waktu.
__ADS_1
"Aula dewa!?"
Mereka terkejut. Pria berambut biru tua itu mencoba berfikir keras, tentang bagaimana bisa ia sampai kesini lalu ia juga memikirkan siapa pria misterius yang di depan mereka ini.
"Silahkan duduk," Klein menurunkan tangannya.
Mereka berdua pun memilih tempat duduk mereka, wanita berambut pirang memilih duduk di samping kanan sedangkan si pria berambut biru tua itu memilih untuk duduk di depan si wanita pirang ini, mereka berdua saling menatap.
"Perkenalkan diri kalian.."
Jawaban tak terduga dari orang misterius ini membuat mereka berdua langsung berdiri kembali.
Pria berambut biru tua membungkuk untuk memberi hormat sambil memperkenalkan dirinya dengan benar dan sopan. "Aku Alger Wilson seorang kapten bajak laut di timur laut.
Wanita berambut pirang ini terkejut karena pria di depannya adalah seorang bajak laut, namun wanita ini lalu membuang jauh jauh pikiran keterkejutannya dan berfokus untuk mengenalkan dirinya.
Wanita berambut pirang blonde ini pun mengangkat sedikit gaunnya, lalu memperkenalkan diri sebagai.
"Salam tuan tuan, namaku Audrey Hall, seorang putri bangsawan dari kerajaan victorian."
Alger terkejut.
Namun setelah itu audrey tiba tiba menanyakan. "Kami sudah memperkenalkan diri kami tuan, sekarang giliran anda."
Dalam hati Alger. "Pertanyaan bagus putri bangsawan!"
Dihadapi oleh pertanyaan seperti itu klein lalu sedikit menyandarkan tubuhnya di kursi itu, lalu dia mengatakan.
"Kalian bisa memanggilku, The Devil~"
__ADS_1
"!!!???"